Ekonomi
( 40465 )INVESTASI APPLE DI RI : Pemerintah Cari Skema Terbaik
Terdapat perbedaan yang signifikan antara investasi yang dikucurkan Apple di Indonesia dan Vietnam. Dari sisi pendekatan, Negeri Naga Biru memberikan penawaran yang lebih menarik. Saat ini, Apple telah membangun tiga akademi Apple Developer Academy di Jakarta, Surabaya, dan Batam. Perusahaan asal Amerika Serikat itu berencana menambah satu lagi di Bali sehingga total dana yang dikucurkan senilai Rp1,6 triliun. Sementara di Vietnam, investasi yang dikucurkan Apple mencapai US$15,84 miliar atau setara Rp256,22 triliun. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi mengatakan bahwa hal tersebut bisa terjadi karena Vietnam menawarkan tax holiday hingga 50 tahun.
Sementara pemerintah masih memiliki berbagai pertimbangan untuk memberikan insentif.
Pemerintah memang berencana membuat insentif untuk merayu Apple menanamkan investasinya di Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan bahwa pemerintah siap memberikan insentif jika Apple mau berinvestasi di Indonesia.
Nantinya, tambah Luhut, Indonesia bisa mencontoh insentif yang diberikan negara-negara lain untuk Apple dengan tetap menyesuaikan terhadap regulasi yang ada.
PROYEKSI PENYALURAN KREDIT VALAS BCA
BCA menyalurkan kredit dalam valas mencapai ekuivalen Rp47,6 triliun sepanjang 2023 dan memproyeksikan penyaluran kredit valas dapat terus tumbuh pada tahun ini.
EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyebut nilai tersebut relatif stabil jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya di 2022.
PELEMAHAN RUPIAH : Bank Masih Sanggup Mitigasi
Perbankan dinilai masih mampu memitigasi risiko atas tren pelemahan rupiah yang terjadi sejak awal tahun. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae mengatakan bahwa sejauh ini tren pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS. Penguatan dolar AS terjadi terhadap seluruh mata uang secara global tercermin dari Dollar Index yang mencatatkan tren kenaikan sejak akhir Maret 2024. Beberapa faktor yang memengaruhinya antara lain kebijakan suku bunga high for longer yang masih berlanjut di tengah kuatnya perekonomian AS. Namun, di saat yang bersamaan, laju infl asi AS yang masih cukup jauh dari target 2%.
OJK menilai bahwa risiko yang dihadapi industri perbankan nasional akibat penguatan dolar AS masih dapat dimitigasi dengan baik. Berdasarkan hasil uji ketahanan atau stress test yang dilakukan OJK, pelemahan nilai tukar rupiah saat ini relatif tidak signifikan berpengaruh langsung terhadap permodalan bank. Alasannya, posisi devisa neto (PDN) perbankan Indonesia masih jauh di bawah threshold. Sementara, secara umum dalam posisi PDN ‘long’ aset valuta asing (valas) lebih besar dari kewajiban valas.
Sementara, porsi dana pihak ketiga (DPK) dalam bentuk valas yang saat ini sekitar 15% dari total DPK perbankan, masih bisa tumbuh cukup baik secara tahunan.
Meski begitu, OJK tetap melakukan stress test secara rutin terhadap perbankan dengan menggunakan beberapa variabel skenario makroekonomi serta mempertimbangkan faktor risiko utama yaitu risiko kredit dan risiko pasar. OJK pun terus melakukan pengawasan secara optimal untuk memastikan bahwa berbagai risiko akibat pelemahan nilai tukar maupun suku bunga yang relatif tinggi terhadap masing-masing bank termitigasi dengan baik.
UTANG LUAR NEGERI : ANTISIPASI RISIKO JANGKA PENDEK
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan bahwa salah satu bentuk dominasi utang luar negeri (ULN) yang banyak digunakan adalah mata uang Amerika Serikat (AS). Meski dolar AS menjadi nilai tukar yang paling banyak digunakan secara global, mata uang ini juga punya resiko fluktuasi dan volatilitas yang tinggi. Apalagi jika dikaitkan dengan sentimen dari kondisi ekonomi global. “Tentu kalau kita bicara kaitannya dengan ULN, yang kemudian perlu diantisipasi pemerintah adalah bagaimana perubahan ataupun pelemahan nilai tukar rupiah saat ini akan mempengaruhi pembayaran ULN terutama yang jatuh tempo dalam waktu yang dekat,” katanya saat dihubungi Bisnis, Jumat (19/4).
“Tentu antisipasi dan mitigasi yang perlu dilakukan pemerintah memastikan bahwa nilai tukar tidak terdepresiasi lebih dalam lagi dibandingkan kondisi saat ini sehingga intervensi terutama otoritas moneter merupakan salah satu kunci untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kaitannya dengan pembayaran ULN dalam jangka waktu dekat,” jelas Yusuf. Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menyoroti hal yang sama. Apalagi pelemahan rupiah disertai dengan naiknya harga minyak mentah. Masalahnya, tambah Bhima, kondisi tersebut membuat banyak pemegang surat utang atau investor/kreditur akan mempertimbangkan ulang karena risiko untuk masuk ke instrumen aset negara berkembang semakin tinggi. Oleh karena itu, dia melihat ada tiga hal yang harus dilakukan pemerintah.
Pertama, membuka ruang renegosiasi utang. Negara harus punya cara yang lebih kreatif untuk mengurangi beban utang luar negeri. Kedua, menyusun APBN perubahan. Ini dilakukan untuk merealokasikan belanja yang mungkin masih bisa dihemat sehingga tidak terlalu banyak menerbitkan utang baru. Terakhir, mendorong sektor usaha yang berbasis ekspor nonkomoditas atau di industri manufaktur sehingga ada penerimaan valas yang lebih besar. Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa struktur ULN tetap sehat hingga Februari 2024. Asisten Gubernur sekaligus Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menyampaikan bahwa perkembangan tersebut didukung oleh prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan ULN.
KINERJA MULTIFINANCE : Masih Cerah di Tengah Gejolak Rupiah
Penyaluran kredit industri pembiayaan atau multifinance diproyeksi masih cerah di tengah kondisi melemahnya rupiah yang terus menurun sejak awal tahun 2024. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agusman mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan multifinance telah menyiapkan sejumlah mitigasi risiko. “Prospeknya masih tetap baik dan positif karena industri pembiayaan juga sudah menyiapkan langkah-langkah mitigasi risiko yang diperlukan dengan melakukan hedging,” kata Agusman saat dihubungi Bisnis, Kamis (18/4).
Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno memproyeksikan industri pembiayaan dapat bertumbuh 15% pada tahun ini. Namun, sambungnya, pemain di sektor pembiayaan tetap harus waspada terkait dengan kemungkinan perlambatan bisnis. Perlambatan bisnis di sektor pembiayaan yang berpotensi terjadi ini juga riskan bagi perusahaan-perusahaan yang belum mampu menyetor minimum ekuitas sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pada kuartal I/2024, perusahaan multifinance juga mampu meningkatkan penyaluran pembiayaan. PT Mandala Multifinance atau Mandala Finance yang berhasil meningkatkan pembiayaan pada kuartal I/2024 mencapai Rp1,4 triliun.
Menakar Resiliensi Bank Terhadap Gejolak Kurs
Gejolak nilai tukar tengah menghampiri perbankan Indonesia. Dampak langsung setidaknya terlihat dari harga saham bank yang langsung merosot. Sebagai gambaran, pada hari pertama setelah bursa dibuka sehabis libur lebaran, harga saham bank besar seperti BRI, BCA dan Mandiri, melorot masing-masing 5,31%, 3,56% dan 2,93%. Sumber gonjang ganjing kurs tersebut berasal dari global. Dipicu oleh persoalan inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih di atas 2% dan cenderung naik sehingga memudarkan harapan penurunan suku bunga The Fed, dan diperparah eskalasi perang di Timur Tengah antara Iran dan Israel.
Kondisi itu membuat dolar AS menguat terhadap mata uang banyak negara, tidak terkecuali rupiah. Bahkan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah menembus Rp16.000 dan sempat berada pada level yang lebih tinggi ketimbang saat krisis 1997/1998. Sejatinya kegiatan bank memang tidak luput dari paparan berbagai gejolak, baik itu berupa inflasi, suku bunga maupun nilai tukar. Perbankan Indonesia sendiri sudah cukup kenyang menghadapi berbagai gejolak itu seperti gejolak nilai tukar pada 1997/1998 yang menumbangkan cukup banyak bank, sehingga penyelamatan terhadap bank lainnya pun dilakukan melalui program rekapitalisasi.
