Ekonomi
( 40733 )Nelayan dan petani kecil mempertanyakan sasaran kebijakan penghapusan piutang macet UMKM
Meski menyambut baik, nelayan dan petani kecil mempertanyakan sasaran kebijakan penghapusan piutang macet UMKM, karena ba nyak dari mereka yang susah mengakses kredit. Melalui PP No 47 Tahun 2024 tentang Penghapusan Piutang Macet UMKM, pemerintah menghapuskan hak tagih di bank-bank BUMN atas kredit-kredit macet para pelaku UMKM. Kredit tersebut mencakup sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan; perikanan dan kelautan; serta UMKM lainnya, seperti mode, kuliner, dan industri kreatif. Di samping itu, hapus tagih tersebut berlaku bagi debitor yang dinilai tidak memiliki kemampuan membayar dan terhitung macet dalam rentang 10 tahun terakhir. Mereka yang termasuk dalam kategori ini adalah perseorangan yang memiliki utang maksimal senilai Rp 300 juta dan badan usaha maksimal senilai Rp 500 juta.
Pemerintah memperkirakan total kredit macet yang akan dihapustagihkan mencapai Rp 10 triliun. Sekjen Serikat Nelayan Indonesia Budi Laksana saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (7/11) menyampaikan, para nelayan yang tergabung dalam serikat menyambut baik diterbitkannya PP No 47/2024. Sebagai kelompok rentan dan membutuhkan bantuan, kebijakan tersebut diharapkan dapat meringankan beban nelayan kecil yang terjerat utang sehingga dapat kembali memperoleh pembiayaan dari perbankan.”Tentu ini menjadi PR bersama. Setelah PP ditandatangani, bagaimana mengawalnya,” kata Budi. Berkaca dari kebijakan pemerintah terkait penyaluran pembiayaan dalam kredit usaha rakyat (KUR), misalnya, tidak banyak kalangan nelayan kecil yang memperoleh fasilitas tersebut. Sebaliknya, program bantuan seperti itu justru cenderung lebih banyak dinikmati oleh kalangan nelayan menengah dan besar. (Yoga)
PT Sritex Liburkan Sebagian Pegawai akibat Kekurangan Bahan Baku
Manajemen PT Sri Rejeki Isman Tbkatau Sritex mengakui, putusan pailit menyebabkan salah satu sektor usaha perusahaan itu kekurangan bahan baku. Imbasnya, sebagian pegawai diliburkan sementara. Manajemen berupaya melakukan kasasi demi mencabut status pailit yang dikenakan pada perusahaan tersebut. Putusan pailit Sritex dikeluarkan PN Kelas 1A Semarang pada 21 Oktober 2024. Putusan itu berawal dari gugatan pembatalan perjanjian perdamaian yang diajukan PT Indo Bharat Rayon, selaku kreditor dari empat perusahaan grup Sritex. Empat perusahaan tersebut adalah PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), PT Sinar Pantja Djaja, PT Bitratex Industries, dan PT Primayudha Mandirijaya.
Keempat perusahaan itu digugat karena dinilai lalai memenuhi kewajiban pembayaran utang. Konsekuensi dari putusan pailit itu ialah hilangnya hak pengelolaan dari perusahaan untuk menguasai dan mengurus hartanya. Setelah itu, kewenangan pengelolaan jatuh ke tangan kurator yang ditunjuk oleh pengadilan. ”Sekarang ini masa transisi kepailitan dari pemilik sebelumnya (Sritex) ke kurator. Dalam masa transisi ini, tentu banyak guncangan juga. Ada fasilitas-fasilitas yang dibekukan, yang tidak memungkinkan kami bekerja secara normal,” kata Dirut Sritex, Iwan Kurniawan Lukminto. Iwan yang akrab disapa Wawan menyampaikan hal itu dalam sambutan saat menerima kunjungan dari Komisi VII DPR, Kamis (7/11) di kantor Sritex, Kabupaten Sukoharjo, Jateng.
Menurut Wawan, manajemen kurator terlalu mengulur-ulur waktu dalam menjalankan tugasnya sehingga tidak bisa memberikan kepastian bagi jalannya usaha. Pekerjaan kurator, kata dia, seolah terlalu berpusat pada urusan likuidasi. Padahal, ia menganggap, perusahaan berada dalam kondisi keuangan yang sehat. Dalam dua tahun terakhir, Net profit margin Sritex membaik dari -127 % pada 2021 menjadi -19 % pada 2024. Kondisi serupa juga terjadi pada EBITDA Margin yang membaik dari -118 % pada 2021 menjadi -4,5 %. Wawan juga menyatakan, Sritex tidak pernah terlambat membayar gaji karyawan ataupun tagihan listrik perusahaan. (Yoga)
Efek Kemenangan Donald Trump untuk Indonesia
Ketika Partai Politik Campur Tangan Pemilihan Kepala Desa
Tata Kota dan Perubahan iklim Menjadi Tema Pamungkas Debat Ketiga Pemilihan Gubernur Jakarta 2024, yang Akan Digelar pada Ahad
Pasar Finansial Indonesia Tertekan
Kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS) menjadi mimpi buruk pasar finansial Indonesia. Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) roboh, imbal hasil (yield) surat utang negara beri benchmark naik, dan rupiah terkapar. Tekanan ke pasar finanasial diprediksi masih kuat dalam jangka pendek. Jika capital outflow terus berlanjut, IHSG diorpyeksikan bisa menyentuh levell 7.000, sedangkan rupiah bisa bertengger di level Rp16 ribu per dolar AS. Meski begitu, analisis dan pelaku pasar menilai, masih ada peluang di pasar finansial domestik.
Sebab, berkaca pada pengalaman 2016-2020 saat Trump menjadi Presiden AS, IHSG terbukti masih bisa tumbuh. Artinya, indeks berpeluang bangkit begitu sentimen negatif mereda. Itu sebabnya, investor diminta lebih agresif melihat peluang dipasar dengan memborong saham-saham unggulan yang kini sedang murah (buy on weakness/BoW). Pada titik ini, saham bank besar berfundamental solid yang selama ini menjadi pengerak IHSG patut dicermati, seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). Investor juga bisa melirik salah defensif seperti TKLM dan konsumer. (Yetede)
China Ingin Memperbaiki Hubungan dengan AS
Pemerintah China akan mengedepankan pentingnya kerja sama perdagangan yang lebih besar dengan Amerika Serikat (AS), di tengah ancaman kenaikan tarif impor setelah terpilihnya kembali Donald Trump sebagai presiden AS. "Pihak China bersedia, atas dasar saling menghormati, hidup berdampingan secara damai dan kerja sama yang saling menguntungkan, untuk meningkatkan komunikasi dengan AS, memeprluas kerja sama dan menyelesaikan perbedaan," ujar Juru Bicara Kementerian Perdagangan China He Yongqian. Dalam kesempatan itu, He juga menanggapi pertanyaan tentang pandangan dan rencana tindakan balasan dari China, mengingat potensi kenaikan tarif AS dan pembatasan teknologi canggih.
"Bersama-sama (kita dapat) mendorong hubungan ekonomi dan perdaganagn China-AS ke arah yang stabil sehat, dan berkelanjutan, demi kepentingan kedua negara dan dunia," tambah dia. Komentar itu senada dengan yang disampaikan Presiden Xi Jinping saat menyampaikan ucapan selamat atas kemenangan Trump. Pada pesan tersebut, ia menyisipkan catatan penting manfaat kerja sama bilateral. "Sejarah mencatat bahwa kedua negara akan memperoleh keuntungan dari kerja sama dan menuai kerugian dari konfronstasi. Hubungan China-AS dengan pembangunan yang stabil, sehat, dan berkelanjutan akan melayani kepentingan bersama kedua negara serta memenuhi harapan masyarakat internasional" kata Xi. (Yetede)
China Ingin Selesaikan Perbedaan dengan AS
Ekspor China melonjak tajam hingga mencapai laju tercepat dalam dua tahun lebih pada Oktober 2024. Pabrik-pabrik di negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut memacu pengiriman untuk mengantisipasi tarif lebih besar dari Amerika Serikat, dan juga Uni Eropa. Hal ini menggaris bawahi ancaman meletusnya kembali perang dagang antara China dan AS. Negara ekonomi terbesar dunia. Kemenangan besar Donald Trump dalam pemilihan presiden (pilpres) AS 5 November 2024 langsung mencuatkan janji kampanyenya untuk mengenakan tarif pada impor lebih dari 60% atas produk-produk China.
Ancaman ini kemungkinan akan memacu perpindahan stok ke gudang-gudang di pasar ekspor nomor satu di China. Ancaman tatif Trump menguncang pemilik pabrik maupun para pejabat Pemerintahan China. Karena jika ancaman tersebut berlaku, barang ekspor yang mencapai sekitar US$ 500 miliar setiap tahunnya akan berdampak. Pada saat yang sama, ketegangan perdagangan UE, yang tahun lalu mengambil barang-barang dari China senilai US$ 466 miliar, juga telah meningkat. Sehingga momentum ekspor telah menjadi satu titik cerah bagi negara Tirai Bambu. Di saat ekonominyua berusaha bangkit dari rendahnya kepercayaan konsumen maupun sektor bisnis, yang terpuruk oleh krisis properti berkepanjangan. (Yetede)
Lima Bank Besar Memelihara Profitabilitasnya
Agresif, Petrindo Agresif Mencaplok Tambang Batu Bara
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









