Ekonomi
( 40430 )Ancaman PHK Membayangi Industri Tekstil
Penjualan tekstil dan garmen domestik terancam anjlok di tengah kelesuan aktivitas jual-beli setelah Indonesia terserang wabah corona (Covid-19). Jika pemerintah tak menyuntik insentif di industri ini, maka ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor padat karya ini bukan hal yang mustahil. Sekretaris Jenderal Asosiasi Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma G Wiraswasta, memperkirakan permintaan garmen dan produk tekstil jadi pada tahun ini hanya 1,7 juta ton. Jumlah itu melorot 20% dibandingkan konsumsi tahun lalu yang mencapai 2,1 juta ton.
Kondisi kelabu juga dialami pasar tekstil ekspor. Wakil Direktur Utama PT Pan Brothers Tbk (PBRX), Anne Patricia Sutanto menyatakan pasar mancanegara terdampak kebijakan lockdown negara tujuan ekspor. Industri tekstil secara umum sebelumnya membidik pertumbuhan ekspor di kisaran 10%. Namun di tengah kondisi ini bisa flat seperti tahun lalu saja sudah bagus.
Meski penjualan merosot, industri tekstil tak mengendorkan produksi karena mesin pabrik harus berjalan nonstop untuk tetap efisien. Hal ini menyebabkan arus kas (cashflow) terganggu. Ravi Shankar, Ketua Umum APSyFI dan Presiden Direktur PT Asia Pacific Fibers Tbk (POLY) mengakui banyak perusahaan yang menjalankan bisnis dengan cashflow pas-pasan. Jika kondisi ini belum berubah, bukan tak mungkin perusahaan mengurangi tenaga kerjanya. Untuk itu, pelaku industri berharap ada relaksasi bagi industri untuk keadaan darurat ini, salah satunya berupa perlindungan tarif (safeguard) untuk produk pakaian jadi. Pelaku industri tekstil juga mengharapkan stimulus, seperti relaksasi penurunan bunga kredit pinjaman serta keringanan PPh Badan 50% pada tahun ini.
Industri Tekstil & Produk Tekstil, Pasar Susut, Utilitas Tergerus
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) menyatakan penyebaran wabah COVID-19 akan memberikan dampak sistematik berupa penyusutan pasar baik di dalam maupun luar negeri. Sebagian subsektor industri TPT pun memperkirakan ada penurunan utilitas pabrikan pada April—Mei.
Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprisindo) mendata pabrikan alas kaki umumnya menggenjot kapasitas produksi hingga dua kali lipat dari bulan biasa sebelum Ramadhan. Namun demikian, asosiasi mencatat utilitas produksi sebagian pabrikan justru merosot 20-30% akibat COVID-19.
Terpisah, Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen (APSyFI) meramalkan pasar domestik TPT akan terkontraksi sekitar 20% secara tahunan menjadi sekitar 1,7 juta ton. Dengan kata lain, konsumsi TPT per kapita akan turun dari 8,27 kilogram per kapita menjadi 6,6 kilogram per kapita.
Adapun, APSyFI dan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengajukan agar adanya intervensi pemerintah dalam penetapan safeguard terhadap produk garmen. Selain itu, asosiasi juga berharap adanya pengetatan importasi produk TPT ke dalam negeri.
Permohonan Batal Melonjak
Bisnis perjalanan dan pariwisata makin lesu seiring merabaknya kasus Covid-19 dan imbauan beraktivitas di rumah. Permohonan pembatalan dan penjadwalan ulang perjalanan melonjak setidaknya untuk rencana 1-2 bulan ke depan. Sekretaris Jenderal Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno mengatakan bisnis 8.000 perusahaan biro perjalanan dan wisata di Indonesia makin lesu. Penjualan turun drastis sementara pembatalan pemesanan tiket serta paket perjalanan dan wisata mencapai 96%. Astindo juga memperkirakan kerugian yang dialami agen perjalanan mencapai Rp 4 triliun selama Februari 2020.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mencatat hingga pertengahan Maret 2020, tingkat okupansi hotel di semua kategori merosot sekitar 20%. Sementara pengunjung restoran turun 20-50%. Situasi yang sama dialami agen perjalanan daring. Permintaan bantuan perubahan perjalanan dilayanan pelanggan Tiket.com melonjak hingga 10 kali lipat dibandingkan biasanya.
