Ekonomi
( 40733 )Ferienjob: Tepatkah Disebut Perdagangan Orang
Kisruh program kerja kontrak bagi mahasiswa di Jerman
berbalut magang atau Ferienjob masih terus berlanjut. Meskipun Direktorat
Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri telah menyatakan bahwa ada
dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO), ada pula ahli yang menyatakan
program tersebut belum masuk kategori kejahatan ini. Direktur Tipidum Bareskrim
Polri Brigjen Djuhandhani Rahardjo Puro mengungkapkan sejumlah indikasi adanya TPPO
dalam kasus ini. Misalnya mahasiswa mendapat iming-iming magang saat
mendapatkan sosialisasi program ini, sementara di negara asalnya, Ferienjob ini
merupakan program kerja murni. “Program ini sebetulnya resmi di Jerman, di mana
setiap Oktober sampai Desember itu adalah program merekrut mahasiswa untuk
bekerja mencari tambahan uang saku dan lain sebagainya," kata Djuhandhani,
Rabu, 27 Maret 2024.
Djuhandhani menyatakan lima tersangka yang telah ditetapkan
oleh penyidik menghubung-hubungkan Ferienjob ini dengan program pendidikan di
Indonesia agar dapat dikategorikan sebagai magang. Selain itu, para tersangka
disebut mengubah data untuk bisa meloloskan mahasiswa yang mengikuti program
tersebut, misalnya data visa menggunakan visa liburan, bukan visa kerja. Dalam
kasus ini, Bareskrim Polri telah menetapkan lima orang sebagai tersangka.
Mereka adalah guru besar Universitas Jambi, Profesor Sihol Situngkir; Direktur
PT Sinar Harapan Bangsa, Enik Rutita alias Enik Waldkonig; bos CV GEN,
Amsulistiani alias Ami Ensch; serta dua dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ),
berinisial AJ dan MZ. (Yetede)
Rentetan Ledakan di Gudang Amunisi
Pengembangan PSN Dorong Perekonomian Nasional
Kehadiran Proyek Strategis Nasional (PSN) termasuk
pengembangan Pantai Indah Kapuk (PIK 2) dan pengembangan Bumi Serpong Damai
(BSD) dinilai ikut mendorong perekonomian nasional. Pengembangan PIK 2 dan BSD
akan menyerap investasi Rp 58,54 triliun yang mencakup PIK 2 Rp 40 triliun dan
BSD sebesar Rp 18,54 triliun.
“Pembangunan ini (2 PSN itu) akan membantuperekonomian
masyarakat yang akan memberikan efek positif terhadap pertumbuhan ekonomi
nasional,” ujar Staf Khusus Menko Bidang Perekonomian Ahmed Zaki Iskandar,
baru-baru ini. Gubernur BI Perry Wajiyo mengatakan, kehadiran PSN ikut
mendorong investasi bangunan, yang pada gilirannya mendorong ekonomi nasional. (Yetede)
IHSG Berpotensi Rebound Pekan Ini
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI)
berpotensi bergerak bervariatif dengan kecenderungan menguat (mixed to higher)
pada pekan terakhir perdagangan sebelum memasuki libur Lebaran 2024. Peluang
rebound IHSG cukup terbuka setelah melemah -0,83 % pada pekan lalu ke posisi
7.288.
“IHSG semestinya bisa mixed to higher dengan support
7.238-7.179 dan resistance 7.321-7.346,” kata Senior Investment
Information-Retail Business Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta
Utama, Minggu (31/3). Nafan menyebut, banyak data ekonomi domestic dan global
yang rilis pekan ini, akan memengaruhi pergerakan IHSG, diantaranya PMI
Manufakturing, data inflasi dan lainnya. “Juga perkembangan sentimen terkait
dinamika the Fed ke depan dan kita juga menantikan US Nonfarm Payroll,” tutur dia.
(Yetede)
Kebutuhan Pendanaan Non-DPK Perbankan Meningkat
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai kebutuhan perbankan
untuk meningkatkan penyaluran kredit diperkirakan mendorongpendanaan non dana
pihak ketiga (non-DPK) semakin meningkat. Meski demikian, likuiditas perbankan
yang masih memadai saat ini dan selisih biaya menyebabkan pertumbuhan dana
non-DPK belum signifikan.
