;
Kategori

Ekonomi

( 40430 )

Investasi Emas Diuji Momentum

24 May 2025
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan geopolitik, emas kembali menjadi instrumen investasi yang menarik, baik dalam bentuk fisik maupun melalui saham emiten tambang logam mulia. Harga emas global mencatat kenaikan signifikan, bertahan di atas US$3.300 per troy ounce, dengan kenaikan mingguan sekitar 3%—terbesar dalam lebih dari sebulan.

Miftahul Khaer, analis dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap defisit fiskal Amerika Serikat dan pencabutan sovereign credit rating oleh Moody’s, menjadikan emas kembali dipandang sebagai safe haven. Hal ini berdampak positif pada saham emiten tambang emas seperti ANTM, BRMS, dan MDKA.

Andy Nugraha dari Dupoin Futures menambahkan bahwa arus modal saat ini mengalir ke aset aman seperti emas, meski ia mengingatkan bahwa data ekonomi AS yang membaik dapat menekan harga emas karena mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Andy juga menyarankan para trader untuk mencermati sinyal teknikal harga emas dalam jangka pendek.

Sementara itu, Ariston Tjendra, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, menyebut potensi kenaikan harga emas masih terbuka, didorong oleh kenaikan tarif impor AS dan potensi pelonggaran suku bunga. Ia merekomendasikan strategi beli saat harga koreksi dan tahan untuk jangka panjang.

Dari sisi saham, ANTM mencatat kenaikan harga luar biasa, mencapai 100% sepanjang 2025. Meski demikian, analis Muhammad Farras Farhan dari Mirae Asset Sekuritas menilai valuasi sahamnya mulai terbatas. Namun, Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas tetap optimis terhadap kinerja kuartal II/2025, seiring dengan peningkatan rata-rata harga jual emas.

Dengan kontribusi pendapatan emas mencapai Rp21,61 triliun pada kuartal I/2025, ANTM terus memperkuat bisnis logam mulia melalui kerja sama pembangunan fasilitas di Gresik, Jawa Timur.

Meskipun terdapat potensi tekanan jangka pendek akibat dinamika suku bunga dan ekonomi AS, prospek jangka panjang investasi emas dan saham-saham tambang emas tetap menjanjikan, terutama jika tensi geopolitik dan ketidakpastian fiskal global terus berlangsung.

Sinyal Positif dari Pasar Surat Utang

24 May 2025
Keputusan Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan menjadi 5,5% memberikan dampak positif bagi pasar surat utang. Kebijakan ini berhasil mendorong kenaikan harga surat utang di pasar sekunder serta menurunkan biaya penerbitan obligasi (cost of fund), yang diharapkan mendorong penerbitan obligasi baru, terutama oleh sektor swasta.

Paska pengumuman tersebut, minat investor terhadap surat utang meningkat tajam. Yield obligasi negara tenor 10 tahun tercatat turun menjadi 6,94% dari sebelumnya 7,11%. Bahkan, lelang Surat Utang Negara (SUN) pada 20 Mei 2025 mencatat penawaran tertinggi sepanjang tahun, mencapai Rp108,33 triliun, sebagai respons atas proyeksi pelaku pasar terhadap keputusan Bank Indonesia.

Menurut catatan PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), nilai emisi surat utang korporasi pada kuartal I/2025 melonjak 77,4% dibanding periode yang sama tahun lalu, mencapai Rp46,75 triliun, terutama untuk kebutuhan refinancing.

Meski prospek pasar obligasi terlihat menjanjikan, terdapat tantangan eksternal seperti ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed, yang memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah dan aliran dana asing ke Indonesia. Keputusan suku bunga Bank Indonesia ke depan juga akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan The Fed dan kondisi ekonomi global.

Penurunan BI rate membawa angin segar bagi pasar keuangan nasional, namun tetap perlu diwaspadai risiko jangka pendek seperti fluktuasi global, serta pengalihan dana dari deposito ke instrumen berimbal hasil lebih tinggi. Stakeholder perlu merespons peluang ini dengan hati-hati dan strategi yang tepat untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

QRIS Buka Akses Internasional, Jajaki Kolaborasi Baru

24 May 2025
Bank Indonesia (BI) tengah memperluas kerja sama internasional untuk penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) di berbagai negara. Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta, menyatakan bahwa QRIS akan mulai dapat digunakan di Jepang dan China pada 17 Agustus 2025, setelah melalui tahap uji coba atau sandbox sejak 15 Mei 2025.

