Ekonomi
( 40465 )Membidik Incaran Saat Pasar Sedang Goyang
Barisan saham lapis kedua dan lapis ketiga kembali unjuk gigi saat saham blue chip melandai. Ini sejalan dengan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sudah berlangsung dalam empat hari perdagangan beruntun. Mengawali pekan ini, IHSG merosot 0,15% ke posisi 7.283,82 pada Senin (26/2). Situasi ini seiring arus dana investor asing yang sejak beberapa hari sebelumnya mulai berbalik melakukan aksi jual. Pada perdagangan Senin, terjadi net foreign sell sebesar Rp 846,23 miliar.
Analis Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus mengamati pelemahan IHSG beberapa hari terakhir terseret aksi profit taking pada saham blue chip, terutama saham perbankan yang sebelumnya sudah naik cukup signifikan. Meski begitu, Daniel melihat kondisi ini masih tergolong koreksi wajar.
Analis Stocknow.id Emil Fajrizki mengamini, situasi sekarang masih bersifat koreksi wajar dengan indikasi terjadi jenuh beli pada saham keping biru.
Sementara dari sisi teknikal Founder WH-Project William Hartanto menimpali, koreksi IHSG juga menjadi bagian dari pengujian support 7.300. Ia memprediksi uji support tersebut akan berlangsung hingga pergantian bulan di akhir pekan ini.
Daniel menambahkan, lompatan pada saham lapis kedua dan lapis ketiga terjadi setelah momentum naik saham blue chip. Apalagi, investor cenderung dalam posisi
wait and see
menanti katalis penggerak pasar berikutnya, seperti kelanjutan musim rilis laporan keuangan dan pengumuman pembagian dividen.
Momentum Ramadan, imbuh Emil, bakal membawa katalis penting yang bisa mendongkrak sejumlah saham lapis kedua. Secara historis, pasar juga merespons positif dengan kecenderungan penguatan IHSG pada awal bulan Ramadan.
Head of Equity Research
Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas sepakat, harus tetap selektif memilah saham lapis kedua dan lapis ketiga. Dengan estimasi koreksi IHSG yang hanya sementara, saham lapis pertama sebenarnya masih layak menjadi prioritas, dengan mencermati saham blue chip yang penurunannya sudah terbatas.
Namun sebagai alternatif, bisa melirik saham-saham lapis kedua dan ketiga dengan tetap mencermati faktor fundamental, prospek bisnis, valuasi serta sinyal teknikalnya. Pelaku pasar bisa mempertimbangkan saham di indeks SMC Liquid seperti ERAA, JSMR dan JPFA.
Susut Hampir 5%, Setoran Bea Cukai Rp 22,9 Triliun
Kementerian Keuangan (Kemkeu) mencatat, realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai pada Januari 2024 sebesar Rp 22,9 triliun. Realisasi tersebut setara dengan 7,1% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 yang sebesar Rp 321 triliun.
Sama dengan pajak, setoran kepabeanan dan cukai tersebut juga menyusut 4,97%
year on year
(yoy). Pemicunya terutama karena penurunan bea masuk dan cukai.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, setoran bea masuk pada Januari 2024 hanya Rp 3,9 triliun, turun 4,64% yoy. "Penerimaan (bea masuk) sampai Januari berhubungan dengan impor kita yang sedikit mengalami pelemahan namun juga tarif efektif kita juga sebetulnya menurun," kata dia, belum lama ini.
Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjelaskan, realisasi penerimaan bea keluar hanya tercatat Rp 1,2 triliun, naik tipis 3,44% yoy, karena faktor harga komoditas dan kebijakan pemerintah. Adapun penerimaan bea keluar tembaga sebesar Rp 1 triliun karena adanya relaksasi ekspor komoditas tembaga dan bea keluar produk sawit Rp 117,8 miliar yang dipengaruhi penurunan harga.
BBM dan Listrik Ditahan, Subsidi Energi Bengkak
Baru dua bulan berjalan, pemerintah meramal defisit anggaran pada tahun ini bakal melebar. Bahkan, bisa ke kisaran 2,8% dari produk domestik bruto (PDB).
Usai Sidang Kabinet Paripurna, Senin (26/2), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan, defisit anggaran tahun ini berada di kisaran 2,3% hingga 2,8% dari PDB. Level ini melebar dari target APBN 2023 sebesar 2,29% PDB atau Rp 522,8 triliun.
Melebarnya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 lantaran pemerintah menambah sejumlah pos belanja tahun ini.
