;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Mendag Bantah Dampak Permendag 8/2024 Bangkrutkan Sritex

04 Nov 2024

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menerangkan, Peraturan Menteri Berdatangan (Permendag) 8 Tahun 2024 justru melindung industri tekstil. Hal ini disampaikan Budi untuk membatah tudingan yang mengatakan permedag tersebut menjadi salah satu penyebab PT Sri Rezeki Isman Tbk (Sritex) pailit. Ia menerangkan, di dalam Permedag 8 disebutkan bahwa syarat impor tekstil dalam industri dan produk tekstil (TPT) adalah harus berdasarkan pertimbangan teknis dari perindustrian. "Jadi di Permendag nomor 8 tahun 2024, dan Permedag sebelumnya itukan kalau impor TPT.

TPT kan harus ada pertimbangan teknis. Yang pertama ini biar clear ya, ada pertimbangan teknis," jelas Mendag. Kemudian, lanjut Budi, impor pakaian jadi itukan juga diatur kekuatannya melalui Perdirjen Daglu nomor 7 tahun 2024. "Dan untuk TPT itukan juga dikenakan bea masuk pengaman perdagangan, per meter sekian ribu itu ya," jelas dia. Mendag menambahkan bahwa impor pakaian jadi itu juga dikenakan bea masuk pengamanan perdagangan. "Jadi ini biar sama ya, karena peraturannya di Permendag 8 seperti itu. Jadi hanya miskomunikasi saja dengan Kemenperin seperti itu," kata dia. (Yetede)

Industri Motor Listrik di Persimpangan

04 Nov 2024

Ketidakpastian mengenai keberlanjutan subsidi pembelian sepeda motor listrik pada 2025 yang menjadi perhatian utama baik produsen maupun konsumen. Meskipun program subsidi terbukti efektif dalam meningkatkan penjualan motor listrik dan merangsang produksi dalam negeri, ketidakjelasan masa depan subsidi menimbulkan kekhawatiran, terutama setelah rapat koordinasi kementerian di bawah Kemenko Perekonomian yang tidak membahas secara tegas kebijakan subsidi motor listrik.

Para pelaku industri berharap agar pemerintah memberikan kepastian mengenai kelanjutan subsidi ini untuk menghindari pasar yang stagnan dengan kondisi "wait and see". Dunia usaha sendiri tidak mengandalkan subsidi untuk mendorong penjualan, namun tetap berharap agar kebijakan yang jelas dan berkelanjutan bisa menjaga momentum positif yang telah tercipta. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan dapat memberikan keputusan yang pasti agar pasar motor listrik dapat terus berkembang tanpa ketidakpastian yang menghambat potensi pertumbuhannya.



Bank Mandiri Dorong Ekonomi dengan Kredit Triliunan

04 Nov 2024

Kontribusi signifikan Bank Mandiri terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang tercermin dari pencapaian penyaluran kredit yang meningkat pesat pada kuartal III/2024. Kredit yang disalurkan mencapai Rp1.590 triliun, tumbuh 20,8% (YoY), dengan kualitas aset yang semakin membaik, ditandai dengan penurunan rasio kredit bermasalah menjadi 0,97%. Pertumbuhan kredit tertinggi didorong oleh segmen korporasi, yang mencatatkan kenaikan 29,4%, serta segmen mikro dan usaha kecil menengah (SME) yang masing-masing tumbuh 13,04% dan 13,7%.

Bank Mandiri juga menunjukkan komitmennya terhadap ekonomi kerakyatan dengan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp32,2 triliun, yang menjangkau lebih dari 293.000 pelaku UMKM. Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, menegaskan bahwa pencapaian ini memperkuat peran Bank Mandiri sebagai agen perubahan dalam mendukung sektor riil dan perekonomian Indonesia. Ke depan, Bank Mandiri akan terus memfokuskan pertumbuhan kredit pada sektor-sektor strategis seperti pertanian, perkebunan, telekomunikasi, energi, serta industri makanan dan minuman. Dengan strategi ini, Bank Mandiri optimis dapat mencapai target pertumbuhan kredit di kisaran 16%-18% pada akhir 2024.

Selain itu, laba bersih Bank Mandiri tercatat mencapai Rp42 triliun, tumbuh 7,56% (YoY), dan dana pihak ketiga (DPK) meningkat 14,9% menjadi Rp1.667,5 triliun. Capaian-capaian ini menunjukkan peran Bank Mandiri yang semakin vital dalam mendukung ekonomi nasional melalui penyaluran kredit yang berkelanjutan dan berfokus pada sektor-sektor yang mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.



