Ekonomi
( 40460 )Kalangan Pengusaha Butuh Kepastian Hukum dan Politik
Kebijakan The Fed Menurunkan Suku Bunga
BNI Siap Perkuat Anak Usaha
Pertumbuhan Pasar Modal Tergantung Stabilitas Politik
Bursa Tetap Bersinar
Meskipun mengalami koreksi pada perdagangan Kamis, 22 Agustus, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan kembali menguat di sisa tahun 2024. Pada perdagangan sebelumnya, IHSG mencapai rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) di level 7.554,59. Penurunan sebesar 0,87% yang terjadi pada Kamis ini disebabkan oleh aksi ambil untung dan situasi politik yang memanas, terkait demonstrasi besar-besaran menolak pengesahan RUU Pilkada. Namun, para pelaku pasar tetap optimistis bahwa tren positif IHSG akan berlanjut, didorong oleh masuknya aliran dana investor asing.
Menurut Satria Sambijantoro, Head of Research Bahana Sekuritas, "Aksi beli investor asing ke pasar saham Indonesia berpotensi berlanjut karena masih banyak katalis positif." Ia menambahkan bahwa meskipun IHSG sempat tertekan akibat demonstrasi, stabilitas politik Indonesia dinilai masih lebih kondusif dibandingkan negara-negara lain.
Fath Aliansyah Budiman, Senior Research Analyst Lotus Andalan Sekuritas, menambahkan bahwa IHSG masih dapat reli dan mencapai level 7.800-8.000. Menurutnya, "Masuknya arus modal asing membuat pasar percaya diri sehingga IHSG kerap mencapai rekor baru."
Sementara itu, Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, juga melihat peluang akumulasi saham oleh investor asing yang masih terbuka, dengan target IHSG mencapai 7.640-7.720 di akhir tahun 2024.
Demokrasi dan Potensi Ledakan Ekonomi
Pasar saham Indonesia mencapai rekor tertinggi pada penutupan perdagangan Rabu, 21 Agustus, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 7.554,59. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga mengalami penguatan, menunjukkan stabilitas ekonomi. Namun, euforia ini hanya berlangsung sementara. Aksi massa yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, yang terjadi pada hari berikutnya mengakibatkan IHSG turun 1,11% ke level 7.470. Aksi ini merupakan respon terhadap keputusan DPR yang dianggap melawan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait revisi UU No. 10/2016 tentang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).
Keputusan DPR yang tidak sejalan dengan putusan MK dianggap sebagai "bentuk pembangkangan terhadap konstitusi" dan memicu reaksi massa yang meluas. Aksi ini juga berdampak pada psikologi pasar, di mana investor khawatir bahwa ketidakstabilan politik dapat mengganggu perekonomian negara.
Stabilitas politik untuk menarik investasi. Jika tatanan politik dan ekonomi yang demokratis dipertahankan, kepercayaan publik terhadap perekonomian akan terus tumbuh. Namun, jika hukum dan konstitusi terus diabaikan, ada kekhawatiran bahwa masyarakat akan mulai kehilangan kepercayaan pada sistem.
Impor Logam: Anomali di Negeri Kaya Nikel
Lonjakan impor bijih nikel pada Juni 2024 menjadi sorotan karena Indonesia, yang merupakan produsen nikel terbesar di dunia, justru mengalami peningkatan impor nikel. Berdasarkan riset PT UBS Sekuritas Indonesia, impor bijih nikel mencapai 896.000 wet metric ton (wmt), meningkat 62% dari bulan sebelumnya. Lonjakan ini dipicu oleh penurunan cadangan dan kadar bijih nikel dalam negeri, terutama di kawasan industri nikel Morowali.
