Ekonomi
( 40554 )Industri Tekstil Masih Kontraksi
Ditengah kondisi tekstil yang masih terpuruk seperti pailitinya PT Sri Rezeki Isman Tbk (Sritex), industri tersebut malah menunjukkan kinerja yang positif berdasarkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober 2024. Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, subsektor tekstil di IKI berada pada level ekspansif. Hal ini tentu saja kontras dengan kondisi Sritex. Perihal tersebut, dia mengatakan, para pelaku industri belum melihat pengaruhnya dari pailit Sritex saat pengisian kuesioner IKI Oktober ini. Febri menjelaskan, kinerja industri tekstil memang sempat mengalami kontraksi atau merosot direntang Mei-Agustus 2024 lantaran penerapan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 8 Tahun 2024 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor. Namun dalam dua bulan terakhir, kinerja industri telah membaik. "Baru pada September-Oktober ini ekspansi. Di bulan Oktober sedikit naik, lebih tinggi dari kami menilai itu sebagai peningkatan optimisme kawan-kawan industri atas pemerintahan baru," ujar dia. Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Adie Rochmanto Pandiangan menambahkan industri tekstil masih akan eskpansi sampai dengan Desember 2024. Hal ini karena ada momen natal dan tahun baru (Nataru). (Yetede)
Barito Renewabless Berhasil Menjalankan Laba Bersih Sebesar US$ 86,05 juta
Emiten milik Taipan Prajogo Pangestu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) berhasil menjalankan laba bersih sebesar US$ 86,05 juta (setara Rp 1,35 triliun) pada Januari-September 2024, naik 1,88% dibanding periode sama tahun lalu. Pertumbuhan laba ini mampu diraih perseroan ditengah adanya gangguan bisnis geothermal yang menyebabkan penurunan pendapatan. Segmen angin dari hasil akuisisi Sidrap I, mampu menjadi penyokong kinerja bottom line BREN selama sembilan bulan ini. "Terlepas penurunan pendapatan dan EBITDA, kami berhasil mempertahankan laba bersih yang diartibusikan kepada pemilik perusahaan, didukung oleh dampak positif dari akuisisi Sidrap 1, serta peningkatan kepemilikan di Salak-Darajat," kata Direktur Utama Barito Renewables Hendra Soetjipto Tan. Pada awal April 2024, Barito Renewables melalui anak usahanya yakni PT Abrito Renewables melalui anak usahanya yakni PT Barito Wind Energy telah menyelesaikan akuisisi 99,99% saham PT UPC Sidrap Bayu Energy (Sidrap) dari UPC Renewables Asia Pacific Holding Pte Ltd, ACEN Renewables International Plt Ltd, UPC Renewables Asia III Limited, Sidrap (HK) Limited, dan Sunedison Sidrap BV senilai US$ 102,2 juta. Sidrap merupakan salah satu pembangkit listrik tenaga angin yang pertama dan terbesar di Indonesia dengan kapasitas 75 MW. (Yetede)
Pemutihan Utang Petani dan Nelayan
KABAR pemerintah akan menghapus utang macet petani dan nelayan sampai juga ke Desan Banyuputih Kidul di Kecamatan Randuagung, Lumajang, Jawa Timur. Silo, petani tebu berusia 53 tahun, gembira menyambut kabar itu. Ia masih punya tunggakan di sebuah bank pemerintah. Silo tak mampu mencicil utang karena pandemi Covid-19. "Saya mengambil kredit Rp 175 juta untuk jangka waktu pelunasan tiga tahun," ujar Silo pada Kamis siang, 31 Oktober 2024. Namun, hingga tenggat pelunasan berakhir, dia tidak sanggup melunasi pinjaman tersebut. Silo berharap pemutihan utang bagi petani dan nelayan bisa segera direalisasi. Menurut dia, sebagian besar petani tebu di desanya menjalankan usaha dengan berutang. Dari 100 petani, mungkin hanya lima orang yang tidak berutang. Presiden Prabowo Subianto berniat menghapus kredit macet petani dan nelayan yang tak mampu melunasi utang mereka. Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo mengatakan pemerintah bakal memutihkan kredit macet hingga 6 juta petani dan nelayan.
Menurut adik Prabowo itu, banyak petani dan nelayan yang masih terbebani utang lama yang berakar dari krisis moneter pada 1998. Data kredit macet tersebut tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan di Otoritas Jasa Keuangan. Imbasnya, ketika para petani dan nelayan berusaha kembali mengajukan kredit, permintaan mereka langsung ditolak. Sebab, mereka masih tercatat memiliki utang kredit macet. Dengan penghapusan tersebut, Hashim berharap petani dan nelayan yang terhambat kredit macet dapat kembali mengakses pinjaman dari bank. Ia menyatakan regulasi tentang pemutihan utang ini bakal berbentuk peraturan presiden dan segera diteken dalam waktu dekat. Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi menyatakan akan ikut serta dalam kebijakan penghapusan utang para petani yang masuk skema kredit usaha tani pada 1998. Ia menyebutkan total utang yang akan diputihkan sebanyak Rp 8,3 triliun untuk 6 juta petani di Indonesia. Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika itu memperkirakan petani memiliki kredit sekitar Rp 1,3 juta per orang. "Utang tersebut sudah terlampau lama dan memberatkan karena bisa menghalangi mereka untuk mendapat kredit dari bank," ujar Budi di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Kamis, 31 Oktober 2024. Ia menilai pemutihan utang akan menjadi salah satu cara pemerintah mengembalikan kepercayaan perbankan kepada petani untuk menyalurkan pinjaman modal. (Yetede)
Bank Besar Menghadapi Prospek Cerah
Kinerja perbankan Indonesia, khususnya empat bank terbesar anggota Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) IV—Bank Mandiri, BRI, BCA, dan BNI—menunjukkan perkembangan positif pada kuartal III 2024. Meskipun ada tantangan dalam pertumbuhan laba akibat tingginya biaya dana (cost of fund), keempat bank ini berhasil meningkatkan kualitas penyaluran kredit yang terlihat dari penurunan rasio nonperforming loan (NPL).
Bank Mandiri, dipimpin oleh Direktur Utama Darmawan Junaidi, mencatat pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) tertinggi. BRI, di bawah kepemimpinan Sunarso, tetap menjadi bank dengan laba terbesar berkat pengelolaan yang baik dan fokus pada hilirisasi. BCA mencatat pertumbuhan laba tertinggi di antara bank besar, didorong oleh strategi penyaluran kredit yang beragam. Sementara itu, BNI, dengan Direktur Keuangan Novita Widya, menjaga rasio margin bunga bersih (NIM) yang sehat berkat pengelolaan likuiditas yang efisien.
Secara keseluruhan, penurunan BI Rate diharapkan dapat meringankan beban dana bagi bank-bank ini, memberikan potensi pertumbuhan yang lebih baik untuk menutup tahun 2024. Namun, para analis juga mengingatkan bahwa tantangan dari suku bunga global yang tinggi masih harus dihadapi, sehingga penting bagi bank untuk mengoptimalkan pendapatan non-bunga dan melakukan digitalisasi untuk efisiensi operasional.
Kerja Sama BRICS: Menghitung Dampak bagi Indonesia
Debat hangat di Indonesia mengenai keinginan bergabung dengan organisasi BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) sementara juga memproses aksesi ke OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). Tokoh-tokoh seperti Ahmad Khoirul Umam dari Paramadina Public Policy Institute dan ekonom Wijayanto Samirin mengingatkan bahwa bergabung dengan BRICS dapat menimbulkan ketegangan dengan negara-negara barat, khususnya Amerika Serikat. Namun, mereka juga menekankan potensi keuntungan ekonomi dan dukungan pendanaan infrastruktur yang bisa diperoleh dari BRICS.
BRICS menawarkan alternatif bagi negara berkembang dengan pendekatan yang lebih fleksibel dalam pendanaan, sementara OECD memberikan jaringan stabil untuk perdagangan dan investasi dengan standar yang ketat. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa proses aksesi ke OECD tetap berjalan meskipun Indonesia mempertimbangkan keanggotaan BRICS, menunjukkan bahwa Indonesia berkomitmen pada diplomasi nonblok dan keseimbangan antara kedua aliansi ini.
Dengan tantangan dan peluang yang ada, keputusan Indonesia untuk memilih atau menyeimbangkan antara BRICS dan OECD menjadi sangat strategis dan harus mempertimbangkan hubungan diplomatik serta kepentingan ekonomi jangka panjang.
Tambang Mineral: Suntikan Investasi dari Bear Right Capital
Perkembangan terkini Asiamet Resources Limited terkait proyek tambang tembaga Beruang Kanan. Dalam pengumuman terbaru, CEO Darryn McClelland mengungkapkan bahwa perusahaan berhasil mengumpulkan dana sebesar US$3,55 juta, termasuk private placement dari DOID senilai US$3 juta. Dengan dukungan pemegang saham dan manajemen, Asiamet berada dalam posisi yang kuat untuk menyelesaikan optimalisasi proyek dan mempersiapkan pembiayaan lebih lanjut.
Rencana Asiamet untuk menyelesaikan optimalisasi pada kuartal IV 2024 dan memulai diskusi pembiayaan utang pada kuartal I 2025 menunjukkan langkah strategis perusahaan untuk memenuhi target produksi tembaga pertama pada tahun 2027. Peningkatan permintaan tembaga, terutama untuk industri energi terbarukan, membuat proyek ini sangat relevan.
Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif IESR, menekankan pentingnya tambang baru dalam mendukung hilirisasi dan penciptaan nilai tambah, terutama dalam produksi kabel listrik. Namun, tantangan terkait pembangunan smelter dan kebutuhan energi rendah karbon perlu diperhatikan. Yayan Satyakti dari Unpad menambahkan bahwa penerapan praktik pertambangan yang baik dan kolaborasi dalam penggunaan smelter juga krusial untuk keberlanjutan dan keselamatan operasional.
Secara keseluruhan, keberadaan tambang baru di Indonesia tidak hanya berpotensi meningkatkan cadangan mineral, tetapi juga dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal melalui penciptaan lapangan kerja, asalkan diimbangi dengan kesiapan tenaga kerja dan penerapan praktik pertambangan yang berkelanjutan.
Program Jangka Pendek: Kemenhub Akan Pangkas Ratusan Aplikasi Transportasi
Langkah proaktif pemerintah dalam menyederhanakan aplikasi layanan transportasi di Kementerian Perhubungan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menekankan pentingnya merampingkan ratusan aplikasi yang ada menjadi lebih sederhana, sehingga memudahkan pengguna dan menciptakan sistem yang lebih transparan dan efisien.
Agus juga mengungkapkan perhatian pemerintah terhadap penurunan biaya logistik, yang merupakan tantangan bagi pembangunan di Indonesia. Dengan mengurangi beban transportasi, diharapkan keuntungan ekonomi dapat lebih dirasakan oleh masyarakat. Fokus pada peningkatan konektivitas antarwilayah di seluruh Indonesia juga menjadi prioritas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang merata.
Menanggapi isu harga tiket pesawat, Menhub Dudy Purwagandhi menyatakan target penurunan harga sebelum Natal dan Tahun Baru 2025, dan saat ini Kemenhub sedang menunggu koordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian terkait hasil Satgas Penurunan Harga Tiket Pesawat.
Secara keseluruhan, langkah-langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pelayanan transportasi dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Regulasi Baru untuk Super Holding BUMN
Dinamisnya Kondisi Global Bikin Rupiah Fluktuatif
Kenaikan Beban Keuangan Menekan Laba TLKM
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









