Ekonomi
( 40554 )Transportasi Publik di Jabodetabek
Transportasi publik yang mampu mengurangi kemacetan dan polusi menjadi salah satu kebutuhan warga, termasuk di Jabodetabek, untuk bermobilitas. Sejauh mana warga menggunakan transportasi umum? Menurut Bernadetha Rosari Prathivi (25) karyawati swasta di Jakarta, kalau dari ongkos, pasti lebih irit. Misalnya, mau ke Kuningan, Jaksel, hanya butuh Rp 3.500 naik bus, sedang ojek daring Rp 30.000. Ongkosnya 10 kali lipat dan itu bisa untuk pergi pulang selama lima hari. Jadi, lumayan menghemat. Namun, ada beberapa halte yang kapasitasnya tak mampu menampung penumpang, bahkan sampai harus antre mengular panjang. Dan, tidak semua halte besar ada toiletnya, padahal itu kebutuhan dasar.
“Kalau di area Jakarta yang bisa dijangkau sepeda motor, aku naik sepeda motor. Kadang lebih repot naik KRL jika masih harus transit di Jakarta. Secara keseluruhan, stasiun KRL memang sudah baik. Namun, masih ada beberapa stasiun yang sulit untuk akses parkir sepeda motor. Saya, berharap transportasi umum dapat menjangkau beragam kawasan yang lebih jauh supaya konektivitas lebih optimal. Tempat parkir kendaraan pribadi juga perlu disediakan,” ujar Dwina (28), karyawan swasta.
“Menurut saya, integrasi moda transportasi umum di Jakarta cukup membantu. Hanya saja, kerap terjadi penumpukan penumpang. Bahkan, tak jarang desak-desakan di KRL, yang bisa memicu konflik sesama penumpang. Tarif terbilang murah, tapi beberapa transportasi umum, seperti KRL dan Transjakarta, masih perlu menambah armada, mengingat banyaknya minat masyarakat menggunakan transportasi umum di Jakarta,” kata Widya Islamiati (25), karyawan swasta di Jakarta. (Yoga)
Penurunan Penjualan E-Dagang
Pemilik usaha kecil menengah yang berjualan di platform perdagangan secara elektronik atau e-dagang mulai mengeluhkan pengurangan pesanan. Mereka menduga hal itu ada kaitannya dengan penurunan daya beli. Pemilik platform e-dagang Thenblank, UKM bidang pakaian jadi, Mutiara Kamila Athiyya, yang ditemui di sela Festival Beli Lokal di Plaza Timur Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (24/8) menceritakan, penurunan pesanan terasa tahun 2024, sampai 20 %. ”Mei 2024 sudah terasa penurunan pesanan. Lalu, Juni 2024, tim internal kami melakukan clearance stok. Selanjutnya, Juli, juga masih terasa penurunan pesanan, tapi Agustus yang masih berjalan sejauh ini mulai ada perbaikan keadaan,” ucapnya.Festival Beli Lokal diselenggarakan dalam rangka peringatan ulang tahun ke-15 Tokopedia.
Lebih dari 100 mitra UKM ikut serta dalam festival ini. Mutiara berharap penurunan pesanan disebabkan memang ada pengaruh faktor musiman tengah tahun yang biasanya konsumen banyak pengeluaran lain, seperti biaya sekolah anak. Meski demikian, di sisi lain, Thenblank juga berusaha mengencangkan konten-konten produk di Tiktok, termasuk konsisten menjalankan live shopping dan menggelar aneka promo. Mengikuti festival belanja, baik daring maupun luring, menurut dia, sangat membantu. Thenblank juga rajin berkomunikasi dengan platform lokapasar, seperti Tokopedia, untuk mengupayakan berbagai inisiatif supaya konsumen tetap tertarik berbelanja daring.
”Memang harus tetap melakukan promo,” katanya. Saat ini, porsi penjualan produk Thenblank 70 % dari saluran daring dan 30 % luring. Sesuai data BPS, dari sisi pengeluaran, ada tren perlambatan konsumsi rumah tangga. Selama tiga triwulan terakhir, konsumsi masyarakat tumbuh di bawah level 5 %. Chief Marketing Officer Kintakun (produsen seprai dan selimut) Vincent Saputra mengungkap, sekarang ada realitas sejumlah konsumen yang lebih sensitif terhadap harga barang. Di lokapasar pun kenyataan itu juga terjadi. ”Ada segmen pasar yang lebih memilih mencari harga rendah. Untuk menghadapi situasi ini, kami upayakan mencari bahan-bahan kain yang baik, tetapi harga produk jadinya lebih murah,” ucap Vincent. (Yoga)
Nilam Aceh yang Mewangi hingga Eiffel
Jika suatu hari Anda berkesempatan jalan-jalan sampai ke Menara Eiffel di Paris, Perancis, dan mencium wangi parfum di antara wisatawan di sana, barangkali ada minyak nilam asal Aceh di rantai produksinya. Semprotan minyak wangi atau parfum hampir tak bisa dilepaskan dari aktivitas kita. Aroma wangi mampu meningkatkan kepercayaan diri, bahkan dapat memengaruhi suasana hati seseorang. Berdasarkan data Statista, pendapatan segmen fragrance alias wewangian di Indonesia terus meningkat selama 2023-2028 dengan pertumbuhan 14,36 %. Pada 2023, pendapatannya 429,69 juta USD. Pada 2028, sebanyak 491,36 juta USD. Namun, tak banyak yang tahu, ada rantai pasok global yang melibatkan banyak pihak dalam proses produksi parfum. Dalam konteks Indonesia, ini misalnya dimulai dari petani nilam di Aceh.
