Ekonomi
( 40465 )BSI Bidik Transaksi Nasabah Institusi Tumbuh 32%
Konsistensi dan Sinergi Mengendalikan Inflasi
Resep Atasi Ketimpangan Ekonomi
Transisi Industri Matang demi Transisi Berkeadilan
Blokir Anggaran K/L Sarat Kepentingan Publik
Penurunan Kinerja Ekspor Bikin Ekonomi RI Tumbuh Melambat
Austindo Mengincar Kenaikan Produksi CPO Tahun Ini
Ceruk Pasar Mineral Kualitas Tinggi
Pelemahan harga komoditas pertambangan tidak menyurutkan PT Sumber Mineral Global Abadi Tbk (SMGA) untuk mencari pendanaan di pasar modal. Perusahaan yang bergerak di sektor perdagangan batubara dan nikel ini resmi menjadi emiten kesembilan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini. SMGA adalah anak usaha dari PT Sumber Global Energy Tbk (SGER), perusahaan perdagangan batubara di pasar ekspor dan domestik dengan sistem pemasok batubara satu atap. Sebagai perusahaan perdagangan (trading) komoditas, SMGA lebih berfokus pada produk nikel dan batubara yang berkualitas tinggi. SMGA menjual nikel dengan kadar sebesar 1,5%-1,9%. Sedangkan untuk batubara, SMGA menjual dengan kalori sebesar 3.400-5.300 kka per kg. Kondisi ini memposisikan SMGA sebagai trader nikel dan batubara yang memiliki segmentasi pasar tersendiri. Didukung tingginya permintaan nikel dan batubara berkualitas baik, SMGA bekerjasama dengan pemilik Izin Usaha Penambangan Operasional Produksi (IUP-OP) dan Izin Usaha Penambangan Operasi Produksi Khusus (IUP-OPK) untuk memastikan kontinuitas produktivitas dan pasokan ke pengguna akhir. Ke depan, SMGA berencana mengakuisisi tambang nikel, sehingga bisa memproduksi bijih nikel (ore) sendiri. Direktur Utama Sumber Mineral Global Abadi, Julius Edy Wibowo mengatakan, tambang nikel yang akan dicaplok tersebut berlokasi di Morowali Utara. Tambang tersebut akan memproduksi 50.000 ton sampai dengan 100.000 ton nikel ore per bulan.
Julius memproyeksi, akuisisi ini akan rampung pada kuartal II-2024, dan diproyeksikan bakal mulai beroperasi pada kuartal III-2024. Meski tidak menyebutkan angka pasti, yang jelas nilai dari akuisisi ini bersifat material dengan nilai di bawah 50% dari ekuitas SMGA. SMGA juga tengah menggarap potensi bisnis batu gamping. SMGA menjalankan usaha pertambangan batu gamping secara tidak langsung melalui penyertaannya di entitas anak, yaitu PT Jasatama Mandiri Sukses. Tahap kegiatan operasi produksi ini meliputi kegiatan konstruksi, penambangan, pengolahan dan/atau pemurnian atau pengembangan dan/atau pemanfaatan, serta pengangkutan dan penjualan. Kegiatan pertambangan Jasatama Mandiri Sukses berlokasi pada Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah dengan luas wilayah 85,73 hektare (ha). Berdasarkan hasil eksplorasi yang telah dilakukan, cadangan batu gamping yang dimiliki oleh Jasatama Mandiri Sukses saat ini sebesar 300 juta ton dengan perkiraan usia tambang sekitar 150 tahun. Julius menyatakan, secara industri permintaan nikel diprediksi naik dari 2.340 kiloton (KT) pada 2020 menjadi 6.250 KT pada tahun 2040. Meningkatnya permintaan akan nikel terutama didorong oleh naiknya kebutuhan dari industri kendaraan listrik (EV) dan baterai.
Februari, Pencairan Aset Wanaartha Life
Budidaya Ikan Kembali Memeluk Teluk Ambon
Februari hingga Maret menjadi waktu yang tidak disukai warga
Ambon, atau umumnya Maluku. Tanpa membaca perhitungan BMKG, warga meyakini
gelombang tinggi dan embusan angin kencang mengganggu aktivitas di perairan.
Bagi pembudidaya ikan di perairan Teluk Ambon, Kota Ambon, perasaan waswas
menghantui karena ombak sering menghantam dan merusak keramba kayu sehingga
ikan yang hendak dipanen kabur. Banyak dari mereka memutuskan berhenti. Namun,
sejak bantuan pemerintah datang, potensi sektor budidaya ikan kembali dilirik.
Saat sector perikanan tangkap menurun, permintaan ikan budidaya mulai tumbuh.
Daerah yang dahulu sepi kini mulai ramai. Pembudidaya ikan berangsur kembali ke
Teluk Ambon
Anang Divinubun (42), pembudidaya ikan di Teluk Ambon,
menceritakan, meski tumbuh, perlu nyali besar menekuni budidaya ikan. Ketua
Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Baronang ini stres memikirkan ratusan ikan
lepas karena ombak menghantam keramba kayunya pada 2017. ”Dari 700-an ikan yang
mau dipanen, hanya sisa 10, seng bisa tidur ingat kejadian itu,” kata Anang di
kerambanya, Senin (29/1). Kala itu, Anang berbudidaya ikan setelah berhenti
pada 2015. Anang yang kerap merugi berganti pekerjaan menjadi penjaga kapal
asing. Namun, pekerjaan ini hanya bertahan sesaat. Takdir baik mendatangi Anang
saat Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Maluku memberikan bantuan keramba
high-density polyethylene (HDPe) pada 2021. Keramba berbahan dasar plastik
dengan daya tahan kuat dan bisa digunakan hingga 20-25 tahun. Bisnis budidaya
ikan yang tumbuh membuat Anang mampu mendirikan restoran apung pada awal 2024.
”Sekarang bisa tidur dengan tenang. Restoran hampir selalu penuh setiap hari,”
ujarnya.
Jusuf Tanamal (41) memutuskan kembali menekuni budidaya ikan
di Teluk Ambon. Sejumlah ikan, seperti bubara (Caranx ignobilis), baronang
(Siganus sp), kakap putih (Lates calcarifer), bahkan lobster (Nephropidae),
dipelihara untuk dijual atau diolah di restoran. Sebelumnya, Jusuf bekerja
sebagai sopir di Universitas Pattimura, Ambon. Pada 2017, Jusuf membangun
keramba kayu untuk memulai bisnis budidaya ikan. Ketekunan Jusuf didengar DKP
Provinsi Maluku yang mendorong budidaya ikan di Maluku. Bantuan keramba HDPe pun
ia dapatkan. Jusuf tak perlu lagi khawatir merugi karena ombak Februari.
Sekarang, Jusuf memiliki 16 keramba, 14 keramba HDPe dan sisanya keramba kayu.
Kabid Perikanan Budidaya, Pengolahan, dan Pemasaran Hasil Perikanan DKP
Provinsi Maluku Karolis Iwamony menjelaskan, nilai tukar pembudidaya ikan (NTPi)
relatif meningkat meski menurun di era pandemic Covid-19. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









