Ekonomi
( 40460 )Senja di Wajah Baru Waduk Darma
Setelah direvitalisasi tahun 2023, Waduk Darma kini punya wajah baru yang memancarkan panorama senja dengan dermaga apungnya. Tak hanya menarik ribuan wisatawan, perubahan waduk peninggalan Belanda ini juga memberi makna bagi masyarakat. Langit biru menjelma oranye di Waduk Darma, Kuningan, Jabar, Kamis (2/5). Sejumlah pengunjung merekam momen itu. Ada juga yang hanya duduk menikmati senja di Waduk Darma. Adjisar (70), pengunjung asal Bandung, mengabadikan dirinya bersama istri di spot swafoto tersebut. ”Sangat beruntung warga yang bermukim dekat Waduk Darma. Mereka tidak hanya menikmati panorama waduk yang indah, tetapi juga dapat berolahraga, jalan, dan lari santai mengitari jalur di area waduk,” tutur Adjisar.
Selain trek joging, dibangun juga tempat duduk untuk istirahat warga. 10 meter dari lokasi swafoto tersedia tempat untuk pengunjung makan bersama kerabat, yang dalam tradisi Jabar, disebut botram. Ada dua rombongan pengunjung yang menikmati aneka kuliner sambil lesehan di atas tikar. Juju (45) dan keluarganya, menempuh 90 menit perjalanan dari Ciamis ke Waduk Darma. Mereka membayar tiket masuk Rp 17.500 per orang pada hari biasa. ”Perjalanan cukup jauh ke sini terbayarkan dengan keindahan panoramanya. Kami menikmati makanan yang enak dengan suasana kekeluargaan,” ucap Juju tersenyum.
Selain spot swafoto dan tempat piknik, Waduk Darma juga memiliki gazebo, tempat duduk santai berlapis rumput sintetis, area kuliner, dan dermaga terapung yang menjadi landmark waduk. Dermaga ini terhubung dengan perahu wisata yang dapat berkeliling area waduk. Ada juga tempat pertunjukan kesenian, gedung untuk acara pernikahan hingga seminar, area perkemahan, hingga spot untuk foto pranikah. Berbagai fasilitas itu merupakan buah dari revitalisasi waduk oleh Pemprov Jabar sejak 2019. Gubernur Jabar saat itu, Ridwan Kamil, mencanangkan waduk seluas 425 hektar itu sebagai destinasi wisata tingkat internasional. Sejak April 2023, waduk ini pun punya wajah baru.
”Salah satu yang kami banggakan adalah penataan Waduk Darma. Saya titip ini dijaga. Total anggarannya di atas Rp 30 miliar. Saya harapkan menjadi destinasi wisata unggulan, bahkan internasional,” ucapnya saat itu. Manajer PT Jaswita Pengelola Waduk Darma Fivih Handayani mengatakan, meski pengelolaannya berganti, pihaknya tetap memberdayakan warga. Sebanyak 28 pegawai, berasal dari desa setempat. Begitu juga dengan 15 gerai kuliner dan 35 tempat untuk UMKM. Fivih mengatakan, warga turut merasakan dampak ekonomi dari Waduk Darma. Pada libur Lebaran dan Tahun Baru, pengunjung bisa 6.000 hingga 8.000 orang per hari. Pendapatan bersih bulanan PT Jaswita pun dapat menyentuh Rp 300 juta. (Yoga)
Dede Arief Cahyadi, Megaterasering untuk Masa Depan
Dede Arief Cahyadi terpanggil memajukan potensi wisata sawah terasering di kampung halaman istrinya, Desa Sukamulya, Pangandaran, Jabar. Dede berkontribusi melahirkan BUMDes, kelompok sadar wisata, hingga mempromosikan Desa Wisata Megaterasering Sukamulya menjadi destinasi wisata di Pangandaran. Dari Parigi, ibu kota Pangandaran, ke Sukamulya berjarak 17 km. Dari Bandara Internasional Kertajati di Majalengka dengan mobil, jarak tempuh ke Sukamulya 162 km, memakan waktu 5 jam. Di Megaterasering Sukamulya, pengunjung menyaksikan satu-satunya desa dengan sawah terasering terluas di Pangandaran yang mencapai 1.200 hektar. Selama ini, Pangandaran dikenal dengan wisata pantai dan sungai.
