Ekonomi
( 40554 )BPR-BPRS Bidik Ekonomi Mikro
BI Diperkirakan Turunkan Suku Bunga Acuan di Akhir Tahun 2024
Sinyal Ketimpangan Tabungan
Mahkamah Internasional Minta Israel Stop Serangan
Israel tetap menyerang Gaza, termasuk Rafah, Sabtu (25/5) meski Mahkamah Internasional atau ICJ memerintahkan Israel menghentikan serangan. Namun, Israel tidak mengisyaratkan akan menghentikan operasinya di Rafah. Menurut saksi mata warga Palestina, serangan Israel menyasar Rafah dan pusat kota Deir al-Balah. Bentrokan terjadi antara tentara Israel dan kelompok Hamas. Warga Palestina berharap keputusan ICJ akan memberi tekanan kepada Israel untuk mengakhiri perang meski mereka tak sepenuhnya yakin. ”Israel menganggap dirinya kebal hukum. Karena itu, saya tidak percaya penyerangan atau perang akan berhenti kecuali dengan kekerasan,” kata Mohammed Saleh, warga Gaza.
Pada Jumat (24/5), ICJ memerintahkan Israel menghentikan serangan ke Rafah dan membuka Gerbang Rafah demi mempertahankan jalur kemanusiaan. Selain itu, ICJ juga memerintahkan pembebasan segera dan tanpa syarat para sandera yang ditawan Hamas dalam serangan pada 7 Oktober 2023. ICJ sebelumnya telah memerintahkan agar Israel melakukan apa pun untuk mencegah genosida selama menyerang posisi kelompok Hamas di Gaza. Namun, Israel tetap melanjutkan operasi militer, bahkan menyerang Rafah yang dipadati pengungsi. Pasukan darat Israel mulai bergerak memasuki Rafah awal Mei 2024, mengabaikan seruan internasional.
Israel mengambil alih sisi Rafah yang berbatasan dengan Mesir sehingga menyulitkan pengiriman bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza. Perintah ICJ memberi angin segar bagi upaya menekan Israel menghentikan perang di Gaza. Sekjen PBB Antonio Guterres menekankan bahwa keputusan ICJ bersifat ”mengikat”. Jubir Guterres, Stephane Dujarric, mengatakan, Sekjen PBB yakin semua pihak akan mematuhi perintah pengadilan tersebut. Menlu Afsel Naledi Pandor kepada stasiun televisi SABC mengatakan, Afsel senang ICJ mengindahkan seruannya. ”Kasusnya semakin kuat dari hari ke hari. Genosida sedang berlangsung,” katanya. (Yoga)
Investasi Bodong untuk Modal Foya-foya di AS
Guo Wengui (57), pengusaha kaya asal China yang mengasingkan diri ke AS, menjadi sensasi setelah ketahuan menipu untuk berfoya-foya. Dengan janji investasi yang ternyata bodong, Guo meraup kekayaan 1 miliar USD (Rp 16 triliun). Hal itu terungkap dalam sidang kasus penipuan di pengadilan New York, Jumat (24/5) siang waktu setempat atau Sabtu (25/5) dini hari waktu Indonesia. ”Guo melakukan penipuan besar-besaran terhadap banyak orang demi berfoya-foya,” kata Asisten Jaksa Micah Fergenson. Kepada para pengikutnya di dunia maya, Guo menjanjikan mereka bisa kaya melalui investasi. Rupanya uang yang terkumpul digunakan untuk membiayai gaya hidup glamor.
Jaksa menyebut aset Guo dan keluarganya juga mencakup apartemen senilai 70 juta USD di Central Park, dua kapal pesiar mewah, rumah mewah seluas 15.000 meter persegi, mobil-mobil mewah senilai total 60.000 USD, bahkan kasur seharga 35.000 USD (Rp 561 juta). Guo pindah dari China ke AS pada 2014. Ketika itu, Pemerintah China menjalankan operasi pemberantasan korupsi. Banyak pejabat yang merupakan teman-teman Guo berakhir di penjara. Setelah meninggalkan China, otoritas China menuding Guo atas sejumlah kejahatan, antara lain, pemerkosaan, penculikan, penyuapan, dan pencucian uang. Guo menyebut tuduhan itu salah dan digunakan untuk menghukum dirinya karena mengungkap korupsi dan mengkritik para pemimpin di Partai Komunis.
