;
Kategori

Ekonomi

( 40430 )

Dividen BUMN Jadi Mesin Pendorong Ekonomi

30 May 2025


Pembagian dividen jumbo oleh sejumlah emiten BUMN seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS), PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM), dan PT Semen Indonesia Tbk. (SMGR) menjadi sentimen kuat yang diperkirakan akan mendongkrak kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek serta membuka peluang cuan bagi investor.

Tokoh seperti Fath Aliansyah Budiman dari Maybank Sekuritas dan Felix Darmawan dari Panin Sekuritas menilai bahwa pembagian dividen tersebut mencerminkan kinerja keuangan yang sehat dan fundamental perusahaan yang solid. Hal ini juga memicu optimisme di kalangan investor, termasuk terhadap saham-saham BUMN perbankan seperti BBRI, BMRI, dan BBNI.

IDX BUMN20 pun tercatat tampil paling kinclong dibandingkan indeks utama lainnya, tumbuh 11,37% dalam sebulan terakhir, menandakan bahwa saham-saham BUMN saat ini semakin prospektif. Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset dan Indy Naila dari Provina Visindo juga menyoroti bahwa momentum ini memberi peluang besar tidak hanya dari capital gain, tetapi juga dari hasil dividen.

Selain menguntungkan investor, kebijakan dividen jumbo ini turut memperkuat peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sebagai sovereign wealth fund baru yang akan mengelola dan menginvestasikan kembali dana dari dividen BUMN, menciptakan siklus positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Tokoh dari kalangan emiten, seperti Arsal Ismail (Direktur Utama PTBA) dan Nicolas D. Kanter (Direktur Utama ANTM), juga menegaskan bahwa pembagian dividen merupakan bentuk tanggung jawab kepada pemegang saham sekaligus strategi berkelanjutan yang mempertimbangkan tantangan jangka panjang seperti net zero emission dan perubahan iklim ekonomi global.

Dengan demikian, dividen jumbo BUMN saat ini bukan sekadar distribusi laba, tetapi menjadi instrumen strategis yang memperkuat pasar modal domestik, mendukung fiskal negara melalui Danantara, serta menjadi daya tarik investasi, baik bagi investor lokal maupun asing.


Kolaborasi BUMN dan Fiskal Kunci Pemulihan

30 May 2025

Musim dividen tahun ini menampilkan semangat baru, terutama dari emiten BUMN, dengan pembagian dividen jumbo yang mencerminkan soliditas fundamental dan kesehatan arus kas perusahaan. PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) menjadi sorotan utama setelah mengumumkan dividen besar, masing-masing sebesar Rp21,04 triliun (89% dari laba bersih) dan Rp4,4 triliun (80%), menyusul tren serupa dari bank-bank Himbara.

Kebijakan dividen ini langsung berdampak positif terhadap pasar saham, dengan kenaikan signifikan pada saham-saham BUMN seperti BBRI, BBNI, TLKM, dan PGAS. Menurut artikel ini, pasar merespons dengan optimisme karena melihat sinyal keberlanjutan bisnis dan tata kelola yang sehat.

Lebih jauh, pemerintah memanfaatkan sebagian dana dividen untuk memperkuat modal awal Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), sebuah sovereign wealth fund baru. Hal ini, menurut pandangan media dan pelaku pasar, menunjukkan adanya sinergi antara strategi korporasi BUMN dan kebijakan fiskal nasional, yang berpotensi menjadi motor penggerak reformasi korporasi sekaligus memperkuat struktur pasar keuangan domestik.

Kebijakan ini mendapat dukungan dari tokoh Agus Harimurti Yudhoyono selaku pejabat pemerintah di bidang infrastruktur dan pengelolaan aset strategis negara, serta sinyal dukungan dari Presiden Prabowo Subianto dalam konteks pembangunan nasional jangka panjang melalui penguatan institusi keuangan negara.