Pertama, keputusan pemerintah tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik hingga Juni, baik itu subsidi maupun nonsubsidi.
Dengan keputusan tersebut, lanjut Airlangga, membutuhkan tambahan anggaran untuk Pertamina maupun Perusahaan Listrik Negara (PLN). "Itu akan diambil dari sisa SAL (Saldo Anggaran Lebih)" kata Airlangga kepada awak media, Senin (26/2).
Kedua, pemerintah menambah anggaran subsidi pupuk sebesar Rp 14 triliun. Sehingga total anggarannya menjadi Rp 40,68 triliun.
Ketiga, karena adanya tambahan program bantuan sosial (bansos) berupa bantuan langsung tunai (BLT) sebesar Rp 600.000 untuk 22 juta keluarga penerima manfaat (KPM). Besaran anggarannya adalah Rp 11,25 triliun.
Keempat, bantuan beras 10 kilogram (kg) yang ditambah telur dan daging ayam untuk keluarga yang memiliki balita. Bantuan ini diberikan pemerintah sampai Juni 2024 dengan anggaran Rp 17,5 triliun.
Dengan adanya penambahan tersebut, maka total anggaran subsidi tahun ini membengkak menjadi Rp 297,76 triliun. Itu pun belum menghitung tambahan anggaran subsidi energi.
Sementara itu, pemerintah mematok anggaran perlindungan sosial (perlinsos) sebesar Rp 496,8 triliun. Anggaran ini merupakan yang terbesar setelah anggaran perlinsos saat pandemi Covid-19 melanda, yakni Rp 498 triliun pada tahun 2020.
Dalam kesempatan berbeda, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan, defisit APBN 2025 kemungkinan ditargetkan sebesar 2,45%-2,8% dari PDB. "Dari sidang kabinet diputuskan paling tidak arahan bapak presiden dan kabinet adalah posturnya tadi dalam range bisa diterima dengan defisit 2,45%-2,8%," kata dia.
Akuisisi Yang Tidak Berujung ke Alih Kendali
Setelah melalui pembahasan yang panjang, divestasi saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) tuntas pada Senin (26/2). Hal ini ditandai dengan ditandatanganinya Dokumen Transaksi Pengambilalihan.
Saham Divestasi Vale Indonesia oleh Mind Id, Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Industri Pertambangan, sebagai wakil Pemerintah Indonesia.
Kesepakatan ini didapat setelah dua pemegang saham INCO, yakni Vale Canada Limited (VCL) dan Sumitomo Metal Mining Co Ltd (SMM) bersedia melepas 14% saham mereka secara proprosional kepada Mind Id di harga Rp 3.050 per saham.
Lewat divestasi ini, kini Mind Id menjadi pemegang saham mayoritas dengan porsi saham yang digenggam mencapai 34%, naik dari sebelumnya 20%. Mind Id pun tercatat sebagai pemegang saham terbesar INCO.
Adapun komposisi kepemilikan saham terbaru paska divestasi ini, VCL menggenggam sebanyak 33,9% dan SMM 11,5%. Porsi saham keduanya menyusut dari sebelumnya masing-masing 43,79% dan 15,03%. Sekitar 20,6% saham INCO yang tersisa berada di tangan publik.
Direkur Utama Mind Id Hendi Prio Santoso mengatakan, pihaknya harus merogoh dana sekitar US$ 300 juta untuk menebus saham Vale Canada dan Sumitomo tersebut. "Pembayaran di bulan Juni," terang Hendi, Senin (26/2).
Menteri BUMN Erick Thohir turut menimpali sumber pendanaan akuisisi. Menurutnya, Mind Id memiliki banyak uang. Salah satu sumbernya adalah hasil dividen salah satu anggotanya, yakni PT Free-port Indonesia. "Banyak duitnya," ujar Erick dalam kesempatan yang sama.
Catatan saja, sempat muncul proyeksi bahwa divestasi saham perusahaan tambang nikel itu akan berujung ke penurunan kepemilikan saham VCL dari 43,79% menjadi hanya 29,79%. Dalam skenario itu, Mind Id akan menjadi pemegang saham paling dominan di Vale Indonesia.
"Padahal, pengendalian bisnis itu penting mengingat BUMN memiliki kewajiban untuk memberi dividen bagi negara," ujar Djoko Widajatno, Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA), kemarin.
Dalam konteks divestasi INCO, pengendalian juga penting karena Mind Id perlu mengantisipasi pergerakan harga nikel, yang tengah mengalami fluktuasi.