Emilia Bassar, Communications Director PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), mengakui bahwa importasi bijih nikel dilakukan untuk memenuhi spesifikasi produksi tertentu. Ia menyatakan, "Hal ini dilakukan guna memastikan kelancaran operasional smelter dengan spesifikasi nikel yang sesuai dengan kebutuhan produksi kami." Namun, Emilia juga memastikan bahwa mayoritas kebutuhan nikel di IMIP masih dipasok dari dalam negeri.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Dadan Kusdiana menjelaskan bahwa produksi bijih nikel dalam negeri sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik. "Kita ini lebih [produksi]. Jadi, yang diizinkan [diproduksi] ini lebih daripada yang diperlukan," jelasnya. Meski demikian, kekhawatiran terhadap cadangan nikel nasional, terutama nikel berkadar tinggi, tetap ada.
Demokrasi Lemah Menggerus Kepercayaan Pasar
Memanasnya suhu politik di dalam negeri menyebabkan pasar keuangan Indonesia kembali dihantui kecemasan. Hal inilah yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjungkal usai bergerak menanjak dalam empat perdagangan beruntun. IHSG berbalik arah dengan bergerak di zona merah sepanjang Kamis (22/8). Di akhir sesi, IHSG ditutup turun 0,87% ke level 7.488,67. Kisruh peraturan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) antara keputusan Mahkamah Konstiusi (MK) dan Dewan Perwakilan rakyat (DPR) menyulut aksi unjuk rasa. Demokrasi yang buruk juga menghempaskan rupiah dari posisi di bawah Rp 15.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda melemah 0,64% ke Rp 15.600 per dolar AS. Sejalan dengan pergerakan di pasar spot, rupiah Jisdor melemah 0,79% ke Rp 15.579 per dolar AS. Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin melihat, kejatuhan rupiah menyusul ketegangan politik dalam negeri yang memanas. Akibatnya, banyak investor terpantau melakukan aksi ambil untung ( profit taking ) terhadap rupiah. Investor terlihat melakukan perburuan dolar di tengah aksi demonstrasi mahasiswa dan buruh di depan Gedung DPR/MPR, kemarin. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mengatakan, kembalinya dana asing belakangan ini membuat IHSG berkali-kali menembus rekor baru. Sejatinya, pasar saham sudah cukup kondusif usai Federal Reserve semakin memberikan kepastian terkait pemangkasan bunga acuannya.
Founder
Stocknow.id Hendra Wardana juga bilang,
capital inflow
menjadi faktor penting bagi IHSG, yang sekaligus mencerminkan keyakinan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Namun, tensi politik yang memanas dalam polemik aturan Pilkada membuka potensi tekanan ke pasar.
Menurut Hendra, sentimen eksternal secara umum sebenarnya cenderung positif. Terutama dengan adanya ekspektasi The Fed akan menurunkan suku bunga pada bulan September, yang kemungkinan besar akan diikuti oleh Bank Indonesia.
Namun, Hendra mengingatkan kebijakan moneter dan makro ekonomi bukan menjadi satu-satunya sentimen. Sebab, pada akhir tahun ini faktor politik punya peran krusial, khususnya saat transisi pemerintahan dari Presiden Joko Widodo ke Prabowo Subianto pada bulan Oktober, lalu Pilkada Serentak pada bulan November.
Sedangkan, Audi melihat selama IHSG masih bergerak di atas 7.425, maka penurunan yang terjadi masih tergolong wajar. Jika bertahan, IHSG berpotensi menguat menuju
resistance
di 7.630 hingga akhir Agustus 2024 nanti.
Indonesia Terancam Defisit Kembar Lagi
Posisi keuangan Indonesia menghadapi tekanan akibat defisit kembar. Daya tahan Indonesia dalam menghadapi efek gejolak global pun bakal menurun. Sebagai gambaran, pada kuartal II-2024, Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD), serta defisit neraca pembayaran Indonesia (NPI). Berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI), posisi CAD pada kuartal kedua tahun ini mencapai US$ 3,02 miliar atau setara 0,9% dari produk domestik bruto (PDB). Padahal di kuartal sebelumnya posisi CAD Indonesia sebesar US$ 2,4 miliar atau 0,7% dari PDB. Masih menurut laporan BI, surplus neraca perdagangan barang pada kuartal II-2024 tercatat US$ 9,96 miliar, naik dari kuartal sebelumnya sebesar US$ 9,28 miliar. Pun dengan surplus pendapatan sekunder yang naik dari US$ 1,32 miliar menjadi US$ 1,47 miliar. Asisten Gubernur, Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menjelaskan, peningkatan defisit neraca jasa dipengaruhi oleh defisit jasa perjalanan (travel) seiring pelaksanaan ibadah haji 2024. Adapun kenaikan defisit neraca pendapatan primer dipengaruhi pembayaran dividen dan bunga atau kupon obligasi. "Ini sesuai dengan pola triwulanan," kata Erwin dalam keterangan tertulisnya, Kamis (22/8).
