Ekonomi
( 40460 )Likuiditas Hingga Daya Beli Jadi tantangan Perbankan
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menilai industri perbankan tahun ini memiliki sejumlah tantangan yang mengintai,mulai dari sisi likuiditas hingga daya beli masyarakat melambat yang akan memengaruhi kinerja perbankan. Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, tahun ini perbankan memiliki faktor pendorong dan juga tantangan yang akan dihadapi. Dimana pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) akan menjadi pemicu karena akan ada perebutan dana di era suku bunga tinggi. "Pertama, likuiditas akan menjadi tantangan yang akan memengaruhi pertumbuhan kredit, terutama bank-bank besar pertumbuhannya low double digit, sementara DPK mid single digit. Ini tantangan likuiditas yang perlu diantisipasi 2024 ini," ujar Andry. Tantangan kedua, rencana pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) diproyeksikan baru akan terjadi pada akhir tahun ini. Hal tersebut juga tergantung kondisi ekonomi global, salah satunya adalah suku bunga acuan The Fed yang diperkirakan belum ada titik terang untuk turun. "Ketiga, pengusaha masih wait and see, banyak yang menunggu struktur kabinet baru setelah pada Oktober nanti pelantikan Presiden dan Wakil Presiden. Keempat, ini jdi concern kami terutama daya beli kelas bawah ini bagaimana kita perlu antisipasi agar tidak semakin memburuk," urai Andry. (Yetede)
Mesin Pertumbuhan Baru Chanadra Asri
Emiten petrokimia terintegrasi milik Taipan Parjogo Pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) optimistis akan mencatatkan kinerja cemerlang setelah mengakuisisi aset Shell Energy and Chemical Park (SECP). Aset kilang minyak mentah dengan kapasitas pemrosesan sebanyak 237.000 barel per hari, ethylene cracker berkapasitas 1,1 juta metrik ton per tahun di Pulau Bukom, serta aset kimia hilir di Pulau Jurong, Singapura ini, diyakini akan membantu meningkatkan pendapatan Chandra Asri hingga lima kali lipat dalam tiga tahun mendatang. Chandra Asri bersama Glencore Plc telah membentuk perusahaan patungan (joint venture/ JV), CAPGC Pte Ltd, untuk mengaukisisi 100% Ltd.
Dengan kepemilikan bisnis kilang ini TPIA dapat mengolah minyak mentah secara langsung dan menghasilkan produk-produk bahan baku seperti bensin, solar, avtur, dan aspal yang belum dapat di produksi oleh fasilitas TPIA sebelumnya. Sementara itu, dengan adanya Glencore, salah satu trader komoditas terbesar di dunia, sebagai mitra strategis dapat meningkatkan daya saing TPIA di level global melalui jaringan distribusi serta stabilitas suplai minyak. (Yetede)
Garap Potensi Ekosistem Halal, BSI Gelar International Expo
RI dan Inggris Jajaki Kerja Sama Digital
Startup Jejaki Raih Pendanaan US$ 2,7 Juta
Upaya Menggembosi Mahkamah Konstitusi
Suka-suka Uji Kelayakan Kendaraan Umum
Mengail Saham Big Caps yang Sudah Murah
Tekanan jual asing yang masih terjadi semakin menggerus kinerja saham berkapitalisasi pasar besar (big caps). Selain saham-saham perbankan, sejumlah saham big caps di jajaran Indeks Kompas100 sempat menyentuh level terendahnya. Penurunan saham big caps turut membawa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 1,16% dalam sebulan terakhir ke 7.088,76. Dengan koreksi besar-besaran yang terjadi belakangan ini, beberapa saham big caps pun bisa dibilang sudah murah. Saham PT Astra International Tbk (ASII), misalnya. Pada pedagangan Selasa (14/5), saham ASII anjlok 9,75% atau turun 495 poin ke Rp 4.580 per saham. Berdasarkan data RTI, ini merupakan level terendah ASII dalam tiga tahun terakhir. Beberapa saham big caps lain juga berada di zona merah.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, saat ini memang tengah terjadi diskon besar-besaran pada saham dari sejumlah emiten yang memiliki fundamental baik. Nico mencontohkan, penurunan harga saham ASII salah satunya disebabkan rencana pembagian dividen. Pasalnya, ex-date dividen ASII jatuh pada 14 Mei 2024. Meski demikian, secara fundamental, ASII masih punya landasan dan prospek yang kokoh. Hal yang sama juga terjadi kepada saham bank-bank besar setelah mendistribusikan dividen. Nah untuk menilai suatu saham sudah murah atau mahal, Equity Research Analyst Bahana Sekuritas Christine Natasya mengatakan, dari valuasi harganya, saham ASII diperdagangkan dengan PER sekitar 5,3 kali untuk tahun 2024. Menurutnya valuasi ini tersebut tergolong menarik.
Selain saham perbankan, Nico menilai, saham di sektor konsumen primer dan ritel dapat dicermati. Contohnya, seperti saham PT Ace Hard-ware Tbk (ACES), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Adrian Joezer, Head of Equity Analyst and Strategy Mandiri Sekuritas mengatakan, dalam tiga sampai enam bulan ke depan, pertumbuhan percepatan paling tinggi akan dirasakan oleh emiten non-perbankan. Sementara secara teknikal, Vice President Samuel Sekuritas Indonesia, M. Alfatih mengatakan, penguatan pada saham perbankan bisa menjadi awal tren kenaikan kembali setelah melalui tren penurunan sejak Maret 2024. Namun perubahan tren ini masih perlu konfirmasi. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, sinyal pelonggaran moneter bisa memicu kembalinya dana asing di semester kedua.
Konsumsi Rumah Tangga Masih Akan Melambat
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga diperkirakan sulit menembus level 5% year-on-year (yoy) setelah momen pemilihan umum dan Ramadan berlalu. Kondisi ini akan mempengaruhi perekonomian nasional mengingat konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Beberapa indikasinya, pertama, Indeks Penjualan Riil (IPR) berdasarkan hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada April 2024 diperkirakan 243,2, atau hanya tumbuh 0,1% yoy menjadi 243,2. Padahal pada Maret 2024, IPR tercatat 235,4 atau tumbuh menanjak 9,3% yoy. Bahkan, Indeks Ekspektasi Penjualan Eceran (IEP) pada Juni 2024 hanya 127,5, lebih rendah dari 147,8 di periode sebelumnya.
Hal ini lantaran adanya musim ujian sekolah serta berakhirnya program diskon di periode itu. Kedua, Indeks Nilai Belanja maupun Indeks Frekuensi Belanja berdasarkan Mandiri Spending Index per 5 Mei 2024 menurun masing-masing ke level 229,6 dan 639,2 dari level tertinggi pada satu pekan sebelum Idulfitri 2024. Ketiga, melambatnya ekspansi manufaktur yang ditandai Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur April 2024 tercatat 52,9, melorot 1,3 poin dari bulan sebelumnya. Ekonom Bank Mandiri Dian Ayu Yustina menilai, outlook konsumsi rumah tangga ke depan masih cukup baik. Pada Juli nanti akan ada belanja terkait pendidikan. Selain itu, pilkada mulai akhir kuartal ketiga menuju kuartal keempat 2024 akan menopang konsumsi rumah tangga.
Namun ramalan Ekonom Bank Permata Faisal Rachman, pertumbuhan konsumsi rumah tangga kuartal II-2024 masih di bawah 5% year on year (yoy), (yoy), yakni di kisaran 4,9% atau stagnan dibanding kuartal sebelumnya yang tumbuh 4,91%. Bank Mandiri maupun Bank Permata meramal, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua tahun ini melambat daripada kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 5,11% yoy. "Perkiraan kami (pertumbuhan ekonomi kuartal II) akan relatif lebih rendah dibandingkan kuartal pertama karena puasa dan pemilu ada di kuartal pertama," kata Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal kedua tahun ini sedikit melambat menjadi 5,1% yoy. Sementara sepanjang 2024, ekonomi diperkirakan hanya tumbuh 5,07% yoy.
Kenaikan Impor Pangkas Surplus Neraca Dagang
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