Selain itu, ekspansi QRIS juga ditargetkan ke India, Korea Selatan, dan Arab Saudi. Di India, kerja sama masih dalam tahap pembahasan teknis antara ASPI dan NPCI International. Sementara di Korea Selatan, kerja sama sedang difinalisasi antara industri dan otoritas keuangan setempat. Untuk Arab Saudi, BI telah mengadakan diskusi dengan Otoritas Moneter setempat.

Perluasan ini merupakan bagian dari strategi BI untuk mendorong digitalisasi sistem pembayaran lintas negara, setelah sebelumnya QRIS telah digunakan di beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura. Inisiatif ini diharapkan memperkuat konektivitas keuangan Indonesia secara global.

Film Animasi Lokal Cetak Sejarah

24 May 2025
Keberhasilan film animasi "Jumbo" yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy dan diproduksi oleh Visinema, telah mencatat sejarah baru di industri perfilman Indonesia dengan meraih 9,85 juta penonton dalam 53 hari, serta pendapatan lebih dari US$ 20 juta. Kesuksesan ini menjadi fenomena tersendiri karena belum ada film animasi Indonesia yang mencapai capaian serupa.

Menurut Yan Widjaya, pengamat film, Jumbo bukan sekadar keberhasilan, melainkan tonggak baru bagi film animasi lokal. Ia menyebut proses produksinya yang melibatkan lebih dari 400 animator selama lima tahun membuktikan dedikasi tinggi dan menjadi standar baru bagi film animasi Indonesia. Namun, ia juga mengingatkan bahwa produksi animasi bukanlah hal mudah, dan memprediksi hanya akan ada 2–3 judul baru tiap tahun yang bisa mengikuti jejak Jumbo.

Dampak kesuksesan Jumbo dirasakan luas di industri. Astrid Suryatenggara, Chief Communications Officer MD Entertainment, menyebut keberhasilan ini membangkitkan optimisme rumah produksi lain, termasuk MD yang telah memproduksi serial animasi Adit Sopo Jarwo. Ia menekankan pentingnya membangun ekosistem animasi yang sehat untuk menghadapi tantangan seperti biaya tinggi dan waktu produksi panjang.

Selain itu, PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (Cinema XXI) melaporkan lonjakan jumlah penonton bioskop, dengan lebih dari 14 juta penonton pada April 2025, rekor baru yang turut didorong oleh penayangan Jumbo.

Kesuksesan Jumbo tidak hanya menjadi kebanggaan nasional, tetapi juga pendorong semangat bagi industri animasi lokal untuk terus berkembang dan menembus pasar global, termasuk rencana penayangan Jumbo di 17 negara.

Fintech Masih Jadi Penopang Kredit Bank

24 May 2025
Di tengah melambatnya permintaan kredit konvensional, sejumlah bank di Indonesia mengandalkan strategi kredit channeling melalui kemitraan dengan fintech lending untuk menjaga pertumbuhan pembiayaan. Berdasarkan data OJK per Februari 2025, bank telah menyalurkan dana sebesar Rp 49,4 triliun ke fintech lending, atau 61,69% dari total pendanaan yang diterima sektor tersebut — meningkat dari bulan sebelumnya.

PT Bank CTBC Indonesia, yang dipimpin oleh Presiden Direktur Iwan Satawidinata, baru saja menyalurkan tahap pertama pendanaan senilai Rp 250 miliar ke Easycash. Iwan menegaskan bahwa kolaborasi ini memperluas jangkauan pembiayaan dan menjaga kualitas portofolio pinjaman bank.

Standard Chartered Bank Indonesia (SCBI), melalui CEO Donny Donosepoetro, menargetkan pembiayaan ke fintech hingga Rp 6,6 triliun pada akhir 2025. Donny menekankan bahwa digital lending menjadi pilar utama untuk mendorong inklusi keuangan, terutama di sektor mikro. SCBI menggandeng delapan fintech, termasuk Amartha, yang telah menerima Rp 700 miliar dan menargetkan total pembiayaan Rp 2 triliun untuk 400.000 womenpreneur.

Bank Oke, melalui Direktur Kepatuhan Efdinal Alamsyah, mencatat outstanding kredit channeling ke fintech sebesar Rp 600 miliar per Mei 2025, naik 11% dari akhir tahun lalu. Efdinal menjelaskan bahwa nilai ini bersifat fluktuatif sesuai dengan pola cicilan pinjaman.

Kemitraan antara perbankan dan fintech lending menunjukkan tren yang positif dan terus berkembang, menjadi solusi strategis bagi industri perbankan dalam memperluas akses keuangan di tengah perlambatan kredit tradisional.

