;
Kategori

Ekonomi

( 40430 )

Dampak Wabah COVID-19, Industri Elektronika Bersiap Pangkas Target

23 Mar 2020

Pelaku industri elektronika nasional berancang-ancang untuk merevisi target pertumbuhan dan menahan produksi karena masih dibayangi oleh pelemahan daya beli konsumen akibat dampak sistemik merebaknya wabah COVID-19. Beberapa perseroan melakukan pemangkasan proyeksi permintaan. Isu kesulitan bahan baku dimulai saat China mulai melakukan penguncian salah satu wilayah pusat pandemi dan bertepatan dengan perayaan Imlek. Adapun, 70% bahan baku elektronika nasional memang dari China. Gabungan Pengusaha Elektronika (Gabel) mengatakan saat ini sebagian besar pabrikan elektronika nasional lebih memikirkan keselamatan karyawan daripada perkembangan bisnis. Oleh karena itu, sebagian pabrikan akan menghentikan operasi setidaknya selama 2 minggu ke depan. Di samping pelemahan pasar dan penurunan produktivitas, industri elektronika juga dihantam dari sisi bahan baku. Saat ini pabrikan bahan baku di China baru belum berjalan sempurna. Maraknya kasus COVID-19 dan naiknya nilai tukar, maka permintaan pasar akan produk elektronika diproyeksi turun. Untuk itu, persoalan utama bukan lagi bahan baku yang sudah naik, melainkan pada permintaan yang turun.

Pemerintah Siagakan Anggaran Bencana dan Pinjaman Multilateral

20 Mar 2020

Kementerian Keuangan menyiapkan skema pembiayaan lanjutan untuk penanggulanganwabah virus corona (Covid-19). Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani mengatakan masih ada pos anggaran yang bisa disiapkan jika skema tersebut masih ada kekurangan.

Beberapa pos anggaran tersebut, kata Askolani, di antaranya dialokasikan untuk penanganan bencana. Dalam APBN 2020, pemerintah mengalokasikan anggaran bencana sebesar Rp 5 triliun. Dari jumlah tersebut, dana sudah terpakai Rp 1,25 triliun untuk penanganan bencana banjir pada awal tahun. Selain itu menurut Askolani, ada alokasi cadangan beras pemerintah senilai Rp 20 triliun. Ada juga cadangan untuk penanganan stabilisasi harga yang dipersiapakan untuk menangani efek buruk corona yang berkepanjangan. Pemerintah diperkirakan bakal menggelontorkan dana Rp 27,7 triliun melalui dua paket stimulus yang sudah dicanangkan. Dirjen PPR Kementerian Keuangan, Luky Alfirman, mengatakan penerbitan surat utang bisa dijadikan opsi pembiayaan. Menurut Luky masih ada opsi pinjaman luar negeri dari lembaga multilateral. Asian Development Bank mengkonfirmasi ada paket bantuan tahap awal senilai US$ 6,5 miliar untuk mengatasi keperluan mendesak dari negara-negara aggotanya, termasuk Indonesia, dalam menghadapi pandemi virus corona.


Bank Sentral Perkuat Intervensi demi Menopang Rupiah

20 Mar 2020

Bank Indonesia berupaya menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah di tengah gempuran ketidakpastian pasar keuangan global akibat meluasnya penyebaran wabah corona. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menuturkan aliran modal asing yang keluar dari Indonesia kembali kenegara maju memicu tekanan terhada kurs rupiah sejak pertengahan Februari lalu.

