;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Keringanan Cukai - Relaksasi Minuman Alkohol Disiapkan

21 Jun 2020

Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai Ditjen Bea Cukai Kementerian Keuangan Nirwala Dwi Heryanto mengatakan, pemerintah akan memperluas relaksasi cukai untuk minuman mengandung etil alkohol (MMEA) karena dianggap sebagai salah satu sektor yang terdampak pandemi Covid-19.

Sebelumnya, relaksasi diberikan untuk hasil tembakau yakni penundaan pembayaran cukai, serta pembebasan cukai etil alkohol untuk pembuatan hand sanitizer, disinfektan, dan produk sejenis. 

Rencananya, pelonggaran akan diberikan untuk minuman beralkohol golongan A, seperti bir dan minuman sejenis lainnya. 

Ada empat dampak yang harus ditanggung oleh para pelaku industri MMEA. Pertama penurunan penyerapan pasar, kedua penurunan penjualan, ketiga kebijakan meliburkan sementara karyawan, dan keempat penurunan proyeksi volume bayar cukai.

Dia menyebutkan bahwa cukai golongan A dibayarkan secara berkala. Sementara itu, di undang-undang relaksasi bisa dilakukan namun hanya 10 hari. 

Pengamat Pajak Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar menilai, relaksasi harus diberikan terkait dampak yang diakibatkan dari pandemi corona.  

Industri rokok misalnya, bukan berarti relaksasi yang diberikan untuk mendorong orang merokok, melainkan bertujuan menyelamatkan para tenaga kerja. Begitu pula dengan industri minuman beralkohol. Jika jumlah pekerja yang kena PHK makin tinggi, maka akan menjadi beban pemerintah karena harus mengucurkan bantuan sosial lebih besar.   

Di sisi lain, Bea Cukai melakukan survei untuk mengukur dampak pandemi Covid-19 terhadap industri hasil tembakau, sebanyak 14,4% responden menyatakan telah menghentikan operasi bisnis. 

Sebanyak 95 pabrik meliburkan pegawainya dengan perkiraan pegawai diliburkan mencapai 14.515 orang. Selain itu, juga telah terjadi pemutusan hubungan kerja dengan total 152 orang. Di sisi lain, sebanyak 82 perusahaan telah mendapatkan penundaan pembayaran pita cukai selama 90 hari dengan nilai Rp18,1 triliun. 


Mei Penjualan Semen Anjlok 32 persen

21 Jun 2020

Penjualan semen nasional anjlok hingga 32% menjadi 3,8 juta ton pada Mei 2020 dibandingkan bulan sama tahun lalu. Sementara itu, dibandingkan April 2020, penurunannya mencapai 24,9%. Meski demikian, Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya meyakini, kinerja negatif industri semen tersebut tidak akan berlangsung lama.

Semen Indonesia juga mengalami penurunan penjualan cukup dalam yaitu merosot hingga 30,9% menjadi 2,1 juta ton dibanding April 2020 atau 36.7% bila dibandingkan periode sama tahun lalu. Hal ini sebagaimana sebelumnya diperkirakan Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso karena adanya bulan ramadan dan hari Raya Idul Fitri, serta libur panjang dan diberlakukannya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).


10 Institusi Keuangan Bisa Akses Pemanfaatan Data Kependudukan

21 Jun 2020

Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) memberikan hak akses pemanfaatan data kependudukan kepada 13 institusi yang terdiri dari, 10 institusi jasa keuangan, 2 perusahaan sektor kesehatan dan 1  lembaga amal. Akses itu dapat mempercepat pelayanan dan mencegah potensi pinjaman fiktif dari bisnis sejumlah institusi keuangan tersebut. Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh mengatakan dengan bergabungnya 13 institusi itu, maka telah terdapat 2.108 pengguna yang memanfaatkan data kependudukan.

13 institusi tersebut diantaranya tiga penyelenggara fintech P2P lending yaitu PT Pendanaan Teknologi Nusa (Pendanaan.com), PT Digital Alpha Indonesia (UangTeman), dan PT Ammana Fintek Syariah (Ammana). Kemudian, empat multifinance yaitu PT Commerce Finance (CFinance), PT Astrido Pacific Finance, PT Radana Bhaskara Finance, dan PT Mitra Adipratama Sejati (MAS) Finance. Lalu dua bank yakni PT BPR Tata Karya Indonesia dan PT Bank Oke Indonesia Tbk. Lalu satu penyelenggara uang elektronik yaitu PT Visionet Internasional (OVO) serta dua perusahaan sektor kesehatan yaitu PT Indo Medika Utama dan PT Affinity Health Indonesia. Termasuk satu lembaga amal yakni Yayasan Dompet Dhuafa Republika.