Bunga Kredit Bank BUMN Segera Turun
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir meminta bank-bank pelat merah untuk mempercepat transmisi penurunan suku bunga kredit, di tengah situasi perlambatan ekonomi domestik akibat wabah virus corona.
Erick menuturkan tekanan perekonomian membuat pelaku usaha kessulitan mengembangkan usaha, khususnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Tak hanya pembiayaaan baru, Erick juga menginstruksikan bank BUMN untuk melonggarkan kredit terhadap debitor existing yang terkena dampak. Merespon hal tersebut, Bank BRI menyatakan saat ini perseroan tengah mengevaluasi potensi besaran penurunan bunga kredit. Menurut BRI, sejumlah sektor masih memiliki prospek positif, diantaranya pertanian, perdagangan, dan kesehatan. Komitme yang sama juga disampaia oleh PT Bank Mandiri. Bank Mandiri menuturkan tak hanya soal suku bunga, perseroan juga akan memberikan pelonggaran berupa kemudahan proses pemberian kredit untuk UMKM. Proses penurunan suku bunga kredit perbankan yangmasih berjalan lamban ini menjadi perhatian BI. Sejak akhir Juni 2019, rata-rata tertimbang suku bunga kredit modal kerja, misalnya, tercatat baru turun 35 basis point menjadi 10,07 persen pada Februari 2020. Padahal sejak Juni 2019 hingga Maret 2020, bank sentral telah memangkas suku bunga acuan hingga 150 basis poin, dari 6 persen menjadi 4,5persen.
Pemerintah Percepat Impor Bahan Pokok
Pemerintah mempercepat penyediaan 11 bahan pangan pokok untuk menghadapi lonjakan permintaan menjelang Ramadan hingga Lebaran. Sekretaris Kementerian Koordinator Perekonomian Susiwijono Moegiarso menuturka pemerintah telah menyiapkan langkah untuk menjaga stok, pasokan, dan harga bahan pangan pokok, yang dibahasa dalam beberapa kali rapat koordinasi terbatas sepanjang pekan lalu.
Kementerian Perdagangan mulai membebaskan surat persetujuan impor untuk komoditas bawang putih dan bombai. Menteri Perdagangan Agus Suparmanto meyebutkan minimnya stok yang mengerek harga bawang putih dan bawang bombai menjadi salah satu alasan pelonggaran tersebut. Pembebasan itu berlaku sejak 19 Maret hingga 31 Mei mendatang. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Apindo), Roy Nicholas Mendey memastikan ketersediaan pangan masih mencukupi di semua peretail. Sejumlah komoditas, khususnya barang impor, secara bertahap juga sudah masuk ke peretail.
Kementerian Pertanian Tetap Berlakukan Syarat Impor Bawang
Kementerian Pertanian memastikan tetap menerapkan syarat rekomendasi impor produk holtikiltura (RIPH) untuk bawang putih dan bawang bombai. Prosedur ini tetap dijalankan meskipun Kementerian Perdagangan melonggarkan impor kedua komoditas tersebut dengan meniadakan surat persetujuan impor (SPI) hingga Mei mendatang. Kebijakan itu tertuang dalam Permendag Nomor 27 tahun 2020.
Dirjen Holtikultura Kemendag, Prihasto Setyanto, mengatakan untuk menghadapi kelangkaan atau kenaikan harga, pemerintah juga dapat menugaskan BUMN demi mendapatkan fasilitas kemudahan jika melakukan impor dalam rangka menstabilkan pasokan dan harga. RIPH untuk bawang putih hingga 18 Maret tercatat 344.094 ton,sedangkan bawang bombai sebanyak 195.832 ton. Adapun konsumsi bawang putih nasional 47-48 ribu ton per bulan dan bawang bombai 10-11 ribu ton per bulan. Dalam kesempatan yang sama , Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Indrasari Wisnu Wardhana mengemukakan bahwa imporbawang putih telah mulai masuk pada Jumat, 13 Maret lalu, sebanyak 11.336 ton. Ia memperkirakan akan ada sekitar 400 kontainer bawang putih masuk ke tanah air setiap pekan. Adapun izin impor bawang bombai yang sudah keluar sebanyak 31 ribu ton. Wisnu mengatakan impor ini sudah masuk bertahap, sekarang sekitar 156 ton.