Hingga 18 Maret lau, rupiah secara merata melemah sebesar 5,72 persen dan depresiasinya mencapai 8,77 persen dibanding level rupiah pada akhir 2019. Kemarin, rupiah ditutup di level 15.712 per dolar Amerika Serikat, berdasarkan kurs referensi JISDOR. BI berkomitmen meningkatakan intesitas stabilisasi di pasar domestic non-deliverable forward (DNDF), pasar spot, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Likuiditas tambahan itu diantaranya, berasal dari repo dengan agunan SBN sebesar Rp 53 triliun, penurunan Giro Wajib Minimum rupiah Rp 51 triliun, dan akan kembali ditambah Rp 23 triliun per 1 April 2020. Kapasitas intervensi bank sentral ditopang oleh ketersediaaan cadangan devisa pada akhir Februari lalu sebesar US$ 130,4 miliar. Bank sentra kemarin juga mengeluarkan tujuh langkah lanjutan untuk memperkuat stabilitas keuangan dan pertumbuhan ekonomi.


Industri di Batam Terdampak

20 Mar 2020

Industri manufaktur dan jasa pelayaran di Batam Kepulauan Riau merugi hingga miliaran rupiah akibat pembatasan mobilitas Singapura dan Malaysia terkait pandemi Covid-19.

Ketua Persatuan Pengusaha Pelayaran Niaga Nasional Indonesia (INSA) Batam Osman Hasyim mengatakan kebijakan pembatasan mobilitas oleh Singapura dan Malaysia membuat industri pelayaran di Batam terpukul hebat. Penurunan penumpang diperkirakan mencapai 90%, dari awalnya sekitar 13.200 orang per hari menjadi lebih kurang 200 penumpang per hari. Pendapatan potensial jasa pelayaran yang hilang akibat pembatasan mobilitas tidak kurang dari Rp 20 miliar per hari. Itu belum termasuk nilai barang yang diangkut kapal-kapal niaga. Pembatasan mobilitas oleh Singapura dan Malaysia membuat 2900 pabrik di Batam mengalami kekurangan bahan baku dan tenaga ahli.

Para pengusaha menggalang dana untuk mendukung pemerintah kota Batam dalam menghadapi pandemi. Hasilnya terkumpul uang Rp 6,47 miliar dan akan digunakan untuk membeli alat medis guna mempercepat deteksi Covid-19.

Transaksi Digital Perbankan Melonjak

20 Mar 2020

Aktivitas transaksi digital alias nontunai melonjak drastic ditengah arahan social distancing pemerintah karena wabah korona. BNI Mobile mengalami kenaikan sebesar 52,46 % dan nominal transaksi meningkat 61,59% dalam satu pekan. Aplikasi meliputi fitur pembukaan tabungan digital, pembelian pulsa dan paket data, pembelian token listrik, pembayaran tagihan, transfer uang antar BNI dan antarbank, top up saldo uang elektronik, hingga investasi. Penggunaan BNI mobile juga didorong dengan adanya program bonus saldo uang elektronik apabila melakukan top up di BNI Mobile. Meskipun aktif bekerja-belajar-beribadah di rumah, namun aktivitas transaksi keuangan tidak harus terhambat. Sementara Bank Mandiri pada pekan ini transaksi elektronik mencapai 5,8 juta transaksi atau naik 10% dibanding akhir pekan lalu. Mandiri berupaya mengembangkan layanan Mandiri Online agar semakin friendly dengan nasabah serta mampu menjawab kebutuhan nasabah. Transaksi e-money  relative stabil dengan rata-rata transaksi per hari sebanyak 3 juta transaksi dengan nilai Rp 45 Milyar hingga 15 Maret 2020. Transaksi e-money mengalami penurunan sekitar 9 % akibat masyarakat harus bekerja di rumah, pengaruh terbesar dari pembayaran tol dan parkir.

Surat Utang Valas Ditahan

20 Mar 2020

Pemerintah Indonesia tidak akan menerbitkan surat utang berdenominasi valuta asing atau global bond dalam waktu dekat. Kebutuhan pembiayaan anggaran akan dipenuhi dari dukungan investor domestik dan sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan atau Silpa. Pembiayaan anggaran juga bersumber pinjaman dari Bank Pembangunan Asia dan Bank Dunia yang kini sedang dikerjakan skema dan prosesnya.

