Ekonomi
( 40733 )Adu Kuat Saham-Saham Raksasa di Bursa
Posisi saham papan atas dengan kapitalisasi pasar (market caps) paling besar bergerak cepat beberapa bulan terakhir. Ranking market caps jumbo (big caps) bergeser sejalan rotasi sektor dan sentimen.
Sebelumnya tidak ada saham sektor teknologi punya market caps di atas Rp 100 triliun per Oktober 2023. Namun peta mengalami rotasi per November. Saham PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menanjak.
Soal saham yang melejit tinggi, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) jadi yang paling fenomenal. Kedua saham yang baru
initial public offering
(IPO) pada 2023 sukses merangsek jajaran atas
big caps.
Memasuki bulan Desember, Jumat (1/12), BREN menduduki posisi kedua
market caps
terbesar Bursa Efek Indonesia (BEI) senilai Rp 910 triliun. Posisi BREN hanya kalah dari Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang kokoh berada di puncak klasemen
big caps.
Dari sisi pemilik, emiten
big caps
ini dikuasai lima konglomerat dan BUMN. BUMN ada BBRI, BMRI, TLKM dan BBNI. Grup Djarum masih mengandalkan BBCA. Prajogo Pangestu ada BREN dan TPIA. Low Tuck Kwong masih setia dengan BYAN, Grup Salim ada AMMN dan DCII dan Grup Astra (ASII).
Head of Retail Marketing & Product Development Division
Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi Riawan, menyatakan bahwa pergeseran
market caps
didorong sejumlah faktor. Dia menyoroti pergerakan BREN dan AMMN yang harga saham dan
market caps
melejit selepas melantai di BEI.
Head of Equity Research
Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas ikut menyoroti, jika tren pergerakan saham BREN berbalik turun, berpotensi menjadi pemberat laju IHSG. Dampak bisa teredam asal pergerakan saham
big caps
lain lanjut naik, sehingga tetap stabil menopang IHSG.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyoroti efek pemilu bisa lebih terasa. Terutama sektor yang berpotensi terpapar katalis positif momentum politik.
Aturan Devisa Ekspor Dievaluasi Lagi
Komoditas Lesu, Pertambangan Loyo
Prospek Emiten Emas Ikut Berkilau
Tanda-Tanda Likuiditas Bank Mulai Ketat
Kepemilikan perbankan atas surat berharga negara (SBN) mulai menyusut. Gejala ini terjadi sejalan dengan likuiditas bank yang tak selonggar tahun lalu. Likuiditas perlahan mulai mengetat, tercermin dari loan to deposit ratio atau rasio pinjaman (LDR) yang sudah naik ke level 83,92% per September dari 78,78% pada Desember 2022. LDR meningkat sejalan penyaluran kredit yang mengalir lancar, tumbuh 8,99% per Oktober 2023. Bandingkan dengan dana pihak ketiga (DPK) hanya tumbuh 3,43%.
Menurut data Kementerian Keuangan, penempatan dana perbankan di SBN sampai 28 November 2023 mencapai Rp 1.571,20 triliun, turun 13,1% dari Rp 1.808,64 triliun di periode yang sama di 2022.
Direktur Treasury & Capital Market Bank CIMB Niaga John Simon menyebut, kepemilikan bank di SBN turun lantaran likuiditas memang sudah tak selonggar sebelumnya. LDR CIMB Niaga per September 2023 berada di level 86,4%.
"Kami memperkirakan penempatan dana di SBN ke depan akan stabil, kurang lebih sama dengan level sekarang. Kami akan atur supaya seimbang, tetapi penyaluran kredit pasti akan selalu kami jaga," kata John kepada KONTAN, Jumat (1/12).
Senada, penempatan Bank Mandiri pada surat berharga juga menurun. Per Oktober 2023, jumlah surat berharga yang dimiliki bank ini tercatat Rp 224 triliun, berkurang 13,85% secara tahunan.
VP Corporate Communications Bank Mandiri Ricky Andriano menuturkan, posisi LDR Bank Mandiri naik ke 87,33% per Oktober 2023, dari 80,04% pada periode yang sama tahun lalu. "Peran intermediasi keuangan Bank Mandiri semakin baik. Kami selalu mengedepankan penyaluran kredit," kata dia.
EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengungkapkan, penempatan dana di surat berharga merupakan langkah menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan ekspansi kredit yang sehat.
