;
Kategori

Ekonomi

( 40460 )

Air, Mata Uang Baru yang Diabaikan

26 May 2024

Ratusan ribu bahkan jutaan rumah tangga di kawasan Jabodetabek mengandalkan sumur bor sebagai sumber air satu-satunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk minum, semakin banyak yang bergantung pada air kemasan, termasuk air gallon bermerek dan isi ulang. Pada benak banyak orang tertanam bahwa air bersih memang urusan sendiri dengan sumur bor dan air galon. Di banyak perkotaan lain di Indonesia, kondisi serupa juga terjadi. Ketersediaan air bersih  perpipaan sebagai layanan publik untuk semua warga belum menjadi program yang serius diwujudkan. Secara umum, air masih saja dianggap sebagai kebutuhan nomor sekian oleh sebagian kita dan pemerintah. Padahal, tanpa air, orang hanya bisa bertahan hidup selama 3-4 hari saja. Kebersihan dan kesehatan keluarga terancam. Air penentu hidup dan matinya semua bahan dasar makanan yang kita butuhkan sehari-hari.

Berbagai bidang industri, bahkan pertambangan, lumpuh tanpa pasokan air berkelanjutan. Di kawasan perkotaan, realisasi janji pembangunan air bersih perpipaan berjalan bagai siput. Di Jakarta, cakupan layanan air perpipaannya tahun ini baru menjangkau 930.000 pelanggan atau sepertiga total rumah tangga di kota yang mencanangkan diri menjadi kota global setelah tak lagi berstatus ibu kota negara. Data BPS 2023, ada 2,8 juta rumah tangga di Jakarta. Di luar wilayah urban, tata kelola irigasi untuk pertanian dan agroindustri di Indonesia masih sarat masalah. Pelaku industri mikro hingga skala raksasa di sejumlah daerah tidak memakai air dengan bijak dan berkelanjutan untuk usahanya. Pihak yang berwenang menegakkan aturan perihal tata kelola air belum bertindak maksimal.

Saat ini, para pihak akhirnya menyadari air adalah sumber daya alam paling berharga. Namun, eksploitasi sumber daya alam juga susah beranjak dari kerakusan atas nama pertumbuhan bisnis. Mengakses air menjadi kompetisi tanpa garis finis. Penguasa sumber air dan mereka yang mampu mengelolanya berarti menguasai ”mata uang” bernilai sangat tinggi di tengah dunia yang kekeringan dan kehausan. Nilai ”mata uang” lain, emas, minyak, dan lainnya, berfluktuasi secara radikal dan dapat ditukar dengan sesuatu yang bernilai lainnya. Namun, air tidak akan pernah mengalami penurunan nilai. Di wilayah yang kaya sumber air, manfaat air dapat dimanfaatkan untuk melahirkan usaha-usaha baru yang menumbuhkan perekonomian   lokal, meningkatkan basis pajak, dan kualitas hidup masyarakat setempat.

Karena itu, tidak ada cara agar bisa bertahan selain dengan menguasai, mengelola, hingga memunculkan sumber air baru. Selain memanfaatkan sungai, situ, dan danau, pemerintah perlu berinisiatif untuk melakukan diversifikasi sumber air untuk meningkatkan ketahanan air di area urban. Publikasi riset ”Diversification of urban water supply: Anassessment of social costs and water production costs" (Mei, 2022), menyebutkan bahwa desalinasi air laut serta penggunaan kembali air dari limbah industri patut dipertimbangkan oleh kota untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya. Melihat Singapura, Indonesia yang baru menjadi tuan rumah perhelatan World Water Forum (WWF) 2024, menyadari ketertinggalannya karena belum juga bisa melihat urgensi air sebagai ”mata uang” tertinggi. (Yoga)


Ekspresi Kegelisahan Petani Karet

26 May 2024

Petani penyadap karet menghadapi realitas surutnya harga karet mentah. Mereka tidak sesejahtera seperti di zaman dulu lagi. Sejumlah perupa mengekspresikan kegelisahan petani itu dengan membuat karet mentah menjadi karya seni untuk pertama kalinya. Para perupa itu sempat menengok keprihatinan para petani penyadap karet di Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung. Mereka antara lain Agus Suwage, Anusapati, Catur Nugroho, Dolorosa Sinaga, Elyezer, Handiwirman, Iwan Yusuf, Maharani Mancanagara, Septian Harriyoga, Suvi Wahyudianto, Titarubi, dan Yuli Prayitno. Beberapa di antaranya tinggal sejenak di sana untuk menyelami kehidupan petani karet dan akhirnya mengekspresikan kegelisahan mereka ke dalam karya seni yang dipamerkan di Galeri Jagad, Wisma Geha, dekat pusat perbelanjaan Sarinah, Jakarta.

Pameran bertajuk ”Beyond Elasticity: Rubber and Materiality (Di Balik Elastisitas: Karet dan Materialitas)” berlangsung 17 Mei hingga 30 Juni 2024. Galeri Jagad menggandeng Sekolah Seni Tubaba untuk pameran ini. Mereka menampilkan karya-karya yang tidak pernah ada sebelumnya karena material karet mentah tidak pernah digunakan sebagai media karya seni. Bupati Tubaba periode 2017–2022 Umar Ahmad memberi catatan pengantar pameran yang cukup menarik, yakni ”Karet, Tubaba, dan Jalan Pulang ke Masa Depan”. Umar menceritakan, di masa lalu, karet adalah dapur bagi masyarakat Tubaba. Mereka menyejahterakan diri lewat hasil penyadapan karet yang dimulai tahun 1900, ketika Pemerintah Hindia Belanda mulai mengenalkan beberapa jenis tanaman karet.

Selanjutnya, perkebunan karet di Kawasan Tubaba tumbuh sejak tahun 1970 ketika dibuka sebagai Kawasan transmigrasi. Sejak itu karet menjadi primadona, sampai satu dekade silam. Tapi, situasi berubah. Hasil penyadapan karet tidak lagi menyejahterakan mereka. Umar menukil kisah dari seorang buruh petani yang bekerja dengan upah Rp 45.000 per hari. Padahal, pengeluaran dalam seharinya menembus Rp 50.000. Mulai ada pemilik lahan Perkebunan karet yang membakar perkebunananya dan mengganti dengan tanaman singkong. Saat musim panen singkong tiba, harga komoditas ini juga jatuh. Bagi Rambat, pemilik Galeri Jagad, pameran karya seni dengan media karet mentah sebagai transformatif eksplorasi artistik dan diharapkan bisa berkelanjutan. (Yoga)


Saham Papan Atas Makin Terbatas

25 May 2024

Jumlah saham yang berada di papan utama berkurang drastis. Itulah yang tampak dari  hasil rotasi anggota papan utama yang dilakukan oleh manajemen Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam evaluasi kali ini, otoritas bursa mengangkat 10 saham ke papan utama (lihat infografik). Kemudian BEI menurunkan 109 saham dari papan utama ke level papan pengembangan.Perubahan ini berlaku akhir Mei 2024 ini. Beberapa saham yang terdepak ke papan pengembangan cukup mengejutkan. Sebut saja PT Adira Finance Tbk (ADMF), HM Sampoerna Tbk (HMSP), dan Bank Permata Tbk (BNLI). Ada juga emiten yang terafiliasi orang penting terdepak dari papan utama. Sebut saja emiten milik Keluarga Tanoko,  PT Caturkarda Depo Bangunan Tbk (DEPO). Emiten saham milik Tommy Soeharto,  PT GTS Internasional Tbk (GTSI), dan PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) milik Grup Salim, hingga emiten yang terafiliasi dengan Kaesang Pangarep, PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), juga tergusur dari papan utama. Sementara emiten saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan anak usahanya yang turun kelas yaitu PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT PP Presisi Tbk (PPRE), PT Phapros Tbk (PEHA), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP), dan PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM).

Sebagai gambaran, merujuk data BEI, saat ini ada 926 emiten tercatat di BEI. Dari jumlah itu, 347 emiten atau 37,47% berada di papan utama, dan 320 emiten atau 34,55% di papan pengembangan. Usai  perubahan tersebut, 248 emiten atau 26,78%  di papan utama , sementara 419 emiten atau 45,24% di papan pengembangan. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad mengungkapkan, beleid perpindahan papan pencatatan ini bertujuan memberi klasifikasi yang jelas ke investor mengenai kondisi emiten berdasarkan kinerja fundamental, kapitalisasi pasar, serta pemenuhan atas peraturan bursa. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat saham yang naik ke papan utama akan mendapat sentimen positif. Sebaliknya, pasar cenderung merespons negatif saham yang turun ke papan pengembangan, apalagi jika penurunannya terkait faktor fundamental. Pendiri WH-Project William Hartanto juga melihat saham yang naik ke papan utama hanya menguat sejenak.  Pasar bisa memanfaatkan momentum itu untuk trading pada saham tersebut. Sementara untuk saham yang turun ke papan pengembangan, William menyarankan wait and see.

Rupiah Bisa Melemah Hingga Tahun 2025

25 May 2024

Rupiah berpotensi melemah hingga tahun depan. Pemerintah memasang asumsi rata-rata kurs rupiah di Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2025 di kisaran Rp 15.300-Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS), atau di bawah rata-rata nilai tukar rupiah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 yang sebesar Rp 15.000 per dolar AS. Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Abdurrahman membeberkan beberapa faktor penetapan asumsi nilai tukar rupiah tahun depan yang lebih optimistis di tengah fluktuasi pada saat ini. Pertama, bank sentral AS, The Fed diperkirakan mulai memangkas suku bunga sebanyak dua kali pada paruh kedua tahun ini dan minimal dua kali pemangkasan pada tahun depan. Kedua, tensi politik dalam negeri melandai lantaran proses pemilihan umum (Pemilu) 2024 telah selesai, dan berlangsung aman. Ketiga, kinerja ekonomi nasional yang relatif kuat, ekspor diproyeksikan mulai membaik, penempatan devisa hasil ekspor (DHE) meningkat, dan juga inflasi yang relatif stabil.

Abdurrahman memastikan, penentuan asumsi dasar ekonomi makro 2025, termasuk nilai tukar rupiah, melalui rapat berbagai kementerian dan lembaga, seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, dan Bank Indonesia. Hanya, Kepala Ekonom Bank Sentral Asia (BCA) David Sumual menilai, asumsi kurs rupiah yang pemerintah patok dalam rentang Rp 15.300-Rp 16.000 terlalu optimistis. Asumsi ini kurang bersaing. "Dan agak overvalued dibandingkan dengan negara peers, atau negara emerging market dan juga mitra dagang utama," kata David kepada KONTAN kemarin. Sementara Staf Bidang Ekonomi, Industri, dan Global Markets dari Bank Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menyebutkan, asumsi nilai tukar dalam rentang Rp 15.300 hingga Rp 16.000 per dolar AS masih realistis. Ia memperkirakan, tahun depan, posisi cadangan devisa akan kembali meningkat sehingga nilai tukar bisa menguat.

Optimistis Ekonomi Digital RI Capai US$ 130 Miliar

25 May 2024
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, nilai ekonomi digital Indonesia yang saat ini US$ 90 miliar. Harapannya, bisa meningkat jadi US$ 130 miliar di 2025. Hal ini juga selaras dengan potensi peningkatan ekonomi digital di regional ASEAN yang berpenduduk total sekitar 600 juta. Dengan implementasi Digital Economy Framework Agreement (DEFA), nilai ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara pada 2030 yang semula diperkirakan oleh berbagai lembaga studi mencapai US$ 1 triliun, akan meningkat hingga mencapai US$ 2 triliun. Di sisi lain, Airlangga menyebutkan, selain isu-isu mengenai keamanan siber dalam penggunaan teknologi digital, ketersediaan infrastruktur digital menjadi salah satu isu yang ada dalam meningkatkan ketersediaan jaringan internet. "Saya melihat, masalah cyber security akan selalu menjadi masalah dalam ekonomi digital," kata Airlangga dalam keterangan tertulis, Jumat (24/5). Airlangga juga menyampaikan, Indonesia telah mengambil langkah strategis dengan menjadikan ekonomi digital sebagai mesin pertumbuhan ekonomi utama berikutnya. Hal ini pula yang jadi salah satu alasan kedatangan sejumlah CEO perusahaan teknologi dunia ke RI.

Emiten Properti Menanti Pemotongan Bunga

25 May 2024

Meski bunga tinggi membayangi, bisnis properti masih melaju. Terlihat dari pendapatan prapenjualan alias marketing sales dari beberapa emiten properti. Misalnya PT Metropolitan Land Tbk (MTLA). Emiten ini mencatatkan marketing sales sebesar Rp 537 miliar hingga April 2024. "Dari pencapaian itu, recurring income yang terdiri dari mal, hotel, dan lainnya senilai Rp 176 miliar. Ini setara 9,3% dari target tahun 2024 sebesar Rp 1,9 triliun," ujar Direktur MTLA Olivia Surodjo kepada KONTAN, belum lama ini. Sedangkan emiten properti lain sudah merilis marketing sales per kuartalan. Seperti PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencatat pendapatan prapenjualan sebesar Rp 809 miliar pada kuartal I 2024. SMRA menargetkan marketing sales sebesar Rp 5 triliun di tahun 2024. Berikutnya PT Ciputra Development Tbk (CTRA) mencetak marketing sales mencapai 30% dari target tahun 2024 sebesar Rp 11,1 triliun. Realisasi ini melampaui rata-rata historis dalam lima tahun terakhir yang ada di level 24% pada periode kuartal pertama. 

Lalu PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) mencatatkan marketing sales Rp 385 miliar di kuartal I-2024. Adapun PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) membukukan prapenjualan Rp 2,22 triliun per Maret 2024. Ini sekitar 23% dari target BSDE tahun ini sebesar Rp 9,5 triliun. Naik 3% dibandingkan periode  serupa tahun 2023  sebesar Rp 2,15 triliun. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama melihat, hasil positif tersebut tidak terlepas dari penerapan kebijakan PPN ditanggung pemerintah (DTP). Selain itu, masih ada potensi penerapan kebijakan pelonggaran moneter oleh sejumlah bank sentral di dunia. Dengan potensi besar pelonggaran kebijakan moneter, kinerja emiten properti punya prospek yang cukup cerah di sepanjang tahun 2024. Apalagi sebagian pembayaran properti menggunakan skema kredit. Pengamat Pasar Modal dan Founder WH-Project William Hartanto melihat, pergerakan saham BSDE berada di level support Rp 945 per saham dan resistance Rp 1.020 per saham. William merekomendasikan beli  BSDE target di Rp 1.020 per saham. Equity Analyst Kanaka Hita Solvera, William Wibowo melihat, pergerakan saham MTLA berada di level support Rp 342 dan resistance Rp 430 per saham. William  merekomendasikan speculative buy  MTLA dengan target Rp 430.

Obligasi Domestik Masih Lebih Menarik

25 May 2024

Meski tren dana asing masih mengalir ke luar, surat utang Indonesia tak kalah menarik jika dibanding surat utang negara tetangga. Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) diyakini akan semakin pulih seiring perekonomian domestik yang relatif stabil. Head Of Fixed Income Research, PT Sinarmas Sekuritas, Aryo Perbongso, mengatakan yield surat utang 10 tahun Indonesia berada di posisi 6,93% per 16 Mei 2024. Sedangkan, real yield Indonesia berada di posisi 3,98%, hasil dari selisih besaran suku bunga dan inflasi. Aryo berujar, posisi imbal hasil surat utang Indonesia sebenarnya masih cukup kompetitif. Besaran real yield Indonesia terpantau masih tertinggi kelima di antara negara emerging market. Sinarmas Sekuritas memperkirakan, akhir tahun nanti yield obligasi pemerintah 10 tahun bisa mencapai level 6,65%. Sementara real yield diperkirakan capai 6,72%.

Menurut Aryo, surat utang berdurasi pendek mungkin lebih direkomendasikan untuk saat ini karena memperkirakan yield akan terus turun ke depan. Hal itu mengingat ekspektasi batas atas utang Amerika Serikat AS) akan diperbarui pada Januari 2025. Kemudian, pengeluaran AS akan normal usai pemilu November 2024. "Situasi itu akan melemahkan ekonomi AS dan bisa membuat pemangkasan suku bunga Fed," jelasnya. Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas, Ramdhan Ario Maruton menilai yield masih cukup stabil di level 6,8% dalam sepekan ini. Potensi arus inflow dana asing masih cukup besar ke depan.  Yield atau imbal hasil surat utang Indonesia lebih menarik dibandingkan negara lain seperti Singapura ataupun Malaysia. Ramdhan melihat kemungkinan lelang Surat Utang Negara (SUN) diperkirakan kembali semarak dimeriahkan oleh investor asing. "Lelang SUN masih berada di atas target indikatif pemerintah," tutur Ramdhan, Rabu (22/5).

Bunga Tinggi, Bank Kecil Jaga Likuiditas

25 May 2024

Kondisi likuiditas bank-bank kecil yang masuk dalam kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) I dan KBMI II masih terjaga baik, meskipun tren suku bunga mengalami kenaikan. Kondisi ini membuat bank melakukan ekspansi bisnis secara memadai. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, terjaganya likuiditas bank KBMI I dan II tercermin dari sejumlah indikator. Ia bilang, rasio alat likuid terhadap non core deposit (AL/NCD) tercatat di level 27,18% per Maret 2024, masih jauh di atas threshold 10%. Sedangkan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) berada di level 121,05%. "Jadi jika melihat rasio tersebut, terlihat kondisi likuiditas bank-bank kecil utamanya KBMI I dan II secara umum masih sangat baik," kata Dian, belum lama ini.Walau masih aman, likuiditas sebetulnya cenderung turun.

Menurut data Bank Indonesia (BI), rasio AL/DPK per April ada di level 25,62%. Bank Mega Syariah dari jajaran KBMI I salah satu yang masih mencatat likuiditas aman. Per April 2024, DPK bank ini tumbuh 4,92% dari akhir 2023. Pertumbuhan didorong kenaikan dana murah sebesar 5,5%. Alhasil, rasio dana murah berada di level 31,08%, naik dari 30,9% pada Desember 2023. Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah Hanie Dewita menyebut, untuk menjaga likuditas, pihaknya meningkatkan pangsa pasar segmen ritel, serta mengoptimalkan saluran digital dan omni channel. Bank Oke Indonesia juga mengklaim masih bisa mengamankan likuditasnya. Direktur Kepatuhan DNAR Efdinal Alamsyah mengatakan, DPK bank ini per April memang turun 5% dari akhir tahun lalu. Namun, kata dia, penurunan disebabkan karena kreditnya baru tumbuh 2%.

Rasio Kredit Macet BRI Finance Turun di 1,66%

25 May 2024
PT BRI Multifinance Indonesia mengklaim telah berhasil menurunkan tingkat kredit macet atau non performing financing (NPF) di Maret 2024. Jika pada Februari 2024, NPF BRI Finance sebesar 1,79%, pada Maret 2024 posisi NPF turun menjadi 1,66%. BRI Finance menyebut, rasio NPF tersebut masih di bawah NPF gross multifinance secara industri, sebesar 2,45% pada Maret 2024. "Ini mencerminkan komitmen kami untuk menjaga kualitas portofolio pembiayaan dan mempertahankan kepercayaan nasabah serta pemangku kepentingan lainnya," kata Ari Prayuwana, Direktur Manajemen Risiko BRI Multifinance dalam keterangan tertulis yang dirilis Jumat (24/5). Untuk menjaga kualitas pembiayaan, Ari menyebut, pihaknya telah menerapkan prinsip kehati-hatian, selektif menyalurkan pembiayaan, serta scoring yang lebih spesifik untuk pembiayaan pada segmen konsumer. Ke depan, BRI Finance mengklaim berniat memperbesar portofolio pembiayaan pada segmen high yield segment, yakni kendaraan seken dan refinancing.

China Sukses Paksa Nasabah Berinvestasi

25 May 2024

Upaya China meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan mengurangi daya tarik simpanan bank berhasil mendorong eksodus uang tunai dalam jumlah besar. Dana tersebut sebagian besar disalurkan ke obligasi dan produk wealth management. Total simpanan di China pada April 2024 turun 1,3%, mencapai 3,9 triliun yuan, setara sekitar Rp 8.630 triliun. Ini karena investor mencari keuntungan yang lebih tinggi di tempat lain. Tingkat suku bunga simpanan memang tidak menarik untuk memarkir uang tunai di bank. Bunga deposito satu tahun di bank-bank terbesar China hanya 1,45%, atau berada di rekor terendah. Menurut data Bloomberg, aliran dana yang masuk di bursa obligasi China juga bertambah sebesar US$ 428 juta di bulan yang sama. Angka tersebut menjadi rekor sejak Desember 2023.

Meski begitu, aliran dana ke aset berisiko tersebut belum menghasilkan lonjakan belanja konsumen atau investasi saham. "Berbagai faktor, termasuk berakhirnya pinjaman arbitrase, telah mendorong realokasi simpanan, dan diperkirakan akan terus berlanjut," kata Ming Ming, Kepala Ekonom Citic Securities Co, seperti dikutip Bloomberg. Dia menyebut, kini masyarakat menarik tabungan mereka untuk dibelanjakan dan berinvestasi. Permintaan investor ritel pada obligasi spesial tahap pertama pemerintah China ikut mendorong harga surat berharga ini naik 25% pada debutnya di minggu ini. Pada saat sama, imbal hasil obligasi satu tahun turun ke posisi terendah sejak pertengahan 2020.