Direktur Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Kementerian Keuangan Lucky Alfirman menyampaikan bahwa Komite Stabilitas Sistem Keuangan telah menyiapkan protokol manajemen krisis untuk mengantisipasi kondisi terburuk, salah satunya bond stabilization framework (BSF) untuk pasar surat berharga negara.

Cash is The King

20 Mar 2020

Menempatkan dana di safe haven atau aset lindung nilai tak lagi menjamin nilai aset Anda positif dalam kondisi pasar yang tak menentu seperti saat ini. Menurut pengamat, memperbesar posisi dana tunai adalah pilihan yang tepat dalam kondisi saat ini. Budi Raharjo, perencana keuangan dari OneShildt bahkan merekomendasikan menaikkan porsi dana darurat. Pandemi virus corona membuat kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun 34,83% secara year to date (ytd). Dalam lima tahun, IHSG anjlok 18,68%. Tak hanya itu, yield surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun merangkak ke 8%.

Pasalnya, dampak penyebaran Covid-19 terhadap pertumbuhan ekonomi masih belum bisa dihitung secara pasti. Meski pandemi corona diyakini hanya sementara, tapi belum ada yang bisa menghitung kerugian akibat corona. Sejumlah stimulus yang dikeluarkan otoritas juga tidak mampu menahan kejatuhan pasar modal. Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menambahkan, investor perlu memperbanyak kas untuk menjaga agar aset tidak jatuh terlalu dalam. Jadi tujuannya bukan memburu imbal hasil tapi menjaga likuiditas. Porsi dana darurat harus ada minimal tiga sampai enam kali dari pengeluaran setiap bulan. Karena itu, rencana portofolio juga perlu sedikit penyesuaian. Bagi investor dapat memperbesar porsi dana kas hingga 30%. Lalu 30% lagi ditempatkan di emas atau obligasi untuk diversifikasi. Penempatan dana di saham masih bisa dialokasikan hingga 40%. Tapi, idealnya investor masuk secara bertahap. Investor konservatif bisa menaikkan porsi cash hingga 60% dari total dana investasi. Lalu 20% bisa ditempatkan di saham yang fundamental bagus dan sisanya di emas atau obligasi ritel. Investor agresif dapat menempatkan 40% investasi pada aset yang bersifat fixed income. Lalu 30% ditempatkan di pasar uang dan sebesar 30% di saham. Sementara investor konservatif dianjurkan lebih mengalokasikan dananya ke instrumen pasar uang.


BI Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Menjadi 4,2%-4,6%

20 Mar 2020

Merebaknya virus corona Covid-19 membuat perekonomian Indonesia babak belur. Bahkan, Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya di kisaran 4,2%-4,6%. Angka ini jauh di bawah proyeksi sebelumnya, yaitu sekitar 5%-5,4%. Adapun pertumbuhan ekonomi global tahun ini diperkirakan hanya 2,5% dari proyeksi sebelumnya 3%. Pertumbuhan ekonomi global tahun ini berisiko lebih rendah lagi. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan, wabah virus corona menyeret turun pertumbuhan ekonomi global. Hal ini membuat prospek pertumbuhan ekspor barang Indonesia mengalami penurunan yang cukup drastis. Tak hanya itu, ekspor jasa, terutama pariwisata ikut turun akibat terhambatnya proses mobilisasi antarnegara, sejalan dengan upaya membatasi penyebaran virus corona. Meski begitu, BI mengapresiasi berbagai langkah stimulus baik ekonomi dan fiskal yang ditempuh pemerintah bisa mengurangi dampak negatif bagi perekonomian. Sejalan dengan langkah pemerintah, BI pun kembali memutuskan untuk memangkas bunga cuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate/BI7DRRR) sebesar 25 basis poin menjadi 4,5%.

