Ekonomi
( 40465 )Apple Tertarik Investasi Smartfren City di IKN
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi mengungkapkan bahwa Apple, raksasa produsen teknologi informasi dan komunikasi (TIK) asal Amerika Serikat, sangat antusias merespons ajakan untuk berinvestasi pada pengembangan kota pintar (Smart City) di kawasan Ibu Kota Nusantara IKN, Kalimantan Timur. Tanggapan tersebut disampaikan langsung oleh CEO Apple Inc Tim Cook ketika berkunjung dan bertemu dengan Presiden ( Jokowi ) di Istana Kepresidenan. Menurut Budi Arie, pertemuan itu, Presiden menawarkan peluang investasi pengembangan smart city di IKN, selain dorongan untuk membangun pabrik produk perangkat telekomunikasi, salah satunya smartphone iPhone di Indonesia. "Presiden menyampaikan kepada Apple bagaimana bisa berpatisipasi dalam pengembangan smart city di IKN," kata Budia Arie. (Yetede)
Industri Elektronik Minta Relaksasi Kebijakannya Impor
KKP Atur Kuota Wisata di Kawasan Konservasi
Freeport Setor Rp 3,35 Triliun Bagian Daerah
Presiden Jokowi Sebut Praktikum Cuci Uang di Aset Kriptografi Capai Rp 139 Triliun
Saham Barito Renewables Terus Menanjak
KESELAMATAN BERKENDARA : Pompa Bahan Bakar Jimny Jadi Sorotan
Sejumlah produk Suzuki Jimny 3 pintu diminta untuk melakukan pemeriksaan dan penggantian komponen fuel pump atau pompa bahan bakar, setelah PT Suzuki Indomobil Sales (PT SIS) memutuskan untuk menarik kembali atau recall 448 unit kendaraan tersebut. Unit tersebut adalah dengan rentang nomor VIN JSAGJB74VK5100010 hingga JSAGJB74VK5100469 yang merupakan produksi 20 November 2017 hingga 29 Agustus 2019. Jumlah produk yang terdampak tersebut sudah selaras dengan unit yang diproduksi dalam batch, sehingga tidak akan bertambah. Asst. to Service Dept. Head PT SIS Hariadi mengatakan bahwa pihaknya bakal menghubungi para pemilik Jimny 3 pintu yang terindikasi terdampak dari komponen fuel pump agar segera melakukan pemeriksaan di bengkel resmi.
Dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh Suzuki, komponen impeller fuel pump atau baling-baling pada pompa bahan bakar yang berada di dalam tangki bahan bakar Suzuki Jimny berpotensi mengalami perubahan bentuk atau deformasi melebihi standard ketentuan.
Negara lain yang menjadi tujuan ekspor Jimny 3 pintu periode 20 November 2017 hingga 29 Agustus 2019 juga mengambil tindakan proaktif untuk melakukan penggantian Fuel. Beberapa negara itu a.l Jepang, Eropa, Australia, dan Afrika Selatan. Mereka juga telah melakukan penggantian komponen ini secara bertahap.
BAYANG-BAYANG GEJOLAK KURS
Depresiasi rupiah menjadi pedang bermata dua bagi korporasi di Tanah Air. Katalis positif diproyeksi bertiup ke emiten-emiten di sektor pertambangan dan perkebunan yang berorientasi ekspor, sedangkan sektor farmasi dan properti cenderung dibayangi sentimen negatif. Pada perdagangan Rabu (17/4), rupiah terkulai dihadapan dolar Amerika Serikat dengan pelemahan 0,271% ke level Rp16.220. Rupiah melanjutkan koreksi setelah anjlok 2,07% pada perdagangan perdana usai libur Lebaran 2024. Alhasil, rupiah sudah merosot 5,062% sepanjang tahun berjalan 2024. Penguatan indeks dolar AS yang menembus level 106 itu membuat nilai tukar Garuda kembali menyentuh titik terendah sejak April 2020.
