;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Kebut Produksi Vaksin Berbahan dari Sinovac

03 Feb 2021

Pemerintah terus berupaya mempercepat pelaksanaan program vaksinasi korona. Pasca 15 juta bahan baku vaksin korona dari Sinovac, pemerintah kembali mendatangkan 10 juta bahan baku vaksin sejenis plus tambahan satu juta overfill untuk mempercepat produksi vaksin.

Kedatangan vaksin gelombang keempat tersebut merupakan bagian dari rencana kedatangan total 140 juta bahan baku vaksin, nantinya bahan baku vaksin dari Sinovac ini akan diproses menjadi vaksin jadi oleh Biofarma.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan ( Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan, nantinya vaksin yang berasal dari bahan baku vaksin tersebut akan ditujukan kepada para petugas pelayanan public yang totalnya sebanyak 3 juta dosis dialokasi bagi 1,5 juta.


Global Bond dan Hot Money Sokong Cadev

03 Feb 2021

Kondisi perekonomian yang cenderung stabil, diperkirakan akan menyokong cadangan devisa Indonesia.  Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman menyebut, “Kami memperkirakan, cadangan devisa naik sekitar USS 2 millar dari posisi akhir Desember 2020,” kata Faisal Rachman kepada KONTAN, Selasa (2/2). 

Cadangan devisa akhir bulan Januari, disokong sejumlah faktor. Pertama, penerbitan global bond oleh pemerintah sekitar USS 3 miliar dan EUR 1 miliar di Januari 2021. Kedua, posisi aliran dana di pasar portofolio, baik saham maupun obligasi tercatat net inflow. Ketiga, kemungkinan besar neraca dagang masih tercatat surplus didukung harga komoditas.

Dengan demikian, cadangan devisa Indonesia pada Januari diperkirakan sekitar USS 137,9 miliar dari akhir Desember lalu yang sebesar USD 135,9 miliar.


Pandemi Menurunkan Indeks Persaingan Usaha

03 Feb 2021

Indeks Persaingan Usaha Indonesia turun dari 4,72 pada 2019 menjadi 4,65 pada 2020. Penurunan indeks terjadi di dimensi penawaran, permintaan, perilaku, dan kelembagaan.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang mengembangkan indeks sejak 2011 di 34 provinsi di Indonesia memperkirakan penurunan pada dimensi penawaran dan permintaan terjadi akibat pandemi Covid-19.

Dari 15 sektor usaha yang diukur KPPU, persaingan tiga sektor usaha di antaranya sedikit tinggi. Ketiga sektor itu adalah akomodasi, makanan, dan minuman; sektor reparasi mobil dan motor; serta sektor perdagangan besar dan eceran.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan, persaingan yang tinggi di sektor makanan-minuman menuntut pelaku usaha berinovasi untuk memenangi persaingan.


Atur Strategi Atasi Gejolak Perunggasan

03 Feb 2021

Para peternak unggas berharap problem harga jual dan ongkos produksi segera teratasi. Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi, Selasa (2/2/2021) menyebutkan, harga bibit ayam umur sehari (DOC) naik dari Rp 5.500-Rp 6.000 per ekor menjadi Rp 7.000 per ekor.

Harga pakan juga naik dari Rp 6.800-Rp 7.300 per kilogram (kg) jadi Rp 7.000-Rp 7.500 per kg. Akan tetapi, harga jual ayam hidup di tingkat peternak anjlok ke kisaran Rp 16.500 per kg. Padahal, ongkos produksinya setidaknya mencapai Rp 19.000 per kg.

Saat ini aturan soal harga acuan merujuk pada Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen. Menurut aturan ini, harga acuan bibit DOC Rp 5.000-Rp 6.000 per ekor dan harga jual daging ayam di peternak Rp 19.000-Rp 21.000 per ekor.

 


Pengembangan Pelabuhan Juwana, Peluang Memacu Produk Ekspor

03 Feb 2021

Pengembangan sentra industri perikanan di pelabuhan Juwana Kabupaten Pati Jawa Tengah akan menguntungkan PT Dua Putra Utama Makmur Tbk. (DPUM) dalam hal pemenuhan bahan baku untuk memacu produk ekspor. Kabupaten Pati merupakan salah satu sentra perikanan di Jawa Tengah. Untuk meningkatkan nilai dan volume produksi sektor perikanan, Pemkab Pati akan mendirikan sentra industri perikanan di daerah Juwana. Pelabuhan ini rencananya akan mampu menampung 800 kapal dengan kapasitas di atas 30 gross ton. Luas wilayah yang akan dibangun mencapai 12,5 hektare. Ada beberapa fasilitas yang akan dibangun, seperti docking kapal, tambat kapal, serta sarana pendukung lainnya. Rencana pengembangan Pelabuhan Juwana yang akan dilakukan Pemerintah Kabupaten Pati menjadi momen yang akan sangat menguntungkan PT Dua Putra Utama Makmur Tbk. (DPUM), terutama pasokan bahan baku.

