;
Kategori

Ekonomi

( 40430 )

Ketegangan Dagang Masuki Babak Baru

31 May 2025

Ketidakpastian global kembali muncul akibat ketegangan internal di Amerika Serikat terkait kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Meskipun ada upaya untuk menunda tarif selama 90 hari, Trump mengajukan banding ke Pengadilan Banding AS, yang memperpanjang ketegangan dan menyebabkan ketidakpastian di pasar. Keputusan ini berdampak pada pergerakan pasar global, termasuk bursa saham AS dan pasar negara berkembang, seperti Indonesia, yang mengalami volatilitas.

Dalam konteks ini, tokoh-tokoh penting seperti Maximilianus Nico Demus dan Oktavianus Audi memperingatkan bahwa ketidakpastian ini dapat memengaruhi aliran investasi asing. Shinta W. Kamdani, Ketua Apindo, mengungkapkan bahwa meskipun ada sedikit harapan dari keputusan pengadilan, tidak ada jaminan atas kelanjutan kebijakan tersebut. Di sisi lain, Yose Rizal Damuri dari CSIS melihat peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan situasi ini dalam negosiasi tarif dengan AS.

Pada akhirnya, meskipun ada upaya untuk menyelesaikan permasalahan hukum dan politik, tarik-ulur kebijakan tarif ini tidak hanya memengaruhi hubungan dagang AS, tetapi juga dapat memperlambat pemulihan ekonomi negara-negara berkembang.


Menakar Strategi Ekonomi RI–Prancis ke Depan

31 May 2025

Kunjungan kenegaraan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Indonesia pada 27–29 Mei 2025 menjadi tonggak penting dalam memperkuat arah baru kemitraan ekonomi strategis antara Indonesia dan Prancis. Dalam momentum 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara, diluncurkan inisiatif Joint Vision 2050, yang merepresentasikan transformasi kerja sama ekonomi dari sekadar hubungan transaksional menjadi kolaborasi jangka panjang yang menyentuh sektor energi hijau, ketahanan pangan, industri manufaktur, hingga pembangunan sosial seperti program makan bergizi gratis (MBG).

Macron secara eksplisit menunjukkan komitmen Prancis untuk menjadikan Indonesia mitra utama di kawasan Indo-Pasifik, seiring strategi diversifikasi pasar Prancis. Selain itu, ia juga mendorong percepatan penyelesaian IEU-CEPA, yang berpotensi memperluas pasar ekspor Indonesia, namun di sisi lain dapat menghadirkan risiko terhadap UMKM dan daya saing sektor domestik jika tidak disikapi dengan hati-hati.

Dukungan Prancis terhadap aksesi Indonesia ke OECD juga mencerminkan pengakuan atas kematangan ekonomi Indonesia. Namun, keanggotaan tersebut menuntut penyesuaian regulasi besar-besaran yang dapat berdampak pada kedaulatan ekonomi jika tidak dikawal dengan cermat.

Untuk itu, diplomasi ekonomi Indonesia ke depan tidak boleh hanya fokus pada jumlah investasi atau nilai kesepakatan, melainkan harus mempertimbangkan kualitas, kesinambungan, dan kontribusinya terhadap transformasi ekonomi nasional. Pemerintah perlu membentuk gugus tugas lintas kementerian untuk mengawal implementasi kerja sama ini agar selaras dengan RPJPN, ekonomi hijau, dan peningkatan nilai tambah industri dalam negeri. Transfer teknologi harus dijadikan syarat utama dalam kerja sama investasi, sehingga Indonesia berperan sebagai mitra produksi, bukan hanya pasar.

Secara keseluruhan, kunjungan Macron membuka peluang strategis besar, namun pemanfaatannya bergantung pada kecermatan strategi, konsistensi pengawasan, dan keberanian menjaga kedaulatan ekonomi nasional di tengah arus liberalisasi global.