RUU Pajak Bikin Pasar Gelisah

24 May 2025
Rancangan Undang-Undang (RUU) Pajak yang diusung oleh Presiden Donald Trump berhasil disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS pada 22 Mei, meskipun memicu kekhawatiran luas mengenai prospek fiskal negara. RUU ini memperpanjang pemotongan pajak era Trump dan menambahkan insentif baru, sambil menaikkan pagu utang negara sebesar US$ 4 triliun, langkah yang menurut Departemen Keuangan AS diperlukan untuk menghindari gagal bayar pada Agustus atau September mendatang.

Trump menyambut pengesahan RUU tersebut sebagai pencapaian besar dan mendesak Senat AS untuk segera menyetujuinya tanpa penundaan, menyebutnya sebagai "undang-undang paling penting dalam sejarah negara."

Namun, RUU ini menuai kritik tajam. Investor dan pengamat menilai kebijakan ini semakin memperburuk ketimpangan ekonomi, karena pemotongan pajak terbesar justru menguntungkan kelompok kaya, sementara program bantuan sosial seperti Medicaid dan kupon makanan justru dipangkas.

John Fath, mitra pengelola di BTG Pactual Asset Management US LLC, menyuarakan kekhawatiran pasar dengan menyebut bahwa para pengambil kebijakan di Washington tidak menunjukkan akuntabilitas fiskal. Ketidakpastian ini telah membuat pasar saham AS merosot dan permintaan obligasi pemerintah melemah, terutama setelah lembaga pemeringkat Moody's menurunkan peringkat kredit AS.

Dengan kebijakan yang berisiko memperbesar utang dan mengurangi keseimbangan sosial, RUU ini menjadi sorotan penting dalam dinamika fiskal dan politik menjelang pemilu AS mendatang.

Kilau Emas di Palembang

23 May 2025

Toko emas hingga pegadaian di Kota Palembang ramai disambangi warga yang berburu emas. Mulai perhiasan emas hingga emas batangan larismanis. Di tengah ketidakpastian ekonomi nasional, perdagangan emas diserbu warga Kota Palembang, Sumsel, demi meraup margin keuntungan jual beli. Pekan-pekan ini, toko emas hingga pegadaian ramai disambangi warga yang berburu emas. Harga emas yang sempat di harga puncak berangsur turun. Momen penurunan harga itulah yang dimanfaatkan warga untuk berinvestasi emas. Mereka berharap harga emas bakal naik kembali sehingga bisa menarik keuntungan. Feri Rusdiansyah (25) langsung memilih tiga jenis perhiasan emas, terdiri dari 2 cincin dan 1 gelang dengan bobot mencapai 3,5 suku atau 23,45 gr (1 suku = 6,7 gr). Harga sesuku emas Rp 10,1 juta. Uang tunai Rp 35,35 juta langsung dikeluarkan untuk melunasi transaksi singkat selama 10 menit tersebut.

”Dapat diskon dari Rp 10,2 juta per suku menjadi Rp 10,1 juta per suku,” ujar Feri yang tampak berseri-seri seusai menyelesaikan transaksi pembelian emas di Toko Emas Lemabang Jaya, kawasan Ilir Timur Dua, Palembang, Rabu (21/5) pagi. Feri mengatakan, perhiasanitu tidak untuk dipakai, tetapi disimpan sebagai investasi. ”Kalau uang yang disimpan, lama-lama nilainya akan turun. Kalau emas, semakin lama, nilainya naik terus,” ujarnya. Fera Susanti (46), warga Sukabangun, Palembang, pegawai di Kes-dam II/Sriwijaya, memilih beli emas logam mulia di Toko Emas Galeri 24 Palembang, Selasa (20/5) sore. Meski hanya 1 gr, ia yakin nilai logam mulia lebih stabil dibanding perhiasan emas. Emas perhiasan biasanya nilai jualnya menyusut karena ada potongan biaya jasa pembuatan Rp 100.000 per gr, yang tidak berlaku pada emas logam mulia.

