Ekonomi
( 40554 )Bisnis Hidangan Pencuci Mulut yang menjamur di Seantero Jakarta
Selasa (22/10) pukul 17.00, di Flor, dessert shop di Jalan Gunawarman, Jakarta, ada delapan pengunjung. Ada yang membuka laptop dan ada pula yang duduk berempat berbincang santai sambil makan croissant dan kreasi viennoiserie lainnya. Kevin Krisna Pratama, chef di Flor, mengatakan, pada hari biasa, pengunjung Flor yang datang kebanyakan pekerja kantoran, termasuk pekerja ekspatriat dari Korsel dan Jepang, pada hari biasa, pengunjung yang datang umumnya keluarga. ”Kalau akhir pekan, pengunjung yang datang lebih banyak menikmati hidangan di tempat sekaligus pesan untuk dibawa pulang,” ujarnya. Rata-rata pengunjung berasal dari kelas menengah ke atas. Sebagian di antara mereka sudah terpapar informasi mengenai patiseri internasional dan terbiasa menikmatinya sehari-hari. Untuk urusan harga, kelompok itu tidak terlalu peduli. Bahkan, ada pengunjung belanja sampai Rp 9 juta per sekali pengeluaran.
Flor memanggang croissant, pain au chocolat, dan kreasi viennoiserie tiga kali, yakni pada pukul 07.00 WIB, pukul 11.00, dan terakhir pukul 14.00, untuk menjaga standar kesegaran produk roti. Pengunjung yang dating ke toko, selain bisa makan di tempat sambil bincang santai atau rapat semiformal, dapat melihat langsung proses pembuatan roti melalui jendela kaca besar di bagian kanan ruangan. Per sekali pemanggangan terdapat 70-100 roti, sehari terdapat rata-rata 300 roti. Varian yang paling disukai pengunjung adalah croissant. Dalam sebulan bisa terjual 1.000-2.000 buah. Fenomena kumpul sambil makan hidangan pencuci mulut, khususnya varian patiseri internasional, terbilang baru di Indonesia.Hingga sekarang, masih populer di Jakarta dibandingkan kota-kota besar lainnya, tetapi berpotensi menyebar.
Founder dan Chef Oma Elly, resto gelato, Andry Susanto berpendapat, gelato sekarang bersaing dan relatif mampu menyubstitusi minuman kopi, karena harga satu sekop gelato sudah bisa menyamai satu cangkir kopi. ”Harga dua sekop gelato di bawah Rp 40.000 sudah jamak ditemukan. Kualitas rasanya pun bersaing dengan gelato impor,” katanya. Andry menciptakan aneka rasa gelato untuk dijual di Gelateria Oma Elly sejak enam tahun lalu. Total varian rasa mencapai 300.Andry telah memiliki tujuh gerai di Jakarta. Semuanya berada di dalam mal. Dalam sebulan, dia bisa menjual 25.000 kg lebih gelato. Setiap bulan dia membuka satu gerai baru di dalam mal. Oma Elly juga aktif mempromosikan gelato di pameran, seperti festival UMKM kreatif. (Yoga)
Nasi Lauk, dan Kopi Akhiri Deflasi akibat Deflasi Emas
Inflasi pada Oktober 2024 mengakhiri deflasi lima bulan beruntun sejak Mei 2024. Inflasi tersebut terutama dipicu kenaikan harga emas perhiasan, nasi lauk, dan kopi yang juga menjadi bagian dari inflasi inti. Inflasi inti mencerminkan hubungan antara harga barang dan jasa dengan tingkat pendapatan konsumen. Jika pendapatan konsumen tidak berubah, konsumen akan memiliki daya beli yang lebih rendah. Begitu pula sebaliknya. BPS, Jumat (1/11) merilis tingkat inflasi nasional pada Oktober 2024 sebesar 0,08 % secara bulanan dan 1,71 % secara tahunan. Sebelumnya pada Mei-September 2024, Indonesia mengalami deflasi beruntun sebesar 0,03 %, 0,08 %, 0,18 %, 0,03 %, dan 0,12 %.
Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, inflasi bulanan pada Oktober 2024 didorong inflasi komponen inti sebesar 0,22 %. Untuk komponen harga yang diatur pemerintah dan yang bergejolak, masih deflasi masing-masing 0,25 % dan 0,11 %. Komoditas yang dominan mengalami dan memberikan andil inflasi pada komponen inti adalah emas perhiasan, nasi lauk, dan kopi bubuk. Secara bulanan, tingkat inflasi emas perhiasan sebesar 4,44 %, nasi lauk 0,67 % dan kopi bubuk 2,31 %. ”Secara tahunan, emas perhiasan mengalami inflasi 35,28 %, kopi 17,53 %, dan nasi lauk 2,54 %,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di Jakarta. Menurut Amalia, kenaikan harga emas di dalam negeri dipengaruhi kenaikan harga emas dunia. Begitu harga emas dunia naik, harga emas di Indonesia naik secara otomatis. (Yoga)
Menjadi Investor yang Sabar
Dalam kamus investasi dikenal istilah casino mentality, yang sangat berbahaya bagi kesehatan keuangan serta mental para investor. Casino mentality atau mentalitas kasino dalam investasi adalah kecenderungan perilaku investor untuk berspekulasi tinggi dengan harapan mendapatkan keuntungan cepat, mirip berjudi di kasino. Mentalitas ini berbahaya karena didorong oleh emosi dan insting jangka pendek, alih-alih analisis yang matang dan strategi jangka panjang. Mengutip pernyataan Warren Buffett, ”Pasar sekarang menunjukkan perilaku investor yang lebih mirip berjudi dibandingkan ketika saya masih muda. Mesin kasino sekarang berada di banyak rumah (dalam bentuk platform trading, bahkan aplikasi judi daring), setiap hari menggoda penghuninya yang tidak memiliki mental investor.”
Pengelolaan keuangan sejatinya tentang menjalankan hidup hari ini dengan sederhana sesuai kemampuan keuangan dan senantiasa mempersiapkan kehidupan di masa depan agar tetap sejahtera. Literasi keuangan mengajarkan bahwa simpanan, tabungan, dan investasi adalah tiga kombinasi strategi yang perlu dilakukan oleh investor untuk mencapai tujuan keuangannya. Pertama, tetapkan tujuan berinvestasi. Secara umum, seorang investor dapat menetapkan tujuan, dari menjaga nilai kekayaan atas inflasi, mencari sumber penghasilan pasif dari aset investasi, hingga mencapai target dana yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak, ibadah haji, dan pensiun.
Hal ini akan membantu menghindari keputusan spekulatif yang terlalu berisiko. Maka, investor perlu memulai dengan menetapkan durasi tujuannya dan menentukan toleransi risiko serta sumber modal untuk berinvestasi menggunakan dana non-operasional. Kedua, fokus pada diversifikasi portofolio investasi. Selain produk pasar modal, investor juga memiliki opsi aset alternatif, seperti emas ataupun properti. Praktik diversifikasi akan mengurangi ketergantungan pada satu asset yang berisiko tinggi. Ketiga, berinvestasi berdasarkan data dan analisis yang bertanggung jawab. Keputusan investasi diambil berdasarkan data dan analisis yang matang, bukan hanya karena dorongan emosional atau tren pasar sesaat. Mentalitas kasino berpotensi membawa kerugian besar bagi investor Indonesia. (Yoga)
Irfania Ramadhani Lubis Melestarikan Songket Melayi Deli
Beberapa tahun lalu, kebudayaan songket Melayu Deli mati suri. Tak ada lagi yang menenun, menjual, atau memakai songket Deli. Irfania Ramadhani Lubis (31) tak tinggal diam. Dia melatih orang menenun, menggali motif, membangun pasar, dan menghidupkan lagi budaya memakai songket Deli di tengah masyarakat. Irfania, Jumat (25/10) memakai Songket Melayu Deli berwarna emas dengan motif daun tembakau Deli di bahu. ”Motif tembakau Deli ini digali kembali oleh ibu saya, lalu kami kembangkan melalui desain digital. Ini salah satu motif songket Deli yang sangat disukai,” kata Irfania, lulusan Jurusan Animasi Universitas Binus, Jakarta, pada 2014. Irfania awalnya ragu menuruti permintaan ibunya, menghidupkan songket Deli. Namun, setelah mendengar songket Deli mati suri, dia berkomitmen ikut merevitalisasinya, terlebih, Ia keturunan Kesultanan Deli dari garis ibu.
Irfania dan sang ibu awalnya kesulitan karena tak ada lagi petenun songket Deli. Mereka lalu mulai mengumpulkan apa pun yang tersisa dari kebudayaan songket Deli. Mereka menemukan foto-foto sultan terdahulu mengenakan songket Deli, yang penting untuk menggali motif klasik. Irfania juga menemukan literatur tentang tenun di Kesultanan Deli dalam buku Mission to The East Coast of Sumatra karya John Anderson pada 1826. ”Dari sejarah itu, kami percaya, dulu Kesultanan Deli mempunyai kebudayaan tenun kain songket yang maju,” kata Irfania. Irfania lalu membangun IR Songket. Dia berhasil mengumpulkan beberapa motif klasik songket Deli dan mengembangkannya menjadi motif-motif baru yang lebih modern melalui ilmu animasi digital yang diperolehnya dari kuliah. Dia juga merekrut dan melatih beberapa orang untuk bertenun. Banyak yang mengikuti pelatihan, tetapi sedikit yang bertahan.
Irfania pun membangun pasar songket yang menghargai petenun dengan upah lebih layak. Dengan memanfaatkan teknologi digital media sosial, pemasarannya berkembang pesat. Irfania mengembangkan songket Deli setelah mendapat dukungan pemerintah, BI dan PT Astra Internasional. Dia mendapat penghargaan Satu Indonesia Awards dari Astra pada 2017. Pengembangan songket Deli juga mendapat dukungan dari program Desa Sejahtera Astra pada 2019 sampai 2022. Dengan itu, dia mengembangkan rumah produksi serta mendirikan lembaga kursus dan pelatihan menenun di Desa Bandar Khalipah, Percut Sei Tuan, Deli Serdang. Di rumah produksi IR Songket di Bandar Khalipah, Kamis (24/10) para petenun songket Deli sudah sibuk sejak pagi. Suasana ramai dengan suara kletak-kletuk alat tenun bukan mesin (ATBM) yang sedang digunakan untuk membuat songket Deli motif batik kotak catur.
Ada pula yang masih memakai gedokan, alat tenun yang lebih konvensional. Di rumah produksi itu juga dipajang beberapa pakaian siap pakai berbahan kain songket Deli, khususnya busana luaran (outer). Irfania menyebut, hal yang paling penting dalam menghidupkan kembali songket Deli adalah melatih dan meregenerasi petenun. Mereka harus menempatkan petenun sebagai artisan, yakni sebagai pekerja seni dengan upah yang layak. IR Songket membangun pasar yang bisa menghargai songket Deli sebagai karya seni. Mereka menjual kain songket Deli dengan harga Rp 800.000 hingga Rp 7 juta per lembar. Ia yakin, songket Deli akan terus berkembang dan kembali dihidupi masyarakatnya. Kini, sedikitnya 12 petenun di Deli Serdang dan 10 petenun di Kabupaten Batubara memproduksi songket Melayu Deli setiap hari. (Yoga)
Waspadai Pelemahan Sektor Manufaktur
Pemerintah diminta waspadai pelemahan sektor manufaktur dalam empat bulan beruntun, karena menjadi sinyal kuat perlambatan ekonomi nasional. Sebab, manufaktur merupakan penyumbang produk domestik bruto (PDB) terbesar menurut lapangan usaha. Pelemahan manufaktur juga bisa memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) dan memangkas pemerimaan pajak. Ini perlu diantisipasii oleh pemerintah. Berdasarkan data S&P Global, indeks manager pembelian (purchasing managers index/PMI) Indonesia mencapai 49,2 pada Oktober 2024.
BPS Menyatakan Inflasi pada Oktober 2024 mencapai 0,08
Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan inflasi pada Oktober 2024 mencapai 0.08%, inflasi tahunan mencapai 1,71% secara tahunan (yoy) dan inflasi tahun kalender 0,82% dari awal tahun (year-to-date/YTD). Jika dilihat berdasarkan komoditas pendorong tercatat emas memberikan andil yang besar pada inflasi Oktober 2024. "Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada kelompok ini adalah emas perhiasan dengan andil inflasi 0,06%," ucap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalan konferensi pers di Kantor BPS. Amalia mengatakan, kenaikan harga emas ini terjadi karena di pasar global karena dipengaruhi ketidakpastian geopolitik seperti konflik di Timur Tengah dan konflik Rusia-Ukraina.
Dan tekanan geopolitik ini membuat orang memilih emas sebagai instrumen investasi. "Selain kondisi geopolitik, tentunya kenaikan harga emas terjadi karena kebijakan moneter yang ditetapkan The Fed, dimana ada tren penurunan suku bunga The Fed dan ini juga memacu para investor untuk beralih ke komoditas emas," tutur Amalia. Dia menyatakan inflasi emas secara year on year di bulan Oktober ini sebesar 35,82%. Pergerakan harga emas mengalami peningkatan dalam satu tahun terakhir. Jika melihat kondisi emas pada tahun 2020 sampai 2024 harga emas tertinggi terjadi pada Agustus 2020. Perkembangan inflasi komoditas emas sejalan dengan perekonomian dunia. (Yetede)
Karut-marut Emiten BUMN Farmasi
Perbaiki Aset Perbankan Terus Menerus
Industri perbankan hingga posisi September 2024 berhasil menjaga kinerjanya tetap stabil di tengah tantangan ekonomi global maupun domestik. Terindikasi dari kualitas aset perbankan yang mengalami perbaikan. OJK mencatat, kredit yang disalurkan perbankan per September 2024 mencapai Rp 7.579 triliun, tumbuh 10,85% secara tahunan (Year on year/yoy). Meskipun mengalami perlambatan dibandingkan dengan posisi Agustus 2024 yang tumbuh 11,4% (yoy). Namun, secara bulanan kredit masih tetap tumbuh positif 0,95% month to month (mtm). Pertumbuhan kredit tersebut juga didukung dengan perbankan kuaitas kredit, baik dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) maupun loan at risk (LAR).
"Kualitas kredit tetap terjaga NPL gross 2,21% dibandingkan Agustus 2,26% dan NPL net 0,78%. sementara itu LAR juga menunjukkan tren penurunan menjadi 10,11% dari Agustus 10,17% rasio LAR ini mendekati sebelum pandemi 9,93% pada 2019," ungkap Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae. Dian melanjutkan, likuiditas perbankan dinilai masih memadai dengan rasio alat liquid/non-core deposit (AL/NCD) dan alat liquid/dana pihak ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 50% dan 10%. Perbankan juga menghimpun DPK sebesar Rp8.721 triliun tumbuh 7,04% (yoy) per September 2024, naik tipis dari bulan sebelumnya 7,01% (yoy). (Yetede)
Perlu kehati-hatian dalam Menghapus Utang Petani
Angkutan Penyebrangan Batal Naik Para Pengusaha Sangat Kecewa
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









