Ekonomi
( 40460 )Strategi Inovatif untuk Meningkatkan Penjualan
Meskipun program subsidi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) di Indonesia telah membantu meningkatkan adopsi motor listrik di masyarakat, ketergantungan pada subsidi masih menjadi tantangan besar bagi produsen. Pada tahun 2024, habisnya kuota subsidi untuk motor listrik menandakan adanya minat yang besar dari konsumen terhadap kendaraan yang ramah lingkungan, namun ketidakpastian mengenai kelanjutan subsidi di masa depan dapat mengurangi antusiasme konsumen karena harga jual yang lebih mahal tanpa dukungan subsidi.
Para produsen motor listrik, seperti Purbaja Pantja dari PT Indika Energy dan PT Electra Mobilitas Indonesia (ALVA), mengakui pentingnya subsidi dalam memperkenalkan produk ke pasar. Meskipun demikian, mereka juga percaya bahwa keberlanjutan industri motor listrik memerlukan inovasi dan kualitas produk yang tinggi serta kerjasama dengan lembaga pembiayaan untuk tetap mempertahankan gairah pasar. Purbaja juga meyakini bahwa dengan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang manfaat kendaraan listrik bagi efisiensi dan keberlanjutan lingkungan, permintaan motor listrik akan tetap berkembang meskipun tanpa subsidi pemerintah.
Produsen lain seperti Kevin Phang dari Smoot Motor Indonesia dan Wilson Wirawan dari PT Ninetology Indonesia juga menggarisbawahi pentingnya keberlanjutan subsidi dengan syarat ketat, seperti peningkatan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), agar produsen dalam negeri dapat bersaing dengan produk impor. Meskipun beberapa perusahaan, seperti Electrum, menghadapi kendala kuota subsidi yang terbatas, mereka terus fokus pada inovasi dan pengembangan produk untuk menarik konsumen tanpa mengandalkan subsidi.
Di sisi lain, Okie Octavia Kurniawan dari Volta menekankan bahwa penentuan jumlah unit yang mendapat subsidi harus berdasarkan kajian mendalam, mempertimbangkan target adopsi kendaraan listrik nasional, anggaran pemerintah, kapasitas pasar, dan strategi pengembangan industri otomotif.
Secara keseluruhan, meskipun subsidi telah memberikan dorongan awal yang signifikan bagi pasar motor listrik di Indonesia, keberlanjutan industri ini memerlukan perbaikan dalam kebijakan, inovasi produk, dan peningkatan kualitas untuk memastikan pertumbuhan jangka panjang tanpa ketergantungan pada subsidi pemerintah.
Bank Sentral di Tengah Dilema Ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat
Bursa Hadirkan Produk Derivatif Lebih Beragam
Daya Beli Melemah, Performa Emiten Tertekan
Kinerja Reksadana Saham Masih Lemah
DMAS Manfaatkan Kredit BMRI untuk Kawasan Industri
PT Puradelta Lestari Tbk. (DMAS) berhasil memperoleh fasilitas pinjaman senilai Rp1,5 triliun dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) untuk mendukung pengembangan Kawasan Deltamas di Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi. Direktur dan Sekretaris Perusahaan DMAS, Tondy Suwanto, menyatakan bahwa pinjaman modal kerja non-revolving ini akan digunakan dalam jangka waktu lima tahun untuk memperkuat operasional perusahaan dan meningkatkan profitabilitas secara berkelanjutan. Pinjaman tersebut dijamin oleh aset tanah di Kawasan Deltamas.
Sepanjang Januari–September 2024, DMAS mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,12 triliun, naik signifikan 84,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Segmen industri menjadi kontributor utama pendapatan usaha sebesar Rp1,5 triliun, dengan sektor pusat data (data center) menyumbang 64,5% dari pendapatan tersebut. Kawasan Greenland International Industrial Center (GICC) terus menarik minat investor asing, menjadikan sektor data center sebagai andalan utama.
Selain itu, segmen hunian berkontribusi Rp92,3 miliar, segmen komersial Rp34,3 miliar, dan segmen sewa serta hotel masing-masing menyumbang Rp12,3 miliar dan Rp12,1 miliar. Secara keseluruhan, DMAS berhasil mencapai 93,6% dari target pendapatan 2024 dengan total pendapatan usaha Rp1,7 triliun, naik 71,8% dibandingkan tahun sebelumnya.
Garuda Indonesia Tambah Jalur Penerbangan Baru
PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA), di bawah kepemimpinan Direktur Utama Irfan Setiaputra, akan menerima empat pesawat baru jenis Boeing 737-800NG secara bertahap hingga akhir tahun 2024. Dengan penambahan ini, Garuda akan mengoperasikan setidaknya 76 pesawat hingga akhir tahun. Irfan juga mengungkapkan bahwa maskapai ini berencana menambah total 8 pesawat sepanjang 2024, termasuk 4 narrow body dan 4 wide body (2 Boeing 777-300ER dan 2 Airbus 330-300).
Berdasarkan laporan Kementerian BUMN, Garuda Indonesia menargetkan pengoperasian 98 armada pada akhir 2026, terdiri dari berbagai jenis pesawat, seperti Boeing 737-800 dan Airbus A330-300. Hingga akhir 2024, jumlah pesawat yang dioperasikan diproyeksikan mencapai 82 unit, dan bertambah menjadi 89 pada 2025.
Garuda juga berencana membuka rute baru, termasuk dari Bandara Halim Perdanakusuma ke Balikpapan, Bali, Singapura, dan menuju Ibu Kota Nusantara (IKN). Strategi ini diharapkan memperluas jaringan penerbangan domestik dan internasional serta mendukung pengembangan transportasi udara di kawasan IKN.
BRICS Memicu Pergeseran Dana Asing
Emas Picu Inflasi, Bukan Kenaikan Daya Beli
Inflasi di Indonesia pada Oktober 2024 mencapai 0,08% (mtm) setelah mengalami deflasi selama lima bulan. Amalia Adininggar Widyasanti, Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), menyatakan bahwa komoditas emas perhiasan menjadi pendorong utama inflasi bulan ini dengan kontribusi sebesar 0,06%. Secara tahunan, inflasi emas perhiasan mencapai 35,82% (yoy), seiring meningkatnya harga emas global akibat ketidakpastian geopolitik, seperti konflik di Timur Tengah dan Ukraina-Rusia, serta kebijakan moneter The Fed yang menurunkan suku bunga, mendorong investor untuk beralih ke emas sebagai aset aman.
Selain emas, inflasi juga disumbang oleh komoditas lain, seperti daging ayam ras, bawang merah, dan tomat. Meski inflasi inti naik menjadi 0,22% (mtm) dan 2,21% (yoy), komponen harga bergejolak tetap mencatat deflasi 0,11% (mtm).
Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, menilai kenaikan inflasi ini belum menunjukkan perbaikan daya beli masyarakat. Menurutnya, inflasi tahunan yang rendah sejak 2021 dan tren PMI Manufaktur di bawah 50 menunjukkan lemahnya konsumsi rumah tangga. Bhima memperkirakan inflasi akan meningkat pada awal 2025 dengan penerapan tarif PPN 12%, yang bisa menekan permintaan lebih lanjut. Ia menyarankan pemerintah segera meluncurkan stimulus berupa peningkatan upah minimum dan perluasan bantuan sosial bagi masyarakat kelas menengah yang rentan.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









