Ekonomi
( 40600 )Siap-siap Ekonomi Biaya Tinggi di 2024
Di tengah pelemahan rupiah yang cenderung berlanjut, BI dalam
tekanan untuk menaikkan suku bunga acuan. Namun, pilihan menaikkan suku bunga dari
posisi 6 % sejak Oktober 2023 akan mengerem pertumbuhan ekonomi. Rapat Dewan
Gubernur BI digelar Rabu (24/4) dan Kamis (25/4). Pertemuan reguler ini kembali
membahas tentang kebijakan moneter yang akan diambil BI untuk merespons situasi
perekonomian global dan domestik yang makin tidak pasti. Pada 19-20 Maret 2024,
Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan
sebesar 6 %, suku bunga deposit facility 5,25 %, dan suku bunga lending facility
sebesar 6,75 %. Sinyal The Fed yang akan menunda penurunan suku bunga acuan di AS
dari rencana awal mendorong penguatan USD terhadap mata uang lainnya, termasuk
rupiah. Selama enam hari perdagangan berturut-turut, rupiah berfluktuasi di
atas Rp 16.000 per USD.
Merujuk data Jakarta Interbank Spot Dollar (Jisdor) pada
penutupan pasar, Selasa (23/4) rupiah kembali ditutup melemah di level Rp
16.244 per USD, terdepresiasi 20 basis poin dibandingkan penutupan sehari sebelumnya.
Mengutip CNBC, Wells Fargo Securities memperkirakan nilai tukar rupiah menuju
Rp 16.500 per USD seiring penundaan penurunan suku bunga oleh The Fed. Ahli
strategi Brown Brothers Harriman & Co bahkan memproyeksikan nilai tukar
rupiah akan mencapai Rp 17.000 per USD pada September 2024. Ada pula faktor
internal yang memperlemah rupiah, yakni peningkatan permintaan valuta asing secara
musiman setiap triwulan II, untuk pembayaran pokok utang, dividen, dan kupon ke
nonresiden.
Penguatan USD sekaligus pelemahan rupiah, berikut komplikasi
perekonomian global, akan langsung berdampak pada perekonomian nasional. Berawal
dari transmisinya pada sektor keuangan, persoalan ini akan meningkatkan beban
biaya ekonomi nasional. Biaya produksi sektor riil akan membengkak, terutama usaha
yang mengimpor bahan baku dan bahan penolong. Situasi makin pelik jika utang
untuk produksi dalam USD, tetapi penjualan barang untuk pasar domestik. Presdir
CIMB Niaga Finance (CNAF) Ristiawan Suherman berpendapat, kenaikan suku bunga
untuk menahan nilai tukar rupiah dapat berdampak pada kenaikan beban pendanaan
(cost of fund). Hal ini akan turut menyebabkan daya beli masyarakat menurun. (Yoga)
Reevaluasi dan Reaktualisasi ”Food Estate”
Optimisme Prabowo Subianto sebagai calon presiden peraih
suara terbanyak pada Pilpres 2024 tentang pencapaian swasembada pangan dalam
2-3 tahun melalui food estate, seperti diberitakan The Jakarta Post (4/3)
menandakan keberlanjutan proyek food estate jika ia resmi menjadi Presiden RI
2004-2029. Untuk menjaga kelangsungan program ini, diperlukan reevaluasi dan reaktualisasi
mendasar. Pengembangan food estate di Kalteng oleh Pemerintahan Presiden Jokowi
dilakukan sejak pertengahan 2020, dengan luas total 30.000 hektar pada awalnya,
dan direncanakan terus diperluas hingga 70.000 hektar pada 2024. Namun,
kesuksesan proyek ini terhambat karena masalah mendasar, yakni kegagalan
adaptasi varietas tanaman pangan terhadap kondisi lahan rawa dan asam, jenis
lahan yang mendominasi food estate di Kalimantan (Fahmid dkk, 2022; Marwanto, 2021).
Bukti empiris lapangan yang penting dipertimbangkan dalam
reaktualisasi food estate adalah fakta kontribusi swamp land (lahan rawan) terhadap
produksi padi Indonesia kurang dari 2 % (Hasbianto dkk, 2021). Lahan rawa dan
gambut butuh tata kelola air untuk menghindari banjir, khususnya di Kalteng
(Muhardiono, 2021), dan pengelolaan lahan asam. Ketika ini tidak bisa
diperbaiki, aktivitas usaha tani di lahan-lahan rawa, gambut, dan asam sesungguhnya
akan bertemu dengan kegagalan. Investigasi lapangan yang dilakukan peneliti
independen dan LSM menunjukkan kesalahan masa lalu (proyek lahan gambut sejuta
hektar era Orde baru) kembali terulang. Misalnya, di food estate Tewai Baru, di
Kabupaten Gunung Mas, Kalteng, perkebunan singkong membuahkan hasil panen di
bawah standar sehingga pemerintah meninggalkan lokasi tersebut.
Artinya, pengembangan singkong di lokasi itu tidak
berdasarkan kajian ilmiah memadai. Temuan lain bahwa pembukaan lahan hutan
untuk proyek food estate telah memperburuk masalah banjir dan erosi tanah, serta
memaksa perubahan praktik pertanian lokal. Ini menciptakan dampak lingkungan
yang negatif dan menghambat keberlanjutan proyek tersebut (Asia Pacific
Foundation of Canada, 26 April 2023). Hasil pantauan Walhi dan BBC Indonesia
menemukan, ada masalah terhadap 3.964 hektar (ha) lahan food estate, yakni
kehilangan tutupan pohon tanpa menghasilkan singkong. Untuk memperbaiki implementasi
food estate, langkah-langkah konkret harus diambil. Pertama, perencanaan dan
seleksi lokasi harus didasarkan pada data dan kajian ilmiah yang valid serta
memperhitungkan keberlanjutan ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan.
Kedua, penting untuk memprioritaskan tanaman yang sesuai
kondisi lahan untuk lahan rawa dan gambut, berbasis realitas ilmiah di alam
bebas bukan hanya realitas petak percobaan. Ketiga, penelitian Mc Carthy dan
Obidzinski (2017) terkait implementasi food estate di Kalimantan memberikan
masukan baik untuk di- pertimbangkan bahwa pendekatan food estate skala besar
cenderung gagal dan tidak berkelanjutan secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan
ketika diterapkan di lahan-lahan marjinal Kalimantan. Intensifikasi berbasis petani
kecil lebih sesuai untuk konteks Kalimantan dan lebih mendukung ketahanan pangan
masyarakat setempat meskipun kontribusinya terbatas terhadap produksi pangan
nasional. (Yoga)
Di Balik Surplus Perdagangan
Neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2024 kembali surplus selama
47 bulan beruntun. Jika melihat kata surplus belaka, ekspor-impor baik-baik saja.
Padahal, ada sejumlah hal yang mesti diperhatikan dalam kinerja ekspor-impor. Apalagi,
dalam pertumbuhan PDB 5,05 % pada 2023, ekspor bersih atau ekspor dikurangi
impor menyumbang 0,66 %. Tahun lalu, ekspor tumbuh 1,32 % secara tahunan, sedangkan
impor tumbuh minus 1,65 %. Nilai ekspor pada Maret 2024 lebih rendah
dibandingkan dengan Maret 2023. Nilai impor pada Maret 2024 juga lebih rendah
daripada Maret 2023. Adapun surplus secara triwulanan, yakni Januari-Maret
2024, lebih rendah ketimbang Januari-Maret 2023. Hal ini terjadi karena ekspor
turun hingga nyaris 5 miliar USD. Sebaliknya, nilai impor pada periode itu
cenderung tetap.
Indonesia, yang bergantung pada komoditas, menanggung dampak
penurunan harga komoditas terhadap kinerja ekspor. Perekonomian China yang
belum pulih turut berperan dalam penurunan ekspor Indonesia. Permintaan rendah membuat
ekspor nonmigas Indonesia ke China merosot. Padahal, pada Maret 2024, ekspor
Indonesia ke China 22,44 % total ekspor nonmigas. Porsi ini merupakan yang
terbesar dibandingkan dengan ekspor ke negara lain. Pada Januari-Maret 2024,
mayoritas impor Indonesia berupa bahan baku atau penolong yang mencapai 72,81 %.
Sementara barang modal 17,2 % dan barang konsumsi 9,99 persen. Impor bahan baku
atau penolong pada triwulan I-2024 anjlok 21,72 % secara tahunan, sedang impor
barang modal turun 12,63 % secara tahunan.
