;
Kategori

Ekonomi

( 40460 )

Pencabutan Subsidi Molis: Produsen Optimistis Capai Target Penjualan

30 Oct 2024

Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli), yang dipimpin oleh Ketua Umum Budi Setiyadi, tetap optimis populasi sepeda motor listrik (molis) dapat mencapai 200.000 unit pada akhir 2024, meskipun ada ancaman penghapusan subsidi pembelian kendaraan berbasis baterai. Budi menyampaikan bahwa para agen pemegang merek telah menyiapkan strategi alternatif untuk menghadapi kemungkinan tersebut.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, memberikan sinyal bahwa subsidi motor listrik mungkin tidak dilanjutkan pada tahun depan karena anggaran yang terbatas. Budi berharap subsidi dapat terus diberikan, meskipun ada kemungkinan alokasi anggaran dialihkan untuk program lain, seperti Makan Bergizi Gratis.

Selain itu, AHM (Astra Honda Motor) juga mengembangkan strategi untuk menjual sepeda motor listrik di tengah ketidakpastian kebijakan subsidi, dengan harapan bahwa pemerintah tetap mempertimbangkan manfaat subsidi bagi masyarakat. Mereka baru saja meluncurkan dua model sepeda motor listrik terbaru, mencerminkan upaya untuk tetap bersaing di pasar.


Kolaborasi GMFI dan AirAsia Group dalam Perawatan Pesawat

30 Oct 2024

PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. (GMFI), yang merupakan bagian dari Garuda Indonesia Group, akan segera merealisasikan pembentukan perusahaan patungan (joint venture) dengan AirAsia Group untuk meningkatkan pendapatan di tahun 2025. Direktur Utama GMFI, Andi Fahrurrozi, menyatakan bahwa fokus utama pada tahun 2025 adalah perbaikan ekuitas serta peningkatan pendapatan melalui inisiatif bisnis komersial dan nonkomersial.

Joint venture ini, yang telah ditandatangani dengan AirAsia, akan berfokus pada penyediaan layanan di Lending Gearshop dan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan GMFI, terutama di luar bisnis airframe yang selama ini menjadi andalan. Selain itu, GMFI juga akan menangani proyek dari Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pertahanan, serta merencanakan penambahan kapasitas dan kapabilitas hanggar di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Dengan berbagai langkah strategis ini, GMFI berupaya untuk memperluas kapasitas layanan dan menangkap peluang dari pelanggan internasional.



Kasus Impor Gula: Tom Lembong Resmi Jadi Tersangka

30 Oct 2024

Kejaksaan Agung telah menetapkan Thomas Trikasih Lembong, mantan Menteri Perdagangan RI periode 2015–2016, sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyalahgunaan wewenang impor gula. Direktur Penyidikan Jaksa Agung Tindak Pidana Khusus, Abdul Qohar, mengungkapkan bahwa pihaknya memiliki dua alat bukti yang cukup untuk menetapkan status tersebut, juga mencakup Direktur Pengembangan Bisnis PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) berinisial DS sebagai tersangka.

Kedua tersangka akan ditahan selama 20 hari di Rutan Salemba Kejagung dan Kejari Jaksel untuk keperluan penyidikan. Penetapan tersangka ini merupakan kelanjutan dari penggeledahan yang dilakukan di kantor Kementerian Perdagangan dan PT PPI, di mana ditemukan sejumlah bukti terkait penerbitan persetujuan impor gula yang tidak sesuai. Kasus ini menunjukkan adanya dugaan praktik korupsi dalam pengelolaan stok gula nasional, yang mengarah pada pihak-pihak yang tidak berwenang.



Asing Lepas Saham, Lanskap Blue Chip Berubah

30 Oct 2024
Euforia pasar terhadap pemerintahan baru Prabowo Subianto mulai memudar, yang terlihat dari penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Selama lima hari berturut-turut, IHSG melemah, dengan penurunan terakhir 0,37% pada level 7.606,60. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terkait intervensi Prabowo dalam kasus pailit Sritex, yang menimbulkan kekhawatiran moral hazard.

Beberapa saham besar (big cap) seperti DSSA, BBRI, BBCA, ASII, TPIA, dan TLKM mengalami penurunan, menyebabkan rotasi dalam jajaran top 10 kapitalisasi pasar. Saham BBRI, misalnya, tersingkir dari posisi tiga besar, digantikan oleh saham TPIA. Perubahan ini mencerminkan pergerakan dan konsolidasi saham big cap, yang menurut Agung Ramadoni dari Berdikari Manajemen Investasi, tidak selalu berkaitan dengan performa fundamental emiten.

Dimas Krisna Ramadhani dari Indo Premier Sekuritas menambahkan bahwa rotasi dalam kapitalisasi pasar disebabkan oleh aksi korporasi dan sentimen yang memengaruhi emiten. Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas menyatakan bahwa saham big cap sangat sensitif terhadap aliran dana asing, yang saat ini masih menunggu arah kebijakan pemerintahan baru serta kebijakan suku bunga The Fed. Jika pemangkasan suku bunga Fed terjadi, potensi masuknya dana asing ke saham big cap dapat meningkat.

Rasio Modal Bank Sentral Masih Tertekan di Bawah 10%

30 Oct 2024
Pemerintah mungkin harus menunda harapan untuk memperoleh tambahan pendapatan dari Bank Indonesia (BI) tahun depan, karena rasio modal BI diperkirakan belum akan mencapai ambang batas 10% yang diatur dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 2004. Berdasarkan UU tersebut, BI baru wajib menyetorkan sisa surplus anggarannya kepada pemerintah jika rasio modal mencapai 10% dari kewajiban moneter. BI terakhir kali menyetor sisa surplusnya pada 2019, senilai Rp 30,1 triliun. Setelah itu, rasio modal BI menurun karena beban pembiayaan pandemi melalui skema burden sharing.

Ekonom Indef M Rizal Taufikurrahman memproyeksikan rasio modal BI pada 2024 masih belum menyentuh 10%, terutama karena ketidakpastian global yang memaksa BI menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar. Hal ini memengaruhi cadangan devisa dan rasio modal BI.

Sementara itu, Myrdal Gunarto dari Bank Maybank Indonesia optimis BI bisa mencapai rasio modal 10% tahun ini. Menurut Myrdal, BI telah berhasil dalam pendalaman pasar keuangan dan merilis instrumen-instrumen keuangan seperti SRBI dan SUVBI yang membantu meningkatkan cadangan devisa. Ia berharap BI dapat kembali menyetorkan surplus anggarannya kepada pemerintah mulai tahun depan.

Peluang Saham Utama di Indeks Kompas100

30 Oct 2024
Di tengah evaluasi minor terhadap bobot saham Indeks Kompas100, Bursa Efek Indonesia (BEI) belum mengubah konstituen indeks ini hingga akhir Januari 2025. Indeks Kompas100 tetap relevan sebagai acuan investasi karena didominasi oleh emiten dengan fundamental kuat, seperti yang diungkapkan oleh Miftahul Khaer, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas. Miftahul menambahkan bahwa dengan volatilitas pasar yang tinggi, investor disarankan untuk menerapkan strategi dollar-cost averaging (DCA) pada saham dengan kinerja solid dan valuasi yang masih menarik.

Namun, Edwin Sebayang, Direktur Purwanto Asset Management, mencatat ada beberapa saham di Kompas100 yang kurang berkembang, seperti di sektor otomotif, media, rokok, semen, dan telekomunikasi. Penurunan saham sektor-sektor ini disebabkan oleh tantangan pertumbuhan dalam industri yang dianggap "masa senja," sehingga beberapa fund manager cenderung menghindarinya. Edwin menyarankan untuk fokus pada sektor perbankan, ritel, konsumer, properti, poultry, dan energi dalam Kompas100, yang dinilai masih berpotensi bertumbuh.

Sebagai rekomendasi spesifik, Miftahul menyarankan saham SMRA dengan target harga Rp 800 dan BSDE Rp 1.450 per saham, sementara Kiwoom Sekuritas merekomendasikan BBRI dengan target harga Rp 6.000 dalam tiga hingga enam bulan mendatang.

SBN Ritel Terpengaruh oleh Melemahnya Daya Beli

30 Oct 2024
Pelemahan daya beli masyarakat berdampak pada penurunan penyerapan Surat Berharga Negara (SBN) ritel, namun kupon SBN masih menarik di tengah tren penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI). Strategist Mega Capital Sekuritas, Lionel Priyadi, memperkirakan kupon untuk Sukuk Tabungan seri ST013 yang akan diterbitkan pada 8 November 2024 berada di kisaran 5,8%-6,2%, cukup menarik meski sedikit lebih rendah dari seri sebelumnya yang berkisar di 6,35%-6,45%.

Fikri C. Permana, Senior Economist di KB Valbury Sekuritas, memproyeksikan kupon ST013 akan sedikit lebih tinggi di sekitar 6,3%-6,4%, tetap kompetitif mengingat suku bunga The Fed dan BI diperkirakan turun pada 2025. Fikri menilai antusiasme investor kelas atas akan mendukung penyerapan ST013 hingga Rp 25 triliun, meskipun pelemahan daya beli kelas menengah mempengaruhi permintaan.

Lionel memperkirakan penyerapan ST013 berada di kisaran Rp 18-22 triliun karena kuota penerbitan SBN semakin menipis. Ia juga mencatat penurunan minat pada obligasi ritel terlihat dari hasil penjualan ORI026 yang lebih rendah dibanding SR021. Fikri menambahkan bahwa pertumbuhan SBN ritel tahun depan mungkin lebih terbatas, mengingat pemerintah akan meningkatkan pendapatan negara dan SBN ritel menawarkan rate lebih tinggi dengan tenor lebih pendek dibandingkan obligasi konvensional.

Ekspansi Gerai Jadi Senjata Baru AMRT

30 Oct 2024
Kinerja PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) diperkirakan tetap kuat hingga akhir 2024, terutama dengan dukungan ekspansi gerai dan strategi diskon akhir tahun. Analis RHB Sekuritas, Vanessa Karmajaya, menyatakan bahwa AMRT optimis mencapai target pertumbuhan penjualan sekitar 10%-11% dengan same store sales growth (SSSG) pada kisaran satu digit menengah. Ekspansi di luar Jawa diharapkan mencapai 37%-38% dari total toko dalam jangka panjang, dengan fokus menjaga profitabilitas di tengah kenaikan sewa dan gaji di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Vanessa juga menyoroti bahwa toko perawatan diri Dan+Dan memiliki potensi besar, dengan 318 toko per Juni 2024. Selain itu, kontribusi penjualan online AMRT mencapai 6% dari total penjualan, didukung oleh lebih dari 3.100 toko yang berfungsi sebagai titik pengiriman. Jody Wijaya, analis Verdhana Sekuritas Indonesia, menilai AMRT mampu mengelola produk fast-moving consumer goods (FMCG) terlaris dan memanfaatkan pertumbuhan konsumsi di luar Jawa.

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menekankan bahwa ekspansi 1.000 gerai baru AMRT akan berdampak positif dalam jangka panjang meskipun memerlukan biaya besar. AMRT juga berencana memperluas pusat distribusi di Gorontalo dan Palopo untuk menstabilkan biaya logistik. Inisiatif digital seperti Alfagift menjadi nilai tambah dalam meningkatkan kepuasan pelanggan.

Analis memproyeksikan target harga AMRT, dengan Vanessa dan Jody merekomendasikan beli dengan target harga Rp 3.800 dan Rp 3.830 per saham, sedangkan Patricia Gabriela dari BNI Sekuritas memberikan target Rp 3.700.

Fenomena Childfree akibat Tingginya kebutah sehari-hari

29 Oct 2024

Tingginya biaya kebutuhan sehari-hari membuat sejumlah pasangan mengurungkan niat memiliki anak. Mereka memilih childfree atau hidup tanpa anak. Alasannya, tak sanggup menyediakan dana perawatan, membesarkan, dan mendidik buah hati hingga dewasa. Pilihan itu mengemuka setelah konsultan komunikasi SGH dan Teleskop.id Data Analytic mengumpulkan 937 konten X dan Instagram yang memuat kata childfree sepanjang 16-21 September 2024 di Indonesia. Dari 937 konten itu, 69 konten beralasan memilih childfree. Faktor finansial yang berkaitan dengan tingginya biaya hidup ada di posisi puncak dengan proporsi 20,3 %. Di peringkat kedua, alasan ingin bahagia bersama diri sendiri ataupun pasangan dengan proporsi 17,4 %, lalu faktor kondisi negara tidak ideal dari segi politik, pemerintahan, ekonomi, dan pendidikan (15,9 %)

Isu keuangan yang melatarbelakangi pilihan childfree tak lepas dari sengitnya persaingan antara upah dan pengeluaran. Merujuk pada BPS, Tim Jurnalisme Data Harian Kompas menghitung, rata-rata upah penduduk 2023 Rp 3,17 juta per bulan atau naik 3,5 % dibanding tahun sebelumnya, tapi kalah dengan lonjakan harga barang kebutuhan bayi dan anak. Hasil analisis Kompas, rata-rata harga makanan bayi, susu balita, susu bayi, popok bayi sekali pakai, dan pakaian bayi mencapai 9,1 % pada periode yang sama. Harga sandang anak pada 2023 lebih tinggi 9,1 % dari tahun sebelumnya, sedang biaya seragam sekolah anak meningkat 9,6 %. Celana dalam anak mencatatkan kenaikan tertinggi, yakni 42,6 %. Selisih peningkatan gaji tahunan dengan biaya pendidikan juga makin lebar.

Kenaikan tarif kelompok bermain sebesar 2,3 %, TK 11,7 %, SD 5,7 %, SMP 5,6 %, SMA 3,9 %. Persoalan keuangan yang bermuara pada pilihan childfree dialami Vlaad (32) dan istri yang memutuskan tidak memiliki momongan. Pekerja swasta di Jakarta ini membayangkan, jika memiliki anak, pasti ingin membesarkannya dengan cara terbaik, mulai dari gizi hingga pendidikannya. Di sisi lain, ia dan istri tumbuh besar dari keluarga sederhana. ”Fasilitas yang tersedia seadanya juga. Jadi, kami tumbuh besarnya juga tidak optimal. Jangan sampai apa yang terjadi di kami terulang lagi jika punya anak,” ujar Vlaad. Meski hanya berdua, ia dan istri tetap merasa bahagia. Vlaad mengaku memiliki keleluasaan dalam keuangan serta lebih banyak waktu untuk mengobrol, baca buku bersama, dan jalan-jalan. (Yoga)


Tidak masuknya RUU Perampasan Aset Pada Usulan Prolegnas

29 Oct 2024

Badan Legislasi DPR mulai menghimpun usulan RUU, baik dari komisi-komisi maupun fraksi partai politik, untuk dimasukkan dalam Program Legislasi Nasional Tahun 2025-2029 dan Prolegnas Prioritas Tahunan 2025. Namun, tidak ada satu pun alat kelengkapan dewan yang mengusulkan RUU Perampasan Aset untuk dibahas selama 5 tahun ke depan. Daftar usulan RUU yang akan dimasukkan ke Prolegnas Tahun 2025-2029 dan Prolegnas Prioritas Tahun 2025 mulai dibacakan dalam rapat pleno Baleg DPR di Gedung Nusantara 1, Jakarta, Senin (28/10). Dalam rapat yang dipimpin Wakil Ketua Baleg DPR dari Fraksi Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia itu ditampilkan sejumlah usulan yang sudah masuk.

Ahmad Doli mengatakan, usulan itu masih terus dihimpun. Sebab, dari 13 komisi di DPR, dua komisi yang baru dibentuk belum menyampaikan usulan. Rencananya, usulan final akan dibahas bersama pemerintah pada 18 November mendatang. Dari usulan-usulan tersebut, tidak ada satu pun komisi dan fraksi partai yang mengusulkan RUU Perampasan Aset untuk masuk di Prolegnas 2025-2029. Tidak terkecuali Komisi III DPR yang membidangi penegakan hukum. Ketua Baleg DPR yang juga anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Gerindra Bob Hasan tak memungkiri RUU Perampasan Aset tidak masuk dalam usulan. Sebab, berdasarkan diskusi kelompok terarah (FGD) yang dilakukan di Komisi III sebelumnya, disepakati RUU itu bakal dikembalikan kepada pemerintah sebagai pengusul RUU tersebut. (Yoga)