RI Ajukan Utang Ke Luar Negeri
Utang luar negeri RI akan bertambah untuk penanganan Covid-19. Langkah ini tetap harus dibarengi kehati-hatian dalam menjaga defisit fiskal. Untuk tahap awal pemerintah telah mengantongi komitmen dari lembaga multilateral Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Bank Dunia. Pinjaman multilateral diperlukan untuk antisipasi kekurangan dana penanganan Covid-19 yang telah dialokasikan dari APBN Rp 118,3 triliun - Rp 121,3 triliun. Dana itu bersumber dari realokasi belanja kementerian/lembaga Rp 62,3 triliun serta transfer ke daerah dan dana desa Rp 56 triliun-Rp 59 triliun. Dari dana tersebut Rp 38 triliun digunakan untuk pendidikan, jaring pengaman sosial dan kesehatan. Selain itu Rp 6,1 triliun untuk asuransi bagi tenaga medis yang menangani Covid-19.
Menurut Direktur Jenderal Pembiayaan dan Risiko Lucky Alfirman, jumlah dan skema pinjaman masih terus dirundingkan. Pinjaman yang dibidik baik dari bilateral maupun multilateral. Sabtu lalu ADB memberikan hibah 3 juta dolar AS untuk penanganan Covid-19 di Indonesia, Dana tersebut digunakan untuk membeli peralatan medis seperti ventilator, sarung tangan, apron dan masker bagi tenaga medis.
Kepala Kajian Makro LPEM UI Febrio Kacaribu mengatakan stimulus fiskal diperlukan untuk memerangi penyebaran virus korona jenis baru. Namun pemberian stimulus harus dibarengi kehati-hatian dalam menjaga defisit fiskal. Pemberian stimulus senilai 1,6 miliar dolar AS berpotensi memperlebar defisit anggaran kira-kira 2,7-2,8%. Pelebaran defisit dengan asumsi proyeksi penurunan pertumbuhan ekonomi menjadi 4,7%.
Pukulan Ganda bagi Perbankan Dalam Negeri
Dunia perbankan kembali diuji. Tahun lalu perang dagang Amerika Serikat versus China, plus beragam skandal di industri keuangan menyebabkan sentimen negatif. Penyaluran kredit perbankan pun cuma naik 6,07%. Tahun ini wabah virus corona baru (Covid-19) bakal menjadi pagebluk baru bagi industri perbankan. Wabah virus corona berpeluang memicu resesi dan krisis ekonomi. Alhasil, permintaan kredit berpotensi mengerut. Di sisi lain, BI juga terus menurunkan suku bunga acuan, yang kini sebesar 4,5%. Dengan suku bunga rendah, margin bunga bersih (NIM) perbankan juga bakal terpangkas. Alhasil, dua pukulan sekaligus itu, penyaluran kredit dan penurunan NIM, bisa menyebabkan bisnis bank berada di titik nadir.
Sejumlah bank pun mulai bersiap merevisi target. Bank Rakyat Indonesia (BRI), misalnya, akan menurunkan target kredit tahun 2020. Bank BRI memprediksikan pertumbuhan kredit lebih moderat dari target semula di kisaran 10%-11%. Sebagai bagian dari strategi jangka panjang fokus pada pengembangan segmen UMKM, Bank BRI mengurangi laju pertumbuhan kredit korporasi. Bank BRI masih optimistis dengan pertumbuhan kredit UMKM tahun ini, terutama jenis mikro. Dengan kondisi ekonomi saat ini, segmen ritel dan menengah diperkirakan berat. BRI pun mengutamakan menjaga kualitas kredit di segmen ini dibanding mengejar kuantitas kredit. Dengan proyeksi kredit kian lemah, Bank BRI akan menjaga pertumbuhan laba dengan fokus mengumpulkan dana murah dan menggenjot fee based income. Direktur Utama Bank Panin Indonesia masih melihat perkembangan situasi sambil konsentrasi dalam menangani Covid-19. Namun, Bank Panin akan mencoba realistis menyikapi perkembangan. Bank CIMB Niaga juga memperkirakan kredit akan melambat akibat melemahnya keyakinan pelaku ekonomi. Bank OCBC NISP juga tidak akan menghindari pemangkasan target kredit dengan melihat kondisi ekonomi.
Investor Keluar dari Pasar Saham dan Masuk Dollar
Sejak awal tahun hingga akhir pekan lalu , Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mencatatkan koreksi hingga 33,41%. Bersamaan dengan itu, dana asing keluar dari pasar saham di Tanah Air. Indonesia bukan satu-satunya yang kehilangan dana asing. Di Asia Tenggara, dana asing yang cabut dari bursa saham Thailand dan Malaysia lebih banyak. Sejak awal tahun, dana asing yang keluar dari bursa saham Thailand mencapai US$ 3,31 miliar. Dari bursa saham Malaysia mencapai US$ 1,59 miliar. Sementara dana yang cabut dari Indonesia US$ 709,2 juta Namun perlu dicatat, dana asing yang keluar dari pasar obligasi Indonesia jauh lebih besar, mencapai US$ 6,04 miliar. Sementara dari Malaysia sekitar US$ 890,1 juta. Pasar obligasi Thailand bahkan masih mencetak net buy senilai US$ 12,54 miliar. Di bursa saham dalam negeri, saham yang banyak dijual asing antara lain BBCA, BBNI, BBRI, TLKM dan UNVR. Net sell asing di lima saham ini mencapai Rp 9,67 triliun. Presiden Direktur CSA Institute Aria Santoso mengatakan, keluarnya asing merefleksikan potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Investor mengurangi eksposur di aset berisiko dan pindah ke aset minim risiko.
Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai, asing migrasi ke dollar AS, karena dollar AS sedang trend naik. Dollar AS terus menguat. Jumat lalu (20/3), indeks dollar AS mencapai 102,82. Dua pekan sebelumnya, indeks ini masih di 95,95. Artinya, dalam dua pekan, dollar AS naik 7,16% Jika sentimen corona berlanjut, IHSG diproyeksikan jatuh makin dalam. Skenario terburuknya, IHSG merosot dan menyentuh level 3.000. Di tengah aksi jual asing yang masif, Aria merekomendasikan investor berorientasi jangka panjang melakukan cicil beli. Sedangkan bagi investor jangka pendek sebaiknya menunggu tekanan jual mereda dan ikut ketika ada tren harga naik.
Skenario Terburuk: Korona Memicu Krisis Ekonomi
Wabah corona Covid-19 di Indonesia kian meluas. Pemerintah mengimbau masyarakat tetap tinggal di rumah dan melakukan kegiatan lain yang tidak penting. Peringatan ini bertujuan untuk mencegah penyebaran virus korona Covid-19. Tapi berkurangnya pergerakan penduduk ini akan berdampak besar terhadap perekonomian Indonesia. Semua sektor usaha di luar bahan makanan pokok, sektor kesehatan, hingga telekomunikasi terkena dampaknya.
Meskipun sektor pangan, kesehatan dan telekomunikasi meningkat dan bisa mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), porsi kontribusi terhadap PDB relatif kecil. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) porsinya masih di bawah 5%. Di sisi lain, pemerintah mengeluarkan stimulus baik fiskal maupun nonfiskal untuk menangkal dampak wabah Covid-19. Bank Indonesia (BI) juga telah mengguyur sejumlah mengguyurkan likuiditas ke pasar maupun stabilisasi nilai tukar rupiah. Namun, insentif tersebut, terutama yang berhubungan dengan konsumsi rumah tangga seperti suku bunga rendah, baru terasa efektif jika kondisi Indonesia mulai memasuki tahap pemulihan. Karena itulah, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan, pertumbuhan ekonomi tahun ini masih bisa di atas 4% dengan skenario moderat. Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa hanya 2,5% bahkan 0% jika durasi Covid-19 lebih dari tiga bulan sampai enam bulan. Terutama jika penanganan bencana Covid-19 ini dengan cara lockdown.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira juga memprediksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini tidak dapat mencapai target yang telah ditetapkan pemerintah. Perkiraan Bhima, pertumbuhan ekonomi anjlok di bawah 3,8% dengan asumsi Covid-19 bisa teratasi dalam waktu dekat. Bahkan dalam skenario terburuk, Bhima memproyeksikan Indonesia berpotensi masuk krisis ekonomi apabila wabah ini bertahan selama enam bulan.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









