;
Kategori

Ekonomi

( 40460 )

Mendung dari Negeri Tirai Bambu

14 Jun 2020

Digadang dengan segudang optimisme, sidang paripurna Kongres Rakyat Nasional China ke-13 malah menawarkan kesuraman. Selain tambahan utang setara APBN Indonesia 4 tahun, masalah di China bisa berdampak pada Indonesia. Setelah dua bulan tertunda akibat pandemi Covid-19, hajatan politik tahunan terpenting di China, Kongres Rakyat Nasional China (NPC), tetap terselenggara untuk menunjukkan kepada dunia bahwa China telah pulih seperti semula dan Partai Komunis China masih memegang penuh kendali. Tahun ini hajatan politik itu menjadi kian penting bagi Presiden Xi Jinping yang akan mendorong pemulihan ekonomi, mengaktifkan kembali sekolah dan dunia usaha, serta mencari utang guna mengakhiri penyebaran wabah korona yang dimulai dari Wuhan, Hubei.

Perdana Menteri Li Keqiang, orang kedua di Partai Komunis China (PKC) setelah Xi berjanji menekan inflasi dan tingkat pengangguran. Ia mengakui China akan menghadapi tantangan berat yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Meski demikian, ia mengingatkan China memiliki kekuatan politik dan kelembagaan yang unik, landasan ekonomi kuat, potensi pasar luar biasa, dan ratusan juta warga yang cerdas dan pekerja keras. Masa depan menjanjikan termasuk menggenggam Hong Kong lebih erat yang dimana telah memicu unjuk rasa. Salah satu poin yang mengkhawatirkan adalah ketentuan yang memungkinkan agen keamanan China beroperasi di Hong Kong. Aparat dapat menjerat siapa saja yang dianggap berselisih, tak sepaham, atau melawan PKC di China daratan. Terkait hal itu, Beijing dituding mengkhianati dan memberi harapan palsu kepada Hong Kong.

Sebelum sidang NPC dibuka, media-media China menawarkan optimisme dan pujian. Pembukaan sidang disebut sebagai tanda China siap bangkit setelah melambat akibat korona. Pandemi memaksa China mengisolasi puluhan kota dan jutaan warga sehingga perekonomian hampir sama sekali berhenti. Berbeda dengan media-media resmi China, data perekonomian dan bank sentral China, PBOC, lebih realistis. Laju perekonomian Negeri Tirai Bambu itu minus 6,8 persen pada Januari-Maret 2020. Dalam 40 tahun terakhir, baru kali ini perekonomian China tidak tumbuh.

Salah satu lembaga investasi China, Zhongtai Securities, menaksir hingga 70 juta orang China menjadi pengangguran selama pandemi. Sementara anggota Komisi Moneter PBOC, Ma Jun, menganjurkan Beijing tidak mematok target pertumbuhan ekonomi tahun ini. Lembaga pemeringkat, Standard & Poor’s, juga menaksir China punya utang dalam negeri setara 4,8 triliun dollar AS. Utang itu diterbitkan badan usaha milik daerah dan pemerintah daerah.

Meskipun demikian, Beijing tetap menambah utang 665 miliar dollar AS pada 2020. Dengan kurs Rp 14.500 per dollar AS, nilai utang baru China pada 2020 setara APBN Indonesia selama empat tahun. Sementara defisit APBN dilebarkan dari 2,8 persen pada 2019 menjadi 3,6 persen pada 2020. Dari utang itu, 506 miliar dollar AS akan dijadikan stimulus. Sisanya diserahkan ke pemerintah daerah untuk penanganan Covid-19 dan penguatan anggaran. Nie Wen, analis lembaga investasi Hwabao Trust, mengatakan Realisasi pengucuran (stimulus) akan kecil, sebagaimana dikutip South China Morning Post.

China juga menjadi penghubung bagi pengiriman ekspor-impor Indonesia ke berbagai negara lain. Selama China diisolasi, ekspor-impor Indonesia terhambat. Aktivitas produksi di Indonesia dengan bahan baku dari China juga terhambat.