Pasar Saham Terus Menguat, Tren Positif Berlanjut

31 May 2025

Fenomena tahunan Sell in May and Go Away tidak terjadi di Bursa Efek Indonesia pada tahun ini, karena investor asing justru melakukan aksi beli bersih sepanjang Mei. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi domestik maupun global yang membaik. IHSG pun diproyeksikan akan melanjutkan penguatannya pada Juni 2025.

Menurut Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research Pilarmas Investindo Sekuritas, beberapa faktor utama akan menjadi perhatian investor ke depan. Pertama, perkembangan negosiasi dagang antara AS dan China yang dapat memengaruhi arah pasar global. Kedua, tren penurunan suku bunga global dan dukungan kebijakan fiskal turut mendorong konsumsi dan daya beli, sehingga memperkuat ekspektasi pemulihan ekonomi dan mendorong aliran dana asing (capital inflow) ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Namun, Nico juga mengingatkan bahwa berakhirnya masa penundaan tarif AS-China pada Juli menjadi risiko yang dapat memicu gejolak pasar jika tidak disertai kesepakatan konkret. Sentimen negatif dari Presiden Donald Trump dipandang masih bisa menyebabkan keluarnya investor asing dari pasar saham negara berkembang.

Di bulan Juni, investor akan mencermati sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat dan China, seperti inflasi, ketenagakerjaan, penjualan ritel, serta kebijakan The Fed dan suku bunga acuan China. Dari dalam negeri, inflasi dan hasil rapat Bank Indonesia pada 18 Juni juga menjadi sorotan utama.

Secara historis, IHSG cenderung naik di bulan Juni, dengan probabilitas kenaikan sebesar 65% dalam 20 tahun terakhir. Beberapa sektor yang dinilai potensial untuk dicermati antara lain basic materials, transportasi dan logistik, serta infrastruktur.

Dengan mempertimbangkan berbagai indikator tersebut, pasar saham Indonesia memiliki potensi positif pada Juni, meski tetap perlu mewaspadai dinamika eksternal, khususnya terkait kebijakan dagang global.


Bitcoin Melemah, Altcoin Curi Perhatian

31 May 2025
Bulan Juni historisnya menjadi periode yang kurang menguntungkan bagi investor kripto, dengan data menunjukkan rata-rata imbal hasil Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) cenderung negatif setiap Juni sejak 2013. Menjelang Juni 2025, Trader Tokocrypto Fyqieh Fachrur memperkirakan potensi koreksi BTC sebesar 5–10%, dengan penurunan jangka pendek hingga ke level sekitar US$ 102.000 dari posisi terakhir di US$ 105.958.

Fyqieh menyoroti bahwa sentimen pasar kripto saat ini juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter global dan arah suku bunga AS, dengan pertemuan FOMC pada 17–18 Juni 2025 menjadi perhatian utama pasar. Ia juga menyarankan investor untuk mempertimbangkan altcoin seperti XRP, yang sedang mendapat sorotan setelah Webus International Limited berencana menghimpun dana hingga US$ 300 juta untuk membentuk cadangan strategis dalam XRP.

Inovasi lain yang mendorong sentimen positif datang dari Coinbase, yang meluncurkan kontrak futures BTC, ETH, dan altcoin lainnya seperti SOL, ADA, dan HBAR, memungkinkan perdagangan 24 jam. Ini dianggap Fyqieh sebagai sinyal positif yang bisa mendorong legitimasi dan eksposur lebih besar terhadap aset kripto.

Altcoin lain yang dinilai prospektif antara lain TON, yang mendapat sentimen positif dari perekrutan Nikola Plecas, mantan eksekutif Visa, sebagai VP of Payments untuk mengintegrasikan TON dalam ekosistem Telegram. Adopsi ini dianggap mampu mendongkrak potensi TON dalam sistem pembayaran digital.

Dari sisi lokal, Robby, Chief Compliance Officer Reku, menilai tren investasi kripto di Indonesia terus berkembang. Ia optimistis jumlah investor akan terus meningkat dan menyebut bahwa kripto kini mulai dilihat sebagai bagian dari portofolio jangka panjang, sejalan dengan proyeksi Statista bahwa jumlah investor kripto Indonesia bisa menembus 28,65 juta orang pada tahun 2025.

