;
Kategori

Ekonomi

( 40460 )

Stok Cadangan Beras Terjaga Sebanyak 2 Ton

05 Nov 2024

Para pekerja terlihat sedang mengemas beras premium di Sentra Pengolahan Beras Jakarta, kompleks pergudangan Bulog, Sunter Timur, Kelapa Gading, Jakarta, Senin (4/11/2024). Tempat tersebut memiliki kapasitas pengemasan 6 ton per jam. Pemerintah optimistis dengan cadangan beras minimal 2 juta ton hingga akhir tahun 2024 dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan menjaga stabilitas harga pangan di Indonesia. (Yoga)

Mempertanyakan Program Pembangunan 3 Juta Rumah

05 Nov 2024

Ambisi pemerintah untuk membangun 3 juta rumah per tahun dipertanyakan karena dinilai kurang realistis. Skema gotong royong penyediaan rumah yang dicanangkan pemerintah perlu diimbangi regulasi dan strategi yang jelas. Kebijakan pembiayaan juga perlu diperbarui. Beragam pertanyaan dan keraguan terkait program 3 juta rumah per tahun mengemuka dalam Raker Komisi V DPR dengan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait di Gedung Nusantara, Jakarta, Senin (4/11). Dalam rapat itu, anggota Komisi V DPR, Lasarus, mengatakan, masalah kekurangan (backlog) rumah adalah problem menahun. Angka kekurangan rumah tidak berkurang signifikan meski program penyediaan rumah terus digulirkan. Lima tahun terakhir, alokasi anggaran pemerintah untuk pembiayaan perumahan Rp 119 triliun, tapi total penyediaan rumah hanya bisa dicapai 2,17 juta unit.

Pada periode 2024-2029, pemerintah justru kenargetkan penyediaan 3 juta unit rumah tiap tahun. ”Untuk bisa mencapai 3 juta rumah per tahun, setiap hari harus bisa membangun 8.220 unit rumah. Untuk mencapai 3 juta rumah pada tahun 2025 dengan anggaran pemerintah Rp 5 triliun, tentu jauh panggang dari api,” ujar anggota Fraksi PDI-P DPR tersebut. Ia mengilustrasikan, kebutuhan anggaran untuk bantuan stimulan perumahan swadaya sebanyak 3 juta unit mencapai Rp 60 triliun, tidak termasuk pembangunan rumah tapak. Sementara, hingga saat ini belum ada dokumen terkait peta jalan pencapaian 3 juta rumah per tahun. Menurut Lasarus, penyediaan lahan merupakan hal mendasar dari proses penyediaan perumahan rakyat. Namun, penyediaan lahan perumahan kerap menuai persoalan hukum. Karena itu, masalah lahan perlu disikapi hati-hati, terutama lahan yang dihibahkan untuk perumahan rakyat. (Yoga)


PTPN dan Perhutani Akan Digabung untuk Menopang Swasembada

05 Nov 2024

Kementerian BUMN berencana menggabungkan PT Perkebunan Nusantara Group dengan Perum Perhutani. Penggabungan atau merger dilakukan sebagai bentuk rasionalisasi untuk mendukung program swasembada pangan yang jadi prioritas Presiden Prabowo. Rencana itu disampaikan Menteri BUMN Erick Thohir dalam raker Komisi VI DPR di Jakarta, Senin (4/11). ”Jika PTPN merger dengan Perhutani, luas lahan yang dikelola 2,2 juta hektar. Kami bisa memetakan kembali mana yang mendukung swasembada pangan,” ujarnya. Saat ini, target swasembada pangan memiliki masalah kurangnya lahan. ”Hal ini yang sedang kita coba remapping. Apalagi, beberapa industri memang sudah mulai kalah bersaing. Rasionalisasi ini yang kami coba lakukan,” kata Erick. Akhir tahun lalu, Holding Perkebunan Nusantara atau PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III (Persero) meresmikan pembentukan subholding PalmCo yang bergerak di sektor hilirisasi produk sawit dan SupportingCo yang bergerak mengoptimalisasi aset perkebunan milik PTPN Group.

