Transportasi Publik di Jabodetabek
Transportasi publik yang mampu mengurangi kemacetan dan polusi menjadi salah satu kebutuhan warga, termasuk di Jabodetabek, untuk bermobilitas. Sejauh mana warga menggunakan transportasi umum? Menurut Bernadetha Rosari Prathivi (25) karyawati swasta di Jakarta, kalau dari ongkos, pasti lebih irit. Misalnya, mau ke Kuningan, Jaksel, hanya butuh Rp 3.500 naik bus, sedang ojek daring Rp 30.000. Ongkosnya 10 kali lipat dan itu bisa untuk pergi pulang selama lima hari. Jadi, lumayan menghemat. Namun, ada beberapa halte yang kapasitasnya tak mampu menampung penumpang, bahkan sampai harus antre mengular panjang. Dan, tidak semua halte besar ada toiletnya, padahal itu kebutuhan dasar.
“Kalau di area Jakarta yang bisa dijangkau sepeda motor, aku naik sepeda motor. Kadang lebih repot naik KRL jika masih harus transit di Jakarta. Secara keseluruhan, stasiun KRL memang sudah baik. Namun, masih ada beberapa stasiun yang sulit untuk akses parkir sepeda motor. Saya, berharap transportasi umum dapat menjangkau beragam kawasan yang lebih jauh supaya konektivitas lebih optimal. Tempat parkir kendaraan pribadi juga perlu disediakan,” ujar Dwina (28), karyawan swasta.
“Menurut saya, integrasi moda transportasi umum di Jakarta cukup membantu. Hanya saja, kerap terjadi penumpukan penumpang. Bahkan, tak jarang desak-desakan di KRL, yang bisa memicu konflik sesama penumpang. Tarif terbilang murah, tapi beberapa transportasi umum, seperti KRL dan Transjakarta, masih perlu menambah armada, mengingat banyaknya minat masyarakat menggunakan transportasi umum di Jakarta,” kata Widya Islamiati (25), karyawan swasta di Jakarta. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023