Ekonomi
( 40733 )Laba Emiten Rokok Menguap
Kenaikan tarif cukai jadi bandul pemberat kinerja keuangan emiten rokok. Di semester pertama tahun ini, seluruh emiten rokok membukukan rapor merah. Terbaru, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) melaporkan pendapatan yang terkoreksi 10,45% secara tahunan menjadi Rp 50,01 triliun di semester I-2024. Padahal, di periode yang sama tahun 2023, GGRM masih mencatat penjualan dan pendapatan Rp 55,85 triliun. Alhasil, laba bersih GGRM di enam bulan pertama tahun ini tergerus 71,8% menjadi Rp 925,51 miliar dari Rp 3,28 triliun di semester I-2023. Direktur dan Sekretaris Perusahaan Gudang Garam, Heru Budiman menyampaikan, penurunan kinerja keuangan perseroan dipicu turunnya volume penjualan. Ini imbas dari kenaikan tarif cukai. Pada 2024, pemerintah menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok sebesar 10%. Dus, kebijakan itu mengerek harga jual rokok. Heru bilang, hingga akhir Juni 2024, volume penjualan rokok GGRM mencapai 27,8 miliar batang. Turun 14,4% dari periode sama tahun lalu sebanyak 32,5 miliar batang. Biaya pokok pendapatan GGRM mencapai Rp 44,95 triliun pada semester I-2024, turun 6,2% dari sebelumnya Rp 47,91 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Penyebabnya, kenaikan biaya cukai 3,1% dan penurunan volume penjualan. Penurunan laba juga dialami PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP). Di semester I-2024, HMSP mencetak laba bersih Rp 3,31 triliun, turun 11,55% secara tahunan dari Rp 3,75 triliun per Juni 2023.
Penurunan laba HMSP terjadi ketika penjualan bersih emiten ini naik 2,96% secara tahunan menjadi Rp 57,81 triliun.
Senasib, PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) mencatat penurunan laba dan pendapatan di semester I-2024. Di periode ini, WIIM meraup laba bersih Rp 147,24 miliar, anjlok 40,35% secara tahunan. Penurunan laba WIIM seiring merosotnya penjualan sebesar 6,68% secara tahunan jadi Rp 2,22 triliun.
Direktur PT Rumah Para Pedagang Kiswoyo Adi memproyeksi, prospek kinerja emiten rokok hingga akhir tahun ini masih berat. Salah satu sentimen, kenaikan tarif cukai progresif dan pembatasan iklan rokok untuk masyarakat. "Sudah iklan dibatasi, kenaikan cukai juga progresif," kata Kiswoyo.
Sedangkan Equity Analyst Kanaka Hita Solvera William Wibowo merekomendasi
buy on weakness
HMSP dan GGRM dengan target harga masing-masing hingga akhir tahun Rp 950 dan Rp 19.500 per saham.
Ketidakserasian KIM Plus di Pulau Jawa
Peta kandidat dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) di wilayah strategis seperi Pulau Jawa sudah terlihat jelas. Sebagian besar partai politik sudah mengajukan jagonya untuk pemiliihan gubernur dan wakil gubernur (pilgub).
Di Jawa Timur, tiga calon pemimpin perempuan bakal bertarung. Ada Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak yang diusung Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus yang terdiri 15 partai. Ini minus partai parlemen yakni PDI Perjuangan dan Partai Kebangkitan Sejahtera (PKB).
PDIP bersama Partai Hanura dan Partai Ummat mengusung Menteri Sosial Tri Rismaharini dan Wakil Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur Zahrul Azhar Asad (Gus Hans). Sedangkan PKB mengusung kader partainya, yakni Luluk Nurhamidah dan Lukmanul Khakim.
Sedangkan di Jawa Tengah, KIM Plus mengajukan pasangan Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen. Kemudian PDIP menjagokan kadernya yakni mantan panglima TNI Andika Perkasa dan Hendrar Prihadi.
Di Jakarta, jagoan KIM Plus, Ridwan Kamil-Suswono akan bersaing dengan calon dari PDIP, Pramono Anung-Rano Karno, serta pasangan independen Dharma Pongrekun dan Kun Wardana.
Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin menyebutkan, beragamnya pilihan kandidat kepala daerah tersebut menunjukkan anggota KIM Plus tidak semuanya berjalan beriringan di setiap daerah. Pasalnya parpol-parpol di KIM Plus yang punya keunggulan di daerah tertentu mengusung jagoannya masing-masing.
Presiden Joko Widodo yang tengah mendapatkan sorotan, berharap ajang pilkada serentak bisa berjalan demokratis karena banyaknya pilihan yang disodorkan parpol.
Emas ANTAM Tetap Memikat
Sikap dovish bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve membuat harga emas spot menguat. Tapi, laju harga emas Antam tak sekencang emas spot, lantaran rupiah cenderung menguat terhadap dolar AS. Kendati begitu, emas Antam masih bisa memberi cuan asal membeli di waktu yang tepat. Dikutip dari situs Logam Mulia, harga pecahan satu gram emas Antam pada Kamis (29/8) berada di Rp 1.412.000, turun Rp 21.000 atau 1,43% dari harga di awal bulan Agustus (1/8) Rp 1.433.000. Pengamat Komoditas dan Pasar Uang Lukman Leong mengatakan, penguatan rupiah menjadi faktor yang membuat harga emas Antam tidak ikut melonjak. "Rupiah menguat hampir 1000 poin atau sekitar 6% sejak awal bulan, sedangkan emas dunia hanya naik kurang dari 3%. Jadi jika dirupiahkan, harga emas Antam turun sekitar 3%," katanya ke KONTAN, Kamis (29/8). Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo juga mengatakan, selain sentimen suku bunga, masih ada sejumlah katalis yang akan mempengaruhi pergerakan harga emas. Founder Traderindo.com. Wahyu Tribowo Laksono mengatakan, harga emas Antam masih bisa bullish sampai akhir tahun. Jika dolar AS menguat dan harga emas global melemah, emas Antam masih dapat berfungsi sebagai lindung nilai terhadap dolar AS.
Apalagi, rupiah sejatinya masih rentan melemah dalam jangka panjang dan menengah. Prediksi Wahyu, harga emas antam di Rp 1,5 juta–Rp 1,6 juta per gram.
Sedangkan Sutopo memprediksi, harga logam mulia ini akan berada di kisaran Rp 1,5 juta per gram. Nah, bulan September adalah siklus tahunan penurunan harga emas.Sehingga, investor dapat membeli dan menyimpan setelah akhir September 2024.
Jika penguatan rupiah terus berlanjut, harga emas Antam tidak akan jauh berubah. Menurutnya rupiah berpotensi menguat ke Rp 15.000 Dus, harga emas antam pada akhir tahun sejutar Rp 1.48 juta. Lukman melihat belum terlambat melakukan pembelian, terutama jika punya target investasi jangka panjang.
Efek Insentif dan Suku Bunga
Pundi-pundi laba PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) masih akan padat berisi di sisa tahun ini. Kinerja emiten properti Grup Sinar Mas itu disokong sejumlah sentimen positif, seperti prospek suku bunga yang lebih rendah dan berlanjutnya insentif sektor properti. Di separuh pertama tahun ini, kinerja BSDE lumayan moncer. Pendapatan usaha BSDE naik 46,99% menjadi Rp 7,34 triliun. Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Yasmin Soulisa mengatakan, solidnya kinerja BSDE akibat penjualan properti yang lebih tinggi dan margin yang lebih baik. Sebagian besar pertumbuhan segmen properti berasal dari proyek perumahan yang tumbuh 84,8% year on year (yoy) menjadi Rp 3,12 triliun. Yasmin juga menyoroti, margin laba kotor dan laba bersih BSDE semakin membaik. Dengan margin yang lebih tinggi dan kerugian valuta asing (valas) yang lebih rendah, BSDE pun bisa mengantongi laba bersih yang tinggi, 94,3% yoy. Angka ini melampaui ekspektasi Ciptadana Sekuritas dan konsensus. Analis Kiwoom Sekuritas, Vicky Rosalinda menambahkan, solidnya kinerja keuangan BSDE juga terlihat dari capaian prapenjualan alias marketing sales. Hingga akhir Juni 2024 lalu, BSDE mencetak marketing sales sebesar Rp 4,84 triliun, setara 51% dari target tahun 2024 yakni Rp 9,5 triliun. Vicky memprediksi, kinerja BSDE hingga akhir tahun ini masih akan melanjutkan tren pertumbuhan.
