Ekonomi
( 40554 )Tiket Transportasi diberi Diskon 6-50 %
Pemerintah akan kembali memberikan diskon tarif tiket untuk kereta api, pesawat, dan angkutan laut sebesar 6-50 % dari harga normal, untuk mendorong daya beli masyarakat. Tapi, belum dirinci secara spesifik per sektor dan rencananya akan diumumkan pada Senin (2/6) menjelang masa libur sekolah. Pemerintah berencana kembali menggelontorkan kebijakan stimulus ekonomi pada triwulan II-2025, guna menjaga daya beli masyarakat serta meningkatkan konsumsi domestik. Dari enam kebijakan, salah satunya berupa diskon tiket transportasi, mulai dari kereta api, pesawat, sampai angkutan laut. PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI akan memberikan diskon tiket kereta sebesar 30 %. Rencananya, kebijakan ini akan direalisasikan pada Juni-Juli 2025 bertepatan dengan libur sekolah. Executive Vice President ofCorporate Secretary KAI RadenAgus Dwinanto Budiadji mengatakan, pihaknya mendukungkebijakan stimulus tersebut. Tiket akan bisa dipesan dan dijualpada 15 Juni hingga 31 Juli 2025.
”KAI akan menginformasikan mana saja KA yang mendapat diskon. Saat ini yang kami siapkan pada KA ekonomi komersial karena cukup banyak kapasitasnya dan pilihan relasinya,” ujar Agus, Jumat (30/5). Target jumlah diskon berkisar 2,8 juta-3 juta tempat duduk. Jumlah pastinya sedang dalam proses penghitungan berdasarkan anggaran yang dialokasikan. Dana diskon ini akan diatur Kemenhub melalui Ditjen Perkeretaapian. Pemerintah akan mengalokasikan anggaran di luar kewajiban pelayanan publik (PSO) yang biasanya digunakan untuk memberi subsidi. Tata cara dan petunjuk teknis sedang dalam pembahasan. Sekjen Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) Bayu Sutanto berpendapat, kebijakan diskon tiket transportasi dapat diterima sepanjang tidak menurunkan tarif batas atas 2019 yang berlaku saat ini. (Yoga)
Strategi Maybank Indonesia Untuk Beradaptasi
PT Maybank Indonesia Tbk, bank swasta dengan jaringan regional dan internasional Maybank Group, berusia 66 tahun pada 15 Mei 2025. Bank yang dulu bernama Bank Internasional Indonesia ini melalui banyak tantangan dan tetap bertahan. Laba Maybank Indonesia pada 2024 tercatat Rp 1,1 triliun atau turun dibanding 2023, di Rp 1,7 triliun. Namun, pada triwulan I-2025, laba setelah pajak menyentuh Rp 376 miliar, meningkat 265 % secara tahunan. Pencapaian itu tak terlepas dari peran Steffano Ridwan sebagai Presdir Maybank Indonesia sejak April 2024. Bahkan, pria yang memulai kariernya sebagai petugas call center 30 tahun lalu ini turut membawa Maybank Indonesia meraih prestasi bergengsi, di antaranya The Indonesia Product Experience of the Year kategori SME Banking (usaha kecil menengah) oleh Asian Business Review tahun 2024.
Maybank Indonesia berkontribusi mengantar Maybank Group menjadi peringkat 103 terbaik dari 1.000 perusahaan didunia serta mendapat nilai keberlanjutan tertinggi untuk bank di seluruh Asia. “Saat saya menjabat, tensi geopolitik tinggi. Ada perang Ukraina-Rusia, perang dagang AS-China dan USD mulai tinggi. Profit (perusahaan) sempat turun, terutama di kuartal I-2024 yang sempat minus. Kami melakukan pencadangan (dana) untuk mengantisipasi masalah geopolitik, perubahan ekonomi global dan sebagainya untuk menjaga aset, terutama disisi korporasi perbankan. Di kuartal selanjutnya, kami terus tumbuh. Bahkan, dalam penyaluran kredit (pada layanan keuangan komersial), pertumbuhannya sangat baik, sekitar 11 % (Rp 82,9 triliun), lebih tinggi dibanding bank lainnya, di 6 %. NPL (non-performing loan) juga membaik dari 3 % menjadi 2,68 %. Yang terpenting adalah kepuasan nasabah. Misi kami adalah humanizing financial services, yakni menawarkan solusi dengan nasabah sebagai pusatnya,” ujar Steffano. (Yoga)
Peran Penting Perempuan Menggerakkan Perekonomian
Saat ini, 61,3 % perempuan di Asia Tenggara atau di negara anggota ASEAN memiliki dan mengelola bisnis. Namun, sebagian besar masih kategori UMKM yang merupakan sektor usaha informal sehingga tergolong kelompok rentan. Partisipasi tenaga kerja perempuan di negara-negara anggota ASEAN juga tercatat sangat tinggi. Sebanyak 68 % perempuan berpartisipasi dalam ekonomi di negara-negara ASEAN, di atas rata-rata global, yakni 50 %. ”Kontribusi perempuan terhadap ekonomi di negara-negara ASEAN sangat besar dan mereka perlu dilindungi,” ujar Menlu RI 2014-2024, Retno Marsudi sebagai pembicara di The 2025 Asia Grassroots Forum (AGF) di Bali, Kamis (22/5). Ajang AGF digelar Amartha di Bali, 21-23 Mei 2025. Retno mengatakan, dengan berpartisipasi dalam ekonomi, perempuan juga memperoleh perlindungan sosial. ”Ketika perempuan duduk di level pengambilan keputusan, mereka dapat memberikan perspektif inklusif tambahan pada proses pengambilan keputusan,” ujar Retno.