Kejahatan Guo terungungkap, setelah otoritas di China dan Hong Kong menyita aset-asetnya. Guo mulai bisnis investasi bodong tahun 2018, Guo mengiming-imingi keuntungan finansial di sektor properti atau aset kripto melalui video daring berbahasa Mandarin. Dia menawarkan investasi di perusahaan media miliknya, usaha patungan mata uang kripto, program pinjaman pertanian, dan keanggotaan klub eksklusif dengan layanan istimewa. Guo ditangkap polisi di New York pada Maret 2023 atas tuduhan penipuan. Ia menghadapi 12 dakwaan, termasuk penipuan, pemerasan, konspirasi, dan pencucian uang. Sidang yang dipimpin Hakim Distrik Analisa Torres diperkirakan molor sampai Juli 2024. Sidang Guo menghadirkan 12 orang juri yang akan berembuk untuk menentukan Guo bersalah atas dakwaan yang dijatuhkan kepadanya atau tidak. (Yoga)
Air, Mata Uang Baru yang Diabaikan
Ratusan ribu bahkan jutaan rumah tangga di kawasan Jabodetabek mengandalkan sumur bor sebagai sumber air satu-satunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk minum, semakin banyak yang bergantung pada air kemasan, termasuk air gallon bermerek dan isi ulang. Pada benak banyak orang tertanam bahwa air bersih memang urusan sendiri dengan sumur bor dan air galon. Di banyak perkotaan lain di Indonesia, kondisi serupa juga terjadi. Ketersediaan air bersih perpipaan sebagai layanan publik untuk semua warga belum menjadi program yang serius diwujudkan. Secara umum, air masih saja dianggap sebagai kebutuhan nomor sekian oleh sebagian kita dan pemerintah. Padahal, tanpa air, orang hanya bisa bertahan hidup selama 3-4 hari saja. Kebersihan dan kesehatan keluarga terancam. Air penentu hidup dan matinya semua bahan dasar makanan yang kita butuhkan sehari-hari.
Berbagai bidang industri, bahkan pertambangan, lumpuh tanpa pasokan air berkelanjutan. Di kawasan perkotaan, realisasi janji pembangunan air bersih perpipaan berjalan bagai siput. Di Jakarta, cakupan layanan air perpipaannya tahun ini baru menjangkau 930.000 pelanggan atau sepertiga total rumah tangga di kota yang mencanangkan diri menjadi kota global setelah tak lagi berstatus ibu kota negara. Data BPS 2023, ada 2,8 juta rumah tangga di Jakarta. Di luar wilayah urban, tata kelola irigasi untuk pertanian dan agroindustri di Indonesia masih sarat masalah. Pelaku industri mikro hingga skala raksasa di sejumlah daerah tidak memakai air dengan bijak dan berkelanjutan untuk usahanya. Pihak yang berwenang menegakkan aturan perihal tata kelola air belum bertindak maksimal.
Saat ini, para pihak akhirnya menyadari air adalah sumber daya alam paling berharga. Namun, eksploitasi sumber daya alam juga susah beranjak dari kerakusan atas nama pertumbuhan bisnis. Mengakses air menjadi kompetisi tanpa garis finis. Penguasa sumber air dan mereka yang mampu mengelolanya berarti menguasai ”mata uang” bernilai sangat tinggi di tengah dunia yang kekeringan dan kehausan. Nilai ”mata uang” lain, emas, minyak, dan lainnya, berfluktuasi secara radikal dan dapat ditukar dengan sesuatu yang bernilai lainnya. Namun, air tidak akan pernah mengalami penurunan nilai. Di wilayah yang kaya sumber air, manfaat air dapat dimanfaatkan untuk melahirkan usaha-usaha baru yang menumbuhkan perekonomian lokal, meningkatkan basis pajak, dan kualitas hidup masyarakat setempat.