Defisit Gaji Warga Bayangi Indonesia Emas 2045
Pendapatan penduduk usia 17-40 tahun yang masuk calon kelas
menengah dan kelas menengah diprediksi di bawah angka pengeluaran bulanan pada
2045. Defisit gaji ini bisa melanda 69 juta warga dan mengganggu pencapaian
cita-cita Indonesia Emas 2045. Tim Jurnalisme Data Harian Kompas mendapatkan
fakta itu dari pengolahan data pengeluaran Survei Sosial Ekonomi Nasional
(Susenas) 2021, pendapatan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2021,
serta garis kemiskinan sepanjang 2011-2017 dan 2021. Ketiga data itu bersumber
dari BPS. Bank Dunia mendefinisikan, calon kelas menengah Indonesia memiliki
pengeluaran sebesar 1,5-3,5 kali garis kemiskinan per kapita per bulan, setara Rp
729.252-Rp 1,7 juta per orang per bulan.
Kelas menengah Indonesia didefinisikan memiliki pengeluaran
3,5-17 kali lipat garis kemiskinan per kapita per bulan, setara Rp 1,7 juta-Rp
8,26 juta per orang per bulan. Proyeksi pada 2030 dan 2045 menggunakan
rata-rata pengeluaran dan pendapatan kelompok calon kelas menengah dan kelas
menengah yang berusia 17-40 tahun pada 2012-2017 dan 2021. Dari pemodelan itu,
rata-rata gaji dan pengeluaran warga calon kelas menengah pada 2030
diperkirakan Rp 1,26 juta per kapita per bulan dan Rp 1,64 juta per kapita per
bulan. Pada 2045, angka gaji dan pengeluaran tersebut mencapai Rp 1,7 juta per kapita
per bulan dan Rp 2,52 juta per kapita per bulan.
Artinya, rata-rata gaji warga calon kelas menengah pada 2030
dan 2045 lebih rendah Rp 384.109 dan Rp 818.472 dibandingkan pengeluarannya.
Sementara rata-rata upah dan pengeluaran warga kelas menengah pada 2030 diperkirakan
Rp 3,89 juta per kapita per bulan dan Rp 4,01 juta per kapita per bulan. Nilai
upah dan pengeluaran itu diproyeksikan menyentuh Rp 5,62 juta per kapita per
bulan dan Rp 6,06 juta per kapita per bulan pada 2045. Dengan demikian,
rata-rata pengeluaran kelas menengah lebih tinggi Rp 118.986 pada 2030 dan Rp 431.917
pada 2045 dibandingkan upahnya. (Yoga)
Anak Muda di 9 Provinsi Alami Defisit Gaji
Pengeluaran warga kelas menengah usia 17-40 tahun di sembilan
provinsi lebih tinggi disbanding gajinya. Defisit gaji tertinggi terjadi di DI
Yogyakarta senilai Rp 528.496 per orang per bulan. Defisit gaji melanda
anak-anak muda Daerah Istimewa Yogyakarta, Bengkulu, Riau, Kaltara, NTB, Riau,
Sumbar, Lampung, dan Papua Barat. Nilai defisit gaji di wilayah itu berkisar Rp
42.000 hingga Rp 528.496 per orang per bulan. Tingginya pengeluaran warga juga
dipengaruhi faktor gaya hidup dan inflasi sehingga menyebabkan defisit gaji.
Faktor lain yang membuat defisit gaji adalah penghasilan yang rendah di provinsi-provinsi
tersebut.
Tim Jurnalisme Data Harian Kompas menemukan fakta ini dari
olahan data pengeluaran di 34 provinsi dari data mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional
(Susenas) dan data pendapatan dari data mikro Survei Angkatan Kerja Nasional
(Sakernas) BPS tahun 2021. Data pengeluaran dan pendapatan dari anak muda usia
17-40 tahun Penentuan batas pengeluaran calon kelas menengah dan kelas menengah
setiap provinsi menggunakan garis kemiskinan provinsi periode Maret 2021. Defisit
gaji dari warga calon kelas menengah dan kelas menengah di beberapa provinsi menunjukkan
nilai rata-rata pengeluaran lebih besar dari rata-rata pendapatan per bulannya.
Artinya, gaji bulanannya terpakai semua untuk membiayai pengeluaran satu bulan
sehingga ia tidak bisa menabung, apalagi berinvestasi.
