;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Dana Desa Fleksibel

04 Jun 2025
Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) mengingatkan pemerintah desa, bahwa Dana Desa bersifat fleksibel, sehingga dapat digunakan pula untuk program-program ketahanan pangan. "Dana Desa ini sangat fleksibel, dapat digunakan untuk program-progran ketahanan  pangan dan memitigasi lingkungan yang terkait dengan iklim," kata Kepala Pusat Pengembangan Daya Saing dan Informasi Desa dan Daerah Tertinggal Kemendes PDT Luthfy  Latief saat memberikan sambutan, sekaligus membuka kegiatan berbagi pengetahuan Desa Berketahanan Pangan dan Iklim, seperti yang diikuti secara daring di Jakarta. Ketentuan itu, lanjut dia, telah diatur dalam Peraturan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Nomor 2 Tahun 2024 tentang Petunjuk Operasional Penggunaan Dana Desa Tahun 2025. Diketahui, Pasal 7 ayat (4) Permendes Nomor 2 Tahun 2024 itu mengamantkan agar alokasi Dana Desa sebesar minimal 20% dialokasikan untuk mendukung agenda ketahanan pangan. Selain untuk ketahanan pangan, Kemendes juga mengatur sejumlah hal lainnya yang termasuk dalam prioritas penggunaan desa, (Yetede)

AS Meminta Penawaran Terbaik dari Negara-Negara Mitra dagangnya

04 Jun 2025
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminya negara-negara mitra dagangnya menyodorkan penawaran terbaik pada Rabu (03/0602025). Pemerintah AS ingin mempercepat negosiasi dengan beberaoa negara mitra jelang tenggat waktu selama 90 hari. Draft surat dari kantor Perwakilan Dagangan AS (United States Trade Repressentative/USTR) kepada pada negara mitra  yang sedang bernegosiasi tarif memberikan gambaran tentang bagaimana Trump ingin menyelesaikan negosiasi dengan puluhan negara, Negosiasi ini sudah berlangsung sejak 9 April 2025, ketika Trump menunda sementara penerapan tarif "Liberation Day" selama 90 hari hingga 8 Juli 2025. Jeda tersebyut diambi setelah pasar saham, obligasi dan mata uang bergejolak. Belum diketahui negara mana  saja yang sudah menerima surat tersebut. Tetapi, surat itu ditujukan kepada negara-negara yang sedang melakukan pertemuan-pertemuan dan pertukaran dokumen. Sebagai informasi, AS sedang terlibat dalam negosiasi perdagangan, di antaranya dengan Uni Eropa, Jepang, dan India. Pihak UE mengaku belum menerima surat yang berisi permintaan dari pemerintahan Trump agar setiap negara yang sedang berunding menyampaikan penawaran terbaiknya. Setelah menelpon Presiden Komisi Eropa Ursula Von der Leyen, Trump menetapkan tenggat waktu 9 Juli 2025 untuk melanjutkan pembicaraan antara AS dan UE. (Yetede)

Keuntungan Bank Tertekan, Sinyal Waspada Muncul

04 Jun 2025

Industri perbankan Indonesia saat ini tengah menghadapi tekanan serius terhadap net interest margin (NIM) akibat meningkatnya biaya dana (cost of fund) yang tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan kredit. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), NIM perbankan per April 2025 turun ke level 4,45%, seiring dengan melambatnya pertumbuhan laba industri menjadi hanya 5,79% secara tahunan.

Beberapa tokoh perbankan turut menyoroti kondisi ini. Lani Darmawan, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk., menyatakan bahwa tekanan terhadap NIM sudah berlangsung selama dua tahun terakhir akibat ketidakmampuan menaikkan harga pinjaman demi menjaga kualitas aset dan rasio kredit bermasalah (NPL). NIM CIMB Niaga bahkan turun di bawah 4% pada kuartal I-2025.

Di sisi lain, Hera F. Haryn, EVP BCA, menyebutkan bahwa meskipun NIM BCA mencapai 5,8% berkat kekuatan dana murah (CASA 83%), tetap terjadi penurunan secara kuartalan. Sedangkan Reza Iskandar Sardjono, Chief Strategy Officer Bank Danamon, menyatakan bahwa meski NIM Danamon masih di atas rata-rata industri (7,1%), telah terjadi penurunan dari tahun sebelumnya. Bank tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan adaptasi terhadap dinamika makroekonomi.

Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, menambahkan bahwa kompetisi dana yang ketat, termasuk dari instrumen investasi non-bank, ikut menekan NIM. Ia berharap pelonggaran suku bunga acuan (BI Rate) ke depan bisa memberi ruang bagi bank menurunkan cost of fund dan memperbaiki margin.

Sementara itu, Arianto Muditomo, pengamat perbankan dari Perbanas Institute, mengingatkan bahwa tekanan NIM yang berkepanjangan bisa mengganggu kemampuan perbankan dalam menyerap risiko kredit dan menyalurkan kredit ke sektor riil. Ia menilai peluang pemulihan tetap terbuka pada paruh kedua 2025 apabila strategi efisiensi dan insentif pemerintah dapat dimaksimalkan.

Dengan demikian, tantangan terhadap NIM bukan hanya berdampak pada profitabilitas bank, tetapi juga berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi nasional. Sinergi antara penyesuaian strategi bank, stimulus fiskal, dan arah kebijakan moneter menjadi kunci utama pemulihan sektor ini.


Produksi Padi Karawang Digenjot Dua Kali Lipat

04 Jun 2025

Pemerintah Kabupaten Karawang, melalui Ketua Tim Hortikultura DPKP Asep Saprudin, secara aktif mendorong para petani untuk melakukan program tanam padi sebanyak tiga kali dalam setahun. Langkah ini diambil guna mencapai target produksi gabah kering panen (GKP) sebesar 1,45 juta ton pada tahun 2025, meningkat dari capaian 1,2 juta ton pada tahun sebelumnya.

Program ini merupakan bagian dari strategi ketahanan pangan nasional, terlebih setelah pemerintah pusat menghentikan impor beras tahun ini. Untuk mendukung keberhasilan program tersebut, Pemkab Karawang menyediakan bantuan berupa alat dan mesin pertanian, perbaikan irigasi, bantuan benih, serta distribusi pupuk subsidi yang kini lebih mudah diakses hanya dengan KTP.

Asep juga menegaskan bahwa tanam tiga kali tidak selalu harus berupa padi, tetapi bisa juga sayuran untuk menjaga kesuburan tanah dan mengendalikan hama. Dengan berbagai dukungan tersebut, diharapkan lahan pertanian di Karawang dapat dimanfaatkan secara maksimal demi mendukung program nasional yang kini diprioritaskan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan swasembada pangan.


Musim Dividen Jadi Magnet Investor Saham

04 Jun 2025
Pasar saham Indonesia akan menerima suntikan dana dari pembagian dividen sejumlah emiten besar senilai total Rp 51,47 triliun pada Juni 2025. Emiten seperti PT Telkom Indonesia (TLKM) dan PGAS menjadi penyumbang terbesar, dengan yield dividen menarik hingga mendekati 10%. Likuiditas bursa diperkirakan akan meningkat sementara waktu, namun para analis menilai dampak ini bersifat jangka pendek dan tidak cukup kuat untuk membalik arah pasar secara keseluruhan.

Menurut Rully Arya Wisnubroto, Head of Research Mirae Asset, pembagian dividen hanya akan menjadi pemanis sesaat, karena ketidakpastian global dan lemahnya fundamental domestik masih akan menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran 6.925–7.150. Rully juga mengingatkan potensi capital outflow akibat perlambatan ekonomi dan ketidakpastian kebijakan pemerintah.

Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas juga sependapat bahwa dividen tinggi dapat mendorong minat beli, terutama pada saham big caps strategis dengan valuasi menarik. Namun, dia menegaskan bahwa arus dana asing tidak serta-merta masuk, dan IHSG akan bergerak mixed di rentang 7.000–7.250.

Sementara itu, Muhammad Wafi dari Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) mengingatkan akan adanya aksi jual setelah tanggal ex-dividen, terutama pada saham yang fundamentalnya lemah. Ia juga menyoroti bahwa dividen dengan payout ratio sangat tinggi bisa menjadi tanda kurangnya rencana pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Di sisi lain, arus keluar dana asing tetap menjadi ancaman, karena sebagian besar dividen juga mengalir ke investor asing, seperti Unilever Indonesia, di mana 84,99% dividen akan dikirim ke pengendali asingnya. Selain itu, kebijakan tarif impor baja dan tren global menuju aset safe haven seperti emas menambah tekanan pada pasar saham domestik.

