Ekonomi
( 40554 )Pukulan Ganda bagi Perbankan Dalam Negeri
Dunia perbankan kembali diuji. Tahun lalu perang dagang Amerika Serikat versus China, plus beragam skandal di industri keuangan menyebabkan sentimen negatif. Penyaluran kredit perbankan pun cuma naik 6,07%. Tahun ini wabah virus corona baru (Covid-19) bakal menjadi pagebluk baru bagi industri perbankan. Wabah virus corona berpeluang memicu resesi dan krisis ekonomi. Alhasil, permintaan kredit berpotensi mengerut. Di sisi lain, BI juga terus menurunkan suku bunga acuan, yang kini sebesar 4,5%. Dengan suku bunga rendah, margin bunga bersih (NIM) perbankan juga bakal terpangkas. Alhasil, dua pukulan sekaligus itu, penyaluran kredit dan penurunan NIM, bisa menyebabkan bisnis bank berada di titik nadir.
Sejumlah bank pun mulai bersiap merevisi target. Bank Rakyat Indonesia (BRI), misalnya, akan menurunkan target kredit tahun 2020. Bank BRI memprediksikan pertumbuhan kredit lebih moderat dari target semula di kisaran 10%-11%. Sebagai bagian dari strategi jangka panjang fokus pada pengembangan segmen UMKM, Bank BRI mengurangi laju pertumbuhan kredit korporasi. Bank BRI masih optimistis dengan pertumbuhan kredit UMKM tahun ini, terutama jenis mikro. Dengan kondisi ekonomi saat ini, segmen ritel dan menengah diperkirakan berat. BRI pun mengutamakan menjaga kualitas kredit di segmen ini dibanding mengejar kuantitas kredit. Dengan proyeksi kredit kian lemah, Bank BRI akan menjaga pertumbuhan laba dengan fokus mengumpulkan dana murah dan menggenjot fee based income. Direktur Utama Bank Panin Indonesia masih melihat perkembangan situasi sambil konsentrasi dalam menangani Covid-19. Namun, Bank Panin akan mencoba realistis menyikapi perkembangan. Bank CIMB Niaga juga memperkirakan kredit akan melambat akibat melemahnya keyakinan pelaku ekonomi. Bank OCBC NISP juga tidak akan menghindari pemangkasan target kredit dengan melihat kondisi ekonomi.
Investor Keluar dari Pasar Saham dan Masuk Dollar
Sejak awal tahun hingga akhir pekan lalu , Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mencatatkan koreksi hingga 33,41%. Bersamaan dengan itu, dana asing keluar dari pasar saham di Tanah Air. Indonesia bukan satu-satunya yang kehilangan dana asing. Di Asia Tenggara, dana asing yang cabut dari bursa saham Thailand dan Malaysia lebih banyak. Sejak awal tahun, dana asing yang keluar dari bursa saham Thailand mencapai US$ 3,31 miliar. Dari bursa saham Malaysia mencapai US$ 1,59 miliar. Sementara dana yang cabut dari Indonesia US$ 709,2 juta Namun perlu dicatat, dana asing yang keluar dari pasar obligasi Indonesia jauh lebih besar, mencapai US$ 6,04 miliar. Sementara dari Malaysia sekitar US$ 890,1 juta. Pasar obligasi Thailand bahkan masih mencetak net buy senilai US$ 12,54 miliar. Di bursa saham dalam negeri, saham yang banyak dijual asing antara lain BBCA, BBNI, BBRI, TLKM dan UNVR. Net sell asing di lima saham ini mencapai Rp 9,67 triliun. Presiden Direktur CSA Institute Aria Santoso mengatakan, keluarnya asing merefleksikan potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Investor mengurangi eksposur di aset berisiko dan pindah ke aset minim risiko.
Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai, asing migrasi ke dollar AS, karena dollar AS sedang trend naik. Dollar AS terus menguat. Jumat lalu (20/3), indeks dollar AS mencapai 102,82. Dua pekan sebelumnya, indeks ini masih di 95,95. Artinya, dalam dua pekan, dollar AS naik 7,16% Jika sentimen corona berlanjut, IHSG diproyeksikan jatuh makin dalam. Skenario terburuknya, IHSG merosot dan menyentuh level 3.000. Di tengah aksi jual asing yang masif, Aria merekomendasikan investor berorientasi jangka panjang melakukan cicil beli. Sedangkan bagi investor jangka pendek sebaiknya menunggu tekanan jual mereda dan ikut ketika ada tren harga naik.
Skenario Terburuk: Korona Memicu Krisis Ekonomi
Wabah corona Covid-19 di Indonesia kian meluas. Pemerintah mengimbau masyarakat tetap tinggal di rumah dan melakukan kegiatan lain yang tidak penting. Peringatan ini bertujuan untuk mencegah penyebaran virus korona Covid-19. Tapi berkurangnya pergerakan penduduk ini akan berdampak besar terhadap perekonomian Indonesia. Semua sektor usaha di luar bahan makanan pokok, sektor kesehatan, hingga telekomunikasi terkena dampaknya.
Meskipun sektor pangan, kesehatan dan telekomunikasi meningkat dan bisa mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), porsi kontribusi terhadap PDB relatif kecil. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) porsinya masih di bawah 5%. Di sisi lain, pemerintah mengeluarkan stimulus baik fiskal maupun nonfiskal untuk menangkal dampak wabah Covid-19. Bank Indonesia (BI) juga telah mengguyur sejumlah mengguyurkan likuiditas ke pasar maupun stabilisasi nilai tukar rupiah. Namun, insentif tersebut, terutama yang berhubungan dengan konsumsi rumah tangga seperti suku bunga rendah, baru terasa efektif jika kondisi Indonesia mulai memasuki tahap pemulihan. Karena itulah, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan, pertumbuhan ekonomi tahun ini masih bisa di atas 4% dengan skenario moderat. Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa hanya 2,5% bahkan 0% jika durasi Covid-19 lebih dari tiga bulan sampai enam bulan. Terutama jika penanganan bencana Covid-19 ini dengan cara lockdown.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira juga memprediksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini tidak dapat mencapai target yang telah ditetapkan pemerintah. Perkiraan Bhima, pertumbuhan ekonomi anjlok di bawah 3,8% dengan asumsi Covid-19 bisa teratasi dalam waktu dekat. Bahkan dalam skenario terburuk, Bhima memproyeksikan Indonesia berpotensi masuk krisis ekonomi apabila wabah ini bertahan selama enam bulan.
Dampak Wabah COVID-19, Industri Elektronika Bersiap Pangkas Target
Pelaku industri elektronika nasional berancang-ancang untuk merevisi target pertumbuhan dan menahan produksi karena masih dibayangi oleh pelemahan daya beli konsumen akibat dampak sistemik merebaknya wabah COVID-19. Beberapa perseroan melakukan pemangkasan proyeksi permintaan. Isu kesulitan bahan baku dimulai saat China mulai melakukan penguncian salah satu wilayah pusat pandemi dan bertepatan dengan perayaan Imlek. Adapun, 70% bahan baku elektronika nasional memang dari China. Gabungan Pengusaha Elektronika (Gabel) mengatakan saat ini sebagian besar pabrikan elektronika nasional lebih memikirkan keselamatan karyawan daripada perkembangan bisnis. Oleh karena itu, sebagian pabrikan akan menghentikan operasi setidaknya selama 2 minggu ke depan. Di samping pelemahan pasar dan penurunan produktivitas, industri elektronika juga dihantam dari sisi bahan baku. Saat ini pabrikan bahan baku di China baru belum berjalan sempurna. Maraknya kasus COVID-19 dan naiknya nilai tukar, maka permintaan pasar akan produk elektronika diproyeksi turun. Untuk itu, persoalan utama bukan lagi bahan baku yang sudah naik, melainkan pada permintaan yang turun.
Pemerintah Siagakan Anggaran Bencana dan Pinjaman Multilateral
Kementerian Keuangan menyiapkan skema pembiayaan lanjutan untuk penanggulanganwabah virus corona (Covid-19). Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani mengatakan masih ada pos anggaran yang bisa disiapkan jika skema tersebut masih ada kekurangan.