Kenyataan itu menunjukkan warga kelas menengah di wilayah tersebut
rentan turun kelas menjadi kelompok miskin. Salah satu pemicu terjadinya defisit
gaji itu adalah tingginya inflasi. ”Inflasi di wilayah-wilayah tersebut harus
dikendalikan. Kalau tidak dikendalikan, pengeluarannya jauh lebih banyak
dibandingkan dengan pendapatannya,” kata dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Udayana, Denpasar, Marhaeni. Faktor penting lainnya, lanjut adalah upah minimum
yang berbeda antar daerah. ”Jangan sampai upah minimumnya lebih rendah dibandingkan
dengan penghitungan inflasi. Nilai
inflasi ini seharusnya menjadi komponen penghitungan upah minimum,“ kata
Marhaeni. (Yoga)
Eropa Dipusingkan ”Serbuan” Mobil Listrik Murah dari China
Kendaraan listrik China belum berhenti memusingkan produsen
otomotif Eropa. Salah satu cara Eropa menandingi murahnya mobil China adalah
memaksa rekanan pemasok menekan harga bahan baku dan suku cadang. Sorotan pada
harga mobil listrik China kembali mengemuka di Geneva International Motor Show
(GIMS) yang dimulai pada Senin (26/2). Pabrikan China, SAIC dan BYD, membawa
dua ambisi besar. SAIC mengungkap M3 Hybrid, sedangkan BYD membawa Seal untuk
ditandingkan di daftar mobil terbaik versi GIMS 2024. Jika menang, Seal akan menjadi
mobil listrik pertama asal China yang meraih penghargaan bergengsi itu.
Direktur Pelaksana AlixPartners Nick Parker menyoroti perbedaan
pabrikan Eropa dengan China. Pabrikan Eropa memilih sistem rantai pasok terbuka
dan melibatkan banyak perusahaan di sejumlah lokasi. Rantai pasok mobil listrik
dan bahan bakar berbeda. Adapun perusahaan China memakai sistem terintegrasi.
Cara di China itu teruji menekan biaya. Di Inggris, sejumlah produk BYD
dihargai lebih murah, yaitu 27 %, dibandingkan buatan Volkswagen. Harga jual
beberapa mobil model terbaru buatan China bahkan 50 % lebih murah dibandingkan
produksi Eropa. Oleh karena itu, menurut CEO Stellantis Carlos Tavares, biaya
produksi harus dialihkan.
Biaya itu perlu ditanggung pemasok bahan baku dan komponen, tak
lagi sepenuhnya oleh produsen. Pengalihan biaya itu membuka peluang penurunan harga
karena 85 % biaya produksi kendaraan listrik adalah bahan baku. Dalam laporan
Bloomberg, pekan lalu, Stellantis juga menjajaki rantai pasokan bersama VW dan
Renault. Aliansi itu diharapkan bisa menghilangkan upaya saling jegal di antara
mereka. Aliansi itu juga dilakukan untuk menghadapi China. Kini, baterai dan
aneka komponen kendaraan listrik lebih efisien jika diimpor dari China. Padahal,
mobil dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di bawah 45 % dikenai pajak
tambahan 10 % dari harga pabrik. Aturan itu menjadi salah satu penyebab harga
mobil listrik buatan Eropa lebih tinggi. (Yoga)
Makan Nyaman, Kantong Aman
Warung Tegal atau warteg sudah menjadi nama generik untuk jenis
usaha yang menyediakan sajian makanan rumahan dan dengan harga terjangkau. Pengunjung
warteg umumnya adalah mereka yang memang datang untuk mengisi perut, bukan
makan untuk berekreasi atau mencari hiburan. Selama sebuah warteg mampu
memberikan jaminan rasa enak, harga murah, dan pelayanan ramah, di waktu
sarapan, makan siang, dan makan malam, sedikitnya 80 porsi makanan bisa terjual
setiap hari. Begitulah pengalaman Ayu Maria (39) asal Slawi, Tegal, Jateng,
yang sudah membuka usaha warteg di Jalan Arteri Pondok Indah, Jaksel, sejak
2019. Pertama kali ia merantau ke Jakarta mendampingi suaminya yang bekerja di
proyek bangunan pada 2016, Ayu iseng berjualan lauk-pauk, memanfaatkan selasar kontrakan
petaknya di Pesanggrahan, Jaksel. ”Kebetulan, waktu itu ada lemari etalase
makanan bekas penghuni kontrakan sebelumnya. Udah enggak terpakai.
