Ekonomi
( 40460 )Fenomena Booming Bank Digital adalah Keniscayaan
Bank digital/neo bank tengah
menjadi fenomenal di Tanah
Air yang ditandai dengan
masuknya sejumlah investor
ke bisnis ini. Antara lain duet Patrick
Walujo dan Jerry Ng mengakuisisi
Bank Artos (kini Bank Jago), taipan
Chairul Tanjung membeli Bank
Harda, Ant Financial mem-backup
Bank Neo Commerce (BBYB) melalui
Akulaku Silvrr, dan Shopee mengendalikan Bank Kesejahteraan Ekonomi
lalu mengubahnya menjadi Seabank.
Di luar tiga nama itu, santer terdengar Grab dan OVO juga tengah menjajaki akuisisi bank untuk dikonversi
menjadi digital. Keduanya tengah
berupaya mengimbangi lompatan
besar Gojek yang lebih dulu investasi
di Bank Jago dan mengejar langkah
Shopee di Seabank.
Direktur Riset Center of Reform
on Economics (Core) Piter Abdullah
mengatakan, fenomena booming bank
digital saat ini merupakan keniscayaan.
Pasalnya, masa depan semuanya akan
digital, mereka yang tidak menyesuaikan akan tertinggal dan kalah bersaing.
“Demikian juga dengan layanan
bank harus berubah menuju layanan
digital. Semua bank akan menuju
layanan digital. Yang tidak melakukan akan kalah bersaing,” kata Piter
kepada Investor Daily, Kamis (8/4).
Sementara itu, Ketua Eksekutif
Industri Perbankan Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) Heru Kristiyana
mengakui, sejumlah bank kecil dan
bank besar saat ini memang terlihat
memulai transformasi dan beradaptasi untuk menjadi bank digital.
“Saya amati bank besar dan beberapa
bank kecil sudah siap untuk melayani
digital banking. Bank tersebut bertransformasi dari bank tradisional jadi
bank digital,” ujar Heru dalam webinar
VIP Forum Digital Bank di Jakarta.
“Contohnya Bank Jago. Dari kewajiban modal minimal Rp 3 triliun,
sekarang modal bank ini sudah mencapai Rp 8 triliun. Ini karena kesiapan
transformasi digital butuh permodalan
cukup kuat melayani teknologi, butuh
modal dan SDM andal agar bisa melayani lebih baik ke depan,” kata Heru.
Dia mengatakan terus mengamati
transformasi bank tradisional lalu
berganti melayani secara digital.
Beberapa bank sudah melakukan
transformasi dari tradisional ke
digital karena beradaptasi dengan
perilaku nasabah khususnya milenial
(Oleh - HR1)
Harga Kedelai Naik Lagi, Perajin Tahu dan Tempe Kembali Menjerit
Perajin tahu dan tempe kembali menjerit karena harga kedelai naik lagi. Mereka berharap pemerintah bisa menstabilkan harga kedelai supaya mereka tidak merugi.
Sebelumnya, awal Januari lalu, kedelai mengalami kenaikan harga dari Rp 7.200 per kg menjadi Rp 9.200 per kg. Kