;

Budidaya Ikan Kembali Memeluk Teluk Ambon

Ekonomi Yoga 02 Feb 2024 Kompas (H)
Budidaya Ikan Kembali Memeluk Teluk Ambon

Februari hingga Maret menjadi waktu yang tidak disukai warga Ambon, atau umumnya Maluku. Tanpa membaca perhitungan BMKG, warga meyakini gelombang tinggi dan embusan angin kencang mengganggu aktivitas di perairan. Bagi pembudidaya ikan di perairan Teluk Ambon, Kota Ambon, perasaan waswas menghantui karena ombak sering menghantam dan merusak keramba kayu sehingga ikan yang hendak dipanen kabur. Banyak dari mereka memutuskan berhenti. Namun, sejak bantuan pemerintah datang, potensi sektor budidaya ikan kembali dilirik. Saat sector perikanan tangkap menurun, permintaan ikan budidaya mulai tumbuh. Daerah yang dahulu sepi kini mulai ramai. Pembudidaya ikan berangsur kembali ke Teluk Ambon

Anang Divinubun (42), pembudidaya ikan di Teluk Ambon, menceritakan, meski tumbuh, perlu nyali besar menekuni budidaya ikan. Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Baronang ini stres memikirkan ratusan ikan lepas karena ombak menghantam keramba kayunya pada 2017. ”Dari 700-an ikan yang mau dipanen, hanya sisa 10, seng bisa tidur ingat kejadian itu,” kata Anang di kerambanya, Senin (29/1). Kala itu, Anang berbudidaya ikan setelah berhenti pada 2015. Anang yang kerap merugi berganti pekerjaan menjadi penjaga kapal asing. Namun, pekerjaan ini hanya bertahan sesaat. Takdir baik mendatangi Anang saat Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Maluku memberikan bantuan keramba high-density polyethylene (HDPe) pada 2021. Keramba berbahan dasar plastik dengan daya tahan kuat dan bisa digunakan hingga 20-25 tahun. Bisnis budidaya ikan yang tumbuh membuat Anang mampu mendirikan restoran apung pada awal 2024. ”Sekarang bisa tidur dengan tenang. Restoran hampir selalu penuh setiap hari,” ujarnya.

Jusuf Tanamal (41) memutuskan kembali menekuni budidaya ikan di Teluk Ambon. Sejumlah ikan, seperti bubara (Caranx ignobilis), baronang (Siganus sp), kakap putih (Lates calcarifer), bahkan lobster (Nephropidae), dipelihara untuk dijual atau diolah di restoran. Sebelumnya, Jusuf bekerja sebagai sopir di Universitas Pattimura, Ambon. Pada 2017, Jusuf membangun keramba kayu untuk memulai bisnis budidaya ikan. Ketekunan Jusuf didengar DKP Provinsi Maluku yang mendorong budidaya ikan di Maluku. Bantuan keramba HDPe pun ia dapatkan. Jusuf tak perlu lagi khawatir merugi karena ombak Februari. Sekarang, Jusuf memiliki 16 keramba, 14 keramba HDPe dan sisanya keramba kayu. Kabid Perikanan Budidaya, Pengolahan, dan Pemasaran Hasil Perikanan DKP Provinsi Maluku Karolis Iwamony menjelaskan, nilai tukar pembudidaya ikan (NTPi) relatif meningkat meski menurun di era pandemic Covid-19. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :