;

Air, Mata Uang Baru yang Diabaikan

Air, Mata Uang Baru yang Diabaikan

Ratusan ribu bahkan jutaan rumah tangga di kawasan Jabodetabek mengandalkan sumur bor sebagai sumber air satu-satunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk minum, semakin banyak yang bergantung pada air kemasan, termasuk air gallon bermerek dan isi ulang. Pada benak banyak orang tertanam bahwa air bersih memang urusan sendiri dengan sumur bor dan air galon. Di banyak perkotaan lain di Indonesia, kondisi serupa juga terjadi. Ketersediaan air bersih  perpipaan sebagai layanan publik untuk semua warga belum menjadi program yang serius diwujudkan. Secara umum, air masih saja dianggap sebagai kebutuhan nomor sekian oleh sebagian kita dan pemerintah. Padahal, tanpa air, orang hanya bisa bertahan hidup selama 3-4 hari saja. Kebersihan dan kesehatan keluarga terancam. Air penentu hidup dan matinya semua bahan dasar makanan yang kita butuhkan sehari-hari.

Berbagai bidang industri, bahkan pertambangan, lumpuh tanpa pasokan air berkelanjutan. Di kawasan perkotaan, realisasi janji pembangunan air bersih perpipaan berjalan bagai siput. Di Jakarta, cakupan layanan air perpipaannya tahun ini baru menjangkau 930.000 pelanggan atau sepertiga total rumah tangga di kota yang mencanangkan diri menjadi kota global setelah tak lagi berstatus ibu kota negara. Data BPS 2023, ada 2,8 juta rumah tangga di Jakarta. Di luar wilayah urban, tata kelola irigasi untuk pertanian dan agroindustri di Indonesia masih sarat masalah. Pelaku industri mikro hingga skala raksasa di sejumlah daerah tidak memakai air dengan bijak dan berkelanjutan untuk usahanya. Pihak yang berwenang menegakkan aturan perihal tata kelola air belum bertindak maksimal.

Saat ini, para pihak akhirnya menyadari air adalah sumber daya alam paling berharga. Namun, eksploitasi sumber daya alam juga susah beranjak dari kerakusan atas nama pertumbuhan bisnis. Mengakses air menjadi kompetisi tanpa garis finis. Penguasa sumber air dan mereka yang mampu mengelolanya berarti menguasai ”mata uang” bernilai sangat tinggi di tengah dunia yang kekeringan dan kehausan. Nilai ”mata uang” lain, emas, minyak, dan lainnya, berfluktuasi secara radikal dan dapat ditukar dengan sesuatu yang bernilai lainnya. Namun, air tidak akan pernah mengalami penurunan nilai. Di wilayah yang kaya sumber air, manfaat air dapat dimanfaatkan untuk melahirkan usaha-usaha baru yang menumbuhkan perekonomian   lokal, meningkatkan basis pajak, dan kualitas hidup masyarakat setempat.

Karena itu, tidak ada cara agar bisa bertahan selain dengan menguasai, mengelola, hingga memunculkan sumber air baru. Selain memanfaatkan sungai, situ, dan danau, pemerintah perlu berinisiatif untuk melakukan diversifikasi sumber air untuk meningkatkan ketahanan air di area urban. Publikasi riset ”Diversification of urban water supply: Anassessment of social costs and water production costs" (Mei, 2022), menyebutkan bahwa desalinasi air laut serta penggunaan kembali air dari limbah industri patut dipertimbangkan oleh kota untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya. Melihat Singapura, Indonesia yang baru menjadi tuan rumah perhelatan World Water Forum (WWF) 2024, menyadari ketertinggalannya karena belum juga bisa melihat urgensi air sebagai ”mata uang” tertinggi. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :