;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Bank Kembali Dorong Kredit Meski Lambat

28 May 2025

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk memangkas target pertumbuhan penyaluran kredit tahun 2025 menjadi rentang 8% hingga 11%, lebih rendah dibandingkan proyeksi awal sebesar 11%—13%. Penurunan target ini disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan kredit perbankan yang tercatat hanya 8,88% secara tahunan hingga April 2025, seiring dengan pelambatan pertumbuhan ekonomi domestik yang mencapai 4,87% pada kuartal I/2025.

Kondisi ekonomi yang lesu membuat bank-bank cenderung berhati-hati dalam menyalurkan kredit, terutama kredit modal kerja yang tumbuh rendah, menandakan pengurangan aktivitas produksi korporasi. Meskipun kredit investasi masih tumbuh dua digit, manfaatnya bersifat jangka panjang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih mempertahankan target kredit sekitar 9%—11% dan memberikan kesempatan revisi target di tengah tahun mengikuti dinamika ekonomi.

BI telah menurunkan suku bunga acuan untuk merangsang pertumbuhan, namun efek stimulus moneter diperkirakan baru akan terasa pada tahun berikutnya. Di sisi lain, tanpa dukungan stimulus fiskal yang kuat dan efektif, pertumbuhan kredit sebagai penggerak utama perekonomian sulit didorong. Stimulus fiskal diharapkan mampu meningkatkan daya beli masyarakat dan kapasitas produksi, bukan sekadar insentif sementara seperti diskon listrik.

Jika bank ‘dipaksa’ menyalurkan kredit dalam kondisi ekonomi yang belum pulih sepenuhnya pasca-Covid-19, risiko memburuknya kualitas aset perbankan akan meningkat. Oleh karena itu, keputusan BI memangkas target kredit adalah langkah prudensial untuk menjaga stabilitas perbankan di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.


Daya Beli Disokong Stimulus, Tapi Belum Stabil

28 May 2025
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 diperkirakan tidak mencapai target pemerintah sebesar 5%. Sejumlah ekonom, seperti Hosianna Evalita Situmorang dari Bank Danamon dan tim ekonom Bank Mandiri, memprediksi pertumbuhan hanya berkisar antara 4,4%–4,92%, mencerminkan tren perlambatan yang nyata. Hal ini diperkuat oleh data Bank Indonesia yang menunjukkan penurunan pertumbuhan kredit dan lesunya penjualan otomotif hingga April 2025.

Sebagai respons, pemerintah meluncurkan enam paket stimulus ekonomi yang mulai berlaku pada 5 Juni 2025, sebagaimana dijelaskan oleh Susiwijono Moegiarso, Sekretaris Kemenko Perekonomian. Namun, langkah ini mendapat kritik tajam dari sejumlah pakar. Achmad Nur Hidayat, ekonom dan pakar kebijakan publik dari UPN Veteran Jakarta, menilai stimulus tersebut lebih mencerminkan reaksi panik dibanding kebijakan yang terencana dan berbasis kajian matang, apalagi di tengah ruang fiskal yang menyempit.

Kekhawatiran serupa disampaikan oleh Bhima Yudhistira Adinegara, Direktur Celios, yang memperkirakan stimulus dapat memperlebar defisit anggaran hingga Rp 80 triliun, terutama karena belum adanya perencanaan matang dan beban subsidi yang terus membengkak. Ia mengusulkan penghematan anggaran, termasuk menunda proyek-proyek besar seperti program makan bergizi gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih, guna menjaga stabilitas fiskal.

Sementara itu, Luky Alfirman, Dirjen Anggaran, menyatakan bahwa pendanaan stimulus masih dalam proses penghitungan, dengan sebagian sudah tercantum dalam APBN, namun sebagian lainnya belum.

Stimulus ekonomi dimaksudkan untuk menjaga konsumsi dan pertumbuhan, ketidaksiapan fiskal dan lemahnya perencanaan menjadi tantangan besar, sebagaimana ditekankan oleh tokoh-tokoh kunci dalam diskusi ini.

Persaingan Pasar Semakin Ketat, Inovasi Jadi Kunci

28 May 2025
PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), produsen susu Cimory, berhasil mencatat kinerja positif pada kuartal I-2025, dengan pendapatan naik 12,5% yoy menjadi Rp 2,43 triliun dan laba bersih tumbuh 24,2% yoy menjadi Rp 479,86 miliar. Namun, emiten ini menghadapi tantangan dari pelemahan daya beli masyarakat dan naiknya harga bahan baku, yang menekan margin laba kotor ke level 44,5%.

Menurut James Stanley Widjaja, analis Buana Capital, penurunan segmen susu sebesar 5,7% yoy menjadi Rp 863,7 miliar—terendah dalam dua tahun terakhir—disebabkan oleh ketatnya persaingan di pasar susu UHT dan melemahnya konsumsi rumah tangga. Meski begitu, pertumbuhan pesat di segmen makanan konsumen menjadi penopang utama kinerja, dengan penjualan naik 41,1% yoy menjadi Rp 1,57 triliun.

Indy Naila dari Edvisor Provina Visindo menambahkan bahwa efisiensi operasional berperan penting dalam menjaga pertumbuhan di tengah tekanan konsumsi. Sementara itu, Vita Lestari dari Sinarmas Sekuritas menyoroti risiko berkelanjutan dari kenaikan harga bahan baku serta pelemahan nilai tukar, tetapi mengapresiasi strategi CMRY dalam perluasan distribusi dan peluncuran produk baru seperti Cimory Eat Milk dan Kanzler Bakso Gochujang.

Ketiga analis—James, Indy, dan Vita—kompak memberi rekomendasi beli (buy) terhadap saham CMRY, dengan target harga antara Rp 5.300–Rp 5.500 per saham. Mereka optimistis terhadap prospek jangka menengah perusahaan, berkat inovasi produk dan ekspansi distribusi, meski tetap mewaspadai tekanan margin akibat faktor eksternal.

Bunga Acuan Bank Besar Jadi Barometer Pasar

28 May 2025
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menurunkan tingkat bunga penjaminan sebesar 25 basis poin (bps)—menjadi 4% untuk bank umum dan 6,5% untuk BPR—dengan harapan perbankan akan segera mengikuti penyesuaian ini, sejalan dengan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 5,5%. Langkah ini bertujuan agar biaya dana bank menyusut dan menciptakan ruang penurunan bunga kredit, yang penting untuk mendorong pertumbuhan kredit tahun ini.

Namun, kenyataannya bunga simpanan justru masih naik per April 2025, terutama pada tenor satu dan tiga bulan. Ketua Dewan Komisioner LPS, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan bahwa perbankan masih saling menunggu langkah, khususnya dari bank-bank besar. Menurutnya, LPS telah memberi sinyal dengan menurunkan bunga penjaminan agar pasar mulai bergerak.

Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menegaskan bahwa pihaknya masih memantau kebijakan bank besar sebelum menyesuaikan bunga simpanan. Ia mengakui bahwa meskipun BI rate turun, tingginya kebutuhan likuiditas akibat penyaluran kredit membuat biaya dana sulit turun cepat.

Sementara itu, Direktur Kepatuhan OK Bank, Efdinal Alamsyah, menyebut bahwa penyesuaian bunga simpanan akan dilakukan secara bertahap dalam enam bulan ke depan, tergantung pada strategi dan kondisi likuiditas bank masing-masing.

Meski ada dorongan kuat dari BI dan LPS untuk menurunkan bunga simpanan, realisasinya masih tertahan oleh dinamika pasar dan strategi likuiditas perbankan, dengan bank besar menjadi penentu arah kebijakan industri.