Meskipun musim dividen memberi harapan pada peningkatan likuiditas dan minat investor, para tokoh seperti Rully Arya Wisnubroto, Oktavianus Audi, dan Muhammad Wafi sepakat bahwa dividen bukan katalis jangka panjang yang cukup kuat, dan ketidakpastian makroekonomi serta arus keluar dana asing tetap mendominasi arah pasar saham ke depan.

Stimulus Konsumsi Dinilai Masih Kurang Atraktif

04 Jun 2025
Pemerintah telah mengucurkan stimulus senilai Rp 24,4 triliun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. Namun, menurut sejumlah ekonom, daya dorong stimulus ini terhadap konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi akan sangat terbatas.

Syafruddin Karimi, ekonom dari Universitas Andalas, menilai stimulus ini tidak signifikan karena hanya setara 0,2% dari PDB Indonesia yang mencapai Rp 22.000 triliun. Menurutnya, stimulus ini hanya bersifat simbolik dan lebih bertujuan meredam pelemahan konsumsi, bukan mendorong pertumbuhan baru. Ia menyoroti bahwa kenaikan konsumsi rumah tangga kuartal I-2025 yang hanya 4,89% menunjukkan lemahnya daya beli di tengah tekanan global dan inflasi pangan.

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, juga menyebut stimulus ini hanya 0,1% dari PDB, bahkan lebih kecil dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 40 triliun. Ia menegaskan, meski mencakup 39 juta penerima manfaat, bantuan per individu terlalu kecil untuk memberikan dampak konsumsi yang berarti. Selain itu, pembatalan program diskon listrik senilai Rp 10,9 triliun dinilai mempersempit dampak stimulus yang bersifat luas dan jangka pendek.

Sementara itu, Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, memperkirakan tidak ada efek signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dari stimulus ini. Ia memproyeksikan pertumbuhan PDB kuartal II-2025 akan stagnan di kisaran 4,7%-4,8%, sama dengan kuartal I.

Meskipun pemerintah menggelontorkan stimulus besar yang dipimpin oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, para tokoh ekonomi seperti Syafruddin Karimi, Josua Pardede, dan Bhima Yudhistira sepakat bahwa dampaknya terhadap konsumsi dan pertumbuhan ekonomi sangat terbatas, hanya bersifat penahan laju pelemahan, bukan pendorong pertumbuhan struktural.

Kinerja Emiten Membaik, Pasar Punya Tenaga Baru

04 Jun 2025
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menunjukkan perbaikan kinerja signifikan pada kuartal I-2025 dengan peningkatan pendapatan bersih 40,4% yoy menjadi Rp 4,3 triliun, dan EBITDA yang disesuaikan positif Rp 393 miliar, naik tajam 489,1% yoy. Rugi bersih juga berhasil ditekan hingga turun 67% menjadi Rp 283 miliar. Hal ini menjadikan kuartal awal 2025 sebagai awal yang kuat, menurut Christopher Rusli, analis Ciptadana Sekuritas.

GOTO menargetkan EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp 1,4–1,6 triliun pada tahun 2025, yang didorong oleh penguatan segmen on-demand dan fintech. Layanan pengiriman dan mobilitas masing-masing tumbuh di atas 16%, sementara pendapatan dari segmen fintech melonjak 90% menjadi Rp 1,2 triliun, didominasi oleh pertumbuhan portofolio pinjaman.

Namun, Miftahul Khaer dari Kiwoom Sekuritas mengingatkan bahwa ekspansi agresif di sektor pinjaman harus dijalankan dengan hati-hati, mengingat naiknya kredit bermasalah di industri pembiayaan. Ia menilai target EBITDA realistis, tetapi menyarankan pendekatan "wait and see" terhadap saham GOTO sambil menunggu kejelasan strategi ekspansi dan potensi merger dengan Grab.

Peter Milliken, analis Deutsche Bank, melihat potensi merger GOTO dan Grab sebagai transformasi positif yang dapat meningkatkan valuasi perusahaan. Ia memberikan rekomendasi "buy" dengan target harga Rp 115 per saham. Christopher Rusli juga tetap optimistis dengan memberikan rekomendasi "buy" dan target harga Rp 100 per saham.

GOTO berhasil menunjukkan perbaikan fundamental, terutama lewat efisiensi dan pertumbuhan pendapatan di segmen strategis. Namun, risiko kredit macet, persaingan pasar, dan ketidakpastian makroekonomi tetap menjadi tantangan, sementara sentimen merger dengan Grab menjadi faktor penting yang dapat menentukan arah saham GOTO ke depan.

Penyaluran KUR Masih Lambat di Awal Tahun

04 Jun 2025
Hingga Mei 2025, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) belum mampu secara signifikan mendorong pertumbuhan kredit UMKM yang masih lesu sejak pandemi. Dari target KUR nasional sebesar Rp 300 triliun, baru terealisasi Rp 107 triliun atau sekitar 36%, menunjukkan bahwa program subsidi bunga ini belum berjalan optimal sebagai motor penggerak sektor UMKM.

Menurut data Bank Indonesia, pertumbuhan kredit UMKM hanya mencapai 2,6% yoy per April 2025, meski menunjukkan sedikit perbaikan dari bulan sebelumnya. Kredit mikro bahkan masih mencatat kontraksi 1,91%, menandakan tekanan masih kuat di segmen paling kecil dalam UMKM.

Agustya Hendy Bernadi, Sekretaris Perusahaan BRI, menyatakan bahwa BRI—bank dengan kuota KUR terbesar—baru merealisasikan Rp 54,9 triliun (31,38%) dari total kuota Rp 175 triliun. BRI tetap berkomitmen mendukung UMKM tak hanya lewat pembiayaan, tetapi juga melalui program pemberdayaan seperti Desa BRILiaN dan Link UMKM, serta fokus penyaluran ke sektor pertanian, yang sejalan dengan kebijakan pemerintah terkait ketahanan pangan.

Achmad Syamsudin, Direktur Utama Bank Sumsel Babel, juga mengakui penyaluran masih minim, yakni baru 31,42% dari target, dengan dominasi sektor pertanian dan perkebunan. Ia menyebut penyaluran biasanya meningkat selepas kuartal II, dan saat ini bank bekerja sama dengan pemerintah melalui sosialisasi aktif, seperti grebek pasar.

Sementara itu, Raden Agus Trimurjanto, Direktur Bank DIY, menyatakan bahwa pihaknya telah menyalurkan 57,15% dari kuota KUR hingga Mei 2025, terutama ke sektor perdagangan dan pariwisata.

Meskipun KUR tetap menjadi andalan untuk mendongkrak kredit UMKM, realisasinya masih rendah dan belum cukup kuat untuk mengatasi perlambatan kredit sektor ini. Sejumlah bank seperti BRI, Bank Sumsel Babel, dan Bank DIY menunjukkan upaya dan komitmen pemberdayaan, namun tantangan struktural dan momentum penyaluran tetap menjadi hambatan utama pemulihan UMKM secara menyeluruh.

Terperdaya Bisnis Ulasan

03 Jun 2025

Tim Investigasi Kompas menemukan fenomena bisnis ulasan yang terindikasi palsu di lokapasar. Ulasan seperti ini muncul pada forum ulasan produk kecantikan, produk anak, fashion dan Google Review. Praktik ini dilakukan sekelompok orang yang dibayar dan digerakkan untuk membeli produk-produk tertentu di toko da-ring. Mereka diminta memberi ulasan baik dan rating tinggi disertai unggahan barang yang diulas di media sosial (medsos).  mereka berasal dari komunitas buzzer. Jasa rekayasa pembelian dan ulasan itu ditawarkan secara terbuka di iklan-iklan internet, seperti yang disediakan agensi LC. Dalam iklan mereka, agensi di Tangerang, Banten, ini menyediakan paket dari Rp 99.000 hingga Rp 50 juta. Paket Rp 99.000 terdiri dari satu ulasan disertai satu hingga 10 produk terjual. Paket tertinggi, yakni Rp 50 juta, menjanjikan 1.000 ulasan disertai 1.000-10.000 paket terjual.