Dwi Mamik Wijaya, General Manager Operational DPUM mengatakan pada 2020 sempat kesulitan bahan baku karena kondisi alamnya tidak stabil. Namun, tahun ini sudah memiliki sumber bahan baku dari daerah Jawa, tapi juga dari luar Jawa. Mamik juga mengungkapkan bahwa supplier dari pesisir utara Jawa, Madura, hingga Kendari kini telah siap memasok bahan baku mentah berupa ikan, cumi, dan udang. 

Di sisi lain, dia mengungkapkan rendahnya daya beli masyarakat tak hanya memengaruhi kinerja penjualan domestik tapi juga ekspor. Meskipun demikian, selama pandemi ini, persentase penjualan ekspor justru meningkat. Pada 2019, pasar dalam negeri masih menjadi konsumen utama DPUM dengan persentase penjualan mencapai 79%. Namun, pada 2020 pasar ekspor melonjak drastis. Tercatat, persentase penjualan domestik Kuartal III/2020 berada di angka 33%, sementara penjualan ekspor mencapai 67% atau persentase ini jadi yang tertinggi selama 5 tahun terakhir.

Corporate Secretary DPUM, Simon Arosokhi Gulo mengungkapkan bahwa ada beberapa jaring pengaman tambahan untuk meningkatkan pendapatan perusahaan. Selain memproduksi makanan olahan, DPUM juga melebarkan usahanya ke penyewaan cold storage juga penyewaan kapal ikan. Penyewaan cold storage tidak hanya terbatas pada industri perikanan, sektor pertanian dan peternakan juga memungkinkan untuk memanfaatkan layanan penyewaan ini.

(Oleh - HR1)

Skandal Korupsi ASABRI, Peran Manajer Investasi Ditelusuri

03 Feb 2021

Kejaksaan Agung melanjutkan penyidikan terhadap saksi terkait dengan skandal dugaan korupsi PT Asabri yang sudah menjerat delapan tersangka dengan memeriksa perusahaan manajer investasi. Sementara itu pemerintah memastikan bahwa uang prajurit TNI dan Polri di PT Asabri tidak hilang. Penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) memeriksa empat orang direktur utama perusahaan manajer investasi (MI) terkait dengan perkara dugaan tindak pidana korupsi PT Asabri. Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak mengatakan keempat direktur utama tersebut adalah Direktur Utama PT Pratama Capital Asset Management Iwan Margana, Direktur Utama PT Victory Aset Manajemen Juntrihary Mastoto Fairly, Direktur Utama PT Oso Manajemen Investasi Rusdi Oesman, dan Direktur Utama PT Pool Advista Asset Manajemen Ronald Abednego Sebayang. 

Selain para dirut, kata Leonard, penyidik Kejagung juga turut memeriksa pihak lainnya yaitu Komisaris PT Strategic Management Services Danny Boestami, Kepala Divisi Pelaksana Investasi PT Asabri R. Pradopo, Direktur Ritel PT CGS-CIMB Sekuritas Indonesia Sugiharto Widjaja, dan Komite Audit PT Asabri Igor Manindjo. Leonard menjelaskan bahwa pemeriksaan seluruh saksi itu bertujuan untuk mencari fakta hukum dan mengumpulkan alat bukti terkait perkara dugaan tindak pidana korupsi PT Asabri yang
merugikan keuangan negara sebesar Rp23,73 triliun. 

Sementara itu, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) mengancam bakal menggugat praperadilan Kejagung jika tidak segera mengenakan pasal pencucian uang terhadap delapan tersangka korupsi PT Asabri. Koordinator MAKI Boyamin Saiman berpandangan jika tim penyidik Kejagung tidak segera mengenakan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) ke seluruh tersangka maka dikhawatirkan ada aset hasil korupsi para tersangka yang tidak terlacak, sehingga pengembalian kerugian negara tidak bisa maksimal. Selain itu, kata Boyamin, alasan pasal pencucian uang itu harus dijerat kepada tersangka, karena tim penyidik Kejagung menemukan bukti yang cukup para tersangka melakukan manipulasi pengelolaan keuangan PT Asabri untuk meraup keuntungan pribadi.

(Oleh - HR1)

Kinerja Manufaktur, Manfaatkan Momentum Ekspansi

03 Feb 2021

Makin membaiknya indeks manufaktur Indonesia menjadi penanda bahwa industri pengolahan dalam negeri telah berada pada jalur pemulihan pada tahun ini. Sejumlah industri siap melanjutkan ekspansi yang sudah dimulai setidaknya sejak akhir tahun lalu. Utilisasi yang sempat anjlok bakal kembali digenjot. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT), misalnya, mulai getol melakukan ekspansi pada awal tahun ini. Subsektor tersebut diramal akan mulai menikmati pertumbuhan setidaknya 1%—2% pada kuartal I/2021. 

Adapun, Kementerian Per industrian memproyeksi kinerja teks til tahun lalu akan minus 5,41% dan tahun ini mulai bergerak positif meski masih tipis di level 0,93%. Untuk pakaian jadi, kinerja akan diproyeksi minus 7,37% pada tahun lalu dan membaik pada posisi 3,75% pada 2021 ini. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Tanzil Rakhman mengatakan bahwa secara industri tren ekspansi pelaku industri cenderung naik sejalan dengan survei IHS Markit yang mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia di level 52,2 pada Januari 2021.

Untuk produsen yang berorientasi ekspor, Rizal menyebut saat ini utilisasi tertinggi berada di level 90%. Untuk industri hulu, saat ini utilisasinya masih 50% dan industri tengah di kisaran 60%. Sebelumnya, Ketua Umum API Jemmy Kartiwa Sastraatmaja mengatakan berdasarkan survei internal anggota API pada kuartal IV/2020, utilisasi sudah menunjukkan peningkatan yang baik setelah sempat anjlok hingga kisaran 20%.

Pada perkembangan lain, Kementerian Perindustrian berharap penurunan impor produk besi dan baja pada tahun lalu akan berlanjut hingga tahun ini. Plt. Kasubdit Logam Besi Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Rizky Aditya Wijaya mengatakan secara tahunan pada 2020 impor berhasil turun sebesar 30%.

Pertama, penurunan impor pada 2021 ini tidak berdampak pada sektor hilir secara signifikan, terutama sektor otomotif. Kedua, untuk arus barang-barang modal yang tercakup dalam kelompok industri baja akan diberikan kemudahan impor agar pemulihan ekonomi bisa secepatnya. Ketiga, perlu pendalaman lebih lanjut terkait target penurunan pada 2021 dan tahun depan agar pemulihan ekonomi dan pemulihan industri dalam negeri pengguna besi dan baja tidak terganggu. 

(Oleh - HR1)

Menkeu: LPI Jadi Instrumen Pelengkap APBN

03 Feb 2021

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan instrumen APBN dan BUMN untuk mendukung pemerataan pembangunan di Indonesia. Karena itu, melalui Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau sovereign wealth fund (SWF) yang bernama Indonesia Investment Authority (INA) pemerintah menyiapkan pendanaan untuk pembangunan jangka panjang.

Menkeu menegaskan, momentum pembangunan terus dijalankan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemulihan ekonomi nasional. Bahkan, ia mencontohkan dahulu di saat komoditas boom atau peningkatan harga-harga komoditas itu dijadikan momentum. “Kita ingin momentum pembangunan itu terjaga,” jelas dia. 

Menurutnya kehadiran LPI dalam Undang-Undang Cipta Kerja akan memberikan kepastian terhadap modal pembangunan yang dibutuhkan Indonesia, dan memperbaiki iklim dan kemudahan perizinan berusaha. Adanya LPI juga memberikan instrumen alternatif dalam berinvestasi di Indonesia yakni sisi equity financing atau loan financing.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, negara bisa saja menggunakan utang untuk pembangunan berbagai proyek di Indonesia, namun nanti menimbulkan konsekuensi pada defisit fiskal. Sementara itu, pemerintah sudah berkomitmen untuk kembali menyehatkan instrumen APBN dengan tetap menjaga defisit maksimal di 3% terhadap PDB.

Di sisi lain, potensi lainnya terkait dengan pembangunan adalah melalui kerja sama swasta nasional untuk membangun proyek strategis nasional. Terakhir, potensi yang dilakukan pemerintah untuk pendanaan pembangunan dengan cara mendapatkan dana dari luar negeri yang masuk ke Indonesia kemudian bekerja secara bersama dengan membangun proyek.

