;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Minim Katalis Baru, Daya Beli Kian Tertekan

06 Nov 2024
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2024 melambat menjadi 4,95% year-on-year (yoy), lebih rendah dibandingkan kuartal II-2024 yang sebesar 5,05%. Plt. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, melaporkan bahwa PDB atas harga berlaku mencapai Rp 5.638,9 triliun, sementara atas dasar harga konstan sebesar Rp 3.279,6 triliun. Perlambatan ini mencerminkan tekanan pada daya beli masyarakat dan stagnasi harga komoditas.

Konsumsi rumah tangga, yang menjadi motor utama pertumbuhan, tumbuh 4,91% yoy, melambat dari kuartal sebelumnya. Banjaran Surya Indrastomo, Chief Economist Bank Syariah Indonesia, mencatat penurunan daya beli masyarakat sejak Maret, dengan masyarakat mulai mengandalkan tabungan untuk kebutuhan dasar. Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina, menambahkan bahwa deflasi selama lima bulan berturut-turut turut melemahkan daya beli, meskipun tren deflasi mulai berakhir pada Oktober.

Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu, menyoroti melemahnya daya beli kelas menengah sebagai penyebab utama perlambatan ini. Ia merekomendasikan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat dan memperbaiki iklim investasi guna mendukung pertumbuhan jangka panjang. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 8% untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja.

Meski pertumbuhan kuartal III melambat, perekonomian diperkirakan akan lebih dinamis di kuartal IV-2024 dengan proyeksi 5,0%-5,2%. Dukungan terhadap daya beli masyarakat dan peningkatan investasi akan menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat.

Dana Asing Menguap Rp 8 Miliar

06 Nov 2024
Pasar saham Indonesia menghadapi tekanan akibat aliran dana asing yang keluar cukup besar selama sebulan terakhir, dengan nilai jual bersih asing mencapai Rp 8,56 triliun. Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada di bawah level psikologis 7.500, dengan saham perbankan, infrastruktur, dan pertambangan menjadi sektor yang paling banyak dilepas investor asing.

Menurut Martha Christina, Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, arus keluar dana asing dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang diperkirakan hanya akan memangkas suku bunga sekali lagi, serta ketidakpastian hasil pemilihan presiden AS. Jika Donald Trump menang, kebijakan ketat terkait imigrasi dan perdagangan dengan China bisa memicu inflasi global, tetapi dampaknya pada pasar domestik diperkirakan hanya bersifat jangka pendek.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, menilai volatilitas ini tidak akan berlangsung lama karena fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Nico juga mencatat peluang pemangkasan suku bunga The Fed, yang jika terjadi dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), hanya akan sebesar 25 basis poin.

Meski IHSG tertekan, window dressing di akhir tahun memberikan harapan masuknya kembali dana asing. Martha menyarankan investor tetap hati-hati dan memegang uang tunai untuk memanfaatkan peluang saham di harga rendah. Sementara itu, Nico merekomendasikan saham di sektor keuangan, konsumen primer, properti, energi, serta transportasi dan logistik, yang secara historis menunjukkan penguatan menjelang akhir tahun.

Optimisme Kinerja Saham BUMN

06 Nov 2024
Pemerintah Indonesia akan meluncurkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BP Danantara) pada 8 November 2024 sebagai superholding BUMN. Superholding ini dirancang untuk mengelola sejumlah perusahaan negara besar seperti PT Bank Mandiri (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (BBNI), PT Telkom Indonesia (TLKM), PLN, Pertamina, Mind Id, dan Indonesia Investment Authority (INA). Dengan perkiraan dana kelolaan awal sebesar US$ 600 miliar yang berpotensi meningkat hingga US$ 982 miliar, Danantara diproyeksikan menjadi SWF terbesar keempat di dunia.

Menurut Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, pembentukan Danantara merupakan katalis positif bagi perusahaan-perusahaan di bawahnya. Koordinasi investasi yang lebih terpadu akan memperkuat pengelolaan aset negara dan mendorong pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Namun, Nico menekankan pentingnya kajian mendalam untuk memastikan dampak positif terhadap entitas yang tergabung.

Adityo Nugroho, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, menyebutkan bahwa Danantara memiliki potensi besar untuk mengoptimalkan pengelolaan aset negara, melanjutkan upaya integrasi sejak era Presiden Joko Widodo. Namun, sentimen ini belum sepenuhnya memengaruhi pergerakan saham BUMN yang tergabung dalam superholding, karena pelaku pasar masih menanti kejelasan lebih lanjut terkait rencana tersebut.

Sementara itu, Budi Frensidy, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, memandang pembentukan Danantara sebagai peluang investasi. Ia menyarankan investor untuk mempertimbangkan membeli saham BMRI, BBRI, BBNI, dan TLKM, terutama jika integrasi ini berhasil meningkatkan nilai aset dan memoles harga saham BUMN.

Hingga saat ini, beberapa saham seperti BMRI dan BBNI sudah menunjukkan pergerakan positif di zona hijau, sementara BBRI dan TLKM masih mengalami pelemahan.

Harga Emas Dongkrak Laba BRMS

06 Nov 2024
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) diproyeksikan akan terus menikmati keuntungan dari kenaikan harga emas yang mencapai 33% sejak awal 2024, yang didorong oleh kontraksi ekonomi global dan ketidakpastian politik seperti pilpres AS. Emiten tambang emas ini menonjol karena cadangan emas yang besar dan rencana ekstensifikasi produksi yang ambisius.

Arinda Izzaty, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, menilai BRMS sebagai salah satu emiten paling menarik di sektor emas. BRMS berencana meningkatkan kapasitas produksi hingga 4.000 ton per hari melalui pabrik baru dan menargetkan tambang bawah tanah di Blok-1 Poboya dengan kadar bijih lebih tinggi, yakni 4,9 gram per ton.

Farras Farhan dari Samuel Sekuritas menyoroti aset strategis Citra Palu Mineral (CPM) di Sulawesi Tengah sebagai tulang punggung operasi BRMS. Ryan Winipta dari Indo Premier Sekuritas menyebut potensi masuknya BRMS ke indeks MSCI pada Februari 2025, tergantung pada kapitalisasi pasar dan harga saham yang stabil di atas Rp 360.

Kiswoyo Adi Joe dari Nawasena Abhipraya Investama merekomendasikan buy dengan target harga Rp 500, menyebut momentum lonjakan harga emas mendukung penambahan kapasitas smelter. M. Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas juga menyarankan accumulative buy dengan target harga Rp 484. Farras Farhan optimistis pada target Rp 500, seiring kenaikan kapasitas dan fundamental yang kokoh.

Kinerja BRMS diprediksi terus bersinar berkat kenaikan harga emas, strategi ekspansi, dan potensi masuk ke indeks besar seperti MSCI. Dengan dukungan proyek baru seperti pabrik heap leach dan tambang bawah tanah CPM, serta rekomendasi positif dari analis, BRMS diharapkan mampu memperkuat posisinya di pasar saham.

Kemkomdigi Jadi Ujung Tombak Pemberantasan Judol

06 Nov 2024
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyatakan kesiapannya jika Kementrian Komunikasi dan Digital (Kemkondigi) menjadi garda terdepan dalam pemberantasan  judi online di Tanah Air. terkuaknya kasus 11 pegawai Kemkomdigi dalam pusaran aktivitas judi online  pun diharapkan bisa menjadi pintu masuk untuk memberantas judi online  lebih masif. Hal tersebut disampaikan oleh Menkomdigi ketika dicecar oleh Kmisi I DPR RI terkait maraknya kasus judi online (Judol) dan juga terkuaknya kasus 11 pegawai Kemkomdigi, dari 16 tersangka, dalam pusaran aktivitas haram tersebut. Sebab mereka bukan memblokir website/aplikasi judol, tapi malah melindunginya. "Kemkomdigi adalah pintu masuk. Dan ini, kalau demi untuk kebaikan bangsa  dan negara, kami rela menjadi pintu masuk," ungkap Meutya. Namun Kemkomdigi juga bekerja sama dengan stakeholder terkait, yakni OJK, Perbankan, Lembaga Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), serta ekosistem digital lainnya, seperti penyelenggara sistem elektronik (PSE) untuk memberantas judol. (Yetede)

Transparasi dan pasar terbuka untuk menarik investasi Perusahaan AS

06 Nov 2024

Perang tarif AS dan China lima tahun terakhir membuat perusahaan-perusahaan AS menoleh ke Asia Tenggara dan memperbesar investasi mereka di kawasan itu. Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo diharapkan melanjutkan kebijakan terkait investasi asing, transparansi, dan pasar terbuka jika ingin ikut menikmati investasi perusahaan-perusahaan AS. Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Asia Tenggara Kadin AS John Goyer di Washington DC, AS, Senin (4/11). Ia memberikan keterangan bersama Senior Vice President Asia Kadin AS Charles W Freeman III kepada 11 wartawan Asia Tenggara, termasuk Kompas, dalam Program Tur AS-ASEAN atas undangan Misi AS untuk ASEAN.

