PROSPEK KONSERVATIF EKONOMI RI
Pertumbuhan ekonomi pada 2023 diproyeksikan berada di bawah target yang tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 5,3% (year-on-year/YoY). Konsensus ekonom Bloomberg menyatakan, laju produk domestik bruto (PDB) pada 2023 berkisar 4,6%—5,1% dengan estimasi rata-rata sebesar 4,9%. (Lihat infografik). Selain lebih rendah dibandingkan dengan target dalam APBN 2023, ekspektasi tersebut juga turun dibandingkan dengan realisasi pada 2022 yang berada pada level 5,3%. Di sisi lain, pemerintah optimistis capaian pertumbuhan yang direncanakan akan disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal pekan depan mampu sedikit berada di atas 5%. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, optimisme itu berpijak pada sejumlah indikator ekonomi yang masih cukup tangguh meski dihadapkan pada tantangan daya beli dan perlambatan ekspor. Di antaranya adalah inflasi yang terkendali stabil, yakni 2,6% pada pengujung 2023 yang menandakan adanya geliat konsumsi rumah tangga. Kemudian juga manufaktur nasional yang terus ekspansif yakni 52,2 pada Desember 2023. Selain itu, ketegangan geopolitik serta perlambatan ekonomi di negara mitra dagang utama Indonesia seperti Amerika Serikat (AS) dan China juga memengaruhi aktivitas ekspor. Tercatat hanya investasi yang berkinerja cukup baik dengan realisasi penanaman modal senilai Rp1.418,9 triliun, tumbuh 16,2% dibandingkan dengan 2022.
Sementara itu, tak jauh berbeda dengan Airlangga, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2023 berada di kisaran 5%, dan menjadi salah satu yang terbaik di dunia. Sementara itu dari sisi fiskal, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Deni Surjantoro, mengatakan APBN telah berperan maksimal dalam menjaga ekonomi sepanjang tahun lalu. Salah satunya dengan menerapkan kebijakan automatic adjustment atau penyesuaian anggaran dalam rangka merespons dinamika global terhadap aktivitas ekonomi di dalam negeri. "Kebijakan automatic adjustment terbukti ampuh menjaga ketahanan APBN pada 2022 dan 2023," katanya. Di sisi lain, kalangan ekonom memandang pertumbuhan ekonomi sebesar 5% merupakan capaian yang cukup menggembirakan mengingat selain ketidakpastian global Indonesia juga dihadapkan pada dinamika Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menuturkan bahwa aktivitas pemilu bakal mendorong pengusaha untuk wait and see sehingga aktivitas investasi juga sedikit tertahan.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2023 sebesar 5,04% yang bersumber dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga 4,99% dan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 4,94%.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, memperkirakan laju PDB pada tahun lalu bertahan di zona aman yakni sebesar 5% yang ditopang oleh tingginya realisasi penanaman modal.
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Potensi Tekanan Tambahan pada Target Pajak
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Rendahnya Belanja Produktif Menghambat Pemulihan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023