Optimisme itu seiring adanya potensi pemangkasan suku bunga acuan yang dapat mengurangi beban penjualan properti, serta menjadi daya tarik bagi sektor properti.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Ahnaf Yassar juga menilai, pemotongan suku bunga memungkinkan peningkatan laba yang cukup besar dan meningkatkan sentimen harga saham BSDE. Suku bunga rendah akan membantu mengurangi beban bunga BSDE yang sebesar 23% dari laba sebelum pajak di semester I-2024.
Yasmin menambahkan, BSDE juga akan mendapat cuan dari layanan operasi jalan tol yang makin ramai. Yasmin pun merevisi naik perkiraan pendapatan dan laba bersih BSDE menjadi Rp 14.77 triliun dan Rp 4.04 triliun di akhir tahun ini.
Namun, Vicky menyarankan
wait and see
dahulu karena harga BSDE sudah cukup tinggi. Jika menembus
resistance
, maka dapat
trading buy
Janji Dividen Menggiurkan dari Bank Pelat Merah
Laju pertumbuhan laba perbankan berjalan lambat di tahun ini. Meski begitu, sejumlah bank diperkirakan masih mampu memberikan dividen jumbo tahun depan, terutama bank pelat merah. Dalam Nota Keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025, pemerintah menargetkan dividen dari perusahaan pelat merah mencapai Rp 86 triliun, naik dari proyeksi tahun ini Rp 85,2 triliun. Selama ini, hampir separuh pembayaran dividen berasal dari bank BUMN. Toh, bank pelat merah tetap optimistis bisa berkontribusi memberi dividen besar. Beberapa tahun terakhir, salah satu penyumbang dividen terbesar bagi negara adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Bank berkode saham BBRI ini terakhir membayar dividen Rp 48,1 triliun. Tahun depan, BRI yakin masih bisa membagi dividen dengan nilai cukup gede. "Mau berapapun laba yang didapat BRI di tahun ini, rasio dividen BRI akan tetap besar," kata Direktur Utama BRI Sunarso. Ia menegaskan, BRI memiliki permodalan kuat, sehingga tak perlu menyisihkan laba ditahan. Saat ini, BRI mencetak CAR 24%.
Jika rasio tersebut turun 2% tiap tahunnya, Sunarso memastikan dividen tetap bisa dibagikan hingga lima tahun ke depan. "Kalau kami mau tumbuh, asumsi memakai modal 2% untuk tumbuh setiap tahun, maka kami jaga CAR minimum yang sangat prudent itu di 17,5%," ujar dia. Direktur Keuangan Bank Mandiri Sigit Prastowo menuturkan, selama lima tahun terakhir, Bank Mandiri telah membagikan dividen dengan rasio dividen 60% dari laba bersih. Ia bilang akan mempertahankan rasio dividen. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) juga mengusahakan membagi dividen di atas pembayaran di tahun ini. Atas kinerja tahun 2023, BTN telah membagi dividen Rp 700,19 miliar. Angka ini setara dengan 20% dari total laba BTN. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menjelaskan, pemberian dividen akan mempertimbangkan CAR. "Tapi kemungkinan saya kasih guidance pemberian dividen di 20%-25%," ujar dia.
Perjanjian Kerja Sama RI-Australia
Indonesia dan Australia menandatangani perjanjian kerja sama pertahanan yang telah dirundingkan beberapa waktu terakhir. Perjanjian ini meningkatkan kerja sama kedua negara dalam menghadapi berbagai ancaman keamanan. Perjanjian kerja sama pertahanan (defense cooperation agreement/DCA) ini ditandatangani Menhan RI Prabowo Subianto dan Deputi PM sekaligus Menhan Australia Richard Marles di Akmil, Magelang, Jateng, Kamis (29/8). Prabowo mengatakan, perjanjian ini merupakan tonggak bersejarah, sekaligus kelanjutan Perjanjian Lombok (2006) antara Indonesia dan Australia.