“Pemanfaatan pendanaan non-DPK potensial lebih banyak
digunakan bank skala menengah dan atas untuk memperbaiki struktur pendanaan
jangka panjang dan mendapatkan selisih biaya dana yang lebih murah,” Jelas
Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa.
Sumber dana non-DPK meningkat 3,28 % (yoy) pada Januari 2024
yang mencapai Rp 585,82 triliun atau terkoreksi 0,59 % secara bulanan (month to
month/mtm). Kenaikan pendanan non-DPK secara tahunan terutama dikontribusi oleh
meningkatnya kewajiban bank lain sebesar Rp 17,78 triliun dan pinjaman
pembiayaan diterima sebesar Rp 27,46 triliun. (Yetede)
Restrukturiksasi Kredit Covid-19 Resmi Berakhir
OJK resmi mengakhiri kebijakan stimulus restrutukrisasi kredit perbankan untuk dampak Covid-19 pada 31 Maret 2024. Berakhirnya kebijakan tersebut konsisten dengan pencabutan status pandemi Covid 19 pada Juni 2023, serta mempertimbangkan perekonomian Indonesia yang telah pulih dari pandemi, termasuk kondisi sektor riil. Restrukturisasi kredit yang diterbitkan sejak awal 2020 telah banyak dimanfaatkan oleh debitur terutama pelaku UMKM. Stimulus restrukturisasi kredit merupakan bagian dari kebijakan countercyclical dan merupakan kebijakan yang sangat penting dalam menopang kinerja debitur, perbankan, dan perekonomian secara umum untuk melewati periode pandemi. Selama empat tahun implementasi, pemanfaatan restrukturisasi kredit ini telah mencapai Rp830,2 triliun, yang diberikan kepada 6,68 juta debitur pada Oktober 2020, yang merupakan angka tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Sebanyak 75% dari total debitur penerima stimulus adalah segmen UMKM, atau sebanyak 4,96 juta debitur dengan total outstanding Rp348,8 triliun.(Yetede)
Meredam Gejolak Rupiah
Nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS, seiring
masih tingginya ketidapastian global dan merosotnya surplus neraca perdagangan
nasional. Pemerintah dan BI diminta segera bertindak untuk meredam gejolak rupiah.
Berdasarkan kurs Jisdor BI, Kamis pekan lalu, rupiah melemah 0,12 % ke level Rp
15.873 per dolar AS, dibandingkan hari sebelumnya. Sepanjang 2024, rupiah
melemah 2,3 %.
Karena itu, untuk meredam gejolak rupiah, BI perlu menggencarkan intervensi di pasar
keuangan, seperti triple intervention serta mengoptimalkan beberapa instrument yang
sudah rilis,, antara lain penguatan pengelolaan devisa hasil ekspor (DHE)
melalui implementasi term deposit (TD) DHE valas BI dan penerbitan Sertifikat
Rupiah BI (SRBI) serta Sekuritas Valas BI (BEI).
