Ekonomi
( 40465 )Siap-Siap Menadah Jatah Laba Emiten Perbankan
Presiden: Universitas Nahdlatul Ulama Lokomotif Kemajuan Pendidikan
Presiden Jokowi menilai Universitas Nahdlatul Ulama atau UNU Yogyakarta menjadi lokomotif kemajuan pendidikan dengan diresmikannya kampus terpadu yang baru di Daerah Istimewa Yogyakarta. Fasilitas ini diharapkan mencetak intelektual nahdliyin yang kompetitif di dunia profesional dan sukses menjadi wirausaha. Presiden menyampaikan hal itu saat meresmikan kampus terpadu UNU Yogyakarta di Gamping, Kabupaten Sleman, DIY, Rabu (31/1). Peresmian itu juga sekaligus menjadi puncak peringatan Hari Lahir Ke-101 NU. Dalam kesempatan tersebut juga dimulai pembangunan MBZ College of Future Studies yang merupakan bantuan dari Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA).
Presiden Jokowi mengatakan, pembangunan kampus terpadu UNU Yogyakarta ini bermula dari surat permohonan Pengurus Besar NU (PBNU) dan Pengurus Wilayah NU (PWNU) DIY pada Januari 2020. Alasannya, PWNU DIY belum memiliki universitas yang bagus di Yogyakarta. ”Saya sampaikan kepada tim dari PBNU dan PWNU DIY bahwa saya setuju membantu asalkan UNU Yogyakarta bukan dirancang untuk biasa-biasa saja. UNU Yogyakarta harus disiapkan menjadi luar biasa, menjadi lokomotif lompatan kemajuan bagi lembaga pendidikan tinggi NU secara nasional,” kata Presiden. Presiden menjelaskan, Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X ikut membantu pembangunan dengan menyediakan lahan. Adapun pembangunan fisik dilakukan Kementerian PUPR. Kampus terpadu ini berdiri di lahan seluas 7.478 meter persegi.
Dibangun sembilan lantai dengan luas bangunan 16.769 meter persegi. Total biaya mencapai Rp 173,8 miliar. Kampus ini menggantikan kampus lama UNU Yogyakarta di daerah Lowanu, Kota Yogyakarta, yang berdiri sejak 2017. Presiden berpesan, sebagai lokomotif kemajuan pendidikan, UNU Yogyakarta tidak boleh hanya bangga kepada gedungnya. Kebanggaan utama harus terletak pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pendidikan unggul untuk mencetak intelektual nahdliyin yang kompetitif di dunia profesional dan sukses menjadi wirausaha. Presiden juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed al-Nahyan (MBZ) yang membantu UNU Yogyakarta dengan membangun MBZ College of Future Studies. Lokasinya bersebelahan dengan kampus terpadu, yang direncanakan beroperasi pada Oktober 2024. (Yoga)
PENGELOLAAN SAMPAH, Masalah Bertumpuk Bikin Investor Tak Tertarik
Awal tahun ini, warga Kabupaten Bekasi, Jabar, dibuat kalang kabut oleh wacana kenaikan retribusi sampah. Mengutip situs resmi Pemkab Bekasi, besaran kenaikan tarif retribusi sampah rumah tangga mulai dari Rp 11.000 hingga Rp 20.000, bergantung pada klasifikasi rumah. Adin (39) warga Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, menilai cara mengatasi persoalan sampah di Kabupaten Bekasi seharusnya tak hanya bertumpu pada tingkat pungutan retribusi yang dibebankan kepada masyarakat, tetapi juga meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah. Limbah sampah seharusnya tidak cuma ditumpuk di tempat pembuangan sampah (TPS), tetapi harus diolah. ”Saya baca berita, banyak masalah di TPS, berarti perlu cari solusi untuk masalah yang ada. Tidak Cuma menambah tarif retribusi untuk ongkos angkut sampah,” ujarnya, Rabu (31/1).
Sampah dari hulu hingga hilir perlu dikelola dan diolah untuk mengurangi jumlah sampah tak terolah yang dapat mengancam keberlangsungan lingkungan. Namun, di sisi lain, manajemen sampah dari hulu hingga hilir membutuhkan pendanaan jumbo. Mengutip data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbunan sampah tahunan pada 2023 mencapai 17,44 juta ton, tapi hanya 66,47 % (11,59 juta ton) sampah yang terkelola dan sisanya, 5,84 juta ton, tidak terkelola. Namun, data ini hanya diambil dari 132 kabupaten / kota di Indonesia. CEO dan Founder Waste4Change Mohamad Bijaksana Junerosano mengatakan, di Indonesia, perdebatan soal besaran retribusi yang ideal masih belum menemukan titik temu. Mirisnya, sebagian besar dana pengelolaan sampah membebani anggaran daerah. Padahal, sampah seharusnya menjadi tanggung jawab setiap individu ataupun organisasi yang menghasilkannya.