Giliran Petani dan Nelayan Terima Guyuran Insentif

14 Jun 2020

Pemerintah akhirnya mengguyur insentif untuk petani dan nelayan di masa pagebluk virus korona (Covid-19). Ada empat insentif yang disiapkan pemerintah untuk menjaga kebutuhan bahan pangan pokok dalam negeri. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan program ini untuk meringankan beban biaya konsumsi rumah tangga dari keluarga kurang mampu termasuk di dalamnya petani dan nelayan miskin serta program – program lainnya demi kelancaran supply chain.

Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, menyampaikan usulan insentif kepada nelayan terdampak Covid-19. Ia meminta tambahan anggaran stimulus penguatan sektor tangkap dan budidaya Rp 1,02 triliun juga Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada BUMN perikanan Perinus dan Perindo. Edhy juga meminta agar perbankan memberikan kelonggaran jaminan kepada pembudidaya seperti petambak udang agar menerima tambak udang sebagai jaminan. Sebab sat ini bank hanya mau jaminan aset pribadi.

Yang Untung Saat Rupiah Buntung

14 Jun 2020

Nilai tukar rupiah melemah cukup dalam di kuartal satu lalu. Di periode tersebut, kurs rupiah turun 17,63%. Meski begitu, sejumlah emiten mendulang untung berkat pelemahan ini. PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) mencetak laba selisih kurs Rp 605,06 triliun di sehingga laba bersih emiten ini naik menjadi Rp 931,39 miliar sebagaimana diterangkan Chris Apriliony, analis Jasa Utama Capital Sekuritas. PT Lonsum Indonesia Tbk (LSIP) juga mengalami hal serupa. Meilki Darmawan, analis NH Korindo Sekuritas, menjelaskan, performa tersebut tak lepas dari posisi LSIP yang memiliki net cash kuat.

Cuma memang, ada risiko negara importir CPO mengurangi konsumsi akibat pandemi Covid-19. Kondisi ini berpotensi menekan harga CPO. Berdasarkan perhitungan Meilki, setiap penurunan harga CPO sebesar 10%, pendapatan LSIP akan turun 7%. Sedangkan laba per saham akan mengalami penurunan 22%. Setali tiga uang, Chris mengatakan turunnya konsumsi dari negara importir produk menjadi risiko bagi MYOR. Tapi, pelonggaran lockdown yang sudah dimulai di beberapa negara tujuan ekspor menjadi angin segar.

Chris merekomendasikan buy saham MYOR dengan target harga Rp 2.700 per saham. Ini dengan asumsi kurs rupiah stabil di Rp 14.900 per dollar AS hingga akhir tahun. Meilki menilai, program B-30 menjadi sentimen positif untuk emiten perkebunan dalam negeri karena dinilai mampu menyerap permintaan CPO. Dia merekomendasikan buy LSIP dengan target harga Rp 900 per saham.

Injeksi Likuiditas, BI Borong SUN Rp 200 Triliun

14 Jun 2020

Peran Bank Indonesia (BI) utuk membeli surat utang negara (SUN) yang diterbitkan pemerintah tahun ini cukup besar. Pembelian SUN oleh BI ini baik untuk tujuan pembiayaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) maupun untuk menyuntik likuiditas di pasar keuangan. Sejak awal tahun BI telah memborong SUN sebesar Rp 200,25 triliun sebagaimana dikatakan tandas Gubernur BI Perry Warjiyo. Hal ini utamanya untuk menstabilkan kondisi likuiditas di pasar keuangan maupun perbankan.

Ekonom Institut Kajian Strategis Universitas Kebangsaan Eric Sugandi mengatakan, pembelian SUN oleh BI berarti bank sentral menginjeksi uang ke perekonomian. Lewat pembelian SUN, Pemerintah membiayai belanja-belanja yang bisa meningkatkan penghasilan masyarakat.

OJK Menambah Stimulus ke Sektor Perbankan

14 Jun 2020

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali mengeluarkan kebijakan lanjutan terkait relaksasi ketentuan di sektor perbankan. Tujuan beleid ini adalah memberikan ruang likuiditas dan permodalan perbankan lebih lebar. Sehingga stabilitas sektor keuangan tetap terjaga di tengah pelemahan ekonomi sebagai dampak pandemi virus korona (Covid-19). Pertama, sampai 31 Maret 2021 pemenuhan capital conservation buffer (CCB) dalam komponen modal 2,5% dari aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) bagi bank BUKU III dan BUKU IV ditiadakan untuk meringankan kewajiban pemenuhan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR).

OJK juga menurunkan batas minimum pemenuhan liquidity coverage ratio (LCR) dan net stable funding ratio (NSFR) bagi BUKU III, BUKU IV serta bank asing menjadi 85% agar arus kas tetap sehat. Perbankan menyambut baik tambahan kebijakan ini termasuk Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA), Jahja Setiaatmadja. Secara CAR BCA masih di atas 22,5%. LCR di level 290,2% dan NSFR 160,8%.

Direktur Tresuri dan Internasional Bank Mandiri, Darmawan Junaidi bilang, seluruh kebijakan tambahan bersifat preventif dan sesuai kebutuhan perbankan. Namun, anggapan berbeda muncul dari bank kecil. Direktur Bank Woori Saudara (BWS), Sadhana Priatmadja mengatakan, aturan ini tepat diberikan ke bank besar agar pasar pendanaan bank kecil tak terganggu.

Ekspor Pertanian Tetap Tumbuh di Masa Pandemi

14 Jun 2020

Kementerian Pertanian (Kemtan) mencatat ekspor komoditas pertanian selama Januari 2020 sampai April 2020 mencapai Rp 134,63 triliun tumbuh sebesar 16,9% dibandingkan periode yang sama tahun 2019. Kepala Pusat Data dan Informasi Kemtan, Ketut Kariyasa mengklaim sepanjang Januari -April lalu ekspor produk pertanian belum terkendala oleh Covid-19. Surplus perdagangan produk pertanian selama Januari-April 2020 meningkat 32,96% menjadi Rp 44,70 triliun. Sedangkan penurunan impor produk pertanian karena negara asal mengalami kendala pengiriman akibat kebijakan lockdown. Indonesia saat ini masih mengimpor beberapa produk pertanian hortikultura, sayuran dan buah-buahan. terutama bawang putih yang masih mencapai Rp 7,75 triliun, kentang olahan Rp 1,77 triliun, bawang bombai Rp 1,06 triliun, bunga kol, brokoli dan kubis hanya Rp 110,96 miliar.

Pengusaha Hotel Kaji New Normal

14 Jun 2020

Pebisnis perhotelan siap beroperasi kembali di tengah kondisi new normal atau kenormalan baru yang mulai digulirkan pemerintah. Namun pengusaha perhotelan masih mencari prosedur operasional hotel yang sesuai dengan konsep new normal. Andhy Irawan, CEO Dafam Hotel Management (DHM) menyatakan masih fokus merancang standar operasional dimana harus meningkatkan kebersihan, aspek higienis dan memperkuat pencegahan dari penyebaran virus korona. DHM juga tak buru-buru membuka hotel yang tutup akibat pandemi korona. Sejauh ini, Dafam hanya menutup sementara satu hotel di Gili, Lombok. PT Menteng Heritage Realty Tbk (HRME) juga masih mengkaji konsep new normal untuk operasional hotel ke depan sebagaimana dikonfirmasi Corporate Secretary HRME, Jessica. HRME masih menutup sementara operasional The Hermitage hingga situasi kondusif namun tetap membuka operasional hotel bintang 3, Pomelotel, dengan fokus membuka dapur dan jasa pesan-antar makanan untuk perkantoran yang masih beroperasi di masa PSBB.

Indonesia Akan Cetak Lagi Utang Baru Rp 990 Triliun

14 Jun 2020

Pemerintah akan menerbitkan utang baru senilai Rp 990,1 triliun untuk menutupi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020. Sebagai gambaran, defisit anggaran tahun ini yang diprediksikan mencapai Rp 1.028,5 triliun atau setara 6,27% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Total utang baru itu akan dipenuhi dari penerbitan Surat Utang Negara (SUN) untuk kebutuhan anggaran periode Juni - Desember 2020. Nilai itu akan dipenuhi melalui lelang di pasar domestik, private placement, dan SUN skema khusus sesuai perjanjian pemerintah dengan Bank Indonesia (BI). Direktur Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemkeu Lucky Alfirman tak menampik adanya rencana penerbitan SUN di sisa tahun ini termasuk pembiayaan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Ujian Sesungguhnya bagi Perbankan Segera Datang

14 Jun 2020

Efek pukulan pandemi Covid-19 masih terlihat minim di catatan kinerja perbankan Tanah Air sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. Setidaknya, sejumlah bank besar, terutama bank swasta, masih sukses menorehkan pertumbuhan laba tinggi. Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan kenaikan laba bersih menjadi Rp 6,58 triliun. Penyaluran kredit juga masih naik menjadi Rp 612,16 triliun. Pendapatan operasionalnya menjadi Rp 19,6 triliun. CIMB Niaga dan Bank Danamon, juga berhasil meraup pertumbuhan laba. Laba CIMB Niaga naik 11,8%. Sedangkan Bank Danamon mencetak pertumbuhan laba sebesar 33% menjadi Rp 59,7 triliun.

Sebaliknya, kinerja bank plat merah di bawah harapan. Hanya Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang belum mempublikasikan kinerja kuartal I-2020. Laba Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), turun menjadi Rp 8,17 triliun. Adapun laba Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menjadi Rp 723 miliar. Bank BNI Tbk (BBNI) masih tumbuh 4,3%. Hans Kwee, Direktur Anugerah Mega Investama berpendapat, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) baru berlaku Maret, sehingga dampaknya baru akan terlihat di kuartal II dimana laba bank kemungkinan turun, namun akan sedikit tertahan dengan relaksasi dan restrukturisasi kredit. Para banker, termasuk Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA mengatakan menyadari besarnya tekanan yang dihadapi bisnis bank sehingga memilih bersikap wait and see sebelum memacu ekspansi, serta selektif dalam penyaluran kredit. 

Tahun Ini, Pasar Mobil Bakal Macet

14 Jun 2020

Laju industri mobil semakin tersendat. Bahkan, penjualan mobil nasional menurun secara ekstrem sejak kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) bergulir. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, volume penjualan pada April lalu hanya mencapai 7.871 unit. Angka itu merosot hingga 90% dari 84.056 unit terjual di bulan yang sama tahun sebelumnya. Meski saat ini dengan relaksasi PSBB industri otomotif masih pesimistis hal tersebut langsung berdampak positif bagi pasar karena tidak serta merta meningkatkan daya beli masyarakat. Gaikindo memproyeksikan volume penjualan mobil penurunan 43% pada semester ini. Marketing Director PT Astra Daihatsu Motor, Amelia Tjandra, bahkan memperkirakan pasar otomotif kembali anjlok lebh tajam di bulan Mei. Dia memprediksikan pasar mobil baru kembali terungkit sedikit pada Juni 2020.

Di sepanjang semester pertama tahun ini, Daihatsu menargetkan bisa menjaga pangsa pasar ritel di level 17%. Pada April 2020, Daihatsu bertengger di posisi kedua pasar mobil nasional sebanyak 1.330 unit. Namun volume penjualan itu turun hingga 91% dibandingkan penjualan di bulan yang sama tahun lalu sebanyak 16.126 unit. Selain faktor PSBB, Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor, Anton Jimmi Suwandi, menilai permintaan mobil bergantung pada beberapa hal, mulai dari perekonomian nasional hingga kemudahan pengajuan kredit kendaraan bermotor.

Oleh karena itu, Toyota saat ini fokus menjaga perolehan pangsa pasar, alih-alih mengejar pertumbuhan volume penjualan. "Target kami adalah posisi nomor satu dengan market share yang cukup baik di atas 31%," ujar dia. Selama empat bulan pertama tahun ini, Toyota berhasil mengamankan pangsa pasar dengan volume penjualan 77.419 unit. Namun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, volume penjualan tersebut menyusut 27%. Langkah senada akan diterapkan PT Honda Prospect Motor (HPM) dengan mempertahankan pangsa pasar di sepanjang tahun ini. Sampai April 2020, Honda mencatatkan volume penjualan 37.401 unit, turun 7,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 40.476 unit. Direktur Marketing HPM, Yusak Billy, berharap pasar di semester kedua lebih bergairah seiring relaksasi PSBB. Sementara itu Presiden Direktur PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), Ernando Demily, menyoroti beberapa hal yang mempengaruhi pasar otomotif, khususnya kedisiplinan penanganan wabah serta eksekusi stimulus ekonomi dari pemerintah. Soal target penjualan, Isuzu tak mematok angka muluk-muluk selain mencoba menyamai pangsa pasar tahun lalu.