”Ini dilakukan untuk bersama-sama, sebagai tetangga yang berhubungan langsung, meningkatkan kerja sama untuk saling membantu mengatasi berbagai ancaman keamanan serta mempromosikan perdamaian dan stabilitas yang berkelanjutan di kawasan Asia Pasifik,” ujar Prabowo. Presiden terpilih RI itu menegaskan, DCA bukanlah suatu pakta militer atau aliansi militer, melainkan kerja sama pertahanan. ”Ini menandakan bahwa kita ingin meneruskan serta memelihara hubungan erat dan hubungan persahabatan yang sangat baik. Saya bertekad untuk menjaga hubungan Indonesia-Australia menjadi lebih baik di masa yang akan datang,” tutur Prabowo. Marles mengungkapkan, hubungan Indonsia-Australia sebagai teman terdekat tecermin dalam perjanjian kerja sama pertahanan ini.
”DCA di antara kedua negara kita ini adalah yang terdalam dan paling signifikan dalam sejarah hubungan bilateral kita,” katanya. DCA adalah perjanjian bahwa Indonesia dan Australia akan bekerja sama lebih erat dalam bidang pertahanan, di antaranya, dalam meningkat-kan interoperabilitas di antara kekuatan pertahanan kedua negara. Selain itu juga kemampuan untuk beroperasi dari wilayah negara mitra. ”Kita bisa bekerja sama untuk kepentingan kita bersama, seperti menjaga tatanan dunia berbasis aturan,” ujar Marles. Salah satu perwujudan dari kerja sama pertahanan itu adalah latihan militer bersama. Marles mengungkapkan, Indonesia-Australia akan menggelar latihan bersama terbesar pada November tahun ini di Surabaya, Jatim. Latihan itu melibatkan 2.000 personel matra darat, laut, dan udara dari kedua negara. ”Ini sekaligus menjadi latihan terbesar bagi Australia di luar negeri tahun ini,” kata Marles. (Yoga)
Industri Media Terdisrupsi
Perkembangan teknologi telah menyebabkan dua kali disrupsi media. Pertama terkait dengan cara mendapatkan iklan dan kini di intinya, yaitu produksi konten. Media massa menghadapi tantangan tidak mudah di era kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI). Penggunaan kecerdasan buatan melahirkan peluang sekaligus ancaman bagi ekosistem media. Untuk itu, perusahaan media sebagai publisher perlu membangun hubungan yang setara dengan platform digital guna mendukung jurnalisme berkualitas. Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wahyu Dhyatmika mengutarakan, kondisi media massa di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Disrupsi teknologi digital tidak terhindarkan. Namun, banyak media tidak siap menghadapinya.
Adaptasi dan inovasi menjadi kunci menghadapi disrupsi. Selain itu, media juga perlu bernegosiasi dengan platform yang mendominasi distribusi konten di ranah digital. Apalagi, teknologi kecerdasan buatan memungkinkan platform memproduksi ulang informasi yang bersumber dari konten-konten di media massa (Kompas.id, 8/8/2024). Disrupsi yang pertama terjadi ketika platform mampu menarik pemasang iklan dibandingkan dengan media konvensional. Mereka menggunakan teknik programatik sehingga audiens target lebih bisa dijangkau dengan tepat. Media sebagai penyedia konten tak bisa bersaing. Kemudian, muncul jalan tengah agar platform membagikan pendapatannya untuk media konvensional dengan alasan konten-konten mereka selama ini digunakan untuk kepentingan bisnis.
Kini media mendapat ancaman baru, yaitu produksi konten menggunakan kecerdasan buatan. Perusahaan AI mampu memproduksi konten atau hasil olahan dengan basis konten yang ada di media konvensional, jurnal, dan lainnya. Produksi konten ini otomatis mengancam media konvensional di jantung bisnisnya. Apa yang terjadi dengan media jika konten-konten bermutu, analisis, prediksi, dan lain-lain bisa dihasilkan oleh mesin? Media harus melakukan transformasi. Kemampuan mesin dalam hal ini kecerdasan buatan generatif akan makin akurat dan sesuai kebutuhan pengguna. Meski demikian, prinsip kerja di media yang berlandaskan jurnalisme harus diyakini oleh media itu sendiri sebagai cara yang teruji dan paling tepat dalam menyampaikan informasi kepada publik. (Yoga)
Diversifikasi Pendapatan Media
Disrupsi digital menggoyahkan industri media massa. Banyak media kelimpungan karena pendapatannya menurun. Sejumlah media siber mengandalkan iklan programatik untuk bertahan. Namun, ketergantungan terhadap iklan programatik harus dikurangi karena tren dan polanya tidak bisa dikontrol perusahaan pers. Oleh sebab itu, media memerlukan diversifikasi pendapatan untuk menyehatkan ekosistem bisnis media. Adaptasi dan inovasi menjadi kunci bagi media massa menghadapi gelombang disrupsi. Bukan hanya dalam memproduksi konten, tapi juga dalam membangun model bisnis yang berkelanjutan. Ketua Umum Indonesia Digital Association (IDA) Dian Gemiano menuturkan, menurunnya pendapatan media dari iklan programatik perlu dimitigasi. Tak cuma mengantisipasi dampaknya terhadap sektor bisnis, tetapi ekosistem pers secara keseluruhan.
Sebab, iklan programatik tidak membedakan konten jurnalistik berkualitas dengan konten yang biasa-biasa saja, bahkan konten yang menjiplak. Padahal, perusahaan media atau publisher menggunakan berbagai sumber daya yang tidak murah untuk memproduksi konten. ”Iklan programatik tidak bisa dikontrol media. Ketika iklannya menurun dengan alasan apa pun, media tidak bisa berbuat apa-apa. Ini bukan model bisnis yang berkelanjutan bagi industri media,” ujarnya seusai menghadiri diskusi ”Strategi Revenue Stream Baru untuk Media Digital” dalam Indonesia Digital Conference di Jakarta, Kamis (29/8). Gemiano mengatakan, memang tidak semua iklan programatik tak menghargai konten jurnalistik berkualitas. Namun, polanya yang di luar kendali berpotensi membuat ekosistem bisnis media menjadi tidak sehat jika terlalu menggantungkan pemasukan dari iklan tersebut.
Karena itu, media harus mencari sumber pendapatan bervariasi. Iklan langsung ke perusahaan media perlu diperkuat. Selain itu, masih ada sumber pendapatan lain yang bisa dioptimalkan, seperti pengolahan data, event, dan riset. ”Memang tidak murah, perlu investasi. Namun, ini bisa dilakukan bertahap. Diversifikasi revenue bertujuan untuk memecah sumber-sumber pendapatan. Lambat laun ketergantungan media pada iklan itu semakin berkurang sehingga diharapkan menyehatkan ekosistem media,” katanya. Gemiano menambahkan, peluang diversifikasi pendapatan itu tak cuma terbuka bagi media nasional, tetapi juga media berskala kecil di daerah. Media di daerah, bisa memproduksi konten yang menonjolkan kekhasan setiap wilayah. (Yoga)
Penawaran Pembelian 7-Eleven
Mengutip laporan BBC, Rabu (21/8) pemilik 7-Eleven, yakni Seven & i Holdings Co, mengumumkan bahwa mereka mendapat penawaran pembelian dari Couche-Tard, yang notabene rival mereka. Rencana tersebut mengejutkan seantero Jepang karena perusahaan Jepang sebesar itu tak pernah dibeli perusahaan asing. Perusahaan Jepang lebih sering mengakuisisi bisnis asal luar negeri. Saat ini, 7-Eleven tercatat sebagai toserba dengan jaringan terbesar di dunia, yakni 85.000 gerai di 20 negara dan wilayah. Toserba itu sukses menjual makanan lezat, yang cepat dan murah, khususnya di negara yang memiliki gerai serupa, seperti Jepang dan Thailand. Dari 85.000 gerai 7-Eleven di dunia, 21.500 gerai berada di Jepang. ”Kami memiliki lebih banyak gerai ketimbang McDonald’s dan Starbucks,” kata Chief Executive Seven & i Holdings Ryuichi Isaka kepada BBC sebelum perusahaan itu menerima penawaran pembelian.
