;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Ekonomi Indonesia Disarankan Beralih Fokus

20 Jun 2020

Bencana pandemi Covid-19 yang menelan biaya pemulihan hingga ribuan triliun harus dijadikan momentum untuk menghasilkan desain baru perekonomian Indonesia yang lebih kokoh dan mampu tumbuh secara berkelanjutan. Pengalihan fokus atau refocusing pengembangan ekonomi nasional ke industri sumber daya terbarukan (renewable resources) sebagai pilar ekonomi nasional, dinilai menjadi kunci bagi masa depan Indonesia.

Chief Strategy Consultant Arrbey Handito Joewono mengatakan Hasil riset pihaknya merekomendasi kan agar perekonomian nasional ke depan menjadikan pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan kehutanan sebagai sektor prioritas dengan penekanan pada industrialisasi produk pertanian dan perkebunan. Menurut Handito, perubahan drastis perekonomian dunia sedang terjadi dan Indonesia pun perlu menyesuaikan diri bila ingin tetap bertahan. Temuan penting lainnya dari riset Arrbey adalah dampak pandemi virus corona baru yang ditandai oleh anjloknya omzet penjualan dalam rentang waktu yang lama.

Diakui Handito bahwa temuan dari hasil riset ini agak bertentangan dengan harapan banyak pihak terutama penganut aliran revolusi modernisasi yang menginginkan Indonesia segera melompat menjadi negara maju dengan mengoptimalkan teknologi digital dan service-based economy. Pandangan yang senada dengan hasil riset ini sempat disampaikan oleh pengamat ekonomi kebijakan publik Benny Pasaribu. Menurutnya, transformasi ekonomi itu harus diarahkan untuk memberikan perhatian pada sektor-sektor industri dimana rakyat banyak bergelut mencari penghidupan. Beberapa sektor itu paling tidak meliputi agroindustri, maritim, pariwisata, dan ekonomi kreatif. “Sektor-sektor ini yang di harapkan nantinya bisa mengembang produk unggulan daerah seperti sagu di Papua, Pala di Maluku, cokelat di Sulawesi, singkong di Lampung, serta CPO dan karet di Sumatera,” papar dia


Ekosistem Gojek Saling Dukung Hadapi Covid

20 Jun 2020

Survei Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) terhadap 41.393 mitra pengemudi Gojek mengungkapkan bahwa di tengah kondisi pandemi Covid-19, perusahaan Gojek, mitra pengemudi, maupun konsumen yang ada dalam satu ekosistem, saling membantu.

Wakil Kepala LD FEB UI Paksi Walandouw mengatakan, hasil riset itu cukup menarik. Pasalnya, pekerja dan ekosistem Gojek sangat terdampak oleh pandemi Covid-19 dan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Sikap gotong-royong tercermin dari temuan bahwa walaupun mengalami penurunan penghasilan, hampir setengah dari mitra pengemudi Gojek memberikan bantuan sosial kepada sesama. Secara keseluruhan, hampir semua mitra tetap berencana untuk melanjutkan kemitraannya dengan Gojek dan cenderung optimistis bahwa penghasilan mereka akan kembali seperti sebelum terjadinya pandemi.

Pemulihan Ekonomi Prancis Sangat Lambat

20 Jun 2020

Kegiatan ekonomi di Prancis mengindikasikan pemulihan dari dampak krisis virus corona Covid-19 berjalan sangat lamban. Atau lebih tepatnya hati-hati. Tapi badan statistik nasinal (INSEE) Prancis mengingatkan bahwa perekonomian berpotensi kontraksi sekitar 20% pada kuartal berjalan ini. Otoritas Prancis memerintahkan bisnis-bisnis yang tidak vital ditutup dan orang-orang tetap di rumah pada pertengahan Maret atau hampir di akhir kuartal I-2020. Menurut INSEE, produk domestik bruto (PDB) berpotensi anjlok sekitar 20% kuartal ini dan menjadi Resesi terberat sejak data nasional dibuat pada 1948.

Pemerintah Prancis memperkirakan Pengembalian ke kondisi normal kemungkinan akan memakan waktu berbulan-bulan. Bahkan jika kegiatan ekonomi kembali ke masa sebelum krisis pada Juli tahun lalu, PDB Prancis masih akan turun sebesar 8% sepanjang 2020 secara keseluruhan. ndeks kepercayaan konsumen IN SEE turun dua poin menjadi 93 poin pada Mei, setelah turun 8 poin bulan sebelumnya. Indeks dihitung sehingga 100 menjadi rata-rata jangka panjang. Di sisi lain, indeks kepercayaan bisnis naik tipis menjadi 59 poin, setelah mencapai revisi 53 poin pada April. Ini merupakan angka terendah sejak indeks ini mulai diukur pada 1980.

Mochtar Riady - China Exit Tidak Menguntungkan Perekonomian Global

20 Jun 2020

Kebijakan melepaskan diri dari ketergantungan pada Tiongkok, atau disebut “China Exit”, bukanlah hal yang realistis atau menguntung kan bagi perekonomian dunia. Hal itu diungkapkan pendiri Lippo group Mochtar riady dalam seminar virtual yang digelar bersama oleh media bisnis Business China dan Fortune Times yang turut dihardiri Pemimpin Business China Lee Yi Shyan dan CEO Tin Pei Ling serta Pemimpin Redaksi Fortune Times Annie Song juga hadir.

Demi mengurangi ketergantungan kepada manufaktur Tiongkok, tiga tahun silam pemerintahan Donald Trump meminta Apple untuk mengalihkan produksi iPhone kembali ke AS. Namun, keputusan itu menjadi bumerang. Menurutnya, industri manufaktur AS tidak memiliki dukungan penting mata rantai pasokan dalam tingkat harga pasar yang kompetitif. Selain itu, para pekerja Amerika tidak setekun mereka yang di Tiongkok. Dilema yang sama juga dihadapi produsen mobil listrik Tesla dan para produsen peralatan medis terkemuka seperti GE, Philips, dan Siemens.

Menurut sebuah berita yang diterbitkan Financial Times, sedikitnya 34 perusahaan Jepang yang beroperasi di Tiongkok sudah menyatakan minat untuk merelokasi usaha mereka dari Tiongkok. Namun, Mochtar menilai bahwa memindahkan mata rantai pasokan dari Tiongkok ke negara-negara Asia Tenggara, misalnya Vietnam, bukanlah keputusan yang bijak. Mata rantai pasokan tidak akan berfungsi di sebuah negara yang tidak memiliki talenta dalam jumlah yang memadai.

Tentang dampak wabah Covid-19, Mochtar menyatakan keyakinannya bahwa wabah gelombang kedua bisa membawa dampak yang lebih dahsyat kepada perekonomian global. Awal pekan ini, Pemerintah Sin-gapura mengumumkan proyeksi perekonomian Singapura akan mengalami kontraksi terburuk sejak merdeka pada 1965.

Empat Negara Berebut Relaokasi Pabrik dari Tiongkok

20 Jun 2020

Sebanyak empat negara di Asia, yakni Indonesia, Vietnam, India, dan Bangladesh berebut relokasi pabrik dari Tiongkok, seiring mencuatnya perang dagang dan pandemi Covid-19. Oleh sebab itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah menyiapkan sejumlah kawasan industri (KI) untuk menampung relokasi pabrik pemain manufaktur dunia. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menerangkan, KI Brebes masuk proyek strategis nasional (PSN) dalam dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) bersama 26 KI lainnya sampai 2025.

Agus memahami, kelemahan Indonesia dibanding negara pesaing adalah rantai pasokan yang rapuh dan regulasi yang tak kondusif. Dua hal itu selalu dikeluhkan para investor yang mau masuk ke Indonesia. Untuk itu, dia menegaskan, pemerintah berusaha untuk menciptakan iklim investasi yang lebih bersahabat dan kondusif melalui RUU Omnibus Law Cipta Kerja. RUU ini bisa menjawab berbagai macam isu yang dikeluhkan para investor.

Sebelumnya, PT Kawasan Industri Wijaya Kusuma (KIW) berupaya menjadikan KI Brebes sebagai lokasi yang ramah investasi. Direktur Operasional KIW Ahmad Fauzie Nur menerangkan, saat ini, KIW berupaya mempersiapkan diri menyambut kebangkitan ekonomi pascapandemi Covid-19. Dengan demikian, KI ini bisa menjadi pilihan investor untuk berinvestasi di Indonesia yang ditopang oleh akses transportasi serta mantapnya regulasi perizinan di Jawa Tengah. Posisi Brebes, kata dia, sangat strategis, berada di lintas pantura dengan tersedianya transportasi kereta api, dilewati jalan tol Trans Jawa dan dekat dengan pelabuhan Cirebon dan Tegal. KIW mendapat tugas dari Kementerian BUMN sebagai pembangun dan pengengelola KI Brebes.

Stimulus Ditambah Tapi Investor Ambil Untung

20 Jun 2020

Laju reli saham global menurun pada Kamis (4/6) karena para investor lebih memilih ambil   untung. Stimulus besar-besaran yang terus digulirkan para pemerintah dan otoritas, untuk menanggulangi dampak Covid-19 terhadap perekonomian, tidak berpengaruh terhadap aksi itu.Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan, produk domestik bruto (PDB) zona euro berpotensi kontraksi 8,7% tahun ini. Disisi lain, Holger Schmieding, analis dari Berenberg mengatakan bank sentral di seluruh negara maju akan terus berusaha sekuat tenaga menangkal mega resesi.