Namun, tantangan seperti fluktuasi harga komoditas, risiko geopolitik, dan kebutuhan transformasi energi tetap harus diantisipasi. Oleh karena itu, strategi dividen yang berkelanjutan harus disertai dengan penguatan fundamental perusahaan—baik melalui efisiensi, digitalisasi, maupun diversifikasi.

Dengan tata kelola yang transparan dan kebijakan yang konsisten, dividen bukan hanya menjadi sarana distribusi keuntungan, tetapi instrumen strategis untuk membangun kepercayaan pasar dan daya saing ekonomi Indonesia di mata investor, baik lokal maupun global.


Proyek Tanggul Raksasa Dibuka untuk Investor Asing

30 May 2025

Pemerintah akan menawarkan proyek pembangunan tanggul laut raksasa (giant sea wall) kepada investor dalam ajang International Conference on Infrastructure (ICI) pada 11–12 Juni 2025. Proyek ini telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) berdasarkan Perpres No. 12/2025 dalam RPJMN 2025–2029.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menegaskan bahwa proyek giant sea wall merupakan mega proyek jangka panjang yang memerlukan pendanaan kredibel, signifikan, dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pemerintah tengah menyusun skema pendanaan yang tidak hanya menarik bagi investor, tetapi juga menjamin keuntungan bagi mereka.

Presiden Prabowo Subianto turut menegaskan komitmennya untuk segera memulai pembangunan proyek yang akan membentang dari Banten hingga Gresik tersebut. Ia juga memberi kepercayaan penuh kepada Agus Harimurti Yudhoyono untuk mengoordinasikan pembangunan giant sea wall sebagai salah satu tugas strategis dan berat di pundaknya.

Dengan kombinasi komitmen politik dan upaya menarik investor global, proyek ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi ancaman banjir rob dan perubahan iklim di wilayah Pantai Utara Jawa, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui pembangunan infrastruktur berskala besar.


Tarif Trump Bikin Komoditas Global Goyah

30 May 2025
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, harga sejumlah komoditas seperti minyak, gas alam, dan emas mengalami kenaikan, meskipun permintaan global justru sedang melemah. Fenomena ini disebabkan oleh berbagai faktor geopolitik, ketegangan pasokan, serta fluktuasi nilai tukar dolar AS.

Sutopo Widodo, Presiden Komisioner HFX International Berjangka, menjelaskan bahwa lonjakan harga komoditas dipicu oleh ketatnya pasokan, ketahanan permintaan jangka panjang, dan krisis geopolitik yang mengganggu rantai distribusi global. Komoditas pun menjadi incaran sebagai safe haven ketika pasar dilanda ketidakpastian.

Ibrahim Assuaibi, pengamat komoditas, menambahkan bahwa sanksi ekonomi dari AS dan Uni Eropa terhadap Rusia sebagai negara pemasok utama energi turut mendorong kenaikan harga. Ia juga menyebut sikap hawkish The Fed yang menunda penurunan suku bunga sebagai pemicu naiknya harga emas dalam waktu dekat, dengan proyeksi bisa mencapai US$ 3.700 per ons troi dalam tiga bulan.

Sementara itu, Lukman Leong, analis dari Doo Financial Futures, menyoroti ketidakpastian kebijakan tarif perdagangan AS usai keputusan pengadilan yang membatalkan kebijakan tarif era Trump. Menurutnya, reaksi Gedung Putih yang langsung mengajukan banding menambah ketidakjelasan arah kebijakan perdagangan AS, yang turut memengaruhi harga komoditas global. Ia memperkirakan harga minyak saat ini secara fundamental berada di kisaran US$ 50–55 per barel, namun bisa melonjak hingga US$ 70 jika terjadi eskalasi lebih lanjut.

Erajaya Makin Kinclong Berkat iPhone 16

30 May 2025
Pertumbuhan pesat pasar smartphone di Indonesia, khususnya di segmen kelas menengah yang tumbuh 24,9% yoy pada 2024, menjadi pendorong positif bagi kinerja PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA). Meskipun sempat terdampak oleh keterlambatan distribusi iPhone 16 akibat hambatan TKDN, kinerja ERAA diproyeksikan akan membaik seiring iPhone 16 yang mulai dipasarkan sejak April 2025.