Di balik aneka wewangian, patchouli atau minyak nilam merupakan salah satu unsur dalam produksinya. Minyak nilam digunakan sebagai bahan fiksatif alias untuk membuat aroma parfum bertahan lama. Minyak itu dihasilkan melalui proses panjang, dimulai dari tahapan distilasi. Minyak nilam merupakan jenis minyak asiri (essential oil). Selain sebagai salah satu bahan baku parfum, minyak asiri juga digunakan sebagai bahan perasa (essence), perisa (flavor), dan wewangian (fragrance) dalam makanan, minuman, jamu, sabun, pasta gigi, dan kosmetik. Ali Ibrahim (66) petani nilam, pada pertengahan Agustus 2024 berkata, Untuk bisa menghasilkan minyak asiri dari proses distilasi dibutuhkan waktu 8-12 jam. ”Harus tunggu satu jam dulu, baru keluar minyaknya,” kata Ali saat ditemui di Sentra Industri Nilam, Desa Umong Siribee, Aceh Besar, Selasa (13/8).
Ketel di Sentra Industri Nilam menghasilkan 1,5 kg minyak nilam. Dengan dua kali pengoperasian sehari, total produksi minyak nilam sebanyak 3 kg. Saat ini, para petani di wilayah itu sedang antusias menanam nilam. Sebab, harga jual minyak nilam mencapai Rp 1,68 juta per kg. Namun, butuh waktu hingga tujuh bulan agar nilam siap dipanen. Sebelumnya, harga minyak nilam hasil produksi para petani bergantung tengkulak. Untuk 1 kg minyak nilam, pernah harganya hanya Rp 400.000 sehingga para petani bersikap mana suka dalam menanam nilam. Kemudian, Atsiri Research Center (ARC)/Pusat Penelitian Nilam Universitas Syiah Kuala bersama PT Bank Syariah Indonesia Tbk datang untuk menginisiasi Sentra Industri Nilam pada 2022. Seluruh minyak nilam petani dibeli ARC dengan ambang batas minimal Rp 700.000 dan mengikuti kenaikan harga di pasar. Alhasil, harga minyak nilam pun stabil dan cenderung terus naik.
Pendamping Sentra Industri Nilam, Rifyal Faruqi (33), menyebut, ”Dampak terbesar itu soal stabilitas harga, Dengan harga Rp 700.000, petani untung Rp 150.000-Rp 200.000 per kg minyak. Saat awal penanaman, mereka mengeluarkan biaya Rp 550.000. Dengan harga sekarang Rp 1,68 juta-Rp 1,7 juta, sudah tiga kali lipat,” ujarnya. Dalam tiga tahun terakhir, ekspor minyak nilam mentah Indonesia meningkat enam kali lipat. Pada 2021, ekspor nilam tercatat 300 ton. Setahun kemudian menjadi 1.400 ton. Pada 2023, ekspornya tumbuh jadi 1.900 ton. Negara tujuan ekspor antara lain AS, Inggris, dan Perancis. Menurut lektor kepala di Program Studi Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Syaifullah Muhammad, minyak nilam Indonesia, khususnya Aceh, memiliki kualitas terbaik di dunia. Indonesia memasok 90 % dari total kebutuhan minyak nilam di dunia. (Yoga)
Tingkat Pengangguran Tinggi
Pertumbuhan Ekonomi di Masa Pilkada
Industri Perbankan Berhasil Meraup Laba Bersih Sebesar Rp 126,52 Triliun
Pertumbuhan Kredit Konsumer
Saham BREN Bergerak Positif
Imbal Hasil Meningkat, Beban Bunga Utang Meroket
Likuiditas dan perebutan dana global masih akan ketat pada tahun depan. Satu indikasinya, pemerintah mengerek suku bunga surat berharga negara (SBN) acuan 10 tahun pada 2025. Hanya saja, kebijakan itu justru ditempuh di tengah ekspektasi penurunan suku bunga global terutama Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), yang semestinya membuka peluang melandainya tingkat bunga surat utang pemerintah. Mengacu dokumen Buku II Nota Keuangan beserta Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025, pemerintah mematok tingkat bunga SBN 10 tahun sebesar 7,1%. Angka ini naik dibandingkan outlook 2024 yang sebesar 6,9%. Di dokumen itu dijelaskan bahwa pelonggaran kebijakan moneter The Fed berpotensi mendorong masuknya aliran modal asing ke dalam pasar SBN, sehingga mendorong penurunan imbal hasil ( yield ). Nah tahun depan, pemerintah memang akan merilis SBN lebih besar untuk menutup defisit anggaran. Dengan defisit Rp 616,2 triliun atau 2,53% dari produk domestik bruto (PDB), pemerintah akan menerbitkan surat utang hingga Rp 642,6 triliun, naik signifikan sebesar 42,2% dari outlook penerbitan SBN tahun ini. Itu belum termasuk penerbitan SBN untuk pembayaran utang jatuh tempo.
