Ekonomi
( 40600 )Hengtong Tender Offer Saham Voksel di Harga Akuisisi
Pertumbuhan Manufaktur Melambat
Pertumbuhan Manufaktur Melambat
Bakti Hadirkan Layanan Internet di TPS Wilayah 3T
Kalangan Muda Bisa Punya Rumah Lewat Skema Syariah
Terhambat Pelemahan Daya Beli Masyarakat
Elegi Buruh Terjerat Upah Murah dan Ketidakpastian
Dua buruh pabrik, Rizky (24) dan Dayat (24), duduk di sebuah
warung melepas lelah seusai bekerja seharian di sebuah pabrik di Kawasan
Industri Medan, Sumut, Rabu (31/1) sore. ”Kami sudah dua tahun bekerja di
pabrik ini. Kontraknya berakhir Februari dan belum ada pemberitahuan perpanjangan
kontrak. Kalau tidak ada perpanjangan, saya akan batal menikah,” kata Rizky.
Rizky menjadi gambaran buruh yang hidup pas-pasan dan dibayang-bayangi PHK atau
putus kontrak tanpa kepastian. Di tengah ketidakpastian itu, Rizky harus
memikirkan bagaimana menutupi cicilan kredit sepeda motornya Rp 1 juta per
bulan, biaya indekos Rp 500.000 per bulan dan kebutuhan makan sehari-hari.
Meski bertahun-tahun bekerja sebagai buruh pabrik, tiada uang yang bisa dia tabung
dari penghasilan Rp 3,4 juta per bulan.
Dayat mengalami hal serupa. Dia sudah menjadi buruh pabrik di
beberapa perusahaan di Kawasan Industri Medan (KIM) selama enam tahun terakhir.
Namun, sampai sekarang dia tidak bisa menabung. ”Cicilan sepeda motor kami
anggap sebagai tabungan,” kata Dayat. Meski upah buruh naik dari tahun ke
tahun, itu tidak sebanding dengan kenaikan harga bahan pokok. Dayat mencontohkan
harga beras Rp 9.000 per kg saat pertama bekerja enam tahun lalu. Saatini
harganya Rp 15.000 per kg. ”Semua harga kebutuhan serba naik mulai dari sewa
rumah hingga BBM. Dulu gaji saya Rp 3 juta dan sekarang naik jadi Rp 3,4 juta. Kenaikan
gaji enggak cukup menutupi kenaikan biaya hidup,” kata Dayat.
Di Jatim, sebagian buruh di Kabupaten Sidoarjo mendapat upah
rendah yang jauh dari upah minimum kabupaten (UMK). Padahal, UMK di Sidoarjo
relatif tinggi karena berada di sentra industri di Jatim. Tak pelak, banyak
pekerja jauh dari sejahtera. Beni (28), warga Desa Kloposepuluh, yang bekerja
sebagai karyawan di pabrik plastik pada 2020, setelah menganggur dua tahun selepas
tamat SMK jurusan mesin. Bekerja empat tahun, statusnya masih karyawan tidak tetap.
Gajinya Rp 1,5 juta per bulan, jauh dari UMK Sidoarjo Rp 4.638.582 per bulan.
Ia pun mesti berhemat, demi menyiasati standar biaya hidup yang tinggi di
Sidoarjo. Alih-alih menabung, Beni justru kerap meminta tambahan uang dari
orangtuanya, Suwarni (45), yang juga bekerja sebagai buruh cuci pakaian di
perumahan. Padahal, penghasilan Suwarni hanya Rp 1 juta per bulan dan tidak
cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sehari-hari. (Yoga)
Elastisitas Permintaan Minyak
Pasar minyak internasional adalah contoh menarik dari fenomena
elastisitas permintaan. Harga minyak Brent turun dari 86 USD per barel pada
awal November 2023 menjadi 77 USD per barel pada awal Februari 2024. Namun, fluktuasi
per minggu, bahkan harian, tetap tajam akibat berbagai faktor, seperti konflik
di Timur Tengah, naik-turunnya persediaan minyak di AS, pertumbuhan China, dan
resesi di zona euro. Prediksi Goldman-Sachs, September 2023, bahwa harga Brent mencapai
100 USD dalam 12 bulan tidak terwujud sampai akhir Januari 2024. Faktor pertama
yang menghambat harga minyak Brent mendekati 100 USD per barel adalah ketidak kompakan
OPEC, terlihat pada penundaan pertemuan OPEC dari 26 November ke 30 November
2023 karena ketidaksepakatan struktur biaya produksi.
Keluarnya Angola dari OPEC adalah refleksi sulitnya mencapai
kompromi dalam kartel yang anggotanya punya kepentingan berbeda. Faktor kedua
adalah harga minyak yang terlalu tinggi membuat para pesaing dengan struktur
biaya produksi lebih kompetitif dapat ikut masuk pasar. Harga Brent turun
tajam, dari 83 USD per barel di pekan kedua April 2023 menjadi 73 USD per barel
di Juli 2023. Arab Saudi sebagai pemimpin de facto OPEC meresponsnya dengan mengurangi
produksi untuk mendongkrak harga, sejak Juni 2023 dan sampai akhir 2023.
Akibatnya, harga Brent bergerak naik hingga pada pekan kedua September 2023
sempat mencapai 93 USD per barel.
Harga yang tinggi membuat produsen-produsen yang selama ini
mati suri kembali masuk pasar. Saat ini AS memproduksi 13 juta barel per hari
yang melebihi produksi setiap negara OPEC sehingga jadi penyeimbang OPEC. Harga
minyak berangsur turun ke keseimbangan saat ini. Faktor ketiga adalah agenda
ekonomi hijau yang memicu inovasi energi terbarukan. Permintaan minyak makin
elastis terhadap perubahan harga jika berbagai alternatif energi hijau nonfosil
makin tersedia. Harga minyak dunia yang terjangkau merupakan faktor penting
mengapa ramalan resesi di AS dan dunia pada 2023 tidak terwujud. (Yoga)
Laba Mekar Bonus Bankir Kakap Makin Besar
CELAH SEMPIT MANUVER EKONOMI
Warsa 2024 menjadi tahun pertaruhan bagi pemerintah untuk berkelit dari risiko perlambatan ekonomi akibat tekanan internal dan eksternal. Contohnya penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) yang kerap membuat akselerasi bisnis kurang lincah. Maklum, dalam tiga kali pemilu terakhir, laju produk domestik bruto (PDB) selalu mencatatkan penurunan. Terakhir kali ekonomi nasional mampu tumbuh gemilang pada tahun politik adalah ketika Pemilu 2004. Tentu tak mudah bagi pemerintah untuk melawan data historis ini. Terlebih, situasi ekonomi 2024 diliputi beragam tantangan. Mulai dari efek ketidakpastian global yang mereduksi kinerja ekspor, hingga agenda lima tahunan yang mengekang investasi di dalam negeri, lantaran dunia usaha cenderung wait and see. Konsumsi masyarakat pun belum sepenuhnya membaik setelah dihantam oleh tingginya infl asi yang menekan daya beli masyarakat dalam dua tahun terakhir.
Buktinya, Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin, Senin (5/2), merilis pertumbuhan konsumsi LNPRT mencapai 9,82% secara tahunan, sedangkan konsumsi rumah tangga hanya 4,82%. Faktanya, laju PDB hanya 5,05%, turun dibandingkan dengan 2022 yang mencapai 5,31%. Realisasi pada tahun lalu juga lebih rendah dibandingkan dengan target pemerintah yang tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 yakni 5,3%. Apalagi, konsumsi rumah tangga yang memiliki porsi 53,18% ke PDB tahun lalu terseok-seok, bahkan menyentuh angka pertumbuhan terendah dalam tiga tahun terakhir. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan meski meleset dari target, capaian pada tahun lalu cukup positif di tengah pelemahan ekonomi banyak negara maju. Pemerintah pun optimistis pada tahun ini laju PDB tetap solid dan mampu tumbuh di angka target 5,2%. Sejumlah siasat pun telah disiapkan dan segera dieksekusi. Siasat lain yang akan dipacu adalah merevitalisasi mesin konvensional pendorong ekonomi, yaitu produktivitas dan daya saing industri yang disinergikan dengan pembangunan proyek strategis nasional (PSN) serta megaproyek lainnya.
Jika dicermati, pemerintah sejatinya menyadari betul sulitnya melawan kecenderungan perlambatan ekonomi selama tahun politik. Hal itu tecermin dari optimalisasi yang hanya dilakukan pada tiga sektor penopang PDB.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani, mengatakan bansos adalah kebijakan sementara yang kurang signifi kan merangsang konsumsi rumah tangga. "Bansos tidak bisa diharapkan untuk meningkatkan atau menciptakan pertumbuhan daya beli masyarakat secara sustainable," katanya kepada Bisnis.
Ekspektasi senada disampaikan Ekonom Bank Danamon Irman Faiz, yang memperkirakan konsumsi rumah tangga terus melambat seiring dengan perkiraan penurunan pendapatan pada tahun ini.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, menambahkan kunci yang bisa mengakselerasi PDB pada tahun ini adalah kebijakan fi skal dan moneter yang wajib mendukung pertumbuhan ekonomi.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