Megaterasering Sukamulya menampilkan pemandangan hamparan sawah yang indah, kehidupan petani yang beraktivitas di sawah, air terjun yang sejuk, kebun agrowisata, hingga perkebunan kopi robusta. Megaterasering ini terkenal berkat kerja keras pemuda di Pangandaran bernama Dedi Arief Cahyadi (39), setelah menikahi istrinya, Rosi Juniati (32) warga setempat pada 2016. ”Awalnya saya kira daerah perbukitan hanya hutan yang biasa dilalui warga. Ternyata sebuah potensi wisata yang sangat besar tersimpan di Sukamulya,” tutur Dedi saat ditemui di Pangandaran, 5 Mei 2024. Denan mempelajari literasi tentang terasering dan potensi pengembangan wisata terasering seperti di Ubud di Bali. Ia berikhtiar melahirkan desa wisata di Sukamulya. Komitmen itu dijalankan Dede di tengah kesibukannya sebagai penggiat budaya Kabupaten Pangandaran sejak tahun 2016 di bawah naungan Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek.
Di tengah upaya membangun spot wisata terasering di Sukamulya, Dedi terpilih menjadi salah satu tenaga pendamping program Pemprov Jabar, Patriot Desa, yang mendorong desa tertinggal dan berada di perbatasan dengan provinsi lain. ”Selama setahun sebagai tenaga pendamping Patriot Desa, saya merintis lahirnya BUMDes di Sukamulya yang mengelola pemasukan dari penggunaan air bersih oleh warga setempat,” ujarnya. Perlu waktu tiga tahun bagi Dede untuk meyakinkan warga soal potensi pendapatan yang diraih dari sektor pariwisata. Ia pun secara intens membuat video keindahan terasering Sukamulya di media sosial. Unggahannya menarik perhatian banyak warganet. Ia juga mengundang salah seorang pelaku usaha jasa wisata di Pangandaran bernama Fauzi ke Sukamulya.
Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek menetapkan Sukamulya, satu dari 359 desa di Indonesia yang berstatus desa budaya pada 2 April 2021. Dede bersama warga setempat sepakat menamai tempat itu Megaterasering Sukamulya. Warga pun dilatih menjadi pemandu wisata dan menyiapkan aneka kuliner bagi pengunjung, seperti nasi liwet, ikan asin, ikan mas, ayam goreng, dan kelapa muda. Pada Maret 2021, warga menyambut 300 pesepeda dari Pangandaran yang menjajal rute di Sukamulya. Kegiatan ini berjalan sukses dan warga mendapatkan pemasukan besar, yang Rp 1,5 juta dari pemasukan kegiatan sepeda itu digunakan Pokdarwis Wahana Mulya untuk membangun saung berkapasitas 50 orang yang digunakan sebagai tempat berlindung pengunjung. Kini, Desa Wisata Megaterasering Sukamulya rutin dikunjungi wisatawan dari sejumlah wilayah di Jabar, sebanyak 30 hingga 50 pengunjung sebulan. (Yoga)
PMN Bukan Solusi Jitu
Benahi Ekosistem Asuransi Kesehatan
OJK bertekad untuk membenahi ekosistem asuransi kesehatan. Hal ini dilakukan seiring melonjaknya rasio klaim terhadap premi yang diterima perusahaan asuransi yang sangat tinggi, melebihi premi bruto yang diterima. Kondisi ini dinilai kurang ideal dari sisi bisnis. "Tadi disampaikan angkanya 138%, ini mungkin perlu dijajaki lebih lanjut, namun kami memastikan bahwa itu diatas 100%. Ini belum memperhitungkan dari biaya lain secara keseluruhan, jadi belum combine ratio, tapi baru murni klaim rasio terhadap premi yang diterima," kata Kepala Ekskutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono. Ia mengatakan, produk asuransi kesehatan termasuk produk unggulan, terbukti dari minat perusahaan asuransi terhadap produk ini cukup tinggi, yakni dari perusahaan asuransi jiwa dan perusahaan asuransi umum. (Yetede)
Marak BNPL, Transaksi Kartu Kredit Masih Tumbuh 11,57%
Ditengah maraknya bisnis buy now pay later (BNPL) yang ditawarkan, bisnis kartu kredit perbankan masih mencatatkan pertumbuhan positif. Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi kartu kredit masih tumbuh dua digit per April 2024. Nominal kartu kredit masih meningkat 11,67% (year on year/yoy) mencapai Rp 34,39 triliun," kata Gubernur BI Perry Warjiyo. Sementara itu OJK juga mencatatkan outstanding piutang pembiayaan perusahaan BNPL per maret sebesar Rp 8,13 triliun, meningkat 23,9% (yoy) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kartu kredit. Dengan rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) gross 3,15%, dan NPF nett 0,59%. Meskipun pertumbuhan bisnis paylater lebih tinggi dibandingkan dengan bisnis kartu kredit, namun kedua produk tersebut memiliki pasar yang berbeda. Sehingga, seharusnya bisnis paylater tidak bisa menggantikan kartu kredit dan tidak perlu dikhawatirkan perbankan. (Yetede)
Medco Energi Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Rp400 Miliar
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) siap melunasi obligasi jatuh tempo sebesar Rp 400 miliar. Dana tersebut berasal dari hasil penerbitan obligasi pada tahun ini dengan total nilai mencapai Rp 1,5 triliun. Pada tahun ini, tepatnya pada Februari 2024, emiten dengan kode saham MEDC tersebut telah menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V Tahap II Tahun 2024 dengan hasil menghimpun dan sejumlah total Rp 1,5 triliun. Direktur Keuangan Medco Energi Internasional Anthony R. Mathias menyampaikan, dana yang terhimpun dari penerbitan Obligasi Berkelanjutan II Tahap V Tahun 2024 tersebut akan digunakan perseroan untuk melunasi Obligasi rupiah perusahaan yang jatuh tempo tahun ini. "Termasuk untuk pembayaran Obligasi Berkelanjutan IV Tahap I Tahun 2021 Seri A," jelas Anthony. (Yetede)
Elon Musk Berbalik Dukung Non-Tarif untuk Mobil Listrik
CEO Tesla ELon Musk mengatakan tidak mendukung pengenaan tarif untuk kendaraan listrik buatan China. Pernyataannya merespon pengumuman Presiden Amerika Serikat Joe Biden baru-baru ini yang menyatakan bakal menerapkan tarif 100% atas impor mobil listrik China. Pekan lalu pemerintah Biden menyampaikan akan menerapkan tarif 100% untuk impor kendaran listrik China ke AS dengan tujuan menghentikan mobil listrik China murah membanjiri pasar AS. Menurut Gedung Putih subsidi China telah membantu perusahaan-perusahaan memproduksi produk energi bersih murah secara berlebihan, seperti panel surya dan kendaraan listrik hingga melebihi permintaan domestik. "Baik Tesla maupun saya tidak meminta tarif ini. Bahkan, saya terkejut ketika terif tersebut diumumkan," ujar Musk. Tesla sendiri harus berjuang untuk tahun ini, mengingat armada kendaraan listriknya yang menua, lemahnya permintaan konsumen untuk kendaraan, dan meningkatnya persaingan global-terutama China. (Yetede)
Menakar Bukti Kasus Kekerasan Seksual Ketua KPU
Era Bunga Tinggi, Bank Syariah Mega Syariah Jaga Likuiditas
RI Ajak China Kembangkan Teknologi Pertanian Padi
Indonesia menjalin kerja sama dengan lembaga riset pada terbesar di China, China National Rice Research Institute (CNRRI), untuk mengembangkan teknologi pertanian guna menurunkan biaya produksi hingga 40-60%. CNRRI dikenal sebagai pusat riset terkemuka yang memainkan peran kunci dalam mengkoordinasikan program penelitian padi tingkat nasional dan global. Lembaga itu telah menghasilkan berbagai varietas padi unggul yang resisten hama penyakit, toleran cekaman lingkungan, serta menggunakan teknologi ramah lingkungan, dan hemat biaya.
Kerja sama yang diinisiasi Indonesia itu disambut baik oleh CBRRI dan difokuskan pada beberapa area penting. Area itu meliputi peningkatan kualitas benih dengan mengembangkan benih lebih adaptif terhadap kondisi kekeringan serta teknologi pertanian modern dengan mengaplikasikan teknologi digital (kecerdasan buatan/AI) dan alat mesin pertanian modern seperti mesin pembibitan otomatis, transplanter, drone, combine harvester, dan RMU (rice milling unit). (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