Jerman menyatakan akan membelanjakan paket stimulus senilai 130 miliar euro untuk membangkitkan lagi perekonomiannya. Tapi, pasar saham di Eropa tidak terkesan dengan langkah-langkah terbaru itu.“Para investor senang melakukan ambil untung setelah menikmati sesi bullish yang sangat besar kemarin,” ujar David Madden, analis dari CMC Markets Inggris. Di AS, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa warga yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran sepanjang pekan lalu bertambah 1,9 juta. Sehingga totalnya sudah lebih dari 42 juta orang sepanjang wabah Covid-19.

Pertemuan OPEC+ Tetap Diharapkan Oleh Pasar

20 Jun 2020

Rencana pertemuan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan kelompok non-OPEC,bakal dicermati oleh para pialang pasar energi. Mereka ingin mencari tahu, apakah kelompok produsen minyak berpengaruh itu akan secara resmi menyetujui perpanjangan penurunan produksi terdalamnya.Reuters melaporkan bahwa Arab Saudi dan Rusia diperkirakan mendukung perpanjangan selama satu bulan dari pengurangan pasokan yang ditetapkan saat ini.

Harga minyak mentah global dilaporkan bergerak lebih tinggi dalam beberapa pekan terakhir. Harganya pulih dari penurunan dramatis pada April, yang memperlihatkan Brent bergerak mendekati posisi terendah dalam 20-tahun, dan WTI jatuh ke wilayah negatif untuk pertama kalinya dalam sejarah. Pergerakan minyak mentah terjadi di tengah optimisme tentang pemulihan ekonomi di Tiongkok.  Sementara negara-negara lain di seluruh dunia berusaha melakukan pelonggaran bertahap terhadap langkah-langkah karantina (lockdown) terkait virus corona. Kepala analis minyak dari Morgan Stanley, Martijn Rats, mengatakan bahwa pasokan minyak telah disesuaikan dengan sangat, sangat cepat untuk membantu menyeimbangkan pasar kembali.

Kepatuhan Wajib Pajak - Pemeriksaan & Pengawasan Digenjot

20 Jun 2020

Pemerintah akan mengoptimalkan kepatuhan wajib pajak melalui aktivitas pemeriksaan dan pengawasan guna meningkatkan kinerja penerimaan sejalan dengan penerapan kenormalan baru alias new normal di lingkungan otoritas pajak.

Dalam Surat Edaran No. 34/PJ/2020, Ditjen Pajak Kementerian Keuangan menekankan peningkatan kepatuhan wajib pajak.

Aktivitas peningkatan kepatuhan ini akan dilakukan dalam berbagai cara mulai dari penggunaan saluran elektronik, pos atau perusahaan jasa ekspedisi jasa kurir dengan bukti pengiriman, dan secara langsung.

Direktur Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak Hestu Yoga Saksama mengatakan SE itu merupakan panduan pelaksanaan tugas dalam masa new normal, setelah sebelumnya pegawai pajak melaksanakan tugas dari rumah atau work from home (WFH). 

Dia menjelaskan bahwa substansi beleid ini memang tak mengatur soal wajib pajak yang akan menjadi sasaran aktivitas pengawasan atau pemeriksaan tersebut. Dia mengatakan regulasi ini hanya mengatur mekanisme pengawasan dalam masa kenormalan baru. 

Ditjen Pajak mencatat, per 1 Mei 2020 jumlah wajib pajak yang menyampaikan surat pemberitahuan (SPT) hanya 10,9 juta. Adapun sebagian besar wajib pajak menyampaikan SPT tahunan melalui e-filing sebanyak 9,6 juta SPT, e-form 756.160, e-SPT 158.677, dan manual 372.897. 

Pemerintah memang cukup kesulitan untuk memaksimalkan kepatuhan wajib pajak guna menggenjot penerimaan. 

Pengamat pajak Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar menilai, secara umum dampak dari suatu kebijakan fiskal baru dapat terasa setelah 1—3 tahun ke depan. 

Untuk itu, kebijakan yang dirilis oleh otoritas pajak menurutnya harus berkesinambungan sehingga dampak yang dirasakan oleh pemerintah dari sisi penerimaan juga bisa simultan. 

Data Kementerian Keuangan menunjukkan, kinerja penerimaan pajak sampai April 2020 terkontraksi hingga 3,09%. 

Salah satu indikator yang dapat mengukur kinerja ekonomi adalah pajak pertambahan nilai (PPN). PPN merupakan jenis pajak tak langsung yang bebannya ditanggung oleh konsumen. Selama April 2020, kinerja PPN tercatat hanya tumbuh di angka 1,8%. Selain PPN, pajak penghasilan (PPh) badan juga tercatat terjun bebas.