Kebiasaan berinvestasi emas dilakukan Fera untuk menyiapkan kebutuhan sekolah anaknya. Ia berusaha sebisa mungkin menyisihkan uang yang tidak digunakan untuk kebutuhan pokok guna membeli emas, terutama saat harga emas turun. Fera percaya, emas adalah aset investasi yang paling ideal. Untuk jangka panjang, harga emas diyakini terus meningkat. Selain itu, emas relatif mudah dicairkan atau dijual kembali. Berbeda dengan aset lain seperti tanah atau rumah. Tumbuhnya minat terhadap investasi emas tak lagi didominasi masyarakat usia matang, tapi sudah timbul di kalangan generasi muda atau generasi Z. Warga kawasan Sako, Palembang, Salsabillah (20), mahasiswa Poltekes Kemenkes Palembang, menyisihkan uang jajannya untuk membeli emas perhiasan. Kini, dia sudah mengumpulkan emas perhiasan 5 gr. Kesadaran berinvestasi emas didapat Salsabillah dari anjuran orangtua dan pengaruh teman-temannya. (Yoga)


Kucuran Kredit Tak Disertai Jaminan

23 May 2025

Kejagung akan memfokuskan penyidikan terhadap bank milik pemerintah dalam mengusut dugaan korupsi pemberian fasilitas kredit bagi PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex. Kredit yang dikucurkan tidak disertai jaminan yang memadai, juga tidak tertutup kemungkinan adanya pembelian asset yang bisa mengarah pada tindak pidana pencucian uang. Kapuspen Hukum Kejagung, Harli Siregar, di Jakarta, Kamis(22/5) mengatakan, dalam kasus ini penyidik fokus pada bank pemerintah dan bank pemda karena pintu masuk penyidikan dalam kasus ini adalah unsur kerugian keuangan negara. Walakin, selain dari bank pemerintah, kredit yang diperoleh Sritex juga berasal dari bank swasta dan lembaga pembiayaan.

”Kalau B to B, bisnis kebisnis, yang dilakukan swasta dengan swasta, ya, tentu itu persoalan risiko di pihak swasta. Kalau di bank pemerintah, termasuk bank daerah, ada uang negara yang ditempatkan di situ, ada yang dipisahkan. Maka itu menjadi bagian dari keuangan negara. Kami bisa masuk dari pintu itu,” ujarnya. Sehari sebelumnya, Dirut PT Sritex 2005-2022, Iwan Setiawan Lukminto ditetapkan tersangka bersama dua petinggi Bank Pembangunan Daerah Jabar dan Banten (Bank BJB) serta Bank DKI Jakarta, yaitu Pemimpin Divisi Komersial dan Korporasi Bank BJB, Dicky Syahbandinata dan Dirut Bank DKI Jakarta tahun 2020, Zainuddin Mappa.

Penyidik telah memperoleh alat bukti yang cukup terkait dugaan terjadinya tindak pidana korupsi dalam pemberian kredit dari beberapa bank pemerintah kepada Sritex dengan nilai total outstanding atau tagihan yang belum dilunasi hingga Oktober2024 sebesar Rp 3,58 triliun. Tagihan terhadap Sritex berasal dari sejumlah bank, yakni Bank Jateng Rp 395,6 miliar, Bank BJB Rp 543,9 miliar dan Bank DKI Rp 149 miliar. Tagihan juga berasal dari bank sindikasi yang terdiri dari beberapa bank beserta lembaga pembiayaan, yakni BNI, BRI, LPEI, serta 20 bank swasta dengan total tagihan Rp 2,5 triliun., (Yoga)


Risiko Baru timbul akibat Impor Energi dari AS

23 May 2025

Negosiasi tarif dengan AS yang diupayakan Indonesia berpotensi menimbulkan risiko baru bagi operasionalisasi BUMN energi. Pemerintah diharapkan turut melakukan kajian dan membangun kerjasama strategis atas hasil negosiasi tersebut. Hal ini terungkap dalam rapat dengar pendapat PT Pertamina Persero dan PT PLN Persero bersama DPR Komisi VI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (22/5). Dirut PT Perta-mina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, menyampaikan, tarif resiprokal yang diterapkan AS menjadi tantangan bagi perusahaan, selain penguatan nilai tukar USD dan fluktuasi harga komoditas energi global., langkah Pemerintah Indonesia merespons kebijakan tarif AS melalui negosiasi impor di sektor energi merupakan strategi yang mereka dukung. Sebelumnya, pemerintah mengumumkan, negosiasi Indonesia dengan AS dilakukan untuk menekan defisit neraca perdagangan AS sehingga tariff ekspor Indonesia yang ditetapkan 32 % dapat di-turunkan, terkait dengan peningkatan impor energi.