Hal ini mengindikasikan ada persoalan dalam proses produksi di
Indonesia. Sebab, bahan baku atau penolong dan barang yang dipertimbangkan
dalam menjaga nilaitukar, antara lain keseimbangan terhadap ekspor dan impor.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD akan menguntungkan eksportir, tetapi
membuat pening importir. Situasi lebih rumit akan dihadapi produsen yang
mengimpor bahan baku dan barang modal, tetapi memasarkan produknya di dalam
negeri dengan harga rupiah. Keseimbangan nilai tukar kian penting bagi
Indonesia yang mengekspor migas 3,899 miliar USD, tetapi mengimpor hingga 9
miliar USD pada Januari-Maret 2024. (Yoga)
Tanggung Jawab Produsen Plastik
Kompas.id memberitakan, bersamaan dengan Hari Bumi, 22 April
2024, Pemerintah Hong Kong,China, memberi waktu enam bulan bagi rakyatnya,
terutama rumah-rumah makan, untuk beradaptasi dan mengubah kemasan mereka
menjadi kemasan ramah lingkungan. Penerapan larangan ini menyusul pengesahan
undang-undang pada Oktober 2023. Hong Kong, wilayah di selatan China yang padat
dengan 7,4 juta penduduk, tidak memiliki sarana dan prasarana cukup untuk
mengelola sampah. Setiap tahun, Hong Kong memproduksi 4 juta ton sampah, dan plastik
menempati urutan kedua terbanyak. Kita tentu mendukung kebijakan wilayah administrative
khusus China ini untuk mengurangi plastik yang kian tak terkendali. Berbagai
penelitian sudah membuktikan dampak polusi plastik terhadap lingkungan.
Mikroplastik bahkan sudah mencemari air minum dalam kemasan.
Berdasarkan data tahun 2022 dari Statista, China tercatat
sebagai produsen terbesar plastik, yaitu 32 %, Amerika Utara 17 % dan Uni Eropa
14 %. Sejumlah negara sudah berkomitmen mengurangi penggunaan plastik dan
produksinya. Di Indonesia, undang-undang pengelolaan sampah dan peraturan
daerah sudah dibuat untuk membatasi penggunaan plastik. Reuters memberitakan,
para pemimpin global berkumpul di ibu kota Kanada, Ottawa, minggu ini, untuk
membahas kemajuan penyusunan perjanjian global pertama untuk mengendalikan
melonjaknya polusi plastik. Kebanyakan plastik murni berasal dari minyak bumi.
Banyak negara penghasil petrokimia dan plastik, seperti Arab Saudi, Iran, dan
China, menentang pembatasan produksi plastik. (Yoga)
Dunia yang Menua dan Peluang AI
Sejumlah negara mengalami penyusutan populasi, karena angka
kelahiran terus menurun. Kondisi itu berdampak pada tak terpenuhinya kebutuhan
tenaga kerja. Muncul harapan kecerdasan buatan atau artificial intelligence
bisa mengisi ruang kosong itu meskipun tidak sepenuhnya. Salah satu negara
tersebut ialah Jepang. Pada 2023, Jepang mengalami penurunan angka kelahiran
selama delapan tahun beruntun. Menurut laporan Reuters, angka kelahiran di
Jepang pada 2023 turun 5,1 % dibanding 2022 menjadi 758.631. Angka pernikahan turun
5,9 % menjadi 489.281. Untuk pertama kali dalam 90 tahun, angka pernikahan di
bawah 500.000. Bagaimanapun, ketersediaan SDM menjadi faktor penting dalam pertumbuhan
ekonomi suatu negara. Oleh karena itu, di tengah penyusutan populasi, artificial
intelligence (AI) diharapkan menjadi solusi untuk mengisi gap antara kebutuhan dan
ketersediaan tenaga kerja. Terlebih, selama ini Jepang dikenal sebagai salah
satu negara terdepan dalam inovasi dan teknologi.