Kredit Investasi Tumbuh Paling Pesat Tahun Ini

31 May 2025
Di tengah melambatnya pertumbuhan kredit secara umum, kredit investasi justru menunjukkan lonjakan signifikan. Data Bank Indonesia mencatat kredit investasi tumbuh 15,3% secara tahunan pada April 2025 menjadi Rp 2.215,7 triliun, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya. Sektor yang mendorong pertumbuhan ini terutama adalah pertambangan dan penggalian (tumbuh 51,4%) serta pengangkutan dan komunikasi (tumbuh 25,7%).

Namun, kontribusi kredit investasi terhadap total kredit masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan kredit modal kerja dan konsumsi, sehingga pertumbuhan total kredit secara keseluruhan hanya mencapai 8,88% secara tahunan, turun dari bulan sebelumnya.

Tokoh-tokoh kunci dalam artikel ini menguatkan pandangan positif terhadap kredit investasi. M. Ashidiq Iswara, Corporate Secretary Bank Mandiri, menjelaskan bahwa sektor infrastruktur, telekomunikasi, dan transportasi mendorong pertumbuhan kredit investasi yang tinggi di Bank Mandiri, yakni 25,4% secara tahunan hingga Maret 2025. Ia menekankan pentingnya fokus pada sektor-sektor prospektif dan tahan banting sambil tetap menjaga prinsip kehati-hatian.

Sementara itu, Hera F. Haryn, EVP CSR BCA, menyampaikan bahwa kredit investasi BCA juga tumbuh pesat sebesar 17,9%, lebih tinggi dibanding pertumbuhan kredit total BCA yang hanya 12,6%. Ia menegaskan bahwa penyaluran kredit BCA tetap diarahkan ke sektor potensial dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi yang berkembang..

Tarif Impor AS Rugikan Perusahaan Global

31 May 2025
Perang dagang yang dipicu oleh Presiden Donald Trump telah menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan global, dengan total lebih dari US$ 34 miliar, menurut analisis Reuters terhadap laporan 56 perusahaan besar dari AS, Eropa, dan Jepang. Kebijakan tarif yang tidak menentu menyebabkan lonjakan biaya, penurunan penjualan, serta ketidakpastian bisnis yang mendorong perusahaan untuk memangkas atau mencabut proyeksi keuangan.

Tokoh penting dalam artikel, Jeffrey Sonnenfeld, profesor dari Yale School of Management, menyatakan bahwa kerugian tersebut kemungkinan masih belum mencerminkan skala dampak sebenarnya, karena banyak perusahaan belum melaporkan sepenuhnya akibat dari gejolak perdagangan global.

Perusahaan besar seperti Apple, Ford, Porsche, Sony, Walmart, hingga United Airlines mengaku kesulitan dalam menyusun perencanaan biaya dan panduan laba, bahkan ada yang terpaksa menaikkan harga tanpa proyeksi laba atau mengubah strategi keuangan secara drastis.

Rich Bernstein, CEO Richard Bernstein Advisors, menilai banyak perusahaan saat ini mengalami kebingungan menentukan arah strategi masa depan akibat ketidakpastian kebijakan tarif AS. Hal ini tercermin dari meluasnya pembahasan isu tarif dalam laporan keuangan, baik di indeks S&P 500, STOXX 600 Eropa, maupun Nikkei 225 Jepang.

Dampaknya terhadap perekonomian makro juga mulai terlihat. Biro Analisis Ekonomi AS melaporkan bahwa laba perusahaan AS turun US$ 118,1 miliar pada kuartal I-2025, sementara produk domestik bruto (PDB) menyusut 0,2%, menandakan tekanan serius pada ekonomi.

Perang dagang telah menciptakan ketidakpastian besar di sektor korporasi global, melemahkan kinerja perusahaan, menekan laba, dan merusak prospek ekonomi baik di AS maupun secara internasional.