”Terus terang, kami masih menghadapi tantangan-tantangan di Indonesia dalam hal transparansi regulasi dan proses pembuatan aturan. Kami ingin ada pelibatan yang lebih mendalam dan lebih sistematis dengan sektor swasta dalam proses pembuatan aturan itu,” ujar Goyer. Pada 26 November mendatang akan digelar ajang tahunan Pertemuan Puncak Investasi AS-Indonesia di Jakarta sebagai bagian dari upaya membahas tantangan-tantangan tersebut. ”Kami telah mengundang Presiden Prabowo dan para menteri kabinetnya serta Sekjen OECD (Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) Mathias Cormann,” lanjut Goyer. Saat ini lebih dari 6.200 perusahaan AS beroperasi di Asia Tenggara. (Yoga)


Visi Kemaritiman Prabowo-Gibran Dipertanyakan

05 Nov 2024

Pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka yang terpilih memimpin Indonesia untuk periode 2024–2029 memutuskan untuk mengeliminasi Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) dari struktur kabinetnya. Keputusan ini menimbulkan pertanyaan besar, mengingat peran strategis Kemenko Marves dalam mengelola kebijakan kelautan dan kemaritiman yang sangat penting bagi Indonesia. Kemenko Marves, yang selama ini berfungsi sebagai koordinasi lintas kementerian terkait isu kelautan, investasi, dan geopolitik maritim, tidak lagi ada dalam kabinet baru Prabowo-Gibran, meskipun Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tetap dipertahankan.

Salah satu alasan yang mungkin mendasari penghapusan Kemenko Marves adalah prioritas baru pemerintahan Prabowo-Gibran yang lebih fokus pada sektor pangan, dengan dibentuknya Kemenko Pangan, untuk mengatasi masalah ketahanan pangan yang menjadi urgensi setelah Indonesia mengalami peringkat moderat dalam Global Food Security Index dan Global Hunger Index 2023. Keputusan ini juga bisa dipandang sebagai respons terhadap ancaman geopolitik global, seperti konflik Rusia-Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah, yang mempengaruhi kestabilan pasokan pangan.

Namun, penghapusan Kemenko Marves juga diwarnai oleh kekhawatiran akan dampaknya terhadap peran Indonesia sebagai poros maritim dunia, yang telah menjadi cita-cita besar sejak era Presiden Jokowi. Dalam hal ini, beberapa pihak, termasuk para pemangku kepentingan di sektor kemaritiman, menganggap bahwa penghilangan Kemenko Marves bisa mengurangi daya saing Indonesia dalam geopolitik regional, khususnya di kawasan Indo-Pasifik yang strategis.

Sebagai solusi, artikel ini menyarankan agar pemerintahan Prabowo-Gibran mempertimbangkan untuk merevitalisasi Kemenko Marves dengan fokus pada pengelolaan sektor kelautan dan perikanan yang berkontribusi besar terhadap ketahanan pangan dan ekonomi Indonesia. Kemenko Marves yang lebih kuat dan efisien diharapkan dapat memberikan dampak positif baik secara ekonomi maupun geopolitik, mengingat posisi Indonesia yang sangat strategis di kawasan Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan.


Rencana Insentif Pajak Dorong Emiten Properti Bersinar

05 Nov 2024

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, telah mengumumkan perpanjangan insentif PPN DTP (Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah) hingga 2025. Keputusan ini diambil setelah melakukan evaluasi terkait dengan dampak positif yang ditimbulkan oleh insentif tersebut terhadap sektor properti, termasuk di antaranya PPnBM (Pajak Penjualan Barang Mewah), kendaraan listrik, dan properti. Dengan perpanjangan ini, insentif PPN DTP diharapkan dapat terus mendongkrak kinerja emiten properti, yang telah mencatatkan pertumbuhan signifikan pada 2024.

Perpanjangan insentif PPN DTP ini memberikan dampak positif, seperti yang diungkapkan oleh sejumlah perusahaan properti besar seperti PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) dan Pakuwon Jati, yang mencatatkan peningkatan penjualan unit properti berkat adanya insentif ini. Bahkan, emiten Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) juga menunjukkan pertumbuhan yang solid, dengan laba yang lebih tinggi dibandingkan dengan pencapaian tahun sebelumnya. Menurut analisis pasar, perpanjangan insentif ini akan menjadi katalis positif untuk mempertahankan tren pertumbuhan yang berkelanjutan di sektor properti, terutama terkait dengan penjualan rumah dan apartemen.

Selain itu, faktor lain yang turut mendukung prospek positif ini adalah proyeksi penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI), yang diharapkan akan meningkatkan permintaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Apartemen (KPA), beriringan dengan peningkatan marketing sales dari emiten properti.

Meski demikian, tantangan tetap ada, termasuk ketidakpastian ekonomi global dan perubahan perilaku pasar, yang harus dihadapi oleh sektor properti ke depan. Namun, dengan adanya perpanjangan insentif PPN DTP ini, sektor properti diperkirakan akan terus mencatatkan kinerja yang positif hingga akhir 2024.

Secara keseluruhan, kebijakan pemerintah ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya di sektor perumahan, yang berperan penting dalam memulihkan daya beli masyarakat dan mendukung sektor properti untuk terus berkembang.