”Di Indonesia, tarif retribusi sampah terlalu murah sehingga selalu terjadi kekurangan dana untuk operasional sampah. Di sisi lain, bertambahnya sampah yang dihasilkan oleh masyarakat selalu menjadi tanggungan pemerintah,” ujarnya, Mengutip data KLHK, dalam sehari produksi sampah nasional 175.000 ton, dengan asumsi infrastruktur pengelolaan sampah yang optimal memerlukan investasi senilai Rp 1 miliar untuk setiap ton sampah, maka dibutuhkan dana investasi sebesar Rp 175 triliun. ”Ini bukan angka yang sulit kalau investor berpikir secara jangka panjang, seperti ketika berinvestasi di infrastruktur jalan tol,” kata Ano. Kesemrawutan sistem pendanaan dan belum akuratnya data tentang sampah, menurut dia, menjadi satu hal yang membuat investor enggan masuk ke sektor pengelolaan sampah. Potensi keuntungan lain yang didapat dari skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) juga hilang. (Yoga)
Cara Gen Z Menjadi Kaya
Sering kita membaca dan mendengar kesulitan yang dihadapi generasi Z (gen Z) dan bagaimana mereka terbebani generasi sebelumnya. Di tengah situasi seperti ini, ternyata mereka ingin kaya dan berusaha dengan berbagai cara menjadi kelompok masyarakat yang sejahtera. Gen Z lahir saat tengah berlangsung revolusi digital, ancaman akibat perubahan iklim, pandemi Covid-19, dan tekanan finansial beberapa kali. Mereka juga sulit mendapatkan properti dan keslitan untuk membayar biaya kuliah.
Berbagai tekanan ini menjadikan mereka berusaha mencari solusi. Tidak mengherankan, akun-akun media sosial dan acara pengelolaan keuangan menjadi laris manis. Gen Z terobsesi menjadi kaya. Seorang pakar mengatakan kepada Newsweek, tekanan finansial malah menjadikan mereka bermimpi untuk menjadi kaya. Mereka berjuang di tengah perasaan tidak aman dalam hal finansial. Mereka yang berhasil adalah mereka yang melihat keuangan mereka dengan jujur.
Studi terbaru Intuit Credit Karma menemukan bahwa gen Z yang lahir antara tahun 1996 dan 2012 serta generasi milenial yang lahir tahun 1981 hingga 1996 mencatat obsesi umum untuk menjadi kaya, sebesar 44 %, sementara kaum milenial sedikit lebih terobsesi dengan hal tersebut, yaitu 46 %. Beberapa saran dari kalangan penasihat keuangan menyebutkan, mereka harus menetapkan tujuan yang jelas, membuat rencana, dan yang terpenting adalah catatan finansial mereka sendiri.
Selain mengelola tabungan, mereka juga disarankan melakukan penjadwalan pembayaran otomatis dari setiap gaji, untuk membantu bertanggung jawab dan meningkatkan tabungan dalam jangka panjang. Meski demikian, langkah yang paling tepat adalah melakukan investasi. Mereka dianjurkan untuk melakukan investasi sejak dini dan mulai memahami jenis-jenis investasi beserta risikonya. Secara umum, mereka memiliki literasi tentang investasi lebih baik dibandingkan pendahulunya.
Banyak gen Z mulai menyadari dan menunjukkan kepedulian terhadap keuangan mereka. Menurut studi tahun 2019 dari Next Gen Personal Finance yang dikutip laman CNBC, jika dibandingkan dengan generasi milenial pada usia yang sama, persentase gen Z yang mulai berinvestasi lebih tinggi. Pada 2019, sebanyak 27-28 % gen Z memiliki paparan terhadap ekuitas melalui kepemilikan saham atau bahkan rekening pensiun. Persentase itu jauh lebih tinggi dibandingkan generasi lain.
Ketika generasi milenial memiliki usia yang sama pada tahun 2004, hanya 18,7 % dari mereka yang mempunyai paparan terhadap ekuitas. Keadaan ini menjadikan genZmemiliki harapan bisa menjadi kaya. Keberadaan platform investasi yang lebih mudah diakses kemungkinan berkontribusi terhadap fenomena ini. Dengan teknologi baru lewat beragam platform digital, mereka terbantu untuk membuat perencanaan investasi, bahkan investasi properti. (Yoga)
Kian Ekspansif! Bank Mandiri Cetak Laba Bersih Rp 15,1 Triliun Pada 2023
Bank Mandiri dengan strategi bisnis yang konsisten untuk focus pada pertumbuhan bisnis berbasis ekosistem serta didukung strategi digitalisasi, berhasil mencetak pertumbuhan gemilang sepanjang 2023 dengan membukukan laba bersih Rp 55,1 triliun, tumbuh 33,7 % secara year on year. Dirut Bank Mandiri, Darmawan Junaidi mengatakan “Dari berbagai tantangan yang ada di tahun 2023, kondisi ekonomi Indonesia masih resilien didorong peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi dan inflasi yang masih terjaga. Di sisi lain, ruang kinerja fiskal Indonesia masih besar untuk mendukung perekonomian,” katanya di Jakarta, Rabu (31/1).
Hal ini diselaraskan oleh Bank Mandiri dengan strategi yang tepat untuk menghasilkan bisnis berkelanjutan. Terbukti sepanjang 2023 Bank Mandiri mampu meningkatkan volume bisnis pada semua segmen dan memperkuat efisiensi perseroan. Terlihat dari total asset Bank Mandiri yang berhasil menembus Rp 2.174,2 triliun pada akhir 2023, naik 9,12 % dari tahun sebelumnya sebesar Rp 1.992,5 triliun (Yoga)
Mitigasi Risiko Ketidakpastian Global
Belum reda tekanan akibat pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina, saat ini perekonomian global kembali dihadapkan pada ketidakpastian baru yang disebabkan perang Israel-Palestina. Krisis Timur Tengah yang menyeret AS dan sekutunya ini langsung membuat harga minyak dunia bergejolak. Keterlibatan AS dan sekutunya dalam pusaran konflik dengan menyerang Yaman langsung menaikkan harga minyak dunia jenis Brent sebesar 4 % menjadi 80 USD / barel dan jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 2,79 % menjadi 74,03 USD / barel. Kenaikan tertinggi terjadi pada harga gas alam, sekitar 25 % pada 12 Januari 2024. Sebelumnya, ekonom Bank Investasi AMP di Australia, Shane Oliver, mengingatkan, serangan AS dan sekutunya terhadap Yaman meningkatkan peluang Iran terlibat langsung dalam konflik di kawasan (Kompas, 13/1/2024).
Akibatnya, pasokan minyak global akan terancam sehingga menimbulkan risiko terhadap pertumbuhan dan inflasi global. Berakhirnya era suku bunga tinggi yang ditunggu-tunggu oleh pelaku usaha dan konsumen kembali buyar. Proyeksi bahwa inflasi AS akan turun signifikan sehingga memberi ruang bagi The Fed dan bank sentral secara global melonggarkan suku bunga acuan pada semester pertama 2024 mengalami ketidakpastian. Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings memperkirakan harga minyak dunia akan meningkat pada 2024 akibat perang Timteng yang dimulai dari konflik Hamas-Israel. Kenaikan harga minyak dunia akan mendongkrak inflasi dan menggerus pertumbuhan ekonomi global. Hasil simulasi Fitch Rating (2023) menunjukkan kenaikan harga minyak dunia sebesar 10 % akan menurunkan pertumbuhan ekonomi global 0,4 % menjadi 2,7 % pada 2024, dan 0,1 % tahun 2025 ke level 3,0 %.
Proyeksi ini didasarkan pada asumsi rata-rata harga minyak dunia 75 USD / barel tahun 2023 serta 70 USD / barel tahun 2024 dan 2025. Terhambatnya produksi minyak dunia dan gangguan pada rantai distribusi akibat meluasnya perang di Timteng dapat membuat harga minyak dunia naik signifikan, menjadi 120 USD / barel pada 2024 dan 100 USD / barel pada 2025 (Fitch Rating, 2023). Kenaikan harga minyak dunia akibat perang Timteng membuat arah pergerakan suku bunga global menjadi tidak menentu. The Fed dan bank sentral negara-negara EMEs berpotensi menunda menurunkan suku bunga acuan hingga semester kedua 2024. Respons kebijakan dari otoritas moneter EMEs, khususnya BI, adalah tetap konsisten pada kerangka kebijakan inflation targeting (IT) dengan target inflasi 2,5 % plus-minus 1 %. Dengan demikian, BI dituntut berhati-hati melonggarkan kebijakan moneternya dengan menurunkan suku bunga acuan. (Yoga)
Pemerintah Dorong Tingkat Kesejahteraan
Optimisme Pelaku Usaha Cetak Rekor Tertinggi
Empat Bank Jumbo Raup Laba Rp190,24 Triliun
Goto Siap Buyback Saham
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