Keputusan BI tersebut, juga sejalan dengan penurunan bunga acuan yang dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) sebesar 100 basis poin akhir pekan lalu.  Bank sentral juga memperkuat bauran kebijakan sebagai upaya mitigasi risiko penyebaran virus Covid-19, menjaga stabilitas pasar uang dan sistem keuangan. BI mendorong pertumbuhan ekonomi lewat sejumlah kebijakan. Pasca pengumuman BI, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup Rp 15.900 per dollar AS, melemah 4,61% dari penutupan perdagangan hari sebelumnya. Ini adalah level terlemah setelah krisis tahun 1998. Tahun 1998, kurs menyentuh Rp 16.800 per dollar AS. Tekanan rupiah ini lantaran pembalikan modal investasi portofolio. Secara neto, investasi portofolio masuk sebesar US$ 5,1 miliar, dari awal tahun hingga Februari lalu. Namun, turun jadi US$ 365 juta hingga 17 Maret 2020. Saat ini, investor global memilih untuk melepas asetnya, baik saham maupun surat berharga negara (SBN) Indonesia. Di sisi lain, BI telah mengguyur likuiditas dengan membeli surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 192 triliun hingga saat ini. BI juga mengajukan repo dengan agunan SBN sebesar Rp 53 triliun.

Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) , Perekonomian Indonesia tahun depan akan jauh lebih baik pasca wabah virus corona. Perkiraan bank sentral, pertumbuhan Indonesia mampu naik ke kisaran 5,2%-5,6% di 2021. Berbagai stimulus dan upaya pemerintah dalam memperbaiki iklim investasi melalui RUU Cipta Kerja dan aturan Perpajakan. Sementara pertumbuhan ekonomi global tahun depan, diperkirakan bisa mencapai 3,7%. Angka ini lebih baik dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 3,4%.


Dampak Virus Corona, Ekonomi Terjangkiti Pandemi

20 Mar 2020

Pertumbuhan ekonomi nasional diprediksi hanya berada di level 4% pada tahun ini, menyusul beratnya tekanan yang dihadapi akibat pandemi virus corona atau COVID-19. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar 18—19 Maret 2020, Bank Indonesia (BI) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional dari 5,0%—5,4% menjadi 4,2%—4,6%. Ini merupakan revisi kedua yang dilakukan oleh bank sentral. Penyebaran virus corona alias COVID-19 yang menekan aktivitas bisnis menjadi alasan utama.

Pascaberakhirnya virus corona pada 2021, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan meningkat menjadi 5,2%—5,6%. Perbaikan ekonomi akan didorong oleh banyaknya stimulus fiskal yang diberikan oleh pemerintah, kebijakan moneter, dan makroprudensial yang akomodatif, serta upaya pemerintah dalam menjaga iklim investasi. Di antaranya adalah reformasi perizinan, serta sejumlah aturan yang ada dalam RUU Cipta Kerja, serta insentif fiskal yang tertuang dalam omnibus law perpajakan.

Dampak Depresiasi RUpiah, Ekspor Impor Makin Kendor

20 Mar 2020

Melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diyakini bakal memberi efek pada peningkatan nilai impor dan hanya memberi sedikit dorongan pada nilai ekspor. Struktur ekspor Indonesia yang didominasi oleh komoditas mengakibatkan harganya lebih banyak dipengaruhi oleh permintaan pasar, alih-alih negara produsen. Di sisi lain, permintaan global yang masih lesu di tengah perlambatan ekonomi dan ancaman COVID-19 bakal berimbas pada tak efektifnya pemanfaatan momentum pelemahan rupiah untuk meningkatkan nilai ekspor. Nilai rupiah yang terus tertekan tentunya bakal berimbas pada industri yang mengandalkan bahan baku impor, termasuk 19 sektor industri manufaktur yang memperoleh relaksasi impor sebagai bagian dari stimulus penyelamatan ekonomi dari dampak COVID-19. Alhasil, efek stimulus fiskal maupun nonfiskal berpotensi tak bisa dirasakan secara maksimal.