Prospek Kinerja Asuransi Umum - Skenario Buruk di Depan Mata

20 Jun 2020

Bisnis asuransi umum diperkirakan belum dapat berlari kencang hingga akhir tahun ini sebagai dampak langsung pandemi Covid-19 yang menghantam hampir semua sektor bisnis.

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) bahkan memproyeksikan sektor bisnis ini akan mencatatkan kinerja negatif 15%–25% sepanjang 2020. Tak hanya itu, dalam skenario terburuk, koreksi diproyeksi mencapai 30%. 

Pada kuartal pertama tahun ini, industri asuransi umum mencatatkan pertumbuhan premi 0,4% (year-on-year/yoy) senilai Rp19,84 triliun. Intinya, memang terjadi perlambatan pertumbuhan premi jika dibandingkan dengan tahun lalu. 

Wakil Ketua Bidang Statistik dan Riset AAUI Trinita Situmeang mengatakan, berdasarkan stress test oleh AAUI, asuransi umum akan mencatatkan kinerja negatif 17,5% dalam kondisi yang relatif aman dan negatif 25% dalam kondisi buruk. Kinerja industri ini bisa anjlok hingga negatif 30%.

Dua lini bisnis utama asuransi umum, yakni asuransi properti dan asuransi kendaraan bermotor, mencatatkan penurunan total premi pada kuartal pertama tahun ini meskipun kinerja masing-masing lini berbeda. Kedua lini itu mencatatkan 47,4% dari total premi asuransi umum. 

Penyebaran virus yang terus berlangsung akan sangat memengaruhi jalannya bisnis asuransi umum. Misalnya, di lini asuransi properti akan ada banyak perusahaan yang menurunkan cakupan polis guna menghemat beban pengeluaran. Penurunan premi properti pun diproyeksikan terjadi dari para nasabah perusahaan manufaktur, karena harus mengatur arus kas. 

Presiden Direktur PT Asuransi Simas Insurtech Teguh Aria Djana menyatakan bahwa turunnya frekuensi penerbangan sangat menekan kinerja asuransi perjalanan. Lini bisnis asuransi pengiriman pun dinilai menjadi penyeimbang untuk menjaga kinerja perseroan seiring dengan maraknya belanja melalui e-commerce selama pandemi.

Tekfin dan Pemulihan Pandemi di Swiss

20 Jun 2020

Dari kantornya di Bern, Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein Muliaman D. Hadad turut menjadi saksi keberhasilan Pemerintah Swiss menangani pandemi virus corona dan menanggulangi dampaknya. 

Bahkan dalam laporan analisis Deep Knowledge Group, Swiss ditempatkan di posisi nomor satu sebagai tempat paling aman di dunia dari virus corona. Bukan saja ditopang oleh ekonomi yang kuat, melainkan disertai pula dengan kebijakan yang berdasar ilmu pengetahuan dan kehati-hatian dalam melonggarkan lockdown sehingga tidak mengorbankan keselamatan masyarakat. 

Dalam bincang-bincang secara langsung di Instagram Bisnis. com, Senin (8/6), Muliaman mengatakan, seperti di negara lain, hampir seluruh industri terpukul pandemi terutama pariwisata dan transportasi. Namun, ada dua sektor yang relatif stabil diterpa pandemi di Swiss, yakni keuangan dan farmasi. 

Di sektor keuangan, Pemerintah Swiss menggadang-gadang negaranya menjadi pemain penting industri teknologi finansial (tekfin) di tingkat global. Adapun di tengah pandemi, tekfin diharapkan dapat menopang pemulihan ekonomi. 

Dari stimulus ekonomi yang dikucurkan oleh pemerintah Swiss sebesar 65 miliar franc, 40 juta franc di antaranya diberikan untuk perusahaan tekfin agar bisa bertahan di tengah pandemi dan memperkuat diri saat pemulihan. 

Administrasi Pajak Federal (FTA) Swiss menyatakan membuka diri untuk aktivitas penukaran data keuangan atau automatic exchange of information (AEoI) dengan negara tertentu untuk menghindari penyalahgunaan akses finansial seperti penggelapan pajak. Adapun implementasi AEoI Indonesia dan Swiss dimulai 2017. 

Adapun di sektor farmasi, Muliaman mengatakan pemerintah dan sektor swasta di Swiss tengah bahu-membahu mengembangan vaksin virus corona. Hingga kini ada 7 hingga 8 bakal calon vaksin produksi perusahaan-perusahaan Swiss yang potensial untuk dikembangkan dan diproduksi massal.