Mendung dari Negeri Tirai Bambu
Digadang dengan segudang optimisme, sidang paripurna Kongres Rakyat Nasional China ke-13 malah menawarkan kesuraman. Selain tambahan utang setara APBN Indonesia 4 tahun, masalah di China bisa berdampak pada Indonesia. Setelah dua bulan tertunda akibat pandemi Covid-19, hajatan politik tahunan terpenting di China, Kongres Rakyat Nasional China (NPC), tetap terselenggara untuk menunjukkan kepada dunia bahwa China telah pulih seperti semula dan Partai Komunis China masih memegang penuh kendali. Tahun ini hajatan politik itu menjadi kian penting bagi Presiden Xi Jinping yang akan mendorong pemulihan ekonomi, mengaktifkan kembali sekolah dan dunia usaha, serta mencari utang guna mengakhiri penyebaran wabah korona yang dimulai dari Wuhan, Hubei.
Perdana Menteri Li Keqiang, orang kedua di Partai Komunis China (PKC) setelah Xi berjanji menekan inflasi dan tingkat pengangguran. Ia mengakui China akan menghadapi tantangan berat yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Meski demikian, ia mengingatkan China memiliki kekuatan politik dan kelembagaan yang unik, landasan ekonomi kuat, potensi pasar luar biasa, dan ratusan juta warga yang cerdas dan pekerja keras. Masa depan menjanjikan termasuk menggenggam Hong Kong lebih erat yang dimana telah memicu unjuk rasa. Salah satu poin yang mengkhawatirkan adalah ketentuan yang memungkinkan agen keamanan China beroperasi di Hong Kong. Aparat dapat menjerat siapa saja yang dianggap berselisih, tak sepaham, atau melawan PKC di China daratan. Terkait hal itu, Beijing dituding mengkhianati dan memberi harapan palsu kepada Hong Kong.
Sebelum sidang NPC dibuka, media-media China menawarkan optimisme dan pujian. Pembukaan sidang disebut sebagai tanda China siap bangkit setelah melambat akibat korona. Pandemi memaksa China mengisolasi puluhan kota dan jutaan warga sehingga perekonomian hampir sama sekali berhenti. Berbeda dengan media-media resmi China, data perekonomian dan bank sentral China, PBOC, lebih realistis. Laju perekonomian Negeri Tirai Bambu itu minus 6,8 persen pada Januari-Maret 2020. Dalam 40 tahun terakhir, baru kali ini perekonomian China tidak tumbuh.
Salah satu lembaga investasi China, Zhongtai Securities, menaksir hingga 70 juta orang China menjadi pengangguran selama pandemi. Sementara anggota Komisi Moneter PBOC, Ma Jun, menganjurkan Beijing tidak mematok target pertumbuhan ekonomi tahun ini. Lembaga pemeringkat, Standard & Poor’s, juga menaksir China punya utang dalam negeri setara 4,8 triliun dollar AS. Utang itu diterbitkan badan usaha milik daerah dan pemerintah daerah.
Meskipun demikian, Beijing tetap menambah utang 665 miliar dollar AS pada 2020. Dengan kurs Rp 14.500 per dollar AS, nilai utang baru China pada 2020 setara APBN Indonesia selama empat tahun. Sementara defisit APBN dilebarkan dari 2,8 persen pada 2019 menjadi 3,6 persen pada 2020. Dari utang itu, 506 miliar dollar AS akan dijadikan stimulus. Sisanya diserahkan ke pemerintah daerah untuk penanganan Covid-19 dan penguatan anggaran. Nie Wen, analis lembaga investasi Hwabao Trust, mengatakan Realisasi pengucuran (stimulus) akan kecil, sebagaimana dikutip South China Morning Post.
China juga menjadi penghubung bagi pengiriman ekspor-impor Indonesia ke berbagai negara lain. Selama China diisolasi, ekspor-impor Indonesia terhambat. Aktivitas produksi di Indonesia dengan bahan baku dari China juga terhambat.
Tags :
#InternasionalPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023