Indy Naila, analis dari Edvisor Profina Visindo, menilai peluncuran iPhone 16 akan menjadi angin segar bagi ERAA sebagai mitra resmi Apple di Indonesia. Ia memperkirakan produk ini dapat menyumbang 15%–20% dari total pendapatan ERAA sepanjang 2025.

Senada, Laras Nadira dari Bahana Sekuritas mencatat bahwa penjualan iPhone 16 1,5 kali lebih tinggi dari seri sebelumnya dalam dua minggu pertama penjualan, berkat permintaan yang sempat tertunda. Ia juga menyoroti potensi dorongan tambahan dari peluncuran iPhone 17 pada paruh kedua 2025.

Namun, pada kuartal I-2025, ERAA mencatat penurunan pendapatan 4,61% yoy, terutama karena anjloknya segmen ponsel dan tablet. Meski begitu, Muhamad Heru Mustofa dari Phintraco Sekuritas tetap optimistis, memproyeksikan pendapatan ERAA tumbuh 9,04% dan laba bersih naik 9,59% di akhir tahun.

Dalam konteks ekspansi, ERAA merevisi target pembukaan toko dari 300–400 menjadi 250–300 toko, mencerminkan sikap hati-hati terhadap pelemahan daya beli. Hingga kuartal I, hanya 34 toko baru yang dibuka.

Prospek ERAA tetap cerah, didukung produk unggulan seperti iPhone 16 dan strategi ekspansi yang realistis. Indy Naila, Laras Nadira, dan Jody Wijaya kompak merekomendasikan beli (buy) saham ERAA dengan target harga masing-masing Rp 680, Rp 650, dan Rp 620 per saham.

Bisnis Bank Digital Cetak Laba Tinggi

30 May 2025
Kinerja perbankan digital menunjukkan tren yang sangat positif sepanjang empat bulan pertama 2025. Sebagian besar bank digital mencetak laba signifikan, bahkan bank yang sebelumnya merugi berhasil membalikkan keadaan.

Bank Jago mencatatkan kinerja paling mencolok, dengan laba bersih naik 173,56% menjadi Rp 81,22 miliar, didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih. Disusul oleh BCA Digital, yang meraih laba Rp 84,45 miliar atau naik 29%, berkat pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 46,5%.

Sementara itu, Bank Neo Commerce (BNC) membalikkan kerugian menjadi laba Rp 191,65 miliar, berkat strategi efisiensi, terutama dari penurunan beban provisi. Direktur Utama BNC, Eri Budiono, menyebut pencapaian ini merupakan buah dari penguatan fondasi bisnis sejak tahun lalu. Eri optimistis kredit akan tumbuh 12–15% tahun ini dengan fokus pada dana murah, payroll, dan cash management.

Allo Bank, meski mencetak pertumbuhan laba terbatas sebesar 4,11%, tetap fokus pada strategi digital hybrid yang mengintegrasikan segmen ritel dan wholesale. Direktur Utama Allo Bank, Indra Utoyo, menekankan pentingnya pengembangan layanan yang sesuai kebutuhan nasabah di era digital serta integrasi dalam ekosistem mitra strategis.

Namun, Indra mengakui tekanan makroekonomi dan ketatnya likuiditas menjadi tantangan bagi pertumbuhan yang lebih tinggi, sehingga Allo Bank belum berencana menurunkan suku bunga deposito dan akan tetap menjaga keseimbangan aset-liabilitas.

Kinerja positif bank digital merupakan hasil dari transformasi strategis dan efisiensi operasional, dengan tokoh-tokoh kunci seperti Eri Budiono dan Indra Utoyo memainkan peran penting dalam mengarahkan bank masing-masing menuju pertumbuhan yang berkelanjutan.