Dikutip dari BBC, Sabtu (20/4) Eat&Holdings, perusahaan
induk jenama Osaka Ohsho, yang terkenal akan produksi gyoza (pangsit khas Jepang),
telah memanfaatkan AI. Inovasi itu terdorong oleh terbatasnya tenaga kerja saat
permintaan melonjak kala pandemi Covid-19. Padahal, untuk menjaga kualitas
gyoza yang dihasilkan, dibutuhkan pengecekan berulang oleh para pekerja. Akhirnya
ditemukan solusi pada teknologi. Pada Januari 2023, mereka membuka tempat
produksi gyoza berteknologi tinggi yang dilengkapi kamera AI. Dengan teknologi
itu, kamera mampu mendeteksi kesalahan dalam produksi gyoza. Fasilitas itu
mampu mem- produksi dua gyoza per detik, dua kali kecepatan tempat produksi
Osaka Ohsho lainnya. ”Dengan mengimplementasikan AI, kami telah mengurangi
tenaga kerja di jalur produksi hingga 30 %,” kata jubir perusahaan tersebut,
Keiko Handa. (Yoga)
Digemari Masyarakat, Kajian Sastra Horor Perlu Dikembangkan
Kajian sastra horor yang mengulik misteri, hantu, dan hal-hal
mistis lainnya perlu dikembangkan. Kajian tersebut berpeluang besar
dialihwahanakan dalam berbagai medium, seperti audio, animasi, gim, film, dan
platform digital lainnya. Cerita rakyat bertema horor tersebar hampir di
seluruh daerah di Tanah Air. Kisah horor digemari masyarakat Indonesia.
Film-film bergenre horor kerap merajai industri film dalam negeri dari masa ke
masa. Siniar atau podcast yang membahas kisah-kisah misteri juga didengarkan
oleh banyak orang. Peneliti Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN,
Tirto Suwondo, mengatakan, Indonesia memiliki cerita horor yang bejibun, dikisahkan
lintas generasi dan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Tapi, analisis atau kajian tentang sastra horor masih sangat
jarang jika dibandingkan dengan jumlah cerita rakyat yang melimpah. Hal ini
menjadi tantangan bagi para peneliti untuk mengkajinya dalam berbagai perspektif.
”Dalam konteks industri kreatif, peluang yang menjanjikan adalah adaptasi, alih
wahana atau ekranisasi ke film layar
lebar, televisi, dan platform digital,” ujarnya dalam peluncuran dan diskusi
buku Sastra Horor, di Jakarta, Selasa (23/4). Buku setebal 1.010 halaman itu
menyajikan 45 artikel kisah horor. Buku ini merupakan hasil riset dan kajian
tentang beragam gejala horor yang hidup di tengah masyarakat di sejumlah
daerah.
Tirto mengatakan, hampir semua artikel dalam buku itu ditulis
dengan ilmiah menggunakan struktur IMRaD (pengantar, metode, riset, dan
diskusi). ”Hal ini menjadi semacam siraman yang menyejukkan ditengah ladang
kering dunia kritik, telaah, dan apresiasi kita tentang sastra horor,” ucapnya.
Sastra horor tidak hanya menjadi kajian menarik bagi periset di Tanah Air. Di
luar negeri, kajian kisah horor dipublikasikan di berbagai media dan jurnal,
seperti majalah World Literature Today serta jurnal Horror Studies dan Journal
of Dracula Studies. Kepala Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN Ade
Mulyanah menuturkan, ”Peran film berbasis horror sebagian besar merupakan proses
ekranisasi karya-karya sastra. Ini menunjukkan sebuah peran besar sastra
terhadap perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia”. (Yoga)
Surplus Perdagangan Sulit Topang Rupiah
Neraca perdagangan Indonesia yang surplus 47 bulan berturut-turut belum tentu cukup kuat menopang rupiah dari potensi pelemahan lebih lanjut. Di tengah tren perlambatan ekonomi global, lonjakan surplus perdagangan pada Maret 2024 diperkirakan hanya sementara. Secara kumulatif, surplus perdagangan diperkirakan terus menyempit. Rilis terbaru BPS mencatat, Indonesia kembali menorehkan surplus neraca perdagangan pada Maret 2024 sebesar 4,47 miliar USD. Artinya, RI mencatat surplus neraca perdagangan selama 47 bulan berturut-turut. Capaian Maret 2024 itu juga menjadi surplus tertinggi selama 13 bulan terakhir. Secara bulanan, surplus neraca perdagangan pada Maret 2024 meningkat 3,64 miliar USD dibanding Februari 2024 yang mencapai 0,83 miliar USD.
Secara tahunan, terjadi kenaikan surplus 1,65 miliar USD dibandingkan dengan Maret 2023 di 2,83 miliar USD. Di tengah tren kenaikan surplus yang semestinya memperkuat cadangan devisa, nilai tukar rupiah justru melemah sejak Maret hingga April 2024 akibat berlanjutnya kebijakan pengetatan moneter oleh AS dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Pada 19 April 2024, rupiah bahkan sempat terdepresiasi ke level Rp 16.280 per USD. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, Senin (22/4) mengatakan, lonjakan surplus neraca perdagangan pada Maret 2024 sekilas menjadi ”kabar baik” untuk rupiah yang saat ini terus melemah terhadap USD.
Meski demikian, efek surplus perdagangan untuk menahan depresiasi
rupiah itu diperkirakan tidak signifikan. Sebab, lonjakan surplus perdagangan
pada Maret 2024 hanya terjadi sementara dan lebih banyak didorong oleh impor yang
menurun lebih dalam dari perkiraan. BPS mencatat, impor menurun 12,76 % secara
tahunan, lebih dalam ketimbang penurunan ekspor yang sebesar 4,19 % secara tahunan.
Rupiah baru akan tertolong jika AS memutuskan untuk memangkas kenaikan suku
bunganya pada semester II tahun 2024. ”Itu dapat meningkatkan sentimen risk-on,
menarik arus modal masuk ke dalam negeri, dan meningkatkan prospek pertumbuhan
global yang akhirnya bisa mendukung pergerakan harga komoditas,” ujarnya. (Yoga)
Penyidik Kejagung Bidik Hasil Pencucian Uang Penambangan Timah
Smelter atau fasilitas pemrosesan pemurnian timah milik
sejumlah perusahaan yang disita oleh penyidik Kejaksaan Agung diduga hasil
pencucian uang kegiatan penambangan ilegal timah di wilayah izin usaha
pertambangan atau IUP PT Timah Tbk pada 2015-2022. Penyidik memastikan akan
terus menelusuri aset milik tersangka yang diduga hasil tindak pidana, termasuk
aset berupa pesawat jet. Pada Senin (22/4) tim penyidik bersama tim dari Badan
Pemulihan Aset Kejaksaan menyita smelter PT Refined Bangka Tin (PT RBT).
Menurut Kapuspen Hukum Kejagung Ketut Sumedana, penyitaan
tersebut merupakan kelanjutan proses penelusuran aset di Provinsi Bangka
Belitung yang terkait kasus penambangan timah ilegal di wilayah di IUP PT Timah
Tbk. ”Dari hasil penelusuran, tim penyidik melakukan penyitaan terhadap PT RBT
beserta sejumlah aset di dalamnya, antara lain alat berat dan alat pemurnian
biji timah,” tambahnya. Sebelumnya, penyidik telah menyita smelter milik empat perusahaan.
Fasilitas tersebut milik CV Venus Inti Perkasa (VIP), PT Stanindo Inti Perkasa (SIP),
PT TIN (Tinindo Inter Nusa), dan PT SBS. Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung
Kuntadi, mengatakan, penyitaan terhadap aset tersebut, termasuk smelter milik
beberapa perusahaan, terkait dengan dugaan tindak pidana pencucian uang.
Kuntadi memastikan setiap pihak yang terlibat akan ditetapkan
sebagai tersangka. Saat ini, terdapat pemilik smelter yang telah ditetapkan sebagai
tersangka, yakni Tamron alias Aon, sebagai pemilik manfaat CV VIP dan Suwito Gunawan
selaku Komisaris PTSIP. Perusahaan-perusahaan smelter tersebut terkait dengan
tersangka Harvey Moeis yang diduga merupakan perpanjangan tangan PT RBT. Harvey
disebut telah mengakomodasi kegiatan penambangan timah ilegal di wilayah IUP PT
Timah Tbk dengan mengajak beberapa perusahaan smelter untuk turut mengolah
timah, yaitu PT SIP, CV VIP, PT SBS, dan PT TIN. Namun, penyidik belum
menetapkan pemilik PT RBT sebagai tersangka. Padahal, yang bersangkutan diduga
merupakan pihak yang mengendalikan Harvey. (Yoga)
PENGURANGAN EMISI, Perusahaan Swasta Global Tertinggal
Organisasi Net Zero Tracker melaporkan hanya 40 dari 100
perusahaan swasta terbesar di dunia sudah menerapkan target nol emisi karbon.
Jumlah itu jauh tertinggal dari perusahaan publik. Padahal, semua perusahaan
harus mengurangi emisi agar dunia mencapai tujuan Perjanjian Paris 2015 dalam
menghadapi perubahan iklim. Pada daftar perusahaan publik, ada 70 dari 100
perusahaan yang memiliki target nol emisi karbon. ”Angka perusahaan swasta itu
jelas tertinggal jauh dari perusahaan publik,” kata John Lange dari Organisasi
Net Zero Tracker kepada AFP, Senin (22/4).
Menurut Lange, perusahaan swasta lambat berkomitmen karena
beberapa faktor, antara lain, kurangnya tekanan pasar dan tidak adanya
peraturan. Laporan Net Zero Tracker itu membandingkan 200 perusahaan publik dan
swasta terbesar di dunia berdasarkan laporan strategi pengurangan emisi dan target
net-zero mereka. ”Perusahaan-perusahaan itu menyumbang 23 % dari perekonomian
global, dengan mayoritas perusahaan berbasis di China, AS, dan negara-negara
Uni Eropa yang merupakan penghasil gas rumah kaca terbesar,” kata Lange. Dari
40 perusahaan swasta yang telah menetapkan target, hanya delapan yang telah mempublikasikan
rencana untuk mencapai target tersebut.
”Janji tanpa rencana hanyalah kehumasan belaka,” sebut laporan
itu. Hanya ada dua perusahaan, yaitu raksasa furnitur Ikea dan raksasa teknik
Bechtel, yang mengesampingkan penggunaan kredit karbon kontroversial untuk
mencapai nol emisi karbon. Kredit karbon memungkinkan perusahaan mengimbangi
emisi yang timbul akibat kegiatan perusahaan dengan mengarahkan dana ke proyek
untuk mengurangi atau menghindari emisi di antaranya untuk melindungi hutan. Laporan
itu juga menyebutkan,tidak satu pun dari delapan perusahaan bahan bakar fosil yang
terdaftar dalam laporan. Namun, kata Lange, jumlah perusahaan yang masuk dalam
laporan Net Zero Traker terbaru meningkat dibandingkan analisis pada 2022. (Yoga)
Bunga The Fed Diprediksi Turun September 2024
Gubernur The Fed Jerome Powell beberapa hari lalu memberikan
sinyal bahwa bank sentral AS akan mempertahankan lebih lama lagi suku bunga
acuan (FFR) pada posisinya sekarang, 5,25 % hingga 5,5 %. Ini adalah tingkat
bunga tertinggi di AS selama 20 tahun terakhir. Tingkat bunga yang tinggi di AS
secara langsung berpengaruh pada pasar keuangan global. Transmisinya antara
lain ke penguatan dollar AS terhadap berbagai mata uang lain dan tingkat suku
bunga acuan di sejumlah negara yang ”terpaksa” ikut tinggi agar modal tidak
”bedol desa” ke AS. Bagi negara seperti Indonesia, salah satu dampaknya biaya utang
pemerintah dan swasta menggelembung. Impor bahan baku dan bahan penolong untuk
industri manufaktur domestik juga membengkak.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Edi Susianto menyebut,
kemungkinan penurunan suku bunga acuan bank sentral AS paling cepat pada September
2024 dari sebelumnya yang diperkirakan pada Juni 2024. Perkiraan tersebut mengacu
pada indikator Fed Fund Future dan Dot Plot. ”Bahkan, ada beberapa pelaku pasar
global memperkirakan penurunan FFR baru terjadi pada kuartal IV-2024,” katanya
Senin (22/4). Menurut Edi, BI senantiasa mencermati dinamika perkembangan
ekonomi global dan domestik. Hal itu juga akan dibahas dalam Rapat Dewan Gubernur
(RDG) BI pekan ini, yakni pada Rabu-Kamis, 24-25 April 2024. ”Tentu semua
update perkembangan, baik di global maupun di domestik, akan menjadi asesmen
dalam RDG minggu ini,” ujar Edi. Powell, Selasa (16/4) memperingatkan, kenaikan
inflasi yang terus-menerus kemungkinan akan menunda penurunan suku bunga The
Fed hingga akhir 2024. Artinya, suku bunga tinggi berpotensi berlangsung pada
jangka waktu yang lebih lama. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









