Meredam Aksi Jual Investor
Kondisi geopolitik Timur Tengah yang masih memanas memengaruhi transaksi di pasar saham. Indeks harga saham gabungan (IHSG) selama sepekan kemarin ditutup turun. Rencana sejumlah emiten membagikan dividen tak cukup menahan aksi jual investor. IHSG pada perdagangan kemarin melemah 1,1% ke level 7.087.31 dibandingkan dengan perdagangan Kamis (19/4) di posisi 7.166, 81. Sementara, bila dilihat selama sepekan, dimulai dari akhir perdagangan sebelum libur Idulfitri yaitu di Jumat (12/4), IHSG turun sebesar 2,2% dari 7.247,06. Tak hanya IHSG, nilai tukar rupiah pun masih bertahan di level Rp16.000 pada perdagangan kemarin.
Merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia menyatakan akan melakukan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Ketegangan Israel-Iran juga berdampak terhadap kenaikan harga minyak dunia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bahkan memperkirakan adanya pembengkakan subsidi dan kompensasi bahan bakar minyak dari Rp160,91 triliun menjadi Rp249,86 triliun apabila harga minyak mentah Indonesia naik menjadi US$100/Bbl dengan asumsi rupiah di level Rp15.900.
Dampak terhadap perekonomian baik domestik maupun global tentunya menjadi pertimbangan investor dalam bertransaksi. Kekhawatiran meluasnya konflik di Timur Tengah membuat sejumlah pemodal menahan diri, itu terlihat dari nilai dan volume transaksi yang tidak terlalu besar. Dari data Bursa Efek Indonesia diketahui sebanyak 115 saham menguat, sedangkan 456 saham melemah, dan 204 saham stagnan. Beberapa saham yang menguat yaitu saham migas PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) naik 3,67% ke level Rp1.555. Disusul emiten migas PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) naik 0,93% ke level Rp218 per saham. Konflik yang terjadi di negara penghasil minyak dan gas tentu akan berdampak terhadap perekonomian global.
Meski Indonesia mampu melalui tantangan dan menorehkan catatan yang cukup baik pada 2023, tahun ini kondisi yang dihadapi tidak lebih ringan dibandingkan tahun lalu. Pencapaian ekonomi Indonesia pada 2023 yang tumbuh di atas 5% atau sebesar 5,05% lebih rendah dibandingkan dengan ca Pasar modal sangat sensitif terhadap isu, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Arus modal yang dengan mudah keluar dan masuk harus diantisipasi dengan berbagai kebijakan yang mampu menjaga optimisme investor. paian 2022 yang mengalami pertumbuhan sebesar 5,31%, harus terus dijaga.
Tags :
#InvestorPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023