Saya jadi kepikiran buat jual makanan,” ujar Ayu. Kala itu,
modalnya memasak hanya Rp 150.000 untuk beberapa jenis masakan. Ternyata
masakan Ayu cocok di lidah warga sekitar kontrakannya. Pelan-pelan jenis masakannya
ditambah. Modal Rp 250.000 saat itu cukup untuk membuat 10-12 jenis masakan
atau menjadi 6-8 porsi untuk setiap jenis masakan. Kalau semua masakannya habis,
omzetnya Rp 600.000 sehari. Untung yang Ayu dapat sehari Rp 300.000 lebih besar
dari upah suaminya saat itu. Ia berjualan dari Senin hingga Sabtu. Pembelinya
adalah warga sekitar yang memang tidak sempat atau malas memasak. Pada awal
2019, bersama suaminya Ayu memutuskan untuk membuka warung yang lebih bagus di
pinggir Jalan Arteri Pondok Indah, dengan harga sewa tempat Rp 35 juta per
tahun.
Di luar biaya sewa tempat, ia mengeluarkan Rp 4 juta-Rp 5
juta untuk membeli meja, kursi, kipas angin, etalase makanan baru, dan menambah
peralatan masak. Suaminya berhenti bekerja di proyek agar bisa fokus mengembangkan
warteg. Untuk membantu kegiatan operasional, ada tambahan dua pegawai dari kampung
mereka dengan gaji Rp 1,2 juta per bulan. Warteg buka mulai pukul 06.00 dan
baru tutup pada pukul 22.00. Setiap hari mereka memasak mulai pukul 04.30.
Dalam sehari, mereka memasak nasi lima kali, masing-masing 13 liter. Sedikitnya
ada 30 macam sayur dan lauk yang bisa dipilih. Belanja modal bahan baku masakan
Rp 750.000 per hari. Rata-rata dalam sehari mereka menjual 80 porsi makanan. Jika
rata-rata satu porsi warteg dihargai Rp 18.000, maka dalam sehari omzet yang
mereka dapatkan Rp 1.440.000. Rata- rata keuntungan bersih dari wartegnya Rp
690.000 per hari atau 47 % dari omzet. (Yoga)
200 Hektar Sawah Cirebon Menganggur
Sekitar 200 hektar sawah di Desa Jagapura Wetan, Kabupaten
Cirebon, Jabar, masih menganggur karena kesulitan air. Kondisi ini berpotensi
meningkatkan biaya produksi dan memperlambat masa panen padi di tengah lonjakan
harga beras. Sawah yang belum ditanami padi itu, tampak di dekat Balai Desa
Jagapura Wetan, Senin (26/2) siang. Lahannya masih berupa tanah kering yang
belum diolah. Bahkan,traktor tidak bisa berfungsi maksimal karena minimnya air.
Saluran irigasi tampak kering. Sejumlah sawah sudah tergenang air sisa hujan
pada Minggu (25/2). Beberapa petak sawah juga menjadi tempat persemaian benih
padi. Air itu dipasok dari kali setempat menggunakan mesin pompa. Namun, benih
itu belum dipindahkan.
”Petani belum berani menanam karena air belum mengalir ke
sawah. Di sini, kalau airnya enggak banyak, padinya habis dimakan tikus,” ujar Ma’ani
(40), petani setempat. Menurut dia, sudah sekitar tiga minggu saluran irigasi
Kedongdong belum memasok air ke sawah Jagapura Wetan. Padahal, katanya, petani
biasanya mulai menanam padi pada Januari seiring musim hujan. Namun, hingga
akhir Februari, hujan masih jarang turun. Sebagian besar petani pun baru menyiapkan
lahan dan benih padi. ”Kalau enggak segera ditanam, benih padinya nanti tambah
tua. Kalau begitu, padinya kurang bagus. Anakannya kurang dan butuh banyak
pupuk,” kata Ma’ani. Saat ini, benihnya sudah berusia 23 hari. Benih itu harus
ditanam pada umur maksimal 25 hari sampai 30 hari.
