Ekonomi
( 40465 )Kenaikan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Ditunda
Kausa Proyek Shrimp Estate
Jumlah Emiten Tak Layak di Bursa Makin Banyak
Lepas Dahaga Manufaktur Menjelang Bulan Puasa
Beras Bisa Mendorong Angka Inflasi
ASGR Siap Mencetak Kinerja Positif
DAYA BELI KURANG BERTAJI
Sesuai prediksi, tingkat inflasi pada awal tahun ini terus melandai. Sepintas penurunan inflasi ini memberikan kabar baik setelah hampir 2 tahun terakhir pemerintah kelabakan mengendalikan indeks harga konsumen (IHK). Akan tetapi, moderasi inflasi sulit dibilang sehat, lantaran tingkat inflasi inti yang merupakan cerminan daya beli masyarakat secara riil berada pada level terendah baru. Artinya, turunnya inflasi lebih disebabkan oleh lemahnya daya beli masyarakat, yang tentu saja perlu direspons sigap oleh pemangku kebijakan. Hal itu terbukti dari data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat inflasi umum Januari 2024 hanya 2,57% (year-on-year/YoY), sedangkan inflasi inti hanya 1,68 (YoY). Pada saat bersamaan, PMI Manufaktur Indonesia berada pada zona ekspansif yakni 52,9, tertinggi dalam lima bulan terakhir.
Gubernur BI Perry Warjiyo, mengatakan strategi yang akan ditempuh untuk menyeimbangkan inflasi yakni mengoptimalkan instrumen moneter dengan instrumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Khusus inflasi inti, penanganan akan dilakukan dengan stabilisasi rupiah serta suku bunga acuan. "Inflasi Insyaallah tetap terkendali, sasaran kita 2,5% plus minus 1% tahun ini," kata Perry, Kamis (1/2).
Sementara itu, secara historis PMI Manufaktur selalu menanjak menjelang Ramadan. Hal ini dipicu oleh adanya pembatasan aktivitas produksi sehingga diperlukan stok barang yang cukup. Kalangan pelaku usaha pun berharap pemerintah dan BI memiliki strategi cermat untuk memacu konsumsi. Jika tidak, maka opsi yang dimiliki pebisnis hanyalah melakukan efi siensi produksi.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan penurunan daya beli terjadi pada seluruh lapisan masyarakat. bansos yang dikucurkan awal tahun ini dinilai hanya mendongkrak daya beli masyarakat bawah, belum menyentuh kelas menengah.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Diana Dewi, menilai penurunan inflasi inti seharusnya menjadi peringatan bagi pemerintah mengingat dampaknya cukup besar. "Ini dampaknya juga kurang baik," katanya. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal, mengatakan inflasi inti yang rendah dipengaruhi oleh faktor daya beli yang juga terbatas.
Konsistensi BSI dalam Menata Jejak Pertumbuhan untuk Keberlanjutan
Langkah tegap PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) dalam bertransformasi menjadi beyond sharia bankingmakin mewarnai perekonomian Tanah Air. Pada milad ketiga tahun ini, BSI terus mencatat pencapaian positif dan makin eksis di industri keuangan nasional dan global. Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan, raihan positif BSI patut disyukuri. Lahir ditengah ketidakpastian ekonomi, menjadikan BSI mampu menghadapi berbagai tantangan untuk menciptakan jejak pertumbuhan yang berkelanjutan.
Hasilnya, memasuki tahun ketiga sejak didirikan pada 1 Februari 2021, BSI berhasil menjaga kinerja keuangan tetap tumbuh secara impresif yang ditunjukkan dengan pencapaian laba yang naik 33,88% year-on-year (YoY) menjadi Rp5,7 triliun hingga kuartal IV/2023. Kontributor utama penopang kinerja positif BSI di antaranya adalah pembiayaan, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) dan dana murah yang tumbuh dua digit, respons strategi yang tepat serta model bisnis yang fleksibel dan terdigitalisasi.
Konsistensi BSI pada pembiayaan berkelanjutan juga terus menguat. Hingga Desember 2023, pembiayaan berkelanjutan di BSI mencapai Rp57,7 triliun yang didominasi sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sebesar Rp45,4 triliun, disusul sustainable agriculture Rp4,8 triliun, eco-efficient product Rp5,8 triliun, energi terbarukan Rp1,1 triliun, dan proyek eco-greenRp549,6 miliar.
Layanan digital BSI pun semakin baik. Hingga akhir Desember 2023, jumlah pengguna BSI Mobile mencapai 6,3 juta orang di mana pembukaan rekening online on boarding (OOB) mencapai 86%. Selain itu, perseroan juga berkontribusi kepada masyarakat melalui penyaluran program tanggung jawab sosial atau corporate social responsibility(CSR) sebesar Rp255,2 miliar.