”Kami pakai orang asli, bukan bot. Mereka benar-benar pesan barang di market place, lalu fee dan reimburse harga barang dilakukan setelah pekerjaan selesai,” kata pemilik LC, ibu muda SK (30) di Tangerang, Kamis (22/5). Pembelian barang oleh tim buzzer dilakukan agar transaksi dan ulasan yang diberikan terkesan asli. ”(Praktik) ini dirahasiakan karena tujuannyamembangun trust pembeli. Kalau orang tahu, mereka pasti tak percaya ulasan lagi,” katanya. Jasa ulasan di LC dibanderol Rp 20.000-Rp 15 juta per paket.Paket Rp 20.000 berisi satu ulasan disertai 1-10 pemesanan. Paket Rp 15 juta menawarkan 1.000 ulasan serta 1.000-100.000 transaksi. Proses pengerjaan berkisar 30-60 hari. Terdapat keterangan ”budget perputaran produk”, yang menjelaskan bahwa dana pembelian akan dikembalikan ke pemilik toko. Artinya, transaksi tetap tercatat di sistem loka pasar, tetapi produk tidak pernah benar-benar dikirim atau digunakan. (Yoga)


”CT Scan” Kini Bisa Diproduksi di Indonesia

03 Jun 2025

Indonesia kini bisa memproduksi alat computed tomography scan di dalam negeri dan menjadi yang pertama di ASEAN. Ini menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada impor alat kesehatan dan membangun ekosistem teknologi kesehatan sendiri. CT scan lokal dirakit GE Health Care bersama PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) melalui anak usahanya, PT Forsta Kalmedic Global (Forsta), yang pertama kali diluncurkan di pabrik PT Forsta di Gunung Sindur, Bogor, Jabar, pada Senin (2/6). Dirjen Farmasi dan Alkes Kemenkes, Lucia Rizka Andalusia mengungkapkan, selama ini, alat kesehatan di Indonesia bergantung pada impor hingga 54,4 %. Alat CT scan bahkan 100 % diimpor dari luar negeri senilai Rp 682,5 miliar. ”CT scan ini masih sedikit rumah sakit yang memiliki. Diharapkan dengan adanya produksi lokal, dapat lebih cepat mengisi kebutuhan di rumah sakit,” katanya. Menurut Rizka, CT scan termasuk 10 perangkat medis yang diprioritaskan pemerintah untuk diproduksi di dalam negeri.

CT scan juga termasuk satu dari tiga alat kesehatan berteknologi tinggi, selain MRI (magnetic resonance imaging) dan PET scan (positron emission tomography). Hadirnya CT scan lokal, mendukung kebijakan tersebut sekaligus meletakkan dasar bagi inovasi masa depan dan kemandirian layanan kesehatan yang lebih besar. Harapannya, perusahaan tidak hanya merakit,tapi juga mengembangkan diriagar bisa memproduksi CT scan secara keseluruhan. Khusus untuk CT scan, Kemenkes mencatat pemerintah membutuhkan 306 CT scan yang tersebar di fasilitas kesehatan seluruh Indonesia hingga tahun 2027, untuk diagnosis dan pemantauan berbagai kondisi medis, termasuk kanker, penyakit jantung, dan gangguan neurologis. Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian Kemenperin, Solehan mengungkapkan, nilai impor CT scan memuncak pada 2022 hingga Rp1,05 triliun. Produksi CT scan lokal dapat memperkecil nilai impor pada tahun ini.

CEO GE Health Care Indonesia, Kriswanto Trimoeljo juga mengungkapkan, pasar CT scan di dalam negeri mencapai 3.000 rumah sakit. Selain itu, 1.300 CT scan yang sudah ada berpotensi diperbarui atau dilengkapi dengan teknologi terkini. Direktur Forsta, Yvone Astri Della Sijabat menyatakan, perusahaannya tengah memasukkan CT scan kedalam proses tender yang dibutuhkan rumah sakit pemerintah pusat dan daerah. CT scan ini memenuhi standar tingkat komponen dalam negeri (TKDN) minimal 25 % sesuai Perpres No 46 Tahun 2025. PT Forsta mampu memproduksi 52 unit CT scan pertahun atau 1 unit per minggu. Satu unit dirakit dalam waktu 1-4 hari dan pengujian memakan waktu tiga hari. Kapasitas produksi ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan target pemerintah. (Yoga)