Konsistensi BI dalam Pengembangan Ekonomi Syariah

05 Nov 2024

Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam sektor ekonomi dan keuangan syariah global. Meskipun pertumbuhan sektor ini telah terlihat, dengan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia tumbuh 3,93% pada 2023 dan mencapai 5,07% pada kuartal II 2024, negara ini masih perlu lebih serius mengembangkan dan memaksimalkan potensi tersebut. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah melalui penyelenggaraan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang ke-11 pada 2024, yang dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia (BI), kementerian/lembaga terkait, dan pelaku usaha.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menekankan pentingnya sinergi dalam mewujudkan ekonomi syariah sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. ISEF 2024 mengusung tema "Sinergi Ekonomi dan Keuangan Syariah Memperkuat Ketahanan dan Pertumbuhan Berkelanjutan", yang mencerminkan upaya untuk mengintegrasikan ekonomi syariah dengan nilai-nilai lokal dan mendekatkan Indonesia pada visi global sebagai pusat ekonomi syariah. Dalam ajang ini, sejumlah inisiatif baru diluncurkan, seperti aplikasi Halal Traceability, digitalisasi produk pesantren, serta pengembangan strategi nasional literasi dan inklusi ekonomi syariah.

Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, juga memberikan apresiasi terhadap peran BI dalam mendorong ekonomi syariah, dan menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo, dalam Kabinet Merah Putih, berkomitmen untuk mempercepat kemandirian nasional melalui sektor ekonomi syariah. Salah satu bukti konkret dari keberhasilan ekonomi syariah di Indonesia adalah pembukuan transaksi bisnis yang signifikan dalam ISEF 2024, yang mencapai Rp1,85 triliun, dengan kontribusi yang signifikan dari sektor UMKM dan produk-produk buatan pesantren.

Meskipun Indonesia telah mencatatkan kemajuan, masih ada tantangan besar yang perlu dihadapi, terutama untuk memperbaiki posisi Indonesia dalam Indeks Ekonomi Syariah Global, di mana Indonesia saat ini berada di peringkat ketiga. Hal ini mengharuskan kolaborasi lebih lanjut antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dengan adanya dukungan dari Bank Indonesia dan berbagai pihak terkait, Indonesia memiliki potensi untuk mengukir prestasi lebih tinggi di sektor ini dan menjadikannya sebagai pemain utama dalam ekonomi syariah global.



Dampak Minim dari Bea Masuk Antidumping Baja Impor

05 Nov 2024

Pemerintah Indonesia telah lama menerapkan kebijakan perlindungan terhadap produsen baja nasional melalui bea masuk antidumping (BMAD), tantangan besar masih dihadapi oleh industri baja dalam negeri. Pemerintah melalui PMK No. 71/2024 kembali memperpanjang BMAD untuk produk baja tertentu, termasuk produk hot rolled coil (HRC) dan baja jenis H Section serta I Section, dengan tujuan membatasi impor dari negara-negara seperti China, Korea Selatan, dan Taiwan. Namun, meskipun kebijakan tersebut sudah ada sejak 2008, serbuan produk baja impor dengan harga sangat murah, terutama dari China, masih mengancam daya saing produsen baja lokal.

Berdasarkan data Komite Antidumping Indonesia (KADI) dan laporan dari asosiasi produsen baja, terdapat indikasi praktik dumping oleh negara-negara seperti China, Ukraina, dan Singapura. Produk baja impor ini telah mengalami kenaikan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dengan dampak yang cukup besar terhadap penjualan produsen baja lokal. Beberapa produsen bahkan melaporkan penurunan penjualan hingga 20%, dan khawatir menghadapi kesulitan bertahan tanpa dukungan kebijakan yang lebih kuat.

Tokoh penting seperti Direktur Eksekutif IISIA, Wi-dodo Setiadharmaji, dan Ketua Umum Asosiasi Roll Former Indonesia, Nicolas Kesuma, menekankan bahwa pemerintah perlu memberikan proteksi yang lebih besar untuk menjaga industri baja domestik. Salah satu langkah yang dianggap penting adalah pengamanan terhadap impor ilegal, yang semakin marak pascapandemi, serta memperketat peraturan tata niaga untuk mengurangi impor produk baja yang sudah dapat diproduksi di dalam negeri.

Menurut Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics, Mohammad Faisal, pemerintah perlu memberikan proteksi yang lebih besar dan lebih tegas untuk mengatasi fenomena impor ilegal dan menjaga keberlanjutan industri baja nasional. Pemerintah diharapkan untuk meningkatkan kebijakan yang dapat melindungi produsen lokal dari tekanan harga baja impor yang lebih murah, agar industri baja dalam negeri dapat bertahan dan berkembang.