Indonesia mengusulkan peningkatan impor minyak mentah dan gas minyak cair (LPG/el-piji) senilai 10 miliar USD. Sejauh ini Pertamina mengimpor minyak mentah dari AS dengan porsi 4 % dari total volume impor dan elpiji sebanyak 57 % dari total volume impor. Impor migas dari AS itu bernilai 3 miliar USD per tahun. ”Pertamina diminta mengkaji portofolio impor migas saat ini dengan skenario peningkatan porsi impor dari AS dengan pengalihan dari negara lain. Pengalihan bersifat shifting sumber pasokan, bukan penambahan volume impor. Kami berkomitmen menjaga efisiensi volume impor dan memastikan ketahanan nasional jadi prioritas utama,” tuturnya dalam rapat secara hibrida.

Setelah berkoordinasi dengan tim perunding kebijakan tarif di bawah Kemenko Perekonomian, Pertamina mulai menjajaki ketersediaan suplai migas dari AS yang sesuai dari sisi kualitas, volume, hingga aspek komersial yang kompetitif. Simon mengakui, mereka menemukan tantangan teknis dan risiko yang harus dipertimbangkan matang, antara lain, aspek logistik dan distribusi, kesiapan infrastruktur,hingga aspek keekonomian yang dapat mengganggu ketahanan energi nasional. ”Risiko utama datang dari jadwal dan waktu pengiriman yang lebih panjang, 40hari, dibanding pasokan dari Arab dan negara Asia lainnya. Kalau ada badai dan kabut, itu bisa mengganggu ketahanan stok nasional. Karena itu, Pertamina harus melakukan kajian komprehensif untuk memastikan skenario impor dari AS bisa efektif,” tuturnya. (Yoga)


Harga Tiket Pesawat Tetap Meroket, Diskon Tak Terasa

23 May 2025

Tak semua harga tiket pesawat pada masa liburan mengalami penurunan meski pemerintah telah mengeluarkan kebijakan diskon dan subsidi. Lonjakan harga berkali lipat tetap menjadi keluhan banyak pihak. Isu ini dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi V DPR bersama Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub, Kamis (22/5). Sejumlah anggota DPR menyoroti dan mempertanyakan mengapa harga tiket tetap tinggi meski telah disubsidi pemerintah. Anggota Komisi V DPR dari Fraksi PAN, Boyman Harun, menegaskan, desakan penurunan harga tiket muncul dari aspirasi dan keluhan masyarakat. Anggota Komisi V DPR dari Fraksi PKS, Abdul Hadi, menyatakan, penurunan harga tiket tidak berlaku secara merata dan hanya terjadi pada rute tertentu. Ia mencatat penurunan 12 % pada 10 rute penerbangan padat, tetapi tidak signifikan.

Pada rute padat, intervensi pemerintah tak mampu menandingi mekanisme pasar akibat tingginya permintaan. Anggota Komisi V DPR dari Fraksi Golkar, Hamka B Kady, mempertanyakan lonjakan harga tiket pesawat pada masa Lebaran 2025 yang bahkan naik dua kali lipat. Contohnya, harga tiket Jakarta-Makassar mencapai Rp 5 juta melalui aplikasi pemesanan.”Apakah subsidi yang diberikan pemerintah tidak mencukupi? Masyarakat beranggapan, pemerintah bukan menurunkan, tetapi justru membiarkan harga tiket naik,” kata Hamka. Anggota Komisi V DPR dari Fraksi Golkar, Zilo Rolando, menyoroti tingginya harga tiket penerbangan domestik yang lebih mahal dibanding tiket ke luar negeri. Ia menunjukkan hasil pencariannya pada aplikasi pemesanan tiket untuk keberangkatan 23 Mei 2025, penerbangan Jakarta-Pontianak dengan waktu tempuh 1 jam 30 menit dihargai Rp 990.000.

Sementara, rute Padang-Medan yang hanya memakan waktu 1 jam 15 menit memiliki tarif Rp 1,17juta. Artinya, durasi perjalanan yang lebih pendek tidak selalu berarti harga tiket lebih murah. Ketimpangan harga ini semakin mencolok ketika dibandingkan dengan tiket ke luarnegeri. Tiket dari Padang ke Malaysia, misalnya, hanya berkisar Rp 500.000. ”Sebagai negara kepulauan, kita sangat membutuhkan konektivitas udara. Maka, menjadi pertanyaan, mengapa penerbangan antarpulau justru lebih mahal?” ujarnya. Nia (30), warga Pontianak, mengeluhkan lonjakan harga tiket pesawat yang dianggap tidak masuk akal, bahkan mencapai Rp 10 juta saat masa Lebaran. Ia mendapati banyak penerbangan penuh atau mengharuskan transit panjang meskipun harga lebih murah sekitar Rp 2,5 ju-ta-Rp 3,2 juta, tetapi tiketnya sulit didapat. (Yoga)