Ekonomi
( 40460 )BPS Menyatakan Inflasi pada Oktober 2024 mencapai 0,08
Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan inflasi pada Oktober 2024 mencapai 0.08%, inflasi tahunan mencapai 1,71% secara tahunan (yoy) dan inflasi tahun kalender 0,82% dari awal tahun (year-to-date/YTD). Jika dilihat berdasarkan komoditas pendorong tercatat emas memberikan andil yang besar pada inflasi Oktober 2024. "Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada kelompok ini adalah emas perhiasan dengan andil inflasi 0,06%," ucap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalan konferensi pers di Kantor BPS. Amalia mengatakan, kenaikan harga emas ini terjadi karena di pasar global karena dipengaruhi ketidakpastian geopolitik seperti konflik di Timur Tengah dan konflik Rusia-Ukraina.
Dan tekanan geopolitik ini membuat orang memilih emas sebagai instrumen investasi. "Selain kondisi geopolitik, tentunya kenaikan harga emas terjadi karena kebijakan moneter yang ditetapkan The Fed, dimana ada tren penurunan suku bunga The Fed dan ini juga memacu para investor untuk beralih ke komoditas emas," tutur Amalia. Dia menyatakan inflasi emas secara year on year di bulan Oktober ini sebesar 35,82%. Pergerakan harga emas mengalami peningkatan dalam satu tahun terakhir. Jika melihat kondisi emas pada tahun 2020 sampai 2024 harga emas tertinggi terjadi pada Agustus 2020. Perkembangan inflasi komoditas emas sejalan dengan perekonomian dunia. (Yetede)
Karut-marut Emiten BUMN Farmasi
Perbaiki Aset Perbankan Terus Menerus
Industri perbankan hingga posisi September 2024 berhasil menjaga kinerjanya tetap stabil di tengah tantangan ekonomi global maupun domestik. Terindikasi dari kualitas aset perbankan yang mengalami perbaikan. OJK mencatat, kredit yang disalurkan perbankan per September 2024 mencapai Rp 7.579 triliun, tumbuh 10,85% secara tahunan (Year on year/yoy). Meskipun mengalami perlambatan dibandingkan dengan posisi Agustus 2024 yang tumbuh 11,4% (yoy). Namun, secara bulanan kredit masih tetap tumbuh positif 0,95% month to month (mtm). Pertumbuhan kredit tersebut juga didukung dengan perbankan kuaitas kredit, baik dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) maupun loan at risk (LAR).
"Kualitas kredit tetap terjaga NPL gross 2,21% dibandingkan Agustus 2,26% dan NPL net 0,78%. sementara itu LAR juga menunjukkan tren penurunan menjadi 10,11% dari Agustus 10,17% rasio LAR ini mendekati sebelum pandemi 9,93% pada 2019," ungkap Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae. Dian melanjutkan, likuiditas perbankan dinilai masih memadai dengan rasio alat liquid/non-core deposit (AL/NCD) dan alat liquid/dana pihak ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 50% dan 10%. Perbankan juga menghimpun DPK sebesar Rp8.721 triliun tumbuh 7,04% (yoy) per September 2024, naik tipis dari bulan sebelumnya 7,01% (yoy). (Yetede)
Perlu kehati-hatian dalam Menghapus Utang Petani
Angkutan Penyebrangan Batal Naik Para Pengusaha Sangat Kecewa
Tanda-Tanda Awal Pemulihan Ekonomi
Setelah mengalami deflasi selama lima bulan berturut-turut sejak Mei 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulanan sebesar 0,08% pada Oktober 2024. Pelaksana Tugas Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebutkan bahwa inflasi ini menandai berakhirnya tren deflasi, dengan kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 105,93 pada September menjadi 106,01 pada Oktober. Penyumbang utama inflasi adalah kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya, yang mencatat inflasi 0,94% secara bulanan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai kenaikan IHK mencerminkan perbaikan daya beli masyarakat, meski angkanya masih kecil. Ia berharap tren ini dapat mendorong pemulihan aktivitas produksi di berbagai sektor. Namun, Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menyatakan bahwa terlalu dini untuk menganggap inflasi ini sebagai pemulihan daya beli yang solid. Ia menekankan bahwa kenaikan harga masih terkonsentrasi pada kebutuhan pokok yang sifatnya inelastis, sementara ketidakpastian ekonomi terlihat dari inflasi pada harga emas.
Peneliti CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menambahkan bahwa inflasi inti, yang mencerminkan permintaan barang dan jasa, juga mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan permintaan pada beberapa komponen barang dan jasa. Meski demikian, ia mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap risiko penurunan daya beli dengan memperkuat investasi dan konsumsi, khususnya di kelas menengah.