Lonjakan Baru di Tiongkok Terkait Klaster Pasar

21 Jun 2020

Pemerintah Kota Beijing pada Minggu (14/6) melaporkan 57 kasus positif baru infeksi virus corona Covid-19. Angka harian tertinggi sejak April 2020 ini seluruhnya terkait dengan sebuah pasar grosir pangan besar di ibukota Tiongkok tersebut. Klaster baru ini membuat langkah-langkah karantina kembali diberlakukan. Warga di 11 wilayah permukiman di sekitar pasar diperintahkan tinggal di rumah.

Pasar Xinfandi dilaporkan merupakan pemasok terbanyak produkproduk segar bagi warga Beijing. “Beijing memasuki masa yang sangat tidak biasa,” ujar Xu Hejian, juru bicara Pemkot Beijing, dalam konferensi pers. Dari 36 kasus positif baru itu, 12 di antaranya tinggal di permukiman bagi orang-orang yang bekerja di Xinfandi, pasar yang berlokasi di distrik Fengtai. Hampir semua orang di sana antara pernah bekerja atau berbelanja di pasarnya. Salah satu kasus baru yang terkonfirmasi pada Minggu adalah pria berusia 56 tahun yang bekerja sebagai sopir bus bandara. Sebelum jatuh sakit, seperti dilaporkan media negara People's Daily, ia datang ke pasar Xinfandi pada 3 Juni 2020. Beijing News, seperti dilansir Reuters, melaporkan bahwa pria tersebut sudah berbulan-bulan tidak bekerja dan tidak ada kontak dengan para penumpang perjalanan udara.

Gao Xiaojun, juru bicara otoritas kesehatan Beijing mengatakan, siapa saja yang menunjukkan gejala demam akan menjalani tes serologi dan asam nukleat, untuk memastikan positif tidaknya Covid-19. Selain itu, mereka harus tes darah dan pemindaian CT. Fasilitas-fasilitas kesehatan, tambah Gao, tidak diperbolehkan menolak pasien yang menunjukkan gejala-gejala demam.


Covid 19 Ubah Model Bisnis dari Konvensional ke Digital

21 Jun 2020

Mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengingatkan, situasi  dunia pasca Covid-19 akan cenderung menjadi lebih rumit. Ada tujuh fenomena yang akan mewarnai dunia setelah Covid-19, yang salah satunya adalah pergeseran model bisnis dari konvensional ke digital.

Pertama,  kemungkinan  terjadinya perlambatan berkelanjutan pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia. Kedua, kemungkinan akan adanya penurunan produktivitas karena terganggunya rantai pasok global. Ketiga, adanya tren pengajuan pinjaman di tingkat nasional, perusahaan, maupun individu. Keempat, adanya kesenjangan yang bisa jadi lumayan besar, antara pasar modal dan ekonomi riil. Kelima, kata dia, adalah pergeseran model bisnis dari paradigma lama ke paradigma digital/virtual. Keenam, kelanjutan dari periode dengan inflasi rendah yang cukup panjang, bahkan bukan tidak mungkin deflasi. Ketujuh, terlihat suatu polarisasi lebih lanjut antara Tiongkok dan Amerika Serikat atau yang oleh sebagian orang disebut dengan decoupling.

Belanja di Platform Bukalapak Tumbuh 20 persen

21 Jun 2020

Bukalapak, salah satu platform e-commerce terbesar di Tanah Air, mencatat pertumbuhan aktivitas belanja online di platformnya berkisar 15-20% selama masa pandemi Covid-19. VP of Merchant Bukalapak Kurnia Rosyada mengatakan, antusiasme masyarakat berbelanja serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terbukti dengan tercatatnya lebih dari 40.000 jenis produk yang dipasarkan oleh ratusan UMKM yang banyak bergabung sejak #BanggaBuatanIndonesia diluncurkan.

Memasuki bulan Juni ini, Bukalapak mulai mencatat kategori ponsel (handphone), sepeda, beserta hobi dan koleksi menjadi produk-produk yang paling banyak diminati pembeli. Khusus untuk kategori sepeda, pencarian paling populer pada sepeda gunung merek Polygon dan MTB. Lalu, produk sepeda lipat dengan merek Exotic, Pacific, dan United. Pembeli juga berburu produk aksesoris sepeda seperti kacamata Google, helm sepeda MTB, serta tempat minuman.