Mengelola Tantangan Fiskal Warisan Lama

04 Nov 2024

Tantangan besar yang dihadapi pemerintahan Prabowo Subianto dalam mengelola fiskal negara setelah pemerintahan Jokowi berakhir. Pemerintahan baru harus menangani 'beban fiskal' yang ditinggalkan, termasuk defisit anggaran yang melebar dan ketergantungan pada utang. Penerimaan negara, yang sebagian besar berasal dari pajak, menunjukkan ketimpangan, terutama dalam pengelolaan sumber daya alam yang kaya namun kontribusinya terhadap penerimaan negara masih kecil. Oleh karena itu, pemerintahan Prabowo dituntut untuk lebih kreatif dalam mencari sumber pendapatan baru dan mengoptimalkan belanja negara agar lebih produktif dan berkualitas. Kebijakan fiskal diharapkan mampu mengurangi kemiskinan ekstrem, meningkatkan investasi, dan menciptakan pemerataan. Untuk itu, diperlukan peningkatan pendapatan dari sumber non-pajak, pengelolaan belanja yang lebih efisien, dan pengawasan ketat terhadap dana sosial dan sektor strategis seperti pendidikan dan kesehatan.




Subsidi Motor Listrik dalam Ketidakpastian

04 Nov 2024

Subsidi untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) roda dua telah habis pada tahun ini, fenomena ini justru mencerminkan adanya peningkatan minat masyarakat terhadap produk yang ramah lingkungan. Hal ini memberi angin segar bagi produsen motor listrik nasional, karena menunjukkan bahwa produk mereka diterima dengan antusias oleh pasar. Namun, ketidakpastian mengenai kelanjutan subsidi di tahun depan mengkhawatirkan beberapa produsen, karena dapat mengurangi daya tarik konsumen akibat harga yang lebih tinggi.

Beberapa produsen, seperti Purbaja Pantja dari PT Indika Energy Tbk. dan PT Electra Mobilitas Indonesia, menyatakan kesiapan untuk beradaptasi dengan berkurangnya dukungan subsidi. Mereka meyakini bahwa meskipun subsidi pemerintah sangat membantu dalam memperkenalkan motor listrik ke masyarakat, pertumbuhan jangka panjang industri ini akan bergantung pada keseimbangan antara inovasi industri dan dukungan negara. Selain itu, produsen juga berfokus pada pengembangan produk dan penawaran yang menarik, termasuk dengan menggandeng lembaga pembiayaan untuk memudahkan konsumen.

Di sisi lain, perusahaan seperti PT Smoot Motor Indonesia dan PT Electrum juga menghadapi tantangan serupa dengan habisnya kuota subsidi. Mereka berusaha untuk tetap mengembangkan strategi penjualan tanpa bergantung sepenuhnya pada subsidi, seperti memberikan diskon atau potongan harga pada momen tertentu. Namun, mereka juga berharap agar pemerintah tetap memberikan subsidi dengan syarat yang lebih ketat, seperti peningkatan komponen dalam negeri (TKDN), untuk mendukung perkembangan industri motor listrik yang berkelanjutan.

Secara keseluruhan, meskipun ada tantangan terkait berkurangnya subsidi, produsen motor listrik tetap optimis bahwa inovasi, peningkatan kualitas produk, dan kemitraan dengan lembaga pembiayaan akan menjaga momentum pertumbuhan pasar kendaraan listrik di Indonesia.



Strategi Inovatif untuk Meningkatkan Penjualan

04 Nov 2024

Meskipun program subsidi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) di Indonesia telah membantu meningkatkan adopsi motor listrik di masyarakat, ketergantungan pada subsidi masih menjadi tantangan besar bagi produsen. Pada tahun 2024, habisnya kuota subsidi untuk motor listrik menandakan adanya minat yang besar dari konsumen terhadap kendaraan yang ramah lingkungan, namun ketidakpastian mengenai kelanjutan subsidi di masa depan dapat mengurangi antusiasme konsumen karena harga jual yang lebih mahal tanpa dukungan subsidi.

Para produsen motor listrik, seperti Purbaja Pantja dari PT Indika Energy dan PT Electra Mobilitas Indonesia (ALVA), mengakui pentingnya subsidi dalam memperkenalkan produk ke pasar. Meskipun demikian, mereka juga percaya bahwa keberlanjutan industri motor listrik memerlukan inovasi dan kualitas produk yang tinggi serta kerjasama dengan lembaga pembiayaan untuk tetap mempertahankan gairah pasar. Purbaja juga meyakini bahwa dengan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang manfaat kendaraan listrik bagi efisiensi dan keberlanjutan lingkungan, permintaan motor listrik akan tetap berkembang meskipun tanpa subsidi pemerintah.

Produsen lain seperti Kevin Phang dari Smoot Motor Indonesia dan Wilson Wirawan dari PT Ninetology Indonesia juga menggarisbawahi pentingnya keberlanjutan subsidi dengan syarat ketat, seperti peningkatan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), agar produsen dalam negeri dapat bersaing dengan produk impor. Meskipun beberapa perusahaan, seperti Electrum, menghadapi kendala kuota subsidi yang terbatas, mereka terus fokus pada inovasi dan pengembangan produk untuk menarik konsumen tanpa mengandalkan subsidi.

Di sisi lain, Okie Octavia Kurniawan dari Volta menekankan bahwa penentuan jumlah unit yang mendapat subsidi harus berdasarkan kajian mendalam, mempertimbangkan target adopsi kendaraan listrik nasional, anggaran pemerintah, kapasitas pasar, dan strategi pengembangan industri otomotif.

Secara keseluruhan, meskipun subsidi telah memberikan dorongan awal yang signifikan bagi pasar motor listrik di Indonesia, keberlanjutan industri ini memerlukan perbaikan dalam kebijakan, inovasi produk, dan peningkatan kualitas untuk memastikan pertumbuhan jangka panjang tanpa ketergantungan pada subsidi pemerintah.



Bank Sentral di Tengah Dilema Ekonomi

04 Nov 2024
Pelaku pasar global saat ini fokus pada kebijakan The Federal Reserve (Fed) AS yang diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan 25 basis poin. Langkah ini kemungkinan akan diikuti oleh bank sentral Inggris dan Swedia. Situasi ini menempatkan Bank Indonesia (BI) dalam posisi sulit, yakni apakah ikut memangkas suku bunga untuk mendukung ekonomi domestik atau mempertahankannya guna melindungi stabilitas rupiah dan mencegah arus keluar dana asing.

David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia, memperkirakan bahwa Fed mungkin tidak akan terlalu agresif dalam melonggarkan kebijakan moneternya karena ekonomi AS masih cukup kuat. Dia menekankan pentingnya BI menjaga keseimbangan, terutama untuk mempertahankan daya tarik rupiah.

Wijayanto Samirin, ekonom Universitas Paramadina, menyarankan BI berhati-hati dalam menurunkan suku bunga, karena hal itu bisa menekan nilai tukar rupiah. Menurutnya, stabilitas rupiah saat ini masih rentan dan sebagian besar didukung oleh masuknya dana asing ke dalam instrumen seperti SBN. Stabilitas rupiah juga penting untuk menjaga kepercayaan investor menjelang kebutuhan refinancing utang pemerintah pada tahun 2024.

Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, melihat BI memiliki ruang untuk memangkas suku bunga, mengingat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang masih cukup menarik dibandingkan US Treasury. Menurutnya, investor tetap tertarik dengan SBN karena yield spread yang lebar.

Awalil Rizky dari Bright Institute memprediksi BI Rate masih bisa turun 50 basis poin hingga akhir tahun ini melalui dua kali pemangkasan. Penurunan suku bunga ini, menurutnya, akan membantu menjaga daya beli meskipun dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi kemungkinan masih terbatas, terutama di tengah ancaman PHK.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat

04 Nov 2024
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2024 diperkirakan stagnan di kisaran 4,75%-5,05%, melambat dibanding kuartal sebelumnya yang mencapai 5,05%. Para ekonom mengidentifikasi beberapa faktor penyebab kondisi ini, termasuk minimnya katalis ekonomi baru, stagnasi harga komoditas, dan penurunan daya beli masyarakat.

David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi masih terhambat karena tidak ada pendorong signifikan dan harga komoditas yang belum bergerak. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2024 akan mencapai 5,03%, lebih rendah dari target APBN sebesar 5,2%.

Hosianna Evalia Situmorang, Ekonom Bank Danamon, lebih optimistis dengan mencatat surplus perdagangan akumulatif dan kenaikan nilai ekspor beberapa komoditas sebagai faktor pendukung. Ia juga melihat realisasi belanja pemerintah, yang tumbuh 12% secara tahunan, sebagai pendorong positif.

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menyoroti konsumsi rumah tangga sebagai faktor utama yang mendukung pertumbuhan, dengan pertumbuhan konsumsi pada kuartal III mencapai 5,03%, naik dari kuartal sebelumnya. Penurunan inflasi juga memperkuat daya beli masyarakat.

Namun, Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina, mengingatkan adanya tanda-tanda pelemahan ekonomi, seperti deflasi selama kuartal III yang menunjukkan penurunan daya beli, serta penurunan aktivitas sektor manufaktur dan ritel yang menyebabkan peningkatan PHK. Ia optimistis bahwa di kuartal IV, berbagai program bansos dan kepastian kebijakan dari pemerintahan baru akan memberikan stimulus positif bagi konsumsi dan pertumbuhan ekonomi. Indikasi ini ditandai oleh inflasi yang mulai muncul pada Oktober 2024.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2024 diperkirakan tetap di level moderat, dengan tantangan utama pada daya beli dan investasi, namun prospek membaik di kuartal IV berkat dukungan kebijakan pemerintah dan program sosial.

Bursa Hadirkan Produk Derivatif Lebih Beragam

04 Nov 2024
Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang memperluas pengembangan produk derivatif untuk meningkatkan variasi dan daya tarik pasar modal Indonesia. Salah satu produk yang tengah dirancang adalah Foreign Index Futures, yang memungkinkan investor mengakses pergerakan indeks saham luar negeri, seperti Hang Seng di Hong Kong dan Nikkei 225 di Jepang. Jeffrey Hendrik, Direktur Pengembangan BEI, menjelaskan bahwa produk ini diharapkan memperluas eksposur investor dan meningkatkan diversifikasi investasi. Namun, penerbitan produk ini masih tergantung pada persetujuan lisensi dari pemilik indeks di negara tujuan.

Selain Foreign Index Futures, BEI juga sedang mempersiapkan peluncuran produk derivatif Single Stock Futures (SSF) yang direncanakan diresmikan pada November 2024. SSF sudah mulai diperdagangkan secara terbatas sejak Juli 2024 melalui PT Binaartha Sekuritas dan baru-baru ini melibatkan PT Ajaib Sekuritas Asia serta PT Phintraco Sekuritas.

Menurut Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, kehadiran produk derivatif baru dapat meningkatkan likuiditas pasar dan menjadi sarana lindung nilai (hedging) bagi investor. Sementara itu, Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, menambahkan bahwa produk ini memberikan variasi strategi bagi investor untuk menghadapi fluktuasi pasar. Namun, ia mengingatkan bahwa investasi di produk derivatif memerlukan pengalaman karena melibatkan leverage dan risiko tinggi, meskipun potensi imbal hasilnya juga besar.

Dengan adanya inovasi ini, BEI berharap bisa menarik minat lebih banyak investor, baik domestik maupun internasional, sekaligus memperkuat daya saing pasar modal Indonesia.

Daya Beli Melemah, Performa Emiten Tertekan

04 Nov 2024
Kinerja emiten telekomunikasi di kuartal III-2024 mengalami tekanan akibat daya beli masyarakat yang melemah, persaingan ketat, dan musim yang kurang menguntungkan dibandingkan kuartal sebelumnya. Nicholas Santoso, analis Verdhana Sekuritas, menyebut bahwa kondisi ini menyulitkan operator menaikkan harga layanan seluler, sehingga berdampak pada profitabilitas mereka. Emiten seperti PT Indosat Tbk (ISAT) mencatat laba bersih Rp 1,1 triliun, turun 21% secara kuartalan meskipun meningkat 30% secara tahunan. Di sisi lain, laba konsolidasi TLKM juga turun 12,3% yoy menjadi Rp 5,9 triliun pada kuartal tersebut.

Giovanni Dustin, analis Indo Premier Sekuritas, menyoroti bahwa XL Axiata (EXCL) mengalami kontraksi kuartalan meskipun pendapatan tumbuh 5% yoy. Namun, langkah EXCL menaikkan harga paket sekitar 5% di awal September 2024 diharapkan meningkatkan kinerja di kuartal IV dan seterusnya.

Paulus Jimmy dari Sucor Sekuritas menilai ISAT sebagai pilihan unggul di sektor ini karena pertumbuhan pangsa pasar, ekspansi agresif, dan perbaikan pendapatan rata-rata pengguna (ARPU). Ia juga mencatat bahwa EXCL memiliki prospek baik, namun TLKM tetap menarik sebagai saham dividen dengan imbal hasil tinggi.

Ke depan, pilkada dan liburan akhir tahun diharapkan menjadi katalis positif yang mendorong pemulihan sektor telekomunikasi, terutama melalui peningkatan penggunaan data. Meski demikian, tantangan dari daya beli yang lemah dan persaingan ketat tetap menjadi perhatian utama.