Sub-holding PalmCo dibentuk melalui penggabungan anak usaha PTPN Group, yakni PTPN V, VI, dan XIII, ke dalam PTPN IV sebagai entitas yang bertahan (surviving entity). Adapun sub-holding SupportingCo dibentuk melalui peng- gabungan anak usaha PTPN Group, yakni PTPN II, VII, VIII, IX, X, XI, XII, dan XIV, ke dalam PTPN I. PalmCo digadang-gadang bisa menjadi perusahaan perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia dengan lahan seluas 700.000 hektar serta menghasilkan 3,3 juta ton minyak sawit mentah (CPO), 1,8 juta ton minyak goreng, dan 433.000 ton biodiesel setiap tahun. Sementara SupportingCo akan menjadi perusahaan pengelola aset perkebunan yang mencakup kegiatan pemanfaatan aset perkebunan melalui optimalisasi dan divestasi aset, pengelolaan tanaman perkebunan, diversifikasi usaha lainnya, serta green business yang mampu memberikan nilai tambah bagi perusahaan. (Yoga)


Perombakan jajaran Direksi dan Komisaris Pertamina

05 Nov 2024

Kementerian BUMN mengubah susunan direksi dan komisaris PT Pertamina (Persero) pada Senin (4/11). Simon Aloysius Mantiri, yang sebelumnya Komisaris Utama, menjadi Dirut menggantikan Nicke Widyawati. Sementara Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Mochamad Iriawan atau Iwan Bule menjadi Komisaris Utama Pertamina. Pergantian dihasilkan melalui RUPS dengan SK-258/MBU/11/2024 dan SK-259/MBU/11/2024 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan (Persero) PT Pertamina. Diputuskan Wamen BUMN, Dony Oskaria sebagai Wakil Komut dan Raden Adjeng Sondaryani sebagai Komisaris Independen. Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso mengatakan, pengangkatan serta pemberhentian direksi dan komisaris BUMN, termasuk Pertamina, adalah kewenangan pemerintah sebagai pemegang saham, diwakili Menteri BUMN.

”Pergantian kepemimpinan perusahaan merupakan proses normal dan wajar sebagaimana ketentuan yang  ada,” kata Fadjar melalui siaran pers, Senin (4/11). Fadjar menambahkan, kehadiran pemimpin baru akan menjadi energi baru untuk memastikan keberlanjutan Pertamina di masa mendatang. Kepemimpinan sebelumnya menjadi landasan untuk mencapai kemajuan perusahaan serta mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional. Tim Prabowo-Gibran Pada Pilpres 2024, Simon Aloysius menjabat sebagai Wakil Bendahara Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran. Berdasar Keputusan Menkumham No M.HH-23.AH.11.01TAHUN 2020 tentang Pengesahan Dewan Pembina, Dewan Penasihat, Dewan Pakar, dan Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra, Simon Aloysius tercatat sebagai anggota Dewan Pembina Partai Gerindra. Simon diangkat menjadi Komisaris Utama Pertamina pada Juni 2024. (Yoga)


Target Pertumbuhan Ekonomi Sulit Dicapai

05 Nov 2024

Mesin utama perekonomian Indonesia, seperti konsumsi rumah tangga dan industri manufaktur, melambat signifikan sepanjang triwulan III-2024, pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2024 diperkirakan di bawah 5 %. Target pertumbuhan ekonomi 5,2 % sepanjang 2024 sulit dicapai. Kinerja industri manufaktur mengalami perlambatan empat bulan berturut-turut, sejak Juli dan berlanjut hingga Oktober 2024. Pada Oktober, Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) Manufaktur Indonesia pada level 49,2 alias kontraksi. Posisi itu sama dengan level September 2024 (49,2), tetapi lebih rendah dari Juli (49,3) dan di atas Agustus (48,9).

Perlambatan disebabkan turunnya permintaan yang memicu penurunan produksi industri pengolahan. Sepanjang triwulan III-2024, pelemahan juga diperkirakan terjadi pada konsumsi rumah tangga selaku mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional. Indikasi itu terlihat dari deflasi yang terjadi hingga lima bulan berturut-turut sejak Mei sampai September 2024. Juli-September 2024, konsumsi diperkirakan melemah karena absennya faktor musiman, seperti hari raya keagamaan, yang bisa mendongkrak permintaan seperti pada triwulan I dan II.