Kemajuan Teknologi Rudal Korea Utara Kian Mengkhawatirkan
Korea Utara kembali meluncurkan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang mencatatkan rekor penerbangan baru. Peluncuran ini menunjukkan kemampuan rudal yang semakin berkembang, memungkinkan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, untuk memuat hulu ledak yang lebih berat dan meningkatkan potensinya dalam melancarkan serangan nuklir ke daratan Amerika Serikat. Foto-foto yang dirilis oleh media pemerintah Korea Utara, KCNA, memperlihatkan rudal tersebut menggunakan peluncur bergerak dengan 11 poros, yang lebih besar dibandingkan dengan peluncuran sebelumnya yang melibatkan truk sembilan gandar. Hal ini menandakan kemajuan signifikan dalam program rudal Korea Utara.
Menguatkan Kepercayaan Investor di Tengah Tantangan Ekonomi
Pemerintahan Kabinet Merah Putih yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka telah memulai langkah-langkah signifikan dalam menghadapi tantangan ekonomi, dengan fokus pada sektor riil dan pasar keuangan. Meskipun baru dua pekan menjabat, Presiden Prabowo sudah melakukan konsolidasi pemerintahan dengan rapat-rapat terbatas guna merumuskan langkah-langkah strategis. Salah satu perhatian utama adalah penyelamatan perusahaan tekstil besar, PT Sritex, yang menghadapi masalah gagal bayar utang, yang menunjukkan upaya nyata pemerintah untuk mendukung industri yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Di pasar keuangan, arus investasi asing menunjukkan optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia, dengan pembelian Surat Utang Negara (SUN) yang mencapai rekor tertinggi sejak 2017. Hal ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia, yang juga didorong oleh laporan keuangan positif dari sejumlah emiten besar, seperti bank-bank negara. Meski demikian, pelaku pasar tetap mengharapkan terobosan dan inovasi dari kabinet baru untuk memperkuat iklim investasi, mengingat tantangan terkait koordinasi dan birokrasi antar kementerian yang masih perlu diselesaikan.
Dengan mempertahankan figur-figur kunci seperti Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan, pemerintahan Prabowo diharapkan dapat menjaga kepercayaan pasar dan terus menarik lebih banyak investasi. Keberhasilan kabinet dalam menjaga stabilitas politik dan ekonomi akan menjadi faktor penting dalam memastikan prospek ekonomi Indonesia yang positif di masa depan.
Manufaktur Tetap Melaju: Indeks Kepercayaan di Zona Positif
Industri pengolahan di Indonesia mengalami perkembangan positif, tercermin dari kenaikan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang mencapai 52,75 pada Oktober 2024, menunjukkan ekspansi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 52,48. Kenaikan ini didorong oleh 22 subsektor industri yang berkontribusi signifikan terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas, meskipun hanya satu subsektor, yakni industri kayu, barang dari kayu dan gabus, yang mengalami kontraksi.
Febri Hendri Antoni Arif, Juru Bicara Kementerian Perindustrian, menyatakan bahwa subsektor industri minuman dan barang galian nonlogam mencatatkan nilai IKI tertinggi pada Oktober 2024. Kinerja manufaktur yang tetap berada di zona ekspansi juga didorong oleh kenaikan variabel produksi dan persediaan produk, meskipun ada sedikit pelambatan dalam pesanan baru, terutama akibat lesunya pasar global.
Namun, optimisme pebisnis terhadap prospek bisnis enam bulan ke depan meningkat signifikan, mencapai 73,3%, mencerminkan kembali pulihnya keyakinan para pelaku usaha setelah sempat menurun sejak Juli 2024. Kenaikan ini juga dipicu oleh pelantikan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka serta pembentukan Kabinet Merah Putih, yang dianggap memberikan angin segar bagi dunia usaha dan perekonomian Indonesia ke depan.
Daya Tarik Surat Utang RI di Mata Global
Indonesia kini menjadi pilihan investasi yang menarik bagi investor global, khususnya dari Amerika Serikat, berkat stabilitas politik dan inflasi yang terkendali. Philip McNicholas, Asia Sovereign Strategist Robeco Group Singapura, menekankan bahwa obligasi Indonesia menawarkan imbal hasil yang stabil dan menguntungkan di tengah ketidakpastian pasar global. Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk mempertahankan Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan juga memberikan sinyal kesinambungan kebijakan ekonomi yang lebih aman bagi investor. Meskipun ada tantangan dari penguatan dolar AS dan dinamika pasar global yang berpotensi mempengaruhi yield SUN (Surat Utang Negara), investor tetap melihat potensi keuntungan di Indonesia, terutama dengan yield premium yang lebih tinggi dibandingkan obligasi AS. Namun, pelaku pasar diingatkan untuk tetap waspada terhadap kemungkinan perubahan arah investasi global.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