Beberapa pos anggaran tersebut, kata Askolani, di antaranya dialokasikan untuk penanganan bencana. Dalam APBN 2020, pemerintah mengalokasikan anggaran bencana sebesar Rp 5 triliun. Dari jumlah tersebut, dana sudah terpakai Rp 1,25 triliun untuk penanganan bencana banjir pada awal tahun. Selain itu menurut Askolani, ada alokasi cadangan beras pemerintah senilai Rp 20 triliun. Ada juga cadangan untuk penanganan stabilisasi harga yang dipersiapakan untuk menangani efek buruk corona yang berkepanjangan. Pemerintah diperkirakan bakal menggelontorkan dana Rp 27,7 triliun melalui dua paket stimulus yang sudah dicanangkan. Dirjen PPR Kementerian Keuangan, Luky Alfirman, mengatakan penerbitan surat utang bisa dijadikan opsi pembiayaan. Menurut Luky masih ada opsi pinjaman luar negeri dari lembaga multilateral. Asian Development Bank mengkonfirmasi ada paket bantuan tahap awal senilai US$ 6,5 miliar untuk mengatasi keperluan mendesak dari negara-negara aggotanya, termasuk Indonesia, dalam menghadapi pandemi virus corona.
Bank Sentral Perkuat Intervensi demi Menopang Rupiah
Bank Indonesia berupaya menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah di tengah gempuran ketidakpastian pasar keuangan global akibat meluasnya penyebaran wabah corona. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menuturkan aliran modal asing yang keluar dari Indonesia kembali kenegara maju memicu tekanan terhada kurs rupiah sejak pertengahan Februari lalu.
Hingga 18 Maret lau, rupiah secara merata melemah sebesar 5,72 persen dan depresiasinya mencapai 8,77 persen dibanding level rupiah pada akhir 2019. Kemarin, rupiah ditutup di level 15.712 per dolar Amerika Serikat, berdasarkan kurs referensi JISDOR. BI berkomitmen meningkatakan intesitas stabilisasi di pasar domestic non-deliverable forward (DNDF), pasar spot, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Likuiditas tambahan itu diantaranya, berasal dari repo dengan agunan SBN sebesar Rp 53 triliun, penurunan Giro Wajib Minimum rupiah Rp 51 triliun, dan akan kembali ditambah Rp 23 triliun per 1 April 2020. Kapasitas intervensi bank sentral ditopang oleh ketersediaaan cadangan devisa pada akhir Februari lalu sebesar US$ 130,4 miliar. Bank sentra kemarin juga mengeluarkan tujuh langkah lanjutan untuk memperkuat stabilitas keuangan dan pertumbuhan ekonomi.
Industri di Batam Terdampak
Industri manufaktur dan jasa pelayaran di Batam Kepulauan Riau merugi hingga miliaran rupiah akibat pembatasan mobilitas Singapura dan Malaysia terkait pandemi Covid-19.
Ketua Persatuan Pengusaha Pelayaran Niaga Nasional Indonesia (INSA) Batam Osman Hasyim mengatakan kebijakan pembatasan mobilitas oleh Singapura dan Malaysia membuat industri pelayaran di Batam terpukul hebat. Penurunan penumpang diperkirakan mencapai 90%, dari awalnya sekitar 13.200 orang per hari menjadi lebih kurang 200 penumpang per hari. Pendapatan potensial jasa pelayaran yang hilang akibat pembatasan mobilitas tidak kurang dari Rp 20 miliar per hari. Itu belum termasuk nilai barang yang diangkut kapal-kapal niaga. Pembatasan mobilitas oleh Singapura dan Malaysia membuat 2900 pabrik di Batam mengalami kekurangan bahan baku dan tenaga ahli.
Para pengusaha menggalang dana untuk mendukung pemerintah kota Batam dalam menghadapi pandemi. Hasilnya terkumpul uang Rp 6,47 miliar dan akan digunakan untuk membeli alat medis guna mempercepat deteksi Covid-19.
Transaksi Digital Perbankan Melonjak
Aktivitas
transaksi digital alias nontunai melonjak drastic ditengah arahan social distancing pemerintah karena
wabah korona. BNI Mobile mengalami kenaikan sebesar 52,46 % dan nominal
transaksi meningkat 61,59% dalam satu pekan. Aplikasi meliputi fitur pembukaan
tabungan digital, pembelian pulsa dan paket data, pembelian token listrik,
pembayaran tagihan, transfer uang antar BNI dan antarbank, top up saldo uang elektronik, hingga investasi. Penggunaan BNI
mobile juga didorong dengan adanya program bonus saldo uang elektronik apabila
melakukan top up di BNI Mobile.
Meskipun aktif bekerja-belajar-beribadah
di rumah, namun aktivitas transaksi keuangan tidak harus terhambat. Sementara
Bank Mandiri pada pekan ini transaksi elektronik mencapai 5,8 juta transaksi
atau naik 10% dibanding akhir pekan lalu. Mandiri berupaya mengembangkan
layanan Mandiri Online agar semakin friendly
dengan nasabah serta mampu menjawab kebutuhan nasabah. Transaksi e-money relative stabil dengan rata-rata transaksi per
hari sebanyak 3 juta transaksi dengan nilai Rp 45 Milyar hingga 15 Maret 2020.
Transaksi e-money mengalami penurunan
sekitar 9 % akibat masyarakat harus bekerja di rumah, pengaruh terbesar dari
pembayaran tol dan parkir.
Surat Utang Valas Ditahan
Pemerintah Indonesia tidak akan menerbitkan surat utang berdenominasi valuta asing atau global bond dalam waktu dekat. Kebutuhan pembiayaan anggaran akan dipenuhi dari dukungan investor domestik dan sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan atau Silpa. Pembiayaan anggaran juga bersumber pinjaman dari Bank Pembangunan Asia dan Bank Dunia yang kini sedang dikerjakan skema dan prosesnya.
Direktur Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Kementerian Keuangan Lucky Alfirman menyampaikan bahwa Komite Stabilitas Sistem Keuangan telah menyiapkan protokol manajemen krisis untuk mengantisipasi kondisi terburuk, salah satunya bond stabilization framework (BSF) untuk pasar surat berharga negara.
Cash is The King
Menempatkan dana di safe haven atau aset lindung nilai tak lagi menjamin nilai aset Anda positif dalam kondisi pasar yang tak menentu seperti saat ini. Menurut pengamat, memperbesar posisi dana tunai adalah pilihan yang tepat dalam kondisi saat ini. Budi Raharjo, perencana keuangan dari OneShildt bahkan merekomendasikan menaikkan porsi dana darurat. Pandemi virus corona membuat kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun 34,83% secara year to date (ytd). Dalam lima tahun, IHSG anjlok 18,68%. Tak hanya itu, yield surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun merangkak ke 8%.
Pasalnya, dampak penyebaran Covid-19 terhadap pertumbuhan ekonomi masih belum bisa dihitung secara pasti. Meski pandemi corona diyakini hanya sementara, tapi belum ada yang bisa menghitung kerugian akibat corona. Sejumlah stimulus yang dikeluarkan otoritas juga tidak mampu menahan kejatuhan pasar modal. Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menambahkan, investor perlu memperbanyak kas untuk menjaga agar aset tidak jatuh terlalu dalam. Jadi tujuannya bukan memburu imbal hasil tapi menjaga likuiditas. Porsi dana darurat harus ada minimal tiga sampai enam kali dari pengeluaran setiap bulan. Karena itu, rencana portofolio juga perlu sedikit penyesuaian. Bagi investor dapat memperbesar porsi dana kas hingga 30%. Lalu 30% lagi ditempatkan di emas atau obligasi untuk diversifikasi. Penempatan dana di saham masih bisa dialokasikan hingga 40%. Tapi, idealnya investor masuk secara bertahap. Investor konservatif bisa menaikkan porsi cash hingga 60% dari total dana investasi. Lalu 20% bisa ditempatkan di saham yang fundamental bagus dan sisanya di emas atau obligasi ritel. Investor agresif dapat menempatkan 40% investasi pada aset yang bersifat fixed income. Lalu 30% ditempatkan di pasar uang dan sebesar 30% di saham. Sementara investor konservatif dianjurkan lebih mengalokasikan dananya ke instrumen pasar uang.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