Karena itu, tidak ada cara agar bisa bertahan selain dengan menguasai, mengelola, hingga memunculkan sumber air baru. Selain memanfaatkan sungai, situ, dan danau, pemerintah perlu berinisiatif untuk melakukan diversifikasi sumber air untuk meningkatkan ketahanan air di area urban. Publikasi riset ”Diversification of urban water supply: Anassessment of social costs and water production costs" (Mei, 2022), menyebutkan bahwa desalinasi air laut serta penggunaan kembali air dari limbah industri patut dipertimbangkan oleh kota untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya. Melihat Singapura, Indonesia yang baru menjadi tuan rumah perhelatan World Water Forum (WWF) 2024, menyadari ketertinggalannya karena belum juga bisa melihat urgensi air sebagai ”mata uang” tertinggi. (Yoga)
Ekspresi Kegelisahan Petani Karet
Petani penyadap karet menghadapi realitas surutnya harga karet mentah. Mereka tidak sesejahtera seperti di zaman dulu lagi. Sejumlah perupa mengekspresikan kegelisahan petani itu dengan membuat karet mentah menjadi karya seni untuk pertama kalinya. Para perupa itu sempat menengok keprihatinan para petani penyadap karet di Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung. Mereka antara lain Agus Suwage, Anusapati, Catur Nugroho, Dolorosa Sinaga, Elyezer, Handiwirman, Iwan Yusuf, Maharani Mancanagara, Septian Harriyoga, Suvi Wahyudianto, Titarubi, dan Yuli Prayitno. Beberapa di antaranya tinggal sejenak di sana untuk menyelami kehidupan petani karet dan akhirnya mengekspresikan kegelisahan mereka ke dalam karya seni yang dipamerkan di Galeri Jagad, Wisma Geha, dekat pusat perbelanjaan Sarinah, Jakarta.
Pameran bertajuk ”Beyond Elasticity: Rubber and Materiality (Di Balik Elastisitas: Karet dan Materialitas)” berlangsung 17 Mei hingga 30 Juni 2024. Galeri Jagad menggandeng Sekolah Seni Tubaba untuk pameran ini. Mereka menampilkan karya-karya yang tidak pernah ada sebelumnya karena material karet mentah tidak pernah digunakan sebagai media karya seni. Bupati Tubaba periode 2017–2022 Umar Ahmad memberi catatan pengantar pameran yang cukup menarik, yakni ”Karet, Tubaba, dan Jalan Pulang ke Masa Depan”. Umar menceritakan, di masa lalu, karet adalah dapur bagi masyarakat Tubaba. Mereka menyejahterakan diri lewat hasil penyadapan karet yang dimulai tahun 1900, ketika Pemerintah Hindia Belanda mulai mengenalkan beberapa jenis tanaman karet.
Selanjutnya, perkebunan karet di Kawasan Tubaba tumbuh sejak tahun 1970 ketika dibuka sebagai Kawasan transmigrasi. Sejak itu karet menjadi primadona, sampai satu dekade silam. Tapi, situasi berubah. Hasil penyadapan karet tidak lagi menyejahterakan mereka. Umar menukil kisah dari seorang buruh petani yang bekerja dengan upah Rp 45.000 per hari. Padahal, pengeluaran dalam seharinya menembus Rp 50.000. Mulai ada pemilik lahan Perkebunan karet yang membakar perkebunananya dan mengganti dengan tanaman singkong. Saat musim panen singkong tiba, harga komoditas ini juga jatuh. Bagi Rambat, pemilik Galeri Jagad, pameran karya seni dengan media karet mentah sebagai transformatif eksplorasi artistik dan diharapkan bisa berkelanjutan. (Yoga)
Saham Papan Atas Makin Terbatas
Jumlah saham yang berada di papan utama berkurang drastis. Itulah yang tampak dari hasil rotasi anggota papan utama yang dilakukan oleh manajemen Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam evaluasi kali ini, otoritas bursa mengangkat 10 saham ke papan utama (lihat infografik). Kemudian BEI menurunkan 109 saham dari papan utama ke level papan pengembangan.Perubahan ini berlaku akhir Mei 2024 ini. Beberapa saham yang terdepak ke papan pengembangan cukup mengejutkan. Sebut saja PT Adira Finance Tbk (ADMF), HM Sampoerna Tbk (HMSP), dan Bank Permata Tbk (BNLI). Ada juga emiten yang terafiliasi orang penting terdepak dari papan utama. Sebut saja emiten milik Keluarga Tanoko, PT Caturkarda Depo Bangunan Tbk (DEPO). Emiten saham milik Tommy Soeharto, PT GTS Internasional Tbk (GTSI), dan PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) milik Grup Salim, hingga emiten yang terafiliasi dengan Kaesang Pangarep, PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), juga tergusur dari papan utama. Sementara emiten saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan anak usahanya yang turun kelas yaitu PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT PP Presisi Tbk (PPRE), PT Phapros Tbk (PEHA), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP), dan PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM).