Rupiah juga kian mendekati level Rp16.575 per dolar AS yang terbentuk pada 23 Maret 2020 atau saat awal pandemi Covid-19. Dihubungi Bisnis pada Rabu (17/4), Corporate Secretary PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) Joni Tjeng mengatakan perdagangan kelapa sawit menggunakan acuan harga berdenominasi dolar AS sehingga depresiasi rupiah secara langsung akan meningkatkan nilai jual dan performa perseroan. Di sisi pendanaan, lanjutnya, pinjaman TAPG seluruhnya berdenominasi rupiah. Dengan begitu, pelemahan rupiah tidak akan signifi kan mempengaruh beban keuangan perseroan.
Senada, Investor Relations PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO) Stefanus Darmagiri mengatakan pelemahan rupiah diharapkan dapat meningkatkan harga jual CPO dalam rupiah dan meningkatkan pendapatan perseroan. Dari sisi biaya, lanjutnya, hampir sebagian besar biaya operasional yang dikeluarkan SGRO ditransaksikan dalam mata uang rupiah. Dus, pelemahan rupiah tidak memiliki dampak yang material terhadap biaya operasional emiten perkebunan sawit itu. Berbanding terbalik, depresiasi rupiah menjadi tantangan bagi emiten farmasi yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor. Menurut Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) Vidjongtius, nilai tukar rupiah yang melemah akan menaikkan harga pokok produksi untuk KLBF. Selain sektor farmasi, melemahnya rupiah juga menjadi sentimen negatif bagi sektor properti. Emiten properti yang memiliki outstanding utang berdenominasi dolar AS dikhawatirkan mengalami tekanan selisih kurs yang menekan likuiditas perseroan.
Direktur PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) Hermawan Wijaya buka suara terkait dengan dampak depresiasi rupiah. Menurutnya, BSDE terus berupaya untuk menurunkan risiko kurs dengan memangkas utang dolar AS.
Head of Research InvestasiKu (Mega Capital Sekuritas) Cheril Tanuwijaya mengatakan emiten-emiten komoditas yang meraih pendapatan dalam dolar AS diuntungkan oleh penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyarankan investor dengan profi l risiko rendah untuk wait and see. Namun, investor dengan profi l high risk dapat mengambil kesempatan akumulasi beli untuk saham MEDC dengan target harga Rp1.970, ELSA Rp540, dan AKRA dengan target Rp1.900 per saham. Sementara itu, Head of Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi merekomendasikan beli saham-saham komoditas, seperti PTBA dengan target harga Rp3.010, INCO Rp4.830, dan HRUM dengan target Rp1.815 per saham.
Respons Lincah Imbas Konflik Timteng
Pada Sabtu (13/4) malam, kawasan Timur Tengah memasuki babak baru. Situasi genting ketika hari itu Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel sebagai respons atas serangan terhadap gedung konsulatnya di Damaskus, Suriah. Kegentingan di Timur Tengah tersebut bisa berpengaruh pada stabilitas geopolitik dan perekonomian global, termasuk ekonomi Indonesia. Pemerintah memang cukup sigap merespons segala kemungkinan dari krisis di Timur Tengah tersebut. Pada minggu (14/4), Menteri Keuangan dan para stafnya melakukan meeting mendadak untuk mengkaji respons yang tepat.
Bahkan, pada Selasa (16/4), Presiden Joko Widodo memanggil para menteri terkait dan Gubernur Bank Indonesia merumuskan strategi dalam menghadapi perkembangan situasi ekonomi dan keuangan global dan tensi geopolitik yang sangat tinggi bergerak cepat dan dinamis. Di sisi geopolitik, kita mendukung upaya pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri yang menerima arahan Presiden Jokowi agar Indonesia dapat berinisiatif sebagai penengah dalam konflik Iran vs Israel.
Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus melakukan langkah-langkah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang sempat terperosok ke level Rp16.200 per dolar AS. Sejumlah skema intervensi dilakukan bank sentral di pasar spot (tunai) atau pembelian secara tunai maupun non delivery forward (NFD), agar nilai tukar mata uang Garuda tak melemah. Langkah BI tak bisa sendiri dan harus berkoordinasi dengan otoritas fiskal agar respons kebijakan pemerintah bisa menjangkau seluruh dampak dari efek domino konflik Timur Tengah tersebut. Dalam hitung-hitungan yang dibuat pemerintah untuk skenario premium risk, kenaikan harga minyak mentah bisa di rentang US$5 per barel sampai dengan US$10 per barel dari perdagangan pekan ini.
Biasanya, selisih harga minyak mentah dunia dengan minyak mentah Indonesia (Indonesia crude price/ICP) terpaut sekitar US$3 per barel sehingga harga minyak mentah dunia bisa naik ke level US$100 per barel. Kajian yang dilakukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia US$5 per barel, maka akan menambah subsidi BBM sebesar Rp0,19 triliun. Di sisi lain, kegiatan importasi, terutama bahan baku untuk kegiatan manufaktur nasional, akan terdampak dari terhambatnya kegiatan rantai pasok perdagangan global.
KINERJA ASET PENDAPATAN TETAP : PASAR UTANG DI BAWAH TEKANAN EKSTERNAL
Gerak pasar surat utang berada di bawah sejumlah tekanan eksternal mulai dari eskalasi tensi geopolitik Timur Tengah yang berimbas pada pelemahan kinerja rupiah di hadapan dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil.
Pada penutupan pasar Rabu (17/4), Bloomberg mencatat tekanan pada pasar surat utang terlihat pada instrumen Surat Utang Negara (SUN) tenor 2 tahun dan 10 tahun. SUN tenor 2 tahun memiliki imbal hasil 6,7% atau naik 2,86% secara harian. Nasib yang sama terjadi pada SUN tenor 10 tahun dengan imbal hasil 6,94% setelah naik 1,03%. Gerak stabil imbal hasil SUN ini patah pada perdagangan awal setelah libur Idulfi tri dan berlanjut hingga kemarin. Di pasar surat utang, kenaikan imbal hasil menandai penurunan minat yang memicu permintaan imbal hasil lebih tinggi dari investor. Pukulan sentimen eksternal mulai dari realisasi infl asi Amerika Serikat (AS) pada Maret 2024 mencapai 3,5% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Dalam pernyataan terbarunya, pada diskusi panel bersama Gubernur Bank of Canada Tiff Macklem di Wilson Center di Washington, seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (17/4), bank sentral AS, Federal Reserve menurunkan kepercayaan dirinya terkait penurunan inflasi sehingga memudarkan ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Di tengah tekanan tersebut, sikap lembaga pemeringkat utang, Fitch Ratings, Japan Credit Rating (JCR), dan terbaru, Moody’s Ratings yang kompak mempertahankan peringkat utang RI tak mampu memberikan taji terhadap kinerja surat utang di Tanah Air. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan bahwa sulit bagi pasar surat utang menghindari gelombang tekanan eksternal. Terlebih, sentimen itu bermuara pada narasi suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer.
Bank Indonesia mencatat pada transaksi jelang libur Idulfi tri, aksi jual bersih di pasar SBN mencapai Rp1,41 triliun sehingga mengakumulasi aksi jual bersih investor asing pada instrumen buatan pemerintah itu sepanjang 2024. Sepanjang 2024, aksi jual bersih investor asing pada instrumen SBN menyentuh Rp34,75 triliun.
Senada, Ekonom Bahana TCW Investment Management Emil Muhamad mengatakan investor lebih baik menantikan momen yang tepat dengan ekspektasi penurunan suku bunga acuan pada semester II/2024. Menurutnya, dalam jangka pendek kinerja pasar surat utang masih dibayangi koreksi dengan nada kebijakan Federal Reserve yang hawkish akan membawa tekanan lanjutan.
Selain sentimen eksternal, Investment Specialist Schroders Indonesia Rizky Hidayat dalam keterangannya masih memperhatikan proyeksi kinerja fiskal pemerintahan baru.
Namun, dari sisi inflasi, dia percaya bahwa pergerakan infl asi masih dalam rentang target Bank Indonesia. Sejalan dengan sentimen eksternal dan penurunan harga komoditas, neraca transaksi berjalan mulai defi sit pada rentang 2,5% hingga 3% lebih rendah dari sebelumnya.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