TANTANGAN PERDAGANGAN - PAMAN SAM HANTUI EKSPOR RI

21 Jun 2020

Kinerja ekspor Indonesia dibayangi ketidakpastian seiring dengan adanya sinyal lambannya pemulihan ekonomi Amerika Serikat selaku salah satu mitra dagang utama setelah China.

Dalam proyeksi kuartalannya, bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) menunjukkan bahwa bunga acuan bakal tetap mendekati nol sampai akhir 2021. Hal ini menjadi sinyal perekonomian Negeri Paman Sam akan membutuhkan waktu yang panjang untuk pulih. 

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta W. Kamdani mengemukakan, proyeksi ekonomi yang diumumkan The Fed makin memupuskan harapan perekonomian dan perdagangan dapat segera pulih dengan skenario kurva berbentuk V. Shinta menjelaskan pemulihan ekonomi Amerika Serikat yang lamban bakal berimbas pada ekspor Indonesia secara langsung. Dia mengemukakan produk-produk yang bakal mengalami penurunan drastis mencakup produk nonesensial yang amat dipengaruhi daya beli seperti furnitur, garmen, sepatu, travel goods, komponen elektronik dan permesinan, serta karet. 

Secara terpisah, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia Benny Soetrisno masih melihat sedikit harapan di tengah proyeksi ekonomi Amerika Serikat. Dia meyakini permintaan di Negeri Paman Sam akan pulih. 

Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics Mohammad Faisal mengemukakan, sebagai salah satu raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat juga merupakan salah satu pasar utama produk-produk dari berbagai negara. Dengan permintaan yang terganggu di AS, dia menyebutkan kebutuhan bahan baku industri yang dipasok Indonesia ke negara eksportir lainnya otomatis akan berkurang. Di sisi lain, akses pasar Indonesia bakal diadang oleh berbagai hambatan non tarif karena negara tersebut bakal memprioritaskan produksi lokal. 

Kekhawatiran serupa dikemukakan Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia Firman Bakrie. Pemulihan ekonomi Amerika Serikat yang lamban dinilainya bakal diiringi dengan daya beli. Terlebih, ekspor sepatu Indonesia ke Amerika Serikat didominasi oleh jenis sepatu bermerek ternama.

Prospek Ekonomi Digital di Era Normal Baru

21 Jun 2020

Ekonomi digital yang lahir sebagai wujud dari revolusi industri 4.0 mendapatkan tempat yang luar biasa saat pandemi Covid-19. Pembatasan interaksi fisik antar manusia menyebabkan berbagai bentuk transaksi ekonomi dilakukan secara jarak jauh atau daring dengan memanfaatkan teknologi digital.

Menurut Agus Sugiarto, Advisor Otoritas Jasa Keuangan, Tidaklah berlebihan kalau transaksi ekonomi yang berbasis teknologi digital ini berhasil mengerem kecepatan laju penularan virus corona ke seluruh umat manusia. Don Tapscott, yang pertama kali melontarkan ide tentang ekonomi digital pada 1995, tentu bergembira bahwa ekonomi digital ternyata mendapatkan peran dan dampak yang penting di era pandemi ini. Amazon, membukukan kenaikan penjualan 26 % dan merekrut 175.000 pegawai baru saat korporasi lain melakukan PHK. Total transaksi Shopee di Asia Tenggara & Taiwan meningkat 111.2 % menjadi US$ 429.8 juta. Jumlah konsumen Ali Baba Group meningkat menjadi 726 juta.

Saat pandemi Covid-19 diperkirakan sekitar 7,5 juta UMKM di seluruh dunia gulung tikar. Di Indonesia diperkirakan sekitar 16.313 UMKM. Ekonomi digital diharapkan mampu memulihkan kinerja UMKM namun sayangnya hanya 3,79 juta dari 59,2 juta UMKM yang sudah mengadopsi digital. Salah satu jalan pintasnya adalah dengan menggandeng e-commerce. Disisi lain, Pandemi Covid-19 juga telah mengubah pola perilaku masyarakat dalam melakukan transaksi pembayaran ke arah contactless payment.