”Partisipasi perempuan di bidang apa pun tidak hanya membawa manfaat baik bagi perempuan, tetapi juga untuk semua. Berinvestasi pada perempuan adalah berinvestasi untuk masa depan lebih cerah,” ujarnya. Berdasarkan laporan UNESCO pada 2024, partisipasi perempuan dalam pendidikan STEM (science, technology, engineering, and mathematics) masih rendah, yakni 35 %. Menurut Retno, lembaga pembiayaan seperti Amartha yang membidik perempuan diakar rumput dapat menjembatani antara pendidikan dan partisipasi ekonomi. Saat ini, Amartha telah menyalurkan modal usaha Rp 35 triliun kepada 3,3juta UMKM di Indonesia. Lebih dari 90 % UMKM digerakkan perempuan yang tersebar di lebih dari 50.000 desa. Chief Risk and Sustainability OfficerAmartha Aria Widyanto me-nyebut, tingkat kredit macet di Amartha 2,3 %. Lembaga pembiayaan seperti Amartha memberi kontribusi signifikan untuk mengentaskan perempuan dari jurang kemiskinan. (Yoga)
Ketegangan Dagang Masuki Babak Baru
Ketidakpastian global kembali muncul akibat ketegangan internal di Amerika Serikat terkait kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Meskipun ada upaya untuk menunda tarif selama 90 hari, Trump mengajukan banding ke Pengadilan Banding AS, yang memperpanjang ketegangan dan menyebabkan ketidakpastian di pasar. Keputusan ini berdampak pada pergerakan pasar global, termasuk bursa saham AS dan pasar negara berkembang, seperti Indonesia, yang mengalami volatilitas.
Dalam konteks ini, tokoh-tokoh penting seperti Maximilianus Nico Demus dan Oktavianus Audi memperingatkan bahwa ketidakpastian ini dapat memengaruhi aliran investasi asing. Shinta W. Kamdani, Ketua Apindo, mengungkapkan bahwa meskipun ada sedikit harapan dari keputusan pengadilan, tidak ada jaminan atas kelanjutan kebijakan tersebut. Di sisi lain, Yose Rizal Damuri dari CSIS melihat peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan situasi ini dalam negosiasi tarif dengan AS.
Pada akhirnya, meskipun ada upaya untuk menyelesaikan permasalahan hukum dan politik, tarik-ulur kebijakan tarif ini tidak hanya memengaruhi hubungan dagang AS, tetapi juga dapat memperlambat pemulihan ekonomi negara-negara berkembang.
Menakar Strategi Ekonomi RI–Prancis ke Depan
Kunjungan kenegaraan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Indonesia pada 27–29 Mei 2025 menjadi tonggak penting dalam memperkuat arah baru kemitraan ekonomi strategis antara Indonesia dan Prancis. Dalam momentum 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara, diluncurkan inisiatif Joint Vision 2050, yang merepresentasikan transformasi kerja sama ekonomi dari sekadar hubungan transaksional menjadi kolaborasi jangka panjang yang menyentuh sektor energi hijau, ketahanan pangan, industri manufaktur, hingga pembangunan sosial seperti program makan bergizi gratis (MBG).
Macron secara eksplisit menunjukkan komitmen Prancis untuk menjadikan Indonesia mitra utama di kawasan Indo-Pasifik, seiring strategi diversifikasi pasar Prancis. Selain itu, ia juga mendorong percepatan penyelesaian IEU-CEPA, yang berpotensi memperluas pasar ekspor Indonesia, namun di sisi lain dapat menghadirkan risiko terhadap UMKM dan daya saing sektor domestik jika tidak disikapi dengan hati-hati.
Dukungan Prancis terhadap aksesi Indonesia ke OECD juga mencerminkan pengakuan atas kematangan ekonomi Indonesia. Namun, keanggotaan tersebut menuntut penyesuaian regulasi besar-besaran yang dapat berdampak pada kedaulatan ekonomi jika tidak dikawal dengan cermat.
Untuk itu, diplomasi ekonomi Indonesia ke depan tidak boleh hanya fokus pada jumlah investasi atau nilai kesepakatan, melainkan harus mempertimbangkan kualitas, kesinambungan, dan kontribusinya terhadap transformasi ekonomi nasional. Pemerintah perlu membentuk gugus tugas lintas kementerian untuk mengawal implementasi kerja sama ini agar selaras dengan RPJPN, ekonomi hijau, dan peningkatan nilai tambah industri dalam negeri. Transfer teknologi harus dijadikan syarat utama dalam kerja sama investasi, sehingga Indonesia berperan sebagai mitra produksi, bukan hanya pasar.