Peluang, Tantangan, dan Strategi Bank Syariah di Bursa
Beberapa waktu terakhir, terdapat rencana sejumlah bank umum syariah di Indonesia untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Mulai dari Bank Muamalat, Bank Mega Syariah, Bank Jabar Banten Syariah (BJB Syariah), hingga bank syariah yang baru berdiri yaitu Nanobank Syariah. Langkah bank-bank tersebut sejalan dengan arah pengembangan sektor keuangan yang disusun OJK dalam Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Syariah Indonesia tahun 2023—2027 dan Roadmap Pasar Modal Indonesia 2023—2027. Dalam Roadmap Perbankan Syariah tersebut, salah satu strateginya yaitu konsolidasi bank syariah yang dilakukan melalui pemenuhan modal inti. Pemenuhan permodalan dapat dilakukan salah satunya melalui strategi Initial Public Offering (IPO) di BEI. Kemudian, dalam Roadmap Pasar Modal Indonesia, target utama yang ingin dicapai pada tahun 2027 adalah kapitalisasi pasar (market cap) sebesar Rp15.000 triliun serta jumlah perusahaan tercatat mencapai 1.100 perusahaan. Saat ini, kapitalisasi pasar modal Indonesia mencapai Rp11.000 triliun dengan 903 perusahaan tercatat (OJK, Desember 2023). Oleh karena itu, melalui strategi IPO tersebut, perbankan syariah turut berkontribusi dalam mencapai kedua target utama pasar modal Indonesia. Di samping itu, rencana aksi korporasi tersebut sejalan dengan rencana aksi Roadmap Pasar Modal, yaitu peningkatan jumlah lembaga keuangan syariah yang berperan di pasar modal syariah.
Selain itu, selama setahun terakhir, pertumbuhan DPK di industri perbankan baik konvensional maupun syariah tumbuh terbatas (BSI, 2023). Hal ini mengakibatkan terjadinya perebutan dana murah untuk pemenuhan likuiditas di masing-masing bank. Maka, pemenuhan likuiditas selain Dana Pihak Ketiga dalam bentuk dana segar dari bursa merupakan salah satu alternatif strategis yang dapat dilakukan bagi bank syariah.
Dalam hal ini, bank-bank syariah yang akan melakukan IPO perlu mencermati beberapa hal sebelum melaksanakan aksi korporasinya. Pertama, penyusunan rencana dan eksekusi pasca IPO perlu dilakukan dengan matang.
Kedua, apa langkah strategis berikutnya pasca IPO? Apakah melakukan konsolidasi dengan bank syariah lain atau hanya fokus pada peningkatan aset dan kinerjanya? Sebab, salah satu strategi penguatan industri perbankan syariah yang disusun oleh OJK adalah konsolidasi bank syariah.
Ketiga, proses IPO di tengah tahun politik akan dipenuhi dengan tantangan dan ketidakpastian.
Oleh karena itu, beberapa hal perlu dilakukan baik bagi bank syariah yang telah dan akan melakukan IPO di kemudian hari. Pertama, positioningserta diferensiasi bank syariah dengan bank konvensional perlu diperjelas dan diperkuat.
Kedua, penguatan fundamental masing-masing bank syariah adalah sebuah keniscayaan untuk menjaga kepercayaan tidak hanya bagi nasabah, tetapi juga investor yang akan membeli sahamnya, sehingga kinerja saham bank syariah di bursa tetap terjaga. Ketiga, sistem dan layanan bank syariah yang telah IPO secara kualitas perlu ditingkatkan.
Terakhir, koordinasi berkelanjutan antara regulator, pemerintah, dan bank syariah diperlukan khususnya dalam mendukung diferensiasi dan positioning perbankan syariah di Indonesia. Melalui langkah-langkah tersebut, bank syariah tidak hanya sekadar hanya hadir di bursa, melainkan memberikan nilai terbaik bagi para stakeholdernya.
INDUSTRI OTOMOTIF 2024 : APM Janji Pacu Ekspor Mobil
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia bakal memacu ekspor mobil dan komponennya untuk mencegah terus tergerusnya surplus neraca dagang otomotif. Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto mengatakan bahwa asosiasi akan meminta para agen pemegang merek (APM) otomotif untuk meningkatkan ekspor kendaraan bermotor. “Kami akan coba meminta kepada para APM meningkatkan ekspor otomotif dan komponennya, tetapi seperti ekspor itu selalu dikendalikan oleh para prinsipal atau kantor pusat,” tuturnya kepada Bisnis, Kamis (1/2). Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca dagang otomotif terus tergerus. Padahal, pertumbuhan volume ekspor mobil yang merupakan komoditas utama sangat diperlukan. Sepanjang Januari-November 2023, neraca dagang kendaraan bermotor dan bagiannya mencapai surplus Rp25,74 triliun atau turun 52,53% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY).
Nilai ekspor pada 11 bulan pertama tercatat mencapai US$10,32 miliar atau setara Rp163,14 triliun, naik 3,11% secara YoY dari US$10,01 triliun atau senilai Rp158,22 triliun.
Sementara itu, Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menargetkan ekspor mobil berbasis elektrik bisa mencapai 20.000 unit pada tahun ini atau tumbuh 100% dibandingkan dengan 2023 sebanyak 10.000 unit. Kijang Innova Zenix Hybrid mencatatkan angka ekspor hampir 3.000 unit sepanjang tahun lalu, sedangkan varian Yaris Cross Hybrid yang baru meluncur di pertengahan 2023, diekspor sebanyak lebih dari 6.400 unit ke mancanegara.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