10 Juta UMKM akan Go Digital

21 Jun 2020

Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (Kemenkop-UKM) mendorong pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk menjalankan usaha secara digital (go digital). Pada akhir 2020, sebanyak 10 juta pelaku UMKM ditargetkan berjualan melalui platform digital. Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan dalam diskusi Zooming With Primus, berdasarkan catatan Kemenkop-UKM, saat ini baru 13% atau 8 juta pelaku UMKM yang sudah melakukan penjualan melalui platform digital. Diskusi yang dipandu Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu itu juga menghadirkan Wakil Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Anggawira dan founder aplikasi Titipku Ong Tek Tjan.

Teten mengatakan, bila ditelaah lagi, UMKM yang bisa tetap bertahan yaitu yang bisa melakukan adaptasi. Adaptasi bisa dijalankan dalam beberapa bentuk. Pertama, dari yang tadinya berjualan secara konvensional jadi berjualan secara daring. Kedua, yaitu UMKM yang sebelumnya bersikap menunggu pembeli kini harus aktif mencari pembeli. Menurut dia, kondisi krisis di tahun 2020 ini berbeda dengan tahun 1998. Pada 1998, UMKM justru tampil menjadi pahlawan ekonomi karena banyak usaha besar yang berjatuhan. UMKM tumbuh pesat bahkan ekspornya naik 350%. Sedangkan dalam krisis karena pandemi Covid-19 ini memukul langsung kelangsungan UMKM.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Anggawira mengatakan, dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah dengan seluruh stakeholder, untuk menjaga kelangsungan UMKM ditengah pandemi Covid 19. Tidak hanya dalam konteks pemanfaatan jejaring digital, namun juga dalam hal penguatan produk digital. Berdasarkan data Badan Pusat Stastik (BPS), pada Mei 2020 nilai impor hanya mencapai US$ 8,44 miliar. Angka ini menunjukkan penurunan 32,65% dari April 2020 dan penurunan 42,2% dari periode sama tahun 2019. Sementara jika dilihat dari komponen impor terjadi penurunan, yaitu impor barang konsumsi turun sebesar 23,08%, bahan baku turun 34,66%, dan barang modal turun 29,01%. Anggawira menuturkan, pemerintah seharusnya bisa mendorong pengembangan UMKM sehingga mengurangi ketergantungan terhadap impor serta mendukung secara finansial seperti skema kredit karena perbankan saat ini juga mengalami kesulitan likuiditas.

Sementara itu, Founder Titipku Ong Tek Tjan mengatakan, dalam kondisi new normal ini perlu ada perubahan dalam praktik perbankan. Menurutnya, lembaga terkait seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan bank sentral sudah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk restrukturisasi kredit. Di saat yang sama juga diperlukan simplifikasi ketika melakukan restrukturisasi kredit, sehingga UMKM bisa segera mendapatkan restrukturisasi kredit. Di saat banyak usaha mengalami penurunan aktivitas justru aplikasi Titipku mengalami peningkatan omset sampai 600% di tengah pandemi Covid-19 ini.

Krisis Covid-19 Hancurkan Investasi Asing

21 Jun 2020

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan bahwa arus penanaman modal asing (PMA) atau foreign direct investment (FDI) global pada tahun ini kemungkinan merosot 40% karena krisis virus corona Covid-19. Sedangkan dampak terburuk dari PMA ini diperkirakan terjadi pada 2021. Hal ini sebagaimana disampaikan Sekretaris Jenderal UNCTAD Mukhisa Kituyi.

Sementara di Asia, pandemi Covid-19 diprediksi memicu penurunan pendapatan yang diinvestasikan kembali dari afiliasi asing di kawasan itu. Sementara krisis kesehatan ini telah menggarisbawahi pentingnya Tiongkok, dan ekonomi negara lainnya di Asia lainnya sebagai pusat produksi global. James Zhan, direktur investasi dan perusahaan UNCTAD menuturkan, menurut laporan UNCTAD, Sebanyak 32 negara kurang berkembang, yang terkurung daratan, sedang berjuang menangani dampak ekonomi pandemi terhadap arus PMA – terutama dengan ditutupnya perbatasan-perbatasan antarnegara, negara-negara itu tidak dapat beralih ke transportasi laut langsung – sebagai cara untuk mengangkut sekitar 80% dari perdagangan global. Zhan mengatakan, pemulihan bisa menciptakan peluang bagi negara-negara berpenghasilan menengah karena rantai nilai menjadi lebih regional.