Kewajiban Kerja Sama OTT Global akan Ciptakan Lapangan Kerja Telko

03 Feb 2021

Asosiasi Perusahaan Nasional Telekomunikasi (Apnatel) sangat mendukung rencana pemerintah mewajibkan penyedia konten melalui internet (over-thetop/OTT), terutama global, untuk bekerja sama dengan penyelenggara jasa telekomunikasi (telko) di Tanah Air. Harapannya, hal ini akan mempercepat pemerataan infrastruktur telko dan menciptakan lapangan kerja. 

Kewajiban baru OTT tersebut diatur dalam Rancangan Peraturan Pemerintah Sektor Pos, Telekomunikasi, dan Penyiaran (RPP Postelsiar) yang merupakan peraturan turunan dari UU No 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, Klaster Postelsiar. Ketua Umum Apnatel Triana Mulyatsa memberikan apresiasi dan dukungan kepada pemerintah yang bersikap tegas untuk menerapkan kewajiban kerja sama OTT, terutama global, dengan operator telko yang dituangkan dalam perubahan RPP Postelsiar.

Dia menjelaskan, salah satu penyebab pendapatan operator telko mengalami penurunan karena kehadiran layanan OTT global. Pendapatan operator pun tergerus OTT, sehingga mengakibatkan rendahnya investasi infrastruktur telko di Indonesia. Hal tersebut berdampak lebih lanjut kepada rendahnya penyerapan tenaga kerja di sektor telko yang selama ini sangat didukung oleh keberadaan vendor dan aktivitas bisnis kontraktor operator.

Menurut dia, selama ini, OTT global sudah menikmati keuntungan yang besar dan tidak berkontribusi terhadap pembangunan jaringan telko di Indonesia. Mereka selama ini hanya PPN atas penjualan barang dan jasa. Sedangkan PPN yang membayar pun sejatinya masyarakat Indonesia dan bukan OTT global. Dengan penerapan kewajiban bekerja sama dengan operator telko, Triana berharap, sebagian pendapatan OTT global bisa digunakan untuk percepatan penyediaan jaringan telko di Tanah Air. Hal ini pun dapat mempercepat realisasi program mewujudkan ekonomi digital yang dicita-citakan Presiden Jokowi. 

(Oleh - HR1)

Industri Mobil Kekurangan Stok

03 Feb 2021

Industri mobil kekurangan stok pada awal 2021, seiring lebih besarnya penjualan ritel ketimbang wholesales (pengiriman mobil ke dealer) pada 2020. Alhasil, sejumlah pabrikan bakal memacu produksi untuk mengisi stok di dealer. Berdasarkan data Gabugan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang diolah UOB Kay Hian, penjualan ritel mobil tahun lalu mencapai 578.327 unit, sedangkan wholesales 532.052 unit. Artinya, ada selisih sebanyak 46.275 unit. Selisih ini bisa disumbangkan oleh penjualan mobil rakitan 2019 di 2020. 

Tahun lalu, penjualan mobil secara wholesales turun 48%, seiring pelemahan daya beli dan pembatasan sosial yang dilakukan untuk membendung penyebaran Covid-19. Pasar mobil tertekan hebat kuartal I-2020, namun membaik semester I. Bahkan, pada November dan Desember 2020, penjualan mobil secara ritel melampaui IHSG, menandakan penyerapan di pasar sangat kuat.

Ketua I Gaikindo Jongkie D. Sugiarto mengatakan, agen pemegang merek (APM) segera menggenjot produksi mobil, mengingat penjualan ritel pada Desember 2020 lebih tinggi dibandingkan wholesales. Data Gaikindo menunjukkan, Desember 2020, penjualan ritel mobil mencapai 68.698 unit atau naik 22,44% dibandingkan November sebanyak 56.105 unit. Sementara itu, pada Desember 2020, wholesales mobil hanya 57.129 unit. 

UOB menilai, lebih tingginya penjualan ritel mobil ketimbang wholesales mengindikasikan permintaan akan lebih kuat ke depannya. Sebab, penjualan ritel menggambarkan permintaan mobil sesungguhnya. “Hal ini juga bakal menurunkan level stok di dealer, sehingga mereka harus mengorder mobil lagi ke APM atau pabrikan. Alhasil, penjualan mobil bakal tinggi tahun ini,” tulis UOB.