Strategi Baru di Tengah Kredit yang Lesu

28 May 2025

Bank Indonesia (BI) merevisi target pertumbuhan kredit tahun 2025 dari proyeksi awal 11%–13% menjadi hanya 8%–11% akibat kondisi makroekonomi yang melemah dan perlambatan penyaluran kredit. Meski demikian, mayoritas bank tidak langsung mengubah rencana bisnis bank (RBB) mereka karena telah mengantisipasi situasi ini sejak awal tahun. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuka ruang bagi revisi RBB pada pertengahan tahun jika diperlukan.

Beberapa bank seperti CIMB Niaga dan Bank Tabungan Negara memilih pendekatan konservatif dengan menurunkan target pertumbuhan kredit atau mempertahankan target tahun sebelumnya, sambil mengoptimalkan sumber pendapatan nonbunga dan menegakkan prinsip “liquidity first” karena persaingan dana pihak ketiga yang ketat. Sementara itu, Citibank Indonesia berencana melakukan penyesuaian RBB pada akhir Juni 2025 untuk menyesuaikan target kredit berdasarkan kinerja ekonomi kuartal I dan II.

Dalam menghadapi perlambatan kredit dan likuiditas, BI juga menurunkan suku bunga acuan dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memangkas tingkat suku bunga penjaminan simpanan guna mengurangi biaya dana perbankan dan melonggarkan persaingan likuiditas. Meski kompetisi dana tetap ada, terutama jika bank menargetkan pertumbuhan kredit tinggi, persaingan tersebut diperkirakan masih dalam tingkat yang terkendali (manageable).

Secara keseluruhan, langkah BI merevisi target kredit disikapi dengan hati-hati oleh industri perbankan yang lebih fokus pada konservatisme, efisiensi biaya, dan diversifikasi sumber pendapatan di tengah tantangan ekonomi saat ini.


Bank Kembali Dorong Kredit Meski Lambat

28 May 2025

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk memangkas target pertumbuhan penyaluran kredit tahun 2025 menjadi rentang 8% hingga 11%, lebih rendah dibandingkan proyeksi awal sebesar 11%—13%. Penurunan target ini disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan kredit perbankan yang tercatat hanya 8,88% secara tahunan hingga April 2025, seiring dengan pelambatan pertumbuhan ekonomi domestik yang mencapai 4,87% pada kuartal I/2025.

Kondisi ekonomi yang lesu membuat bank-bank cenderung berhati-hati dalam menyalurkan kredit, terutama kredit modal kerja yang tumbuh rendah, menandakan pengurangan aktivitas produksi korporasi. Meskipun kredit investasi masih tumbuh dua digit, manfaatnya bersifat jangka panjang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih mempertahankan target kredit sekitar 9%—11% dan memberikan kesempatan revisi target di tengah tahun mengikuti dinamika ekonomi.

BI telah menurunkan suku bunga acuan untuk merangsang pertumbuhan, namun efek stimulus moneter diperkirakan baru akan terasa pada tahun berikutnya. Di sisi lain, tanpa dukungan stimulus fiskal yang kuat dan efektif, pertumbuhan kredit sebagai penggerak utama perekonomian sulit didorong. Stimulus fiskal diharapkan mampu meningkatkan daya beli masyarakat dan kapasitas produksi, bukan sekadar insentif sementara seperti diskon listrik.

Jika bank ‘dipaksa’ menyalurkan kredit dalam kondisi ekonomi yang belum pulih sepenuhnya pasca-Covid-19, risiko memburuknya kualitas aset perbankan akan meningkat. Oleh karena itu, keputusan BI memangkas target kredit adalah langkah prudensial untuk menjaga stabilitas perbankan di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.