Oleh karena itu, penggarap sawah 1 hektar ini berencana menggunakan
mesin pompa untuk memasok air ke sawah. Para petani, lanjutnya, akan bertemu
aparat desa hari ini untuk menyepakati harga sewa mesin
pompa dan biaya solarnya. ”Kalau musim gadu (masa tanam kedua), harga sewa pompa
sekitar Rp 2 juta per hektar. Biaya itu untuk mengolah lahan sampai panen. Bayarnya
tiga kali,” ujar Ma’ani. Menurut dia, baru kali ini petani menggunakan sistem
pompa saat musim tanam pertama. Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Desa Jagapura
Wetan, Khumeidi mengatakan, sekitar 200 hektar dari total 498 hektar sawah di
desanya kesulitan mendapatkan air. Pihaknya akan memfasilitasi petani menyewa
mesin pompa dan surat rekomendasi pembelian solar bersubsidi. (Yoga)
Sutrisno Memajukan Desa dengan Buah Naga
Di sudut Desa Pekunden, Banyumas, Jateng, Sutrisno (57)
merintis budidaya buah naga sejak 2017. Meski diawali dengan cibiran dan
keraguan orang-orang sekitarnya, kini kebun itu menjadi salah satu primadona
wisata desa sekaligus edukasi bagi para pengunjungInilah kebun buah naga yang
dikelola Sutrisno yang turut mengubah wajah Desa Pekunden. Ilmu dan tips
membudidayakan buah naga diperoleh Sutrisno dari sahabatnya, Sugito, yang
merupakan petani buah naga dari Banyuwangi, Jatim. Ia berguru kepada Sugito
selama satu pekan. Pulang dari sana, ia menanam 140 rumpun tanaman buah naga di
Banyumas yang ditopang dengan kayu randu sebagai batang pokok penopang rumpun. Per
rumpun berisi tiga tanaman buah naga. ”Saat itu banyak yang mencibir, mulai dari
teman-teman juga keluarga. Semua membuat (saya) kecil hati, tetapi saya tetap
semangat,” kata Sutrisno saat dijumpai di kebunnya, Minggu (25/2).
Menurut Sutrisno, tanaman buah naga yang dibudidayakan di
Banyuwangi banyak ditanam di dekat pantai dengan ketinggian permukaan tanah 50
mdpl. Adapun di Pekunden, Banyumas, kebunnya memiliki ketinggian sekitar 46
mdpl. Karena itu, dia berkeyakinan buah
naga bisa hidup di desanya. Setelah enam bulan, keyakinan Sutrisno menjadi
kenyataan. Ia berhasil memetik panen perdana buah naga yang ditanamnya.
Selanjutnya kebun itu terus menghasilkan panen yang baik. Hasilnya makin baik
setelah ia memasang 130 lampu untuk merangsang pembungaan tanaman buah naga
pada malam hari. Setiap dua pekan sekali dia bisa memanen 10-20 buah naga dari
satu rumpun. Bobotnya 3-5 ons per buah. ”Berapa pun buah yang dipanen, alhamdulillah
selalu habis (terserap pasar),” kata ayah dari dua anak ini. Selama ini
Sutrisno selalu mengupayakan pemberian pupuk organik, baik dari kotoran hewan
maupun dari limbah jerami yang ada di sekitar kebunnya, untuk tanaman buah
naga.
Keberhasilannya membudidayakan tanaman buah naga tidak ia
nikmati seorang diri. Ia bermurah hati memberikan buah naga kepada para
tetangga saat panen melimpah. ”Alhamdulillah sampai saat ini tidak pernah ada
yang mencuri buah naga di sini. Lingkungan saling menjaga,” kata Sutrisno. Ia
juga mempekerjakan tiga tetangganya sebagai penggarap di kebunnya. Upahnya Rp 60.000,
termasuk makan siang dan rokok, per hari. Mereka bekerja di kebun buah naga itu
pukul 07.00-13.00. Selain itu, ia juga dengan senang hati berbagi pengalaman
dan pengetahuannya dalam budidaya buah naga kepada orang lain, terutama
generasi muda. Ia ingin generasi muda mencintai pertanian demi keberlanjutan
ketahanan pangan di Indonesia. Langkah Sutrisno terus berlanjut. Sejak tiga
tahun terakhir, ia membuka kebunnya untuk kunjungan wisata yang bisa menopang
program desa wisata. Pengunjung bisa berwisata petik buah naga di kebun
Sutrisno sekaligus melihat pembuatan makanan ringan khas Banyumas di desa ini. Dalam
sebulan tidak kurang dari 500 orang berkunjung ke kebun buah naga ini. Pengunjungnya
mulai anak-anak hingga orang dewasa. Tiket per orang dipatok Rp 5.000 untuk kunjungan
edukasi wisata. Dari tiket itu, Rp 3.000 merupakan pemasukan kebun dan Rp 2.000
untuk kelompok sadar wisata. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