Kurang Efektifnya Stimulus Ekonomi

30 May 2025

Efektivitas paket stimulus ekonomi terbaru dalam mendorong pertumbuhan ekonomi diperkirakan terbatas karena minimnya insentif bagi kelas menengah. Padahal, kelas menengah merupakan kelompok yang selama ini menjadi penopang utama konsumsi domestik. Terdapat enam stimulus yang akan mulai digelontorkan pemerintah pada 5 Juni 2025, mencakup diskon tiket transportasi (kereta 30 %, laut 50 % dan PPN-DTP pesawat 6 %), potongan tarif tol 20 % bagi 110 juta pengendara, serta diskon listrik 50 % untuk 79,3 juta pelanggan berdaya 1.300 VA ke bawah. Ada juga tambahan bansos untuk 18,3 juta keluarga, subsidi upah bagi pekerja bergaji rendah dan guru honorer, serta perpanjangan diskon iuran Jaminan Kecelakaan Kerja bagi sektor padat karya. Langkah ini ditempuh pemerintah untuk menjaga laju pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025 agar tetap berada dikisaran 5 %, setelah hanya tumbuh 4,87 % secara tahunan pada triwulan I-2025.

Capaian itu lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya atau periode yang sama tahun lalu. Ekonom Center of Reform and Economic (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kebijakan ini hanya merespons tekanan daya beli masyarakat kelas bawah, tanpa turut mengantisipasi pelemahan konsumsi masyarakat kelas menengah. Padahal, kontribusi kelas menengah terhadap konsumsi nasional lebih dari 50 %. ”Peran kelas menengah tidak bisa diabaikan. Stimulus yang minim bagi kelas menengah bukan hanya (membuat) kehilangan peluang pertumbuhan, melainkan juga memperbesar risiko pelambatan ekonomi,” ujar Yusuf, Kamis (29/5). Untuk mencapai target per-tumbuhan ekonomi, diperlukan intervensi yang menyasar kelas menengah secara langsung, seperti bantuan tunai atau insentif fiskal dengan cakupan dan durasi yang tepat. Dalam situasi pelemahan eks-por dan tekanan global, ketergantungan pada konsumsi domestik justru makin tinggi. (Yoga)


Berbagai Respons atas Pemblokiran Tarif Trump

30 May 2025

Pemblokiran tarif baru AS oleh Pengadilan Perdagangan Internasional AS menuai respons positif dan negatif. Di satu sisi, pemblokiran itu membawa angin segar bagi para pelaku usaha. Di sisi lain, Presiden AS, Donald Trump dinilai tak akan tunduk terhadap keputusan pengadilan federal tersebut. Pada Rabu (28/5) Pengadilan Perdagangan Internasional AS memutuskan memblokir sebagian besar tarif impor yang digulirkan Trump sejak Januari 2025. Pengadilan federal berbasis di Manhattan itu juga meminta Trump menghentikan tarif tersebut secara permanen dalam waktu 10 hari setelah putusan. Majelis hakim Pengadilan Perdagangan Internasional AS menilai Trump melampaui kewenangan meskipun kebijakan tarif itu mengacu pada UU Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA) 1977. Presiden tak dapat langsung mengeluarkan perintah eksekutif untuk melindungi ekonomi AS lantaran IEEPA juga mengamanatkan presiden harus berkonsultasi dahulu dengan Kongres.

Gedung Putih mengecam putusan tersebut dengan menyebut bahwa hakim yang tidak dipilih oleh rakyat tidak memiliki hak untuk mengintervensi kebijakan perdagangan presiden dan berencana mengajukan banding atas putusan itu. Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur, Kamis (29/5), mengatakan, putusan pengadilan perdagangan federal AS itu membawa angin segar bagi para pelaku usaha di Indonesia. Putusan itu setidaknya melengkapi upaya Pemerintah RI yang tengah bernegosiasi dengan Pemerintah AS. Memasuki bulan kedua dari tiga bulan masa negosiasi, Pemerintah RI dan AS belum menuai hasil signifikan. Padahal, Pemerintah China dan AS telah menyepakati penerapan penurunan tarif impor produk China dari 145 % menjadi 30 persen dan tarif impor produk AS dari 125 % menjadi 10 % selama 90 hari. Putusan pengadilan perdagangan federal AS itu juga membawa angina segar bagi sebagian besar pelaku usaha di AS. (Yoga)