Di tengah melemahnya motor-motor utama perekonomian itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai, ekonomi pada triwulan III-2024 berpotensi tumbuh di bawah 5 %, melambat dibanding triwulan II-2024 (5,05 %) dan triwulan I-2024 (5,11 %). Pelemahan ekonomi pada triwulan III-2024 dinilai akan memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi sepanjang 2024. Target pertumbuhan ekonomi yang dipasang pemerintah tahun ini 5,2 persen. Kondisi mesin-mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lemah akan mempersulit target itu dicapai. (Yoga)


Investor industri tekstil asing masih tertarik berinvestasi dan membuka pabrik di Indonesia

05 Nov 2024

Di tengah keterpurukan industri tekstil dalam negeri, investor industri tekstil asing masih tertarik berinvestasi dan membuka pabrik di Indonesia. Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan, di tengah kemunduran industri tekstil dalam negeri, sektor ini masih menarik di mata investor asing. Ia tidak heran dengan pernyataan pemerintah, akan ada 15 perusahaan tekstil asing yang akan membangun pabrik di Indonesia. ”Ketertarikan pengusaha tekstil asing untuk berinvestasi dan membuka pabrik di Indonesia sudah terjadi sejak awal 2024. Ini sebelum terjadi banjir impor yang membuat tekstil dalam negeri terpuruk mulai pertengahan tahun ini. Jadi, tidak mengherankan,” tutur Redma, Senin (4/11).

Redma menjelaskan, salah satu pihak yang tertarik berinvestasi di Indonesia adalah para pengusaha Taiwan yang tergabung dalam Taiwan Textile Federation (TTF). Mereka pernah datang ke kantor APSyFI untuk berbicara soal iklim usaha sektor tekstil produk tekstil (TPT) di Indonesia. Para investor tekstil dari TTF itu berencana membangun pabrik di industri antara tekstil dan hilir tekstil. Industri antara memproduksi kain dan industri hilir memproduksi pakaian jadi atau garmen. Kehadiran mereka menjadi angina segar di tengah keterpurukan tekstil. Mereka bisa mendongkrak investasi sektor ini dan membuka lapangan kerja yang baru bagi masyarakat. ”Ini kabar yang bagus untuk Indonesia,” ujarnya. Ketertarikan investor Taiwan ke Indonesia lebih didorong kondisi geopolitik dan perdagangan internasional, bukan karena iklim usaha sektor tekstil Indonesia yang kondusif. (Yoga)


Momentum Tingkatkan Iklim Investasi Ekonomi di Indonesia

05 Nov 2024

Pemerintah sudah tidak lagi mengandalkan insentif pajak untuk menarik investasi, sering berlakunya pajak minimum global 15% mulai 2025. Pada titik ini, pemerintah harus agresif mengucurkan insentif nonfinansial demi meningkatkan iklim investasi. Insentif itu bisa berupa kemudahan perizinan dan mendapatkan lahan, kepastian regulasi bagi calon investor, serta pembenahan ketentuan perburuhan. Adapun insentif fiskal sebaiknya diberikan kepada wajib pajak yang memiliki penghasilan kecil. Selain itu, agenda pemberantasan korupsi harus dijalankan maksimal demi memberikan kepastian hukum.

Efisiensi ekonomi juga perlu ditingkatkan, karena biaya logistik Indonesia masih yang tertinggi di kawasan. Skor incremental capital out-put ratio (ICOR) Indonesia juga harus dipangkas, lantaran saat ini mencapai 6, jauh lebih tinggi dari negara-negara tetangga. Ini menandakan ekonomi Indonesia boros modal, namun produktivitasnya rendah. Dengan iklim investasi yang kondusif, sejumlah kalangan menilai, aktivitas penanaman modal di Tanah Air bisa tetap menggeliat di tengah penerapan pajak minimum global. Alasannya, dimata investor, iklim investasi, terutama kepastian hukum dan regulasi lebih fundamental. Adapun insentif pajak dinilai sebagai faktor pertimbangan tambahan. (Yetede)

UMKM yang Tengah Terpuruk Diharapkan Mendapatkan Angin Segar dari Perbankan di 2025

05 Nov 2024

Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tengah terpuruk diharapkan mendapatkan angin segar dari perbankan di 2025, Ini seiring dengan rencana bisnis perbankan (RBB) yang terus menggenjot kredit keadaan sektor tersebut. Berbagai pihak termasuk OJK memberikan dukungan dan mendorong pertumbuhan UMKM, yang merupakan salah satu aspek penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Di antaranya, OJK mengimbau kepada semua bank agar lebih agresif  menyalurkan kredit kepada UMKM. "Di tahun mendatang, dukungan pada UMKM tampak dari rencana bisnis yang meningkat setiap tahunnya.

OJK telah mengirim surat kepada seluruh perbankan  pada 18 Oktober 2024 untuk meminta bank  melakukan langkah-langkah yang lebih inovatif dalam penyaluran kredit UMKM, dan dicantumkan  dalam RBB 2025," ungkap Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae. Dian mengatakan, OJK sudah menyelesaikan RPOJK tentang kemudahan akses pembiayaan UMKM yang akan dikonsultasikan dengan DPR pada waktunya, dimana saat ini konsepnya  sedang dalam finalisasi. "Ada banyak hal (dari RPOJK) yang akan sangat membantu dalam konteks kemudahan UMKM terhadap pendanaan bank," ujarnya. (Yetede)

Optimalisasi Hilirisasi Sawit

05 Nov 2024

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) memiliki potensi untuk meningkatkan daya saing industri seperti memaksimalkan nilai tambah produk sawit. Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Sahat Sinaga mengatakan, dengan memproduksi satu ton sawit, secara bersamaan dapat menghasilkan 8,7 ton biomass. "Menurut saya, oil palm is an incredible tree. Karena dia memiliki hal yang luar biasa dan itulah sebabnya kita  mengharapkan dari pada kita  melakukan research, lebih baik kita mengembangkan kawasan ekonomi-kawasan ekonomi," jelas dia. Sahat menjelaskan, Kawasan Ekonomi Khusus sangat penting dan perlu digalakkan.

Indonesia memiliki geografis yang strategis dibandingkan  negara lainnya dan sawit sekarang sangat diminati diseluruh dunia. Bagaimana harga sawit kita itu, kita konversi sampai dengan harga US$ 3.000-US$ 4.000 per ton dari US$ 800 dolar. Untuk mencapai itu banyak persyaratan yang kita perlukan," kata dia. KEK kita gunakan untuk menarik industri atau pelaku usaha untuk berpindah atau berusaha ke dalam negeri. Sahat mengharapkan adanya kestabilan  politik dan regulasi agar investor asing berminat masuk ke Indonesia. "Itu strategi yang akan kita jalankan. Bagaimana kita memberikan fasilitas yang baik bagi mereka sehingga mereka betah berbisnis di Indonesia," jelas dia. (Yetede)

Pemerintah memprioritaskan Enam Komoditas Perikanan-Kelautan

04 Nov 2024

Pemerintah terus menggencarkan hilirisasi selama 2024-2029. Dari 28 komoditas yang akan diprioritaskan, 6 komoditas di sektor perikanan dan kelautan, yaitu udang, tuna, tongkol, cakalang, rajungan, dan tilapia. Ada pula rumput laut dan potensi dari lahan garam. Wakil Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia Budhy Fantigo, Minggu (3/11) menilai, belum ada peta jalan terkait hilirisasi komoditas strategis perikanan. Selama ini hilirisasi perikanan berjalan alami dan sebagian besar dikelola pada skala industri. Upaya mendorong program hilirisasi perlu keseimbangan aspek hulu-hilir. Penting untuk mengelola perikanan budidaya dan perikanan tangkap agar kompetitif sekaligus mengoptimalkan pengolahan ikan yang ada. ”Utamakan dulu mengembangkan usaha perikanan yang sudah ada agar lebih optimal dan berdaya saing,” katanya.

Hilirisasi komoditas udang saat ini sudah mulai berjalan dalam bentuk produk-produk olahan. Komoditas rajungan umumnya baru diolah setengah jadi dalam bentuk daging rajungan. Komoditas nila sebatas produk irisan daging (fillet) dengan kapasitas 11.000 ton per tahun. Hilirisasi tuna, tongkol, dan cakalang umumnya untuk bahan baku kualitas rendah, yakni untuk diolah menjadi tongkol kaleng dan tuna kaleng. Selama ini tuna kualitas premium lebih banyak diekspor dalam bentuk segar dan utuh karena nilai jual lebih tinggi. Sementara ikan-ikan segar kualitas rendah yang tidak terserap pasar domestik perlu didorong untuk hilirisasi. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, mengemukakan, hilirisasi membutuhkan penguatan di sisi hulu agar terjadi keberlanjutan produksi. Dengan demikian, utilitas pabrik pengolahan di sisi hilir bisa meningkat. (Yoga)