Sebagai gambaran, merujuk data BEI, saat ini ada 926 emiten tercatat di BEI. Dari jumlah itu, 347 emiten atau 37,47% berada di papan utama, dan 320 emiten atau 34,55% di papan pengembangan. Usai perubahan tersebut, 248 emiten atau 26,78% di papan utama , sementara 419 emiten atau 45,24% di papan pengembangan. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad mengungkapkan, beleid perpindahan papan pencatatan ini bertujuan memberi klasifikasi yang jelas ke investor mengenai kondisi emiten berdasarkan kinerja fundamental, kapitalisasi pasar, serta pemenuhan atas peraturan bursa. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat saham yang naik ke papan utama akan mendapat sentimen positif. Sebaliknya, pasar cenderung merespons negatif saham yang turun ke papan pengembangan, apalagi jika penurunannya terkait faktor fundamental. Pendiri WH-Project William Hartanto juga melihat saham yang naik ke papan utama hanya menguat sejenak. Pasar bisa memanfaatkan momentum itu untuk trading pada saham tersebut. Sementara untuk saham yang turun ke papan pengembangan, William menyarankan wait and see.
Rupiah Bisa Melemah Hingga Tahun 2025
Rupiah berpotensi melemah hingga tahun depan. Pemerintah memasang asumsi rata-rata kurs rupiah di Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2025 di kisaran Rp 15.300-Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS), atau di bawah rata-rata nilai tukar rupiah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 yang sebesar Rp 15.000 per dolar AS. Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Abdurrahman membeberkan beberapa faktor penetapan asumsi nilai tukar rupiah tahun depan yang lebih optimistis di tengah fluktuasi pada saat ini. Pertama, bank sentral AS, The Fed diperkirakan mulai memangkas suku bunga sebanyak dua kali pada paruh kedua tahun ini dan minimal dua kali pemangkasan pada tahun depan. Kedua, tensi politik dalam negeri melandai lantaran proses pemilihan umum (Pemilu) 2024 telah selesai, dan berlangsung aman. Ketiga, kinerja ekonomi nasional yang relatif kuat, ekspor diproyeksikan mulai membaik, penempatan devisa hasil ekspor (DHE) meningkat, dan juga inflasi yang relatif stabil.
Abdurrahman memastikan, penentuan asumsi dasar ekonomi makro 2025, termasuk nilai tukar rupiah, melalui rapat berbagai kementerian dan lembaga, seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, dan Bank Indonesia. Hanya, Kepala Ekonom Bank Sentral Asia (BCA) David Sumual menilai, asumsi kurs rupiah yang pemerintah patok dalam rentang Rp 15.300-Rp 16.000 terlalu optimistis. Asumsi ini kurang bersaing. "Dan agak overvalued dibandingkan dengan negara peers, atau negara emerging market dan juga mitra dagang utama," kata David kepada KONTAN kemarin. Sementara Staf Bidang Ekonomi, Industri, dan Global Markets dari Bank Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menyebutkan, asumsi nilai tukar dalam rentang Rp 15.300 hingga Rp 16.000 per dolar AS masih realistis. Ia memperkirakan, tahun depan, posisi cadangan devisa akan kembali meningkat sehingga nilai tukar bisa menguat.
Optimistis Ekonomi Digital RI Capai US$ 130 Miliar
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