Daya Beli Disokong Stimulus, Tapi Belum Stabil

28 May 2025
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 diperkirakan tidak mencapai target pemerintah sebesar 5%. Sejumlah ekonom, seperti Hosianna Evalita Situmorang dari Bank Danamon dan tim ekonom Bank Mandiri, memprediksi pertumbuhan hanya berkisar antara 4,4%–4,92%, mencerminkan tren perlambatan yang nyata. Hal ini diperkuat oleh data Bank Indonesia yang menunjukkan penurunan pertumbuhan kredit dan lesunya penjualan otomotif hingga April 2025.

Sebagai respons, pemerintah meluncurkan enam paket stimulus ekonomi yang mulai berlaku pada 5 Juni 2025, sebagaimana dijelaskan oleh Susiwijono Moegiarso, Sekretaris Kemenko Perekonomian. Namun, langkah ini mendapat kritik tajam dari sejumlah pakar. Achmad Nur Hidayat, ekonom dan pakar kebijakan publik dari UPN Veteran Jakarta, menilai stimulus tersebut lebih mencerminkan reaksi panik dibanding kebijakan yang terencana dan berbasis kajian matang, apalagi di tengah ruang fiskal yang menyempit.

Kekhawatiran serupa disampaikan oleh Bhima Yudhistira Adinegara, Direktur Celios, yang memperkirakan stimulus dapat memperlebar defisit anggaran hingga Rp 80 triliun, terutama karena belum adanya perencanaan matang dan beban subsidi yang terus membengkak. Ia mengusulkan penghematan anggaran, termasuk menunda proyek-proyek besar seperti program makan bergizi gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih, guna menjaga stabilitas fiskal.

Sementara itu, Luky Alfirman, Dirjen Anggaran, menyatakan bahwa pendanaan stimulus masih dalam proses penghitungan, dengan sebagian sudah tercantum dalam APBN, namun sebagian lainnya belum.

Stimulus ekonomi dimaksudkan untuk menjaga konsumsi dan pertumbuhan, ketidaksiapan fiskal dan lemahnya perencanaan menjadi tantangan besar, sebagaimana ditekankan oleh tokoh-tokoh kunci dalam diskusi ini.

Persaingan Pasar Semakin Ketat, Inovasi Jadi Kunci

28 May 2025
PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), produsen susu Cimory, berhasil mencatat kinerja positif pada kuartal I-2025, dengan pendapatan naik 12,5% yoy menjadi Rp 2,43 triliun dan laba bersih tumbuh 24,2% yoy menjadi Rp 479,86 miliar. Namun, emiten ini menghadapi tantangan dari pelemahan daya beli masyarakat dan naiknya harga bahan baku, yang menekan margin laba kotor ke level 44,5%.

Menurut James Stanley Widjaja, analis Buana Capital, penurunan segmen susu sebesar 5,7% yoy menjadi Rp 863,7 miliar—terendah dalam dua tahun terakhir—disebabkan oleh ketatnya persaingan di pasar susu UHT dan melemahnya konsumsi rumah tangga. Meski begitu, pertumbuhan pesat di segmen makanan konsumen menjadi penopang utama kinerja, dengan penjualan naik 41,1% yoy menjadi Rp 1,57 triliun.

Indy Naila dari Edvisor Provina Visindo menambahkan bahwa efisiensi operasional berperan penting dalam menjaga pertumbuhan di tengah tekanan konsumsi. Sementara itu, Vita Lestari dari Sinarmas Sekuritas menyoroti risiko berkelanjutan dari kenaikan harga bahan baku serta pelemahan nilai tukar, tetapi mengapresiasi strategi CMRY dalam perluasan distribusi dan peluncuran produk baru seperti Cimory Eat Milk dan Kanzler Bakso Gochujang.

Ketiga analis—James, Indy, dan Vita—kompak memberi rekomendasi beli (buy) terhadap saham CMRY, dengan target harga antara Rp 5.300–Rp 5.500 per saham. Mereka optimistis terhadap prospek jangka menengah perusahaan, berkat inovasi produk dan ekspansi distribusi, meski tetap mewaspadai tekanan margin akibat faktor eksternal.