Seperti dilansir Reuters, Seven & i telah menerima proposal awal yang bersifat rahasia dan tak mengikat dari Alimentation Couche-Tard untuk semua saham perusahaan yang beredar. Adapun dewan direksi Seven & i telah membentuk komite khusus guna meninjau proposal itu dan membahas alternatif-alternatifnya. Kabar pengajuan proposal tersebut membuat saham Seven & i melonjak ke level tertinggi harian sebesar 23 %. Kondisi itu membuat nilai perusahaan mendekati rekor tertinggi, yakni 38 miliar USD. Pada 26 Agustus 2024, saham Seven & i ditutup dengan kenaikan 16 % dibanding harga pada 16 Agustus atau perdagangan terakhir sebelum penawaran Couche-Tard tiba. Apabila penjualan 7-Eleven terjadi, hal itu akan menjadi pembelian terbesar yang dilakukan perusahaan asing terhadap perusahaan asal Jepang.
Data London Stock Exchange Group (LSEG) menunjukkan, akuisisi terbesar sebelumnya ialah kesepakatan pembelian memory chip unit Toshiba oleh konsorsium yang dipimpin perusahaan investasi asal AS, Bain Capital, pada 2018 sebesar 18 miliar USD. Bagi para investor, penjualan 7-Eleven dinilai bakal menjadi tonggak sejarah mengenai ketertarikan asing pada aset-aset Jepang yang dulunya dijauhi. Perubahan dalam tata kelola juga bakal membawa perubahan penting bagi Jepang dan perusahaan Jepang. ”Kami melihat itu seiring didirikannya sejumlah kantor dan perekrutan karyawan di Jepang,” kata pendiri konsultan investasi BDA China, Duncan Clark, dikutip CNBC. Adapun Couche-Tard, yang didirikan pada 1980, telah berkembang dari satu gerai di Quebec, Kanada, menjadi jaringan gerai serba ada dan SPBU global. (Yoga)
Insentif Bebas Pajak Kurang Dimanfaatkan Apartemen
Perpanjangan PPN yang Ditanggung Pemerintah atau PPN DTP sebesar 100 % untuk rumah komersial hingga akhir tahun 2024 perlu didorong untuk pemasaran apartemen. Selama ini, insentif rumah bebas pajak itu belum banyak dimanfaatkan dalam pemasaran apartemen. Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat mengemukakan, perpanjangan PPN DTP sebesar 100 % hingga akhir tahun 2024 merupakan kelanjutan dari kebijakan insentif rumah bebas pajak sejak 2021. PPN DTP menyasar pasar residensial tapak ataupun apartemen yang selesai dibangun, siap huni, dan siap diserahterimakan. Sepanjang semester I (Januari-Juni) 2024, tercatat 22.000 unit hunian atau residensial yang terserap lewat skema PPN DTP, tapi, insentif fiskal itu masih lebih banyak dimanfaatkan untuk transaksi rumah tapak.
Sementara, pemasaran apartemen milik atau kondominium belum banyak memanfaatkan insentif PPN DTP. Tercatat hanya 13 % dari 24.000 unit apartemen siap huni yang belum terjual menerapkan skema PPN DTP. Padahal, harga apartemen yang dipasarkan telah memenuhi kriteria PPN DTP. ”Ada segregasi lebih kecil dari pengembang apartemen yang memberlakukan PPN DTP. Maka, penetrasi program PPN DTP perlu diperluas. Stimulan ini tidak hanya diso-sialisasikan dan didorong untuk rumah tapak, tetapi juga rumah vertikal siap huni,” kata Syarifah dalam konferensi pers ”Jakarta Property Highlight H1-2024”, secara daring, Kamis (29/8). (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