Terbukanya Ruang Penurunan Suku Bunga Kredit

30 May 2025

Pelaku industri perbankan optimistis penyaluran kredit tetap tumbuh positif, didorong pelonggaran suku bunga acuan dan penurunan tingkat bunga penjaminan, yang dinilai memberi ruang bagi penurunan suku bunga kredit. Hasil Rapat Dewan Gubernur BI pada Mei 2025 memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5 %. BI telah dua kali menurunkan suku bunga acuannya setelah pada Januari 2025 lalu sebesar 25 bps menjadi 5,75 %. Lembaga Penjamin Simpanan juga menurunkan tingkat bunga penjaminan (TBP) simpanan rupiah sebesar 25 bps menjadi 4 % untuk bank umum dan 6,5 % untuk bank perekonomian rakyat, yang berlaku efektif selama Juni-September 2025.

Executive Vice President Corporate Communication and Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Hera F Haryn menyampaikan, kedua kebijakan tersebut akan menjadi pertimbangan penting bagi BCA dalam menyusun strategi penyaluran kredit dan pengelolaan likuiditas.” Penurunan suku bungaacuan dan TBP secara umum dapat menciptakan ruang untuk penurunan suku bunga kredit dan dana, yang bisa mendorong pertumbuhan kredit secara lebih sehat dan berkelanjutan,” katanya, Kamis (29/5). BCA akan terus mendukung upaya pemerintah dan otoritas dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian dalam menjalankan fungsi intermediasi perbankan. (Yoga)


Perusahaan Perancis Digandeng Danantara

30 May 2025

Badan Pengelola Investasi atau BPI Danantara meneken dua nota kesepahaman strategis dengan perusahaan pertambangan Eramet, serta grup perbankan Crédit Agricole Corporate and Investment Bank (CIB) asal Perancis untuk memperkuat ekosistem hilirisasi mineral dan memperluas akses pembiayaan pembangunan berkelanjutan di Indonesia, yang diteken di Jakarta pada Rabu (28/5) bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Perancis Emmanuel Macron dan disaksikan Presiden RI Pra-bowo Subianto. Kerja sama pertama antara BPI Danantara dan Eramet melibatkan Indonesia Investment Authority (INA). Ketiganya berkomitmen membentuk platform investasi strategis sektor nikel dari hulu ke hilir. Kemitraan ini difokuskan pada pengembangan ekosistem bahan baku baterai kendaraan listrik (EV) yang berkelanjutan dan terintegrasi di Indonesia. Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir mengatakan, pihaknya bersama INA akan mengelola pendanaan jangka panjang.

Sementara Eramet menyumbangkan keahlian teknis dan pengalaman global dalam proyek pertambangan berkelanjutan. ”Kemitraan ini mencerminkan komitmen mendorong investasi hilirisasi nikel kelas dunia, serta mendukung pembangunan industri nasional yang berkelanjutan,” ujarnya, dikutip Kompas dari pernyataan resmi,Kamis (29/5). Eramet yang telah beroperasi di Weda Bay, Maluku Utara, sejak 2006, juga tengah mengeksplorasi mineral kritis, seperti litium bersama Badan Geologi. CEO Eramet Group Paulo Castellari mengatakan, kerjasama ini sejalan dengan strategi jangka panjang perusahaan untuk mendukung transisi energi dan penguatan rantai nilai baterai EV di Indonesia. ”Kami siap memberi kontribusi melalui keahlian kami dibidang pertambangan berkelanjutan serta komitmen jangka panjang dalam mengembangkan industri strategis di Indonesia,” ujar Paulo. (Yoga)