Kinerja positif ini terutama ditopang oleh aliran masuk modal asing ke sejumlah instrumen portofolio investasi di pasar keuangan. Selain itu kata Erwin, surplus transaksi modal dan finansial juga ditopang oleh arus masuk investasi langsung.
Namun secara umum, posisi surplus transaksi modal dan finansial belum mampu menutup defisit transaksi berjalan. Alhasil, neraca pembayaran Indonesia masih mencatatkan defisit sebesar US$ 557 juta, meski membaik dibanding defisit pada kuartal I-2024 yang senilai US$ 5,97 miliar.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan, CAD pada tahun ini berada pada kisaran 1% dari PDB, lebih lebar dibanding tahun 2023 yang sebesar 0,16% dari PDB. "Ekspor komoditas juga masih cenderung lemah dalam jangka pendek," kata David, kemarin. Makanya, surplus neraca perdagangan pada awal semester II tahun ini pun menyusut.
Ekonom Bank Danamon Hosianna Situmoriang menilai, CAD tersebut masih terkendali dan sesuai dengan perkiraan BI. Alhasil, nilai tukar rupiah berpotensi menguat dan posisi cadangan devisa bisa optimal.
BEI Dorong Transaksi SSF dengan Insentif
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan volume transaksi Single Stock Futures (SSF) bisa menembus 1 juta kontrak di 2025. Namun pada tahap awal, BEI akan lebih gencar melakukan sosialisasi atas produk investasi derivatif baru ini. Kepala Divisi Pengembangan Bisnis BEI 1, Firza Rizqi Putra menjelaskan, produk SSF akan dirilis resmi pada September mendatang. Sebelumnya, BEI telah melakukan soft launching SSF pada 12 Agustus 2024. "Target kami tahun ini lebih pengenalan produk SSF ke investor," katanya, dalam edukasi wartawan secara daring, Kamis (22/8). Untuk menggencarkan transaksi SSF, BEI juga aktif melakukan sosialisasi dengan menggelar roadshow bersama anggota bursa (AB) derivatif dan kantor perwakilan BEI yang tersebar di berbagai kawasan. BEI turut memasukan produk SSF dalam materi Sekolah Pasar Modal (SPM) untuk calon investor. Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik menambahkan, untuk menarik minat investor melakukan transaksi SSF, BEI akan memberikan sejumlah insentif.
Antara lain, potongan biaya transaksi derivatif kepada broker sebesar 75% dari Rp 1.000 per kontrak.
Artinya, anggota bursa derivatif hanya dikenakan biaya Rp 250 per kontrak. "Kami memberikan insentif dalam bentuk biaya transaksi yang lebih murah. Ada diskon di tahap awal ini sebesar Rp 250 per kontrak. Insentif biaya ini belum ditetapkan batas akhirnya," jelas Jeffrey.
BEI juga memberikan insentif berupa dukungan sistem kepada calon AB derivatif baik, sistem trading maupun online trading. Harapannya, dapat menekan biaya investasi yang dikeluarkan AB jika ingin terjun ke produk derivatif. Dengan begitu, jumlah AB derivatif bisa bertambah.
Produk SSF mulai ditransaksikan Binaartha Sekuritas pada 22 Juli 2024. Sebagai catatan, per Rabu (21/8), nilai transaksi futures di BEI mencapai Rp 123,29 juta dengan volume sebanyak 348 kontrak.
BEI telah memilih saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebagai underlying atau aset dasar produk SSF.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









