Ekonomi
( 40460 )Cawe-cawe Terakhir Jokowi Menjelang Pensiun
Kerja Ekstra Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Presiden Prabowo Subianto dan pemerintahannya dihadapkan pada tantangan besar dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada tahun-tahun awal pemerintahannya. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2024 hanya mencapai 4,95% YoY, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya dan melambat dibandingkan dengan dua kuartal sebelumnya. Hal ini terutama disebabkan oleh perlambatan konsumsi rumah tangga, yang merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi, terutama di sektor perumahan, transportasi, dan restoran.
Meskipun demikian, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, tetap optimis bahwa ekonomi Indonesia dapat tumbuh sekitar 5% pada akhir tahun 2024, dengan harapan adanya dorongan dari konsumsi rumah tangga dan investasi langsung. Pemerintah juga berencana untuk mengimplementasikan kebijakan dan insentif di sektor padat karya guna mencegah pemutusan hubungan kerja (PHK) dan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan. Airlangga juga menekankan pentingnya sektor swasembada pangan dan energi sebagai pendorong utama untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dalam jangka panjang.
Selain itu, optimisme juga datang dari sektor bisnis, dengan Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI) yang memprediksi akselerasi ekonomi pada kuartal IV/2024 dan awal 2025 berkat perayaan hari-hari besar nasional yang dapat mendorong konsumsi rumah tangga. Meskipun demikian, beberapa ekonom, seperti Piter Abdullah Redjalam dan Hosianna Evalita Situmorang, memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun ini kemungkinan akan tetap berada di kisaran 4,95% hingga 5%, kecuali ada kebijakan stimulus yang lebih besar untuk mendongkrak permintaan domestik.
Secara keseluruhan, meskipun ada tantangan yang dihadapi, pemerintah tetap berupaya untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif melalui kebijakan yang mendukung investasi dan penciptaan lapangan kerja. Pemerintah juga menyadari perlunya lebih banyak stimulus untuk mempercepat pemulihan ekonomi dan menjaga momentum pertumbuhan.
Kekhawatiran Pasar Terhadap Pemilu AS
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 2,46% sepanjang pekan lalu, dipengaruhi oleh keluarnya dana asing yang cukup besar dari pasar saham Indonesia. Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa pemodal asing mencatatkan jual bersih senilai Rp2,65 triliun antara 28 Oktober hingga 1 November 2024, yang turut memperburuk aliran dana keluar yang telah mencapai Rp12,58 triliun sepanjang bulan Oktober. Meskipun demikian, IHSG masih menunjukkan ketahanan atau resiliensi, meskipun pergerakannya fluktuatif.
Tantangan selanjutnya datang dari ketidakpastian politik global, khususnya terkait dengan Pemilihan Umum Presiden Amerika Serikat yang semakin mendekati hasil akhirnya. Pasar cenderung merespons negatif terhadap ketidakpastian ini, terutama jika hasil pemilu memunculkan ketegangan atau kemenangan tipis antara kandidat Kamala Harris dari Partai Demokrat dan Donald Trump dari Partai Republik. Situasi politik yang tidak stabil dapat meningkatkan volatilitas pasar saham global, termasuk di Indonesia.
Perekonomian Indonesia, meskipun dipengaruhi oleh dinamika global, harus tetap fokus pada penguatan fundamental ekonomi domestik agar dapat meningkatkan resiliensi pasar modal di dalam negeri. Meskipun ada risiko yang terkait dengan kebijakan ekonomi yang berbeda antara kedua calon presiden AS, stabilitas politik dan kebijakan ekonomi yang pro-pasar menjadi faktor yang sangat ditunggu-tunggu oleh pelaku pasar. Oleh karena itu, Indonesia perlu terus memantau perkembangan ini dan memperkuat daya tahan ekonomi untuk menghadapi ketidakpastian global.
BBN Airlines Diminta Penuhi Hak Penumpang Rute Jakarta-Balikpapan
Kementerian Perhubungan mengimbau BBN Airlines Indonesia untuk mengembalikan uang tiket secara penuh kepada penumpang yang terpengaruh oleh penutupan rute Jakarta–Balikpapan. Plt. Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menyampaikan bahwa BBN Airlines memutuskan untuk menutup rute tersebut sejak 29 Oktober 2024, dengan alasan rendahnya permintaan pasar yang tercermin pada load factor rata-rata hanya 20%–25%. Keputusan ini dianggap wajar, namun Kementerian Perhubungan menekankan pentingnya pemenuhan hak penumpang, termasuk pengembalian tiket secara penuh dan memastikan tidak ada penjualan ulang tiket.
Lukman juga menegaskan bahwa maskapai sebaiknya menyesuaikan layanan mereka dengan permintaan pasar dan menjaga kepuasan pelanggan. Meskipun menghentikan rute tersebut, Kementerian berharap BBN Airlines Indonesia tetap dapat memberikan pilihan penerbangan yang bermanfaat bagi masyarakat, serta berkontribusi pada kemajuan sektor penerbangan di Indonesia. Kementerian Perhubungan juga mendorong maskapai untuk tetap menjaga transparansi dalam komunikasi dengan penumpang dan berupaya meningkatkan kepercayaan pelanggan.
Danantara: Raksasa Investasi Baru untuk Negara
Minim Katalis Baru, Daya Beli Kian Tertekan
Dana Asing Menguap Rp 8 Miliar
Optimisme Kinerja Saham BUMN
Harga Emas Dongkrak Laba BRMS
Kemkomdigi Jadi Ujung Tombak Pemberantasan Judol
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