Dari data Kementerian Keuangan (Kemkeu) per Mei 2024, posisi SBN jatuh tempo tahun 2025 mencapai Rp 705,5 triliun.
Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai, bunga SBN 10 tahun meningkat pada tahun depan lantaran risiko SBN yang tinggi akibat kondisi fiskal yang buruk. Salah satunya tecermin dari tingginya rasio pembayaran utang terhadap penerimaan negara alias
debt service ratio
(DSR).
Meski demikian, ia menilai, tingkat bunga SBN sebesar 7,1% pada tahun depan juga dinilai tinggi. Bahkan lebih tinggi ketimbang negara tetangga seperti Malaysia dengan tingkat bunga surat utang 10 tahun hanya 3,75%.
Dampaknya, kata Wijayanto, APBN semakin terbebani dengan pembayaran bunga yang terus melejit. Padahal bunga utang sebesar Rp 552,85 triliun tadi, juga naik 10,8% dibandingkan
outlook
2024. Meski demikian, para ekonom bank sepakat, imbal hasil SBN pada tahun depan bisa menurun. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksi, bunga SBN 2025 bisa tetap di bawah 7%. Ekonom Maybank Myrdal Gunarto memproyeksikan imbal hasil SBN 10 tahun di 2025 di level 6,32%.
Waspada Beban Utang yang Semakin Membengkak
Beban fiskal pemerintahan Prabowo Subianto bakal semakin berat. Lihat saja, utang jatuh tempo pemerintah dalam tiga tahun ke depan akan menembus puncaknya, yakni rata-rata per tahun senilai Rp 800 triliun. Kementerian Keuangan mencatat, utang jatuh tempo pemerintah secara berturut-turut pada 2025, 2026, 2027 mencapai Rp 800,33 triliun, Rp 803,49 triliun dan Rp 802,61 triliun. Di sisi lain, posisi utang pemerintah hingga akhir Juli tahun ini sebesar Rp 8.502,69 triliun. Jumlah itu meningkat 4% dibandingkan akhir 2023 senilai Rp 8.144,69 triliun. Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemkeu) Suminto menjelaskan, pemerintah menerbitkan utang untuk membiayai defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dalam rangka memenuhi belanja prioritas untuk kesejahteraan masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Suminto mengungkapkan, pelebaran defisit APBN dalam rangka penangangan pandemi Covid-19 tentu berimplikasi pada bertambahnya utang pemerintah. Debt to GDP ratio yang pada 2019 masih 30,23% meningkat tajam menjadi 39,39% (2020) dan 40,74% (2021).
Sejalan dengan konsolidasi fiskal, dimana realisasi defisit APBN 2022 terjaga 2,35% dan APBN 2023 di level 1,61%, maka pertumbuhan
debt to GDP ratio
dapat ditahan, yakni 39,70% (2022) dan 39,20% (2023).
Nilai utang pemerintah yang meningkat juga berimplikasi pada belanja bunga yang lebih besar. Realisasi belanja bunga dalam lima tahun terakhir adalah Rp 275,5 triliun (2019), Rp 314,1 triliun (2020), Rp 343,5 triliun (2021), Rp 386,3 triliun (2022) dan Rp 439,8 triliun (2023). Adapun anggaran belanja bunga 2024 sebesar Rp 497,3 triliun, dengan
outlook
Rp 498,9 triliun.
Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai, pemerintahan Prabowo mesti mencermati sentimen pasar terkait beban pembayaran utang jatuh tempo Rp 800 triliun. "Penghakiman market biasanya lebih kejam, jadi rupiah bisa goyang dan lain-lain, jadi pemerintah harus mampu membayar," ungkap dia, Minggu (25/8).
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, hal yang perlu dicermati pemerintah jika utang jatuh tempo cukup besar, maka pembayarannya akan memakan ruang fiskal. Kondisi tersebut akan mempersempit kesempatan pemerintah untuk mendapatkan pembiayaan untuk program-program baru.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









