Nilam Aceh yang Mewangi hingga Eiffel
Jika suatu hari Anda berkesempatan jalan-jalan sampai ke Menara Eiffel di Paris, Perancis, dan mencium wangi parfum di antara wisatawan di sana, barangkali ada minyak nilam asal Aceh di rantai produksinya. Semprotan minyak wangi atau parfum hampir tak bisa dilepaskan dari aktivitas kita. Aroma wangi mampu meningkatkan kepercayaan diri, bahkan dapat memengaruhi suasana hati seseorang. Berdasarkan data Statista, pendapatan segmen fragrance alias wewangian di Indonesia terus meningkat selama 2023-2028 dengan pertumbuhan 14,36 %. Pada 2023, pendapatannya 429,69 juta USD. Pada 2028, sebanyak 491,36 juta USD. Namun, tak banyak yang tahu, ada rantai pasok global yang melibatkan banyak pihak dalam proses produksi parfum. Dalam konteks Indonesia, ini misalnya dimulai dari petani nilam di Aceh.
Di balik aneka wewangian, patchouli atau minyak nilam merupakan salah satu unsur dalam produksinya. Minyak nilam digunakan sebagai bahan fiksatif alias untuk membuat aroma parfum bertahan lama. Minyak itu dihasilkan melalui proses panjang, dimulai dari tahapan distilasi. Minyak nilam merupakan jenis minyak asiri (essential oil). Selain sebagai salah satu bahan baku parfum, minyak asiri juga digunakan sebagai bahan perasa (essence), perisa (flavor), dan wewangian (fragrance) dalam makanan, minuman, jamu, sabun, pasta gigi, dan kosmetik. Ali Ibrahim (66) petani nilam, pada pertengahan Agustus 2024 berkata, Untuk bisa menghasilkan minyak asiri dari proses distilasi dibutuhkan waktu 8-12 jam. ”Harus tunggu satu jam dulu, baru keluar minyaknya,” kata Ali saat ditemui di Sentra Industri Nilam, Desa Umong Siribee, Aceh Besar, Selasa (13/8).
Ketel di Sentra Industri Nilam menghasilkan 1,5 kg minyak nilam. Dengan dua kali pengoperasian sehari, total produksi minyak nilam sebanyak 3 kg. Saat ini, para petani di wilayah itu sedang antusias menanam nilam. Sebab, harga jual minyak nilam mencapai Rp 1,68 juta per kg. Namun, butuh waktu hingga tujuh bulan agar nilam siap dipanen. Sebelumnya, harga minyak nilam hasil produksi para petani bergantung tengkulak. Untuk 1 kg minyak nilam, pernah harganya hanya Rp 400.000 sehingga para petani bersikap mana suka dalam menanam nilam. Kemudian, Atsiri Research Center (ARC)/Pusat Penelitian Nilam Universitas Syiah Kuala bersama PT Bank Syariah Indonesia Tbk datang untuk menginisiasi Sentra Industri Nilam pada 2022. Seluruh minyak nilam petani dibeli ARC dengan ambang batas minimal Rp 700.000 dan mengikuti kenaikan harga di pasar. Alhasil, harga minyak nilam pun stabil dan cenderung terus naik.
Pendamping Sentra Industri Nilam, Rifyal Faruqi (33), menyebut, ”Dampak terbesar itu soal stabilitas harga, Dengan harga Rp 700.000, petani untung Rp 150.000-Rp 200.000 per kg minyak. Saat awal penanaman, mereka mengeluarkan biaya Rp 550.000. Dengan harga sekarang Rp 1,68 juta-Rp 1,7 juta, sudah tiga kali lipat,” ujarnya. Dalam tiga tahun terakhir, ekspor minyak nilam mentah Indonesia meningkat enam kali lipat. Pada 2021, ekspor nilam tercatat 300 ton. Setahun kemudian menjadi 1.400 ton. Pada 2023, ekspornya tumbuh jadi 1.900 ton. Negara tujuan ekspor antara lain AS, Inggris, dan Perancis. Menurut lektor kepala di Program Studi Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Syaifullah Muhammad, minyak nilam Indonesia, khususnya Aceh, memiliki kualitas terbaik di dunia. Indonesia memasok 90 % dari total kebutuhan minyak nilam di dunia. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023