Secara keseluruhan, kunjungan Macron membuka peluang strategis besar, namun pemanfaatannya bergantung pada kecermatan strategi, konsistensi pengawasan, dan keberanian menjaga kedaulatan ekonomi nasional di tengah arus liberalisasi global.
Pasar Saham Terus Menguat, Tren Positif Berlanjut
Fenomena tahunan Sell in May and Go Away tidak terjadi di Bursa Efek Indonesia pada tahun ini, karena investor asing justru melakukan aksi beli bersih sepanjang Mei. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi domestik maupun global yang membaik. IHSG pun diproyeksikan akan melanjutkan penguatannya pada Juni 2025.
Menurut Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research Pilarmas Investindo Sekuritas, beberapa faktor utama akan menjadi perhatian investor ke depan. Pertama, perkembangan negosiasi dagang antara AS dan China yang dapat memengaruhi arah pasar global. Kedua, tren penurunan suku bunga global dan dukungan kebijakan fiskal turut mendorong konsumsi dan daya beli, sehingga memperkuat ekspektasi pemulihan ekonomi dan mendorong aliran dana asing (capital inflow) ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Namun, Nico juga mengingatkan bahwa berakhirnya masa penundaan tarif AS-China pada Juli menjadi risiko yang dapat memicu gejolak pasar jika tidak disertai kesepakatan konkret. Sentimen negatif dari Presiden Donald Trump dipandang masih bisa menyebabkan keluarnya investor asing dari pasar saham negara berkembang.
Di bulan Juni, investor akan mencermati sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat dan China, seperti inflasi, ketenagakerjaan, penjualan ritel, serta kebijakan The Fed dan suku bunga acuan China. Dari dalam negeri, inflasi dan hasil rapat Bank Indonesia pada 18 Juni juga menjadi sorotan utama.
Secara historis, IHSG cenderung naik di bulan Juni, dengan probabilitas kenaikan sebesar 65% dalam 20 tahun terakhir. Beberapa sektor yang dinilai potensial untuk dicermati antara lain basic materials, transportasi dan logistik, serta infrastruktur.
Dengan mempertimbangkan berbagai indikator tersebut, pasar saham Indonesia memiliki potensi positif pada Juni, meski tetap perlu mewaspadai dinamika eksternal, khususnya terkait kebijakan dagang global.
Bitcoin Melemah, Altcoin Curi Perhatian
Kredit Investasi Tumbuh Paling Pesat Tahun Ini
Tarif Impor AS Rugikan Perusahaan Global
Kurang Efektifnya Stimulus Ekonomi
Efektivitas paket stimulus ekonomi terbaru dalam mendorong pertumbuhan ekonomi diperkirakan terbatas karena minimnya insentif bagi kelas menengah. Padahal, kelas menengah merupakan kelompok yang selama ini menjadi penopang utama konsumsi domestik. Terdapat enam stimulus yang akan mulai digelontorkan pemerintah pada 5 Juni 2025, mencakup diskon tiket transportasi (kereta 30 %, laut 50 % dan PPN-DTP pesawat 6 %), potongan tarif tol 20 % bagi 110 juta pengendara, serta diskon listrik 50 % untuk 79,3 juta pelanggan berdaya 1.300 VA ke bawah. Ada juga tambahan bansos untuk 18,3 juta keluarga, subsidi upah bagi pekerja bergaji rendah dan guru honorer, serta perpanjangan diskon iuran Jaminan Kecelakaan Kerja bagi sektor padat karya. Langkah ini ditempuh pemerintah untuk menjaga laju pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025 agar tetap berada dikisaran 5 %, setelah hanya tumbuh 4,87 % secara tahunan pada triwulan I-2025.
Capaian itu lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya atau periode yang sama tahun lalu. Ekonom Center of Reform and Economic (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kebijakan ini hanya merespons tekanan daya beli masyarakat kelas bawah, tanpa turut mengantisipasi pelemahan konsumsi masyarakat kelas menengah. Padahal, kontribusi kelas menengah terhadap konsumsi nasional lebih dari 50 %. ”Peran kelas menengah tidak bisa diabaikan. Stimulus yang minim bagi kelas menengah bukan hanya (membuat) kehilangan peluang pertumbuhan, melainkan juga memperbesar risiko pelambatan ekonomi,” ujar Yusuf, Kamis (29/5). Untuk mencapai target per-tumbuhan ekonomi, diperlukan intervensi yang menyasar kelas menengah secara langsung, seperti bantuan tunai atau insentif fiskal dengan cakupan dan durasi yang tepat. Dalam situasi pelemahan eks-por dan tekanan global, ketergantungan pada konsumsi domestik justru makin tinggi. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