Lalu, bagaimana dampak pelemahan rupiah terhadap perbankan? Ada beberapa jalur transmisi gejolak kurs memengaruhi bank. Pertama, melalui posisi eksposur valas yang dipegang bank.
Kedua, melalui jalur kredit, terutama kredit valas.
Ketiga, melalui jalur penarikan dana pihak ketiga (DPK).
Meski terpapar gejolak nilai tukar, tetapi saat ini kondisi perbankan dinilai masih cukup kuat. Ada beberapa alasannya. Pertama, rasio PDN perbankan sangat rendah. Secara historis, rasio PDN hanya berkisar antara 1-5%.
Kedua, utang luar negeri (ULN) perbankan per Januari 2024 relatif rendah mencapai US$32,64 miliar atau sekitar 6% dari total kewajiban perbankan.
Ketiga, porsi kredit valas hanya sekitar 15% dari total kredit sehingga diperkirakan tidak signifikan memengaruhi peningkatan NPL.
Keempat, daya tahan perbankan baik itu likuiditas maupun permodalan cukup kuat dalam menghadapi berbagai risiko.
Kelima, Bank Indonesia selalu berada di pasar melalui kebijakan triple intervention untuk memperkuat otot rupiah.
Meredam Aksi Jual Investor
Kondisi geopolitik Timur Tengah yang masih memanas memengaruhi transaksi di pasar saham. Indeks harga saham gabungan (IHSG) selama sepekan kemarin ditutup turun. Rencana sejumlah emiten membagikan dividen tak cukup menahan aksi jual investor. IHSG pada perdagangan kemarin melemah 1,1% ke level 7.087.31 dibandingkan dengan perdagangan Kamis (19/4) di posisi 7.166, 81. Sementara, bila dilihat selama sepekan, dimulai dari akhir perdagangan sebelum libur Idulfitri yaitu di Jumat (12/4), IHSG turun sebesar 2,2% dari 7.247,06. Tak hanya IHSG, nilai tukar rupiah pun masih bertahan di level Rp16.000 pada perdagangan kemarin.
Merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia menyatakan akan melakukan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Ketegangan Israel-Iran juga berdampak terhadap kenaikan harga minyak dunia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bahkan memperkirakan adanya pembengkakan subsidi dan kompensasi bahan bakar minyak dari Rp160,91 triliun menjadi Rp249,86 triliun apabila harga minyak mentah Indonesia naik menjadi US$100/Bbl dengan asumsi rupiah di level Rp15.900.
Dampak terhadap perekonomian baik domestik maupun global tentunya menjadi pertimbangan investor dalam bertransaksi. Kekhawatiran meluasnya konflik di Timur Tengah membuat sejumlah pemodal menahan diri, itu terlihat dari nilai dan volume transaksi yang tidak terlalu besar. Dari data Bursa Efek Indonesia diketahui sebanyak 115 saham menguat, sedangkan 456 saham melemah, dan 204 saham stagnan. Beberapa saham yang menguat yaitu saham migas PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) naik 3,67% ke level Rp1.555. Disusul emiten migas PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) naik 0,93% ke level Rp218 per saham. Konflik yang terjadi di negara penghasil minyak dan gas tentu akan berdampak terhadap perekonomian global.
Meski Indonesia mampu melalui tantangan dan menorehkan catatan yang cukup baik pada 2023, tahun ini kondisi yang dihadapi tidak lebih ringan dibandingkan tahun lalu. Pencapaian ekonomi Indonesia pada 2023 yang tumbuh di atas 5% atau sebesar 5,05% lebih rendah dibandingkan dengan ca Pasar modal sangat sensitif terhadap isu, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Arus modal yang dengan mudah keluar dan masuk harus diantisipasi dengan berbagai kebijakan yang mampu menjaga optimisme investor. paian 2022 yang mengalami pertumbuhan sebesar 5,31%, harus terus dijaga.
Pelemahan Rupiah Bisa Kerek Harga Mobil
Penjualan mobil di Indonesia secara wholesales (dari pabrik ke diler) pada Januari-Maret 2024 mencapai 215.069 unit, turun 23,9% dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai 282,125 unit. Melemahnya rupiah bisa membuat kenaikan harga jual mobil. Ketua 1 gabungan Industri kendaraan bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto menerangkan, turunnya penjualan mobil pada kuartal I karena pertumbuhan ekonomi dapat segera ditingkat, melemahnya rupiah dapat segera berhenti dan suku bunga perbankan agar bisa diturunkan. "Melemahnya rupiah bisa berakibat naiknya harga jual masing-masing merk," ucap Jongkie.
Senada dengan Jongkie, pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menerangkan, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap lesunya penjualan mobil di Indonesia. Banyak komponen mobil yang masih diimpor, seperti mesin, transmisi, dan elektronik, sehingga pelemahan rupiah membuat harga komponen impor ini menjadi lebih mahal dan berakibat pada peningkatan biaya produksi mobil. (Yetede)
Pascaserangan ke Israel, AS Jatuhkan Lagi Sanksi untuk Iran
AS pada Kamis (18/4/2024) kembali menjatuhkan sanksi terhadap
Iran pasca serangan balasan ke Israel pekan lalu. Sanksi dari AS ditandatangani
Presiden Joe Biden setelah disepakati Fraksi Partai Republik serta Partai Demokrat
di Senat dan DPR. Sanksi itu berupa embargo terhadap minyak produksi Iran.
Serangan Iran dipicu serangan Israel atas kedutaan besar mereka di Damaskus, Suriah
pada 1 April lalu. Sejatinya, Iran sudah dikenai sanksi serupa karena mengembangkan
program nuklir. Terlepas dari sanksi, produksi minyak Iran terus berlimpah dan
tidak kekurangan pembeli, karena China yang merupakan konsumen minyak nomor
satu dunia membeli dari Iran ataupun Rusia yang kini juga dijatuhi sanksi
akibat menginvasi Ukraina sejak Februari 2023.
Dalam sanksi terbaru, semua kapal, pelabuhan, dan perusahaan
yang mengimpor ataupun menyalurkan minyak dari Iran dilarang beroperasi di AS
selama dua tahun. Meskipun demikian, masih ada jendela dalam sanksi itu bahwa
Presiden AS bisa memberi keringanan apabila penerapan sanksi mengakibatkan
kenaikan harga minyak dunia. Pada Jumat pagi, harga minyak mentah Brent sempat
naik 3,94 % menjadi 90,54 USD per barel gara-gara dugaan serangan Israel ke
Isfahan, Iran. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 4 % menjadi
86,09 USD. Harga minyak kemudian turun pada hari yang sama. Harga Brent menjadi
87,28 USD per barel dan WTI menjadi 82,61 USD. (Yoga)
Tangani Total Judi Daring
Kabar melegakan terdengar dari Istana Merdeka, Kamis (18/4)
saat Presiden Jokowi memimpin rapat membahas judi daring (online) yang menunjukkan
keseriusan pemerintah menangani judi daring, yang terbukti telah menjerumuskan
hidup jutaan warga Indonesia. Meluasnya peredaran judi daring terdeteksi dari
perputaran uangnya yang sangat besar, mencapai Rp 327 triliun sepanjang 2023.
Pada akhir 2023 hingga Maret 2024, sudah 5.000 rekening terkait judi daring
yang diblokir. Namun, judi daring tetap masif. Judi daring sulit diberantas
meski merugikan rakyat kecil karena kementerian dan lembaga bekerja
sendiri-sendiri.
Untuk mengatasi hal itu, pemerintah berencana memberantas judi
daring secara lebih holistik. Satgas lintas instansi direncanakan dibentuk
(Kompas.id, 19/4/2024). Sebenarnya, di berbagai belahan dunia, perjudian dibuat
resmi dan bisa diakses warga secara terbuka. Di beberapa negara, perjudian
dilokalisasi, seperti Las Vegas di AS, kompleks Venetian di Makau, China, dan
Genting Highland di Malaysia. Seiring dengan meluasnya era digital, judi model
ini juga merebak di berbagai kawasan dunia. Seiring legalisasi judi di sejumlah
negara, situs judi daring bahkan menjadi sponsor klub olahraga.
Yang kerap jadi masalah, pengaturan terhadap pengakses judi
daring, seperti halnya di Indonesia, tak jelas ujung pangkalnya. Tak heran,
warga kurang mampu pun bisa ikut bermain di judi daring karena nilai nominal
modal akses yang sedemikian murah. Problem menjadi makin kompleks karena ludesnya
uang untuk berjudi berarti sesatnya hidup warga kurang mampu. Publik
benar-benar menunggu perwujudan keseriusan pemerintah menangani judi daring.
Penanganan yang komprehensif dan solutif bakal menyelamatkan produktivitas masyarakat
kita dari dunia judi yang menjerumuskan. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