Raksasa Hutan Tropis Tegaskan Komitmen
Di sela perundingan utama Konferensi Perubahan Iklim Ke-28
atau COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab, Indonesia menegaskan kembali upaya
penurunan emisi di sektor kehutanan dan
tata guna lahan. Upaya pengelolaan hutan untuk pengendalian perubahan
iklim ini juga melibatkan dua negara dengan hutan tropis terbesar, yakni Brasil
dan Republik Demokratik Kongo. Wamen Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong
menyatakan, Indonesia memiliki pengalaman dalam menurunkan emisi di sektor kehutanan
dan tata guna lahan (FOLU), terutama dalam mengurangi deforestasi. Bahkan, penurunan
deforestasi sudah sampai pada angka terendah. ”Atas capaian ini, kita
seharusnya berhak menerima result-based payment (pembayaran berbasis hasil).
Faktanya, saat ini Indonesia memang sudah menerima dari Global Climate Fund,
kemudian dari Kerajaan Norwegia, dan kerja sama dengan Bank Dunia,” ujarnya di Dubai,
Uni Emirat Arab, Sabtu (2/12/2023).
Pada 2019, emisi Indonesia di sektor FOLU mencapai
922 juta ton emisi setara karbon dioksida (CO2e) akibat adanya kebakaran hutan
dan lahan. Emisi ini turun menjadi 183 juta ton CO2e pada 2020. Kemudian, tahun
2021 emisi kembali naik menjadi 224 juta ton CO2e dan tahun 2022 turun menjadi
222 juta ton CO2e. Guna meningkatkan upaya pengelolaan hutan dalam penurunan
emisi, Indonesia juga menjalin kerja sama dengan Brasil dan Republik Demokratik
Kongo. Ketiga negara ini dikenal memiliki hutan hujan tropis terbesar di dunia
dan kerap menghadapi permasalahan deforestasi. Kerja sama trilateral ini telah
terjalin dalam COP26 di Glasgow, Skotlandia, pada 2021. Kerja sama bertujuan
untuk memperkuat posisi ketiga raksasa hutan tropis ini dalam negosiasi iklim,
termasuk mendorong peningkatan pendanaan berbasis hasil untuk pengurangan emisi
dari deforestasi dan degradasi hutan plus (REDD+). Alue menekankan bahwa negara-negara
maju jangan hanya meminta Indonesia dan negara lain untuk menjaga hutan tropisnya.
Namun, mereka juga perlu berkomitmen untuk memberi dukungan sumber daya melalui
pendanaan iklim global sebesar 100 miliar USD per tahun.
Di sela-sela World Climate Action Summit, rangkaian kegiatan
COP28 di Dubai, Jumat, Presiden Jokowi melakukan pertemuan bilateral dengan PM
Norwegia Jonas Gahr Støre. Keduanya membahas sejumlah isu, di antaranya kerja
sama lingkungan hidup. Menurut siaran pers KLHK, Støre mengumumkan lanjutan
kontribusi Norwegia sebesar 100 juta USD untuk kinerja penurunan deforestasi
Indonesia periode 2017-2018 dan 2018-2019. Kontribusi ini merupakan pembayaran
kedua. Pada Oktober 2022, Pemerintah Norwegia membayar 56 juta USD untuk
kinerja penurunan deforestasi 2016-2017. Terkait pembayaran 100 juta USD dari
Norwegia ini, Bustar Maitar, CEO Yayasan EcoNusa, menyatakan, itu bukanlah
hadiah, melainkan penghargaan atas kerja keras Pemerintah Indonesia menurunkan
angka deforestasi Indonesia secara drastis, dari 1,09 juta hektar pada
2014-2015 jadi 115.500 hektar pada 2019-2020. (Yoga)
Kantormu Bukan Keluargamu
Delapan jam sehari dihabiskan oleh rata-rata pekerja urban
di kantor atau pabrik, setidaknya lima kali sepekan. Tak jarang ada acara
tambahan di akhir pekan atau di hari libur nasional. Belum lagi nongkrong bersama
kolega seusai jam kerja untuk menunggu kema-cetan terurai atau mendinginkan
pikiran setelah berkutat mengejar target. Disatukan pekerjaan, ada rasa senasib
yang mempererat relasi antar karyawan. Banyak perusahaan melihat itu sebagai
peluang dan menarasikan rasa senasib dan akrab itu pada level lebih intim,
yaitu keluarga. Acara piknik karyawan sering dibalut dengan tema ”Temu Keluarga
Besar PT A” atau ”Selamat bergabung dengan keluarga besar kami” kala menyambut karyawan
baru. Bekerja memang tak selalu sebatas mencari uang. Dengan konsep keluarga,
perusahaan menciptakan suasana kerja yang hangat dan memikat. Bibit konflik
atau pertentangan diyakini lebih mudah diatasi. Joshua A Luna dalam artikelnya di Harvard
Business Review, dua tahun silam, menyatakan, kultur sebagai keluarga memang
bisa membuat kantor menyenangkan. Tapi, kultur itu membuat atasan berhak tahu
atas segala hal tentang karyawannya.
Penulis buku Ask a Manager, Alison Green, dalam wawancara
dengan The New York Times, mengatakan, sisi buruk perusahaan yang menerapkan
konsep keluarga adalah potensi mengeksploitasi karyawan menjadi lebih besar.
Perusahaan yang meminjam konsep keluarga justru cenderung menuntut komitmen
serta loyalitas tidak pantas kepada para karyawannya. Ia menggaris bawahi, tuntutan
komitmen dan loyalitas berlebihan dapat berakhir pada disfungsi manajemen dari
profesional menjadi eksploitatif. Jika telanjur memilih jalur ”keluarga”,
manajemen harus pintar mengelola batas aturan, menetapkan target, serta
menerapkan penilaian kerja yang realistis, logis, dan manusiawi. Pilihan lain,
mengganti pengelolaan perusahaan menjadi lebih profesional. Pekerja jangan larut
dalam kondisi beracun “keluarga”, tetap profesional, memahami hak dan
kewajibannya, mampu bekerja sama dengan baik, serta meningkatkan kemampuan yang
berguna bagi perusahaan ataupun diri sendiri. (Yoga)
Cerita Tali di Karama
Desa Karama di Kecamatan Tinambung, Polewali Mandar,
Sulawesi Barat, punya kisah tentang tali. Ini tentang limbah tali yang diolah kembali
menjadi tali baru dan sebagian besar dikerjakan kaum perempuan, yang sudah
dilakoni sebagian warga selama puluhan tahun. Konon, penamaan Paotere,
pelabuhan pendaratan ikan terbesar di Makassar, terinspirasi dari pekerja tali
ini. ”Otere bahasa Makassar yang berarti tali. Paotere adalah pembuat tali. Ini
merujuk pada pembuatan tali yang saat itu banyak dilakukan warga Tinambung di
Paotere. Dulu, mereka mengerjakan tali di sana. Lama kelamaan dibawa pulang dan
dikerjakan di kampung,” kata Ridwan Alimuddin, pegiat literasi yang juga
kelahiran Tinambung. Limbah tali yang diolah umumnya tali bekas kapal yang berasal
dari berbagai pelabuhan. Tali diurai untuk dipisahkan bagian yang rusak. Membuat
tali baru dilakukan dengan memilin bagian yang masih bagus menjadi untaian tali
kecil.
Selanjutnya tali kecil ini dipilin lagi dan disatukan hingga
menjadi tali berukuran besar. Pengerjaan ataupun alat yang digunakan sederhana.
Di Desa Karama, kaum perempuan berperan besar dalam usaha limbah tali ini.
Mereka bekerja berkelompok dengan jumlah 6-8 orang per kelompok, sejak pagi
hingga pukul 17.00, rata-rata setiap kelompok menyelesaikan belasan hingga puluhan
rol tali per hari. Satu rol berukuran panjang antara 80-100 meter. Umumnya
limbah tali didatangkan oleh juragan atau pemilik usaha tali. Mereka yang mengupah
para pekerja dan kemudian memasarkan tali baru yang dihasilkan. Tali dari limbah
ini dikirim ke berbagai daerah di Indonesia untuk kebutuhan rumpon serta peruntukan
lain. Upah pekerja tali umumnya Rp 50.000-75.000 per hari, bergantung berapa
rol yang diselesaikan. Bagi perempuan di Karama, upah ini sangat berharga untuk
membantu keuangan keluarga terutama saat suami-suami mereka melaut
berbulan-bulan ke pulau lain. (Yoga)
Kopi Gayo Punya Cerita
Lubang-lubang untuk menanam kopi telah disiapkan di kaki
bukit di Desa Paya Tumpi Baru, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah, Aceh. Doa
mendaras dari mulut sejumlah warga dan tamu undangan yang ikut menanam bibit
kopi siang itu, Sabtu (25/11). Dalam dekapan udara sejuk segar Gayo, tanaman
kopi yang di kawasan itu diberi nama Siti Kewe ditanam dengan rasa hormat. Begitulah
tradisi menanam kopi di kawasan Gayo yang diawali dengan ritual sederhana, Dua
Ni Kupi. Ritual ini melambangkan doa dari orangtua kepada anaknya agar ia
tumbuh besar dan kelak berguna bagi keluarga serta orang-orang di sekitarnya.
Di sini, Siti Kewe dianggap bukan sekadar tanaman, melainkan anak kesayangan.
Ritual Dua Ni Kupi masih ada yang melakukannya hingga sekarang,
terutama para orang tua. ”Mereka percaya sekali kalau bibit yang didoakan bakal
tumbuh subur,” ujar Hardiansyah, pendamping Program Peningkatan Kebudayaan Desa
Paya Tumpi Baru. Hardiansyah selaku pegiat seni dan budaya Gayo mencoba menghidupkan
lagi proses menanam Siti Kewe dengan ritual Dua Ni Kupi. Tujuannya, agar terjalin
hubungan yang erat antara petani muda dan Siti Kewe. Ia memanfaatkan Festival
Panen Kopi Gayo 2023 sebagai panggung besarnya. Tahun ini, Festival Panen Kopi
Gayo yang diprakarsai oleh Komunitas Gayo Kultural Lab menjadi perhelatan ke-6.
Dengan dukungan pembiayaan dari Kemendikbudristek, festival digelar ditiga desa,
yakni Desa Kelitu, Bukit Sama, dan Paya Tumpi Baru. Berbagai seni tradisi pun
dihadirkan.
Kopi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan orang Gayo. Dari
kopilah, sebagian besar warga Gayo hidup. Tidak heran jika kopi begitu disayang.
Tahun 2020, menurut data BPS Aceh, produksi kopi arabika Gayo di Aceh Tengah,
Bener Meriah, dan Gayo Lues mencapai 65.793 ton biji kopi (green beans).
Produksi ini 40 % dari total produksi kopi arabika nasional. Sebagian besar
produksi kopi arabika Gayo diekspor ke luar negeri, terutama AS, Eropa, dan
beberapa tahun belakangan ini China. Para pembeli dari negara-negara itu berani
menyerap dan membeli mahal kopi arabika Gayo di atas standar harga
internasional. Lewat Festival Panen Kopi Gayo, diharapkan tradisi budaya Gayo
diperkenalkan lagi agar dikenal banyak orang. (Yoga)
Indonesia Butuh Dana Pihak Lain untuk Atasi Krisis Iklim
Upaya mengatasi krisis iklim memerlukan kerja sama yang
kolaboratif dan inklusif berupa aksi-aksi nyata dari semua pihak. Indonesia pun
berkomitmen mengatasi krisis iklim dengan dukungan pendanaan dari pihak lain. Posisi
Indonesia untuk terus mendorong pendanaan iklim, khususnya terkaittransisi
energi, disampaikan langsung Presiden Jokowi dalam pembukaan World Climate
Action Summit (WCAS) di Dubai, Uni Emirat Arab, Jumat (1/12) WCAS merupakan salah
satu agenda dalam Konferensi Para Pihak tentang Perubahan Iklim Ke-28 (COP28)
di Dubai.
”Target Kesepakatan Paris dan net zero emission (nol emisi karbon)
hanya bisa dicapai jika kita bisa menuntaskan masalah pendanaan transisi energi
ini. Dari situlah masalah dunia bisa diselesaikan,” ujarnya. Presiden
mengatakan, semua upaya mengatasi perubahan iklim membutuhkan pembiayaan besar.
Negara-negara sedang berkembang tidak mungkin mampu melakukannya sendiri.
Indonesia membutuhkan investasi lebih dari 1 triliun USD untuk net zero
emission 2060. ”Indonesia mengundang kolaborasi dari mitra bilateral, investasi
swasta, filantropi, dan dukungan negara-negara sahabat. Kami memiliki platform
pembiayaan inovatif yang kredibel, bursa karbon, mekanisme transisi hijau,
sukuk dan obligasi hijau, pengelolaan dana lingkungan hidup dari result based
payment (pembayaran berdasarkan hasil),” ucap Presiden. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