Pemerintah juga harus tegas ke eksportir sumber daya alam
yang belum menempatkan DHE di dalam negeri, yang bisa menambah pasokan valas
dan menjaga stabilisasi rupiah. Iklim investasi juga harus diperbaiki agar
pemodal asing tertarik menanam modal di Indonesia, sehingga bisa mengurangi
impor. (Yetede)
IHSG Berpotensi Rebound Pekan Ini
Indeks Harga Saham Gabungan (BEI) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi bergerak bervariatif dengan kecenderungan menguat (mixed to higher) pada pekan terakhir perdagangan. Sebelum memasuki libur Lebaran 2024. Peluang Rebound IHSG cukup melemah -083% pada pekan lalu yang lalu kami sampai -0,83% pada pekan lalu ke posisi 7.288. "IHSG mestinya bisa mix to hinger dengan suppport 7.237 investor," kata senior investmen Information-Retail Business Mirea Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta . Dari dalam negeri Nafan mengungkap pelaku pasar menanti data inflasi dan PMI manufacturing Indonesia yang segera dirilis. "Apabila data inflasi cenderung stabil, tentu ini akan mendatangkan sentimen positif ke pasar. Sementara kalau PMI manufacturing tetap ekspansif dan hasilnya menunjukkan di atas ekspektasi, juga akan memberikan pengaruh positif ke market," ujar dia (Yetede)
GAMANG ATURAN IMPOR
Regulasi impor yang berlaku sejak 10 Maret 2024 menuai pro dan kontra. Kalangan pengusaha menilai perlu adanya ralaksasi sejumlah ketentuan dalam peraturan Menteri Perdagangan No. 3 Tahun 2024 Tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor. Hanya saja, relaksasi dan berbagai penyesuaian nantinya jangan sampai memberi ruang bagi peredaran produk impor ilegal. Konsistensi negara dalam menjalankan regulasi impor mesti tegas dijalankan guna melindungi pasar dan dunia usaha dari serbuan barang-barang ilegal. Pemerintah diminta juga bijak dalam mengatur produk yang bahan bakunya belum sepenuhnya dapat diproduksi dari dalam negeri untuk menjaga kelangsungan industri.
Mengevaluasi Portofolio Investasi
Indeks harga saham gabungan atau IHSG menutup rapor kuartal pertama tahun ini dengan pertumbuhan gradual. Indeks komposit hanya naik 0,22% ke level 7.288,81, jika dibandingkan dengan pengujung perdagangan tahun lalu yang berakhir di level 7.272,79.IHSG seharusnya mampu mencatatkan performa yang lebih apik setelah sempat menembus rekor baru di level 7.433,32 pada 14 Maret 2024. Akan tetapi, kinerja indeks dalam 2 pekan terakhir berfluktuasi tajam dengan kecenderungan melemah.Pekan lalu, misalnya, indeks komposit anjlok sebanyak 0,83%. Penurunan IHSG sepekan terseret oleh pelemahan sembilan indeks sektoral. Sektor transportasi dan logistik terkoreksi paling dalam dengan penurunan 8,76%, diikuti oleh sektor perindustrian minus 2,38%, serta sektor properti dan real estat yang melemah 2,36%. Hampir seluruh sektor saham pekan lalu terjerembab, kecuali sektor keuangan yang menguat 0,91% dan sektor barang konsumsi primer yang tetap mencetak pertumbuhan 0,64%. Kedua sektor itu juga menunjukkan performa yang solid sepanjang satu kuartal dengan penguatan masing-masing sebesar 4,87% dan 0,32%. Di samping sektor keuangan dan barang konsumsi primer, sektor saham energi juga tetap menarik untuk dikoleksi.
Kendati sempat melemah 0,58% pada pekan lalu, sektor saham energi tetap mengakumulasi kenaikan 1,03% dalam 3 bulan pertama tahun ini.
Sektor energi bakal memberikan potensi kenaikan harga menjelang periode cum dividend sejumlah emiten, salah satunya PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) yang belakangan harga sahamnya terdiskon cukup dalam. Yang paling menarik tentu saja sektor saham keuangan yang konsisten menunjukkan kinerja yang bertumbuh. Di sisi lain, valuasi saham sektor keuangan juga masih relatif menarik. Sektor keuangan selalu bisa menjadi tumpuan karena memiliki fundamental yang kokoh untuk menghadapi situasi ekonomi yang sarat ketidakpastian saat ini.
Investor asing juga diyakini bakal lebih selektif menempatkan dana di pasar saham Indonesia. Otoritas bursa mencatat investor asing membukukan nilai jual bersih sebesar Rp390,5 miliar pada sesi perdagangan terakhir pekan lalu.
Kita tentu menyadari bahwa kinerja pasar ke depan bakal terus dihantui beragam sentimen mulai dari inflasi yang menanjak, tensi geopolitik yang belum mereda, perang dagang, hingga perlambatan ekonomi global. Namun, ekspektasi atas dimulainya rezim suku bunga murah melalui potensi pemangkasan suku bunga acuan pada akhir kuartal II/2024 oleh The Fed diharapkan membawa pengaruh positif.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