Perluas Sasaran Stimulus ke Industri dan Kelas Menengah

28 May 2025
Paket ekonomi yang akan meluncur pada 6 Juni 2025 dinilai tidak cukup untuk mengakselerasi laju pertumbuhan  produk domestik bruto (PDB), lantaran hanya menyasar kelompok bawah. Insentif ini dianggap lebih berfungsi menahan kejutan konsumsi, bukan memacu pertumbuhan ekonomi. Seiring dengan itu, pemerintah diminta memperluas sasaran stimulus ke kelas menengah dan industri manufaktur. Ini penting mengingat kelas menengah adalah motor konsumsi nasional, penyumbang terbesar PDB dari sisi kelompok pengeluaran. Adapun industri pengolahan alias manufaktur adalah pemasok PDB terbesar dari sisi lapangan usaha. Kuartal 1-2025, industri pengolahan penyumbang PDB terbesar dari sisi lapangan usaha, sebesar 19,25%, dengan pertumbuhan 4,55%. Insentif kelas menengah bisa berbentuk penaikan penghasilan tidak kena pajak (PTKP) dari saat ini sekitar 5 juta per bulan menjadi Rp 10 Juni. Dengan begini, mereka memiliki uang lebih untuk berbelanja barang, termasuk produk industri, seperti sepeda motor atau mobil. Efek berganda (multiplier effect) belanja kelas menengah jauh lebih besar, ketimbang hanya mengucurkan bantuan sosial (bansos). Sebab, jika belanja diarahkan untuk pembelian produk manufaktur, industri terkait akan terdongkrak. (Yetede) 

Telkom Rombak Direksi

28 May 2025
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) merombak susunan direksi dan dewan komisaris dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk  Tahun Buku 2024. Selain menyetujui pembagian dividen besar dan aksi pembelian kembali saham (buyback),  rapat juga mengusung arah strategi baru untuk memperkuat peran Telkom sebagai pemimpin ekosistem digital nasional. Wakil Direktur Utama (Wadirut)  Telkom Muhammad Awaluddin mengungkapkan ada tiga misi besar yang akan dilaksanakan tahun ini. Melalui komposisi yang baru, Telkom Indonesia ingin memiliki peran penting dalam ekosistem telekomunikasi nasional. Seluruh jajaran direksi, dewan komisaris, serta dukungan pemegang saham, dukungan pemegang saham, mereka berkomitmen untuk menjadi penggerak sinergi dan kolaborasi  dalam ekosistem telco di Indonesia. "Telkom harus menjadi accelerator telco di Indonesia," kata Awwaludin. Kemudian, Telkom terus berkomitmen dalam melakukan pengembangan digital dan menjadi  digital ecosystem leader. Infrastruktur Telkom yang dinilai sudah sangat masif, baik fasilitas digital penunjang dan lain sebagainya, sehingga mampu berperan dalam memonetisasi dan mengutilitas infrastruktur digital. (Yetede)

Di Indonesia Daya Saing Digital Meningkat

28 May 2025
East Ventures, perusahaan venture capital dan pionir investasi startup di Indonesia dan Asia Tenggara (Asean) bersama dengan Katada Insight Center, meluncurkan laporan East Ventures-Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2025. Melalui laporan ini, diungkapkan lanskap daya saing digital Indonesia meningkat. Ini tercermin dari skor EV-DCI 2025 sebesar 38,8. Skor ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu 38,1 (2024), 37,8 (2023), dan 35,2 (2022). Adapun EV-DCI 2025 menyajikan data daya saing digital di 38 provinsi dan 157 kota/kabupaten di Indonesia. "Laporan tahun ini menunjukkan peningkatan yang konsisten dan menegaskan pertumbuhan berkelanjutan dari ekonomi digital Indonesia. Hal yang menggembirakan adalah sejumlah provinsi dari wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) kini menunjukkan tren peningkatan yang menjanjikan," kata Co-Founder dan Managing Partner East Ventures Wilson Cuaca. Peningkatan paling signifikan yang terlihat dalam pelaporan tahun ini adalah meningkatnya persentase pekerja yang menggunakan internet dan perluasan jangkauan 3G dan 4G di desa-desa. "Kesenjangan digital antardaerah juga terus menyempit, mencerminkan kemajuan yang stabil  menunjukkan pemerataaan digital reginal yang semakin baik," ujar Wilson. (Yetede)

UE Mengumpulkan Info Tentang Bisnis di AS

28 May 2025
Para pembuat kebijakan di Uni Eropa (UE) sedang mengumpulkan informasi dari perusahaan-perusahaan dan CEO terkemuka di blok mata uang tunggal itu tentang rincian rencana investasi mereka di AS. Hal  ini dilakukan seiring upaya UE yang bersiap-siap untuk melakukan negosiasi perdagangan dengan AS. Pada Senin (26/05/2025), anggota Konfederasi Bisnis di Eropa, atau dikenal sebagai Business Europe- yang terdiri dari aliansi 42 federasi di seluruh wilayah- dilaporkan telah menerima survei dari Komisi Eropa. Ada dua isi survei berupa permintaan informasi mengenai investasi AS yang akan datang dengan instruksi untuk merespons sesegera mungkin. Menurut sumber, yang dilansir berita Reuters pada Selasa (27/05/2025), catatan permintaan informasi tentang rencana investasi  untuk lima tahun ke depan telah dikirim ke 59 orang European Roundtable for Industry, dengan catatan bahwa permintaan itu datang secara pribadi dari Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Tetapi saat dimintai tanggapan tentang lembaran survey, baik BusinessEurope, European Roundtable for Industry dan Komisi Eropa menolak menanggapi. Bahkan mereka meminta untuk tidak membuka identitasnya, karena tidak memiliki kewenangan resmi untuk membahasnya. (Yetede)

LPS Pangkas Target DPK Perbankan

28 May 2025
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tahun ini memangkas target pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan. Sebelumnya, simpanan perbankan diprediksi bisa tumbuh 7%, namun diturunkan menjadi 6% secara yoy. Revisi ke bawah target pertumbuhan DPK ini lantaran per April 2025 pertumbuhan simpanan hanya 4,55 (yoy), lebih lambat dari bulan sebelumnya. Di tengah likuiditas yang masih ketat, LPS pun ikut memangkas target penghimpunan DPK perbankan tahun ini. "DPK tahun ini awalnya 7%, mungkin  dikoreksi karena kegedan tuh Kalau saya lihat kondisi seperti ini, 6% itu level yang normal, sudah cukup baik ya," ungkap Ketua Dewan Komisoner LPS Purbaya Yudhi Sadewa. Menurut Purbaya, revisi pertumbuhan DPK menjadi 6% tahun ini bukan karena melihat tren PHK dan pertumbuhan ekonomi domestik. Dia menilai bahwa nantinya akan banyak penciptaan lapangan kerja, yang pada akhirnya akan menambah DPK di perbankan karena ekonomi akan lebih efektif dan semakin banyak orang kaya menyimpan dana di bank. "Duit makin banyak, gaji makin banyak, iklan di media juga makin banyak harusnya nanti tabungan orang pun akan lain itu juga sertifikat rupiah BI (SRBI) turun dari 7,27% menjadi 6,47%, SBN juga susut dari 6,98% menjadi 6,81%. (Yetede)

342 Galangan Kapal Aktif yang Tersebar di 29 Provinsi

28 May 2025
Saat ini, terdapat 342 galangan kapal aktif yang tersebar di 29 provinsi dengan kapasitas produksi bangunan mencapai 1 juta deadweight tonnage (DWT) per tahun dan kapasitas reparasi mencapai 12 juta DWT per tahun. Industri ini telah menyerap tenaga kerja lebih dari 46.000 orang. Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menerangkan, kemampuan inovasi industri galangan kapal nasional saat ini juga telah menunjukkan perkembangan signifikan, misalnya dengan mampu memproduksi berbagai jenis kapal seperti kapal niaga, kapal perikanan, kapal penumpang, kapal militer atau patroli, serta berbagai jenis kapal lainnya. Sebagai contoh, PT PAL Indonesia berhasil memproduksi Kapal Cepat Rudal (KCR) yang digunakan oleh TNI AL, serta kapal Landing Platform Dock (LPD) yang telah diekspor ke Filipina. "Capaian tersebut menunjukkan bahwa potensi industri galangan kapal nasional mampu memenuhi kebutuhan kapal berkualitas tinggi, baik untuk pasar domestik maupun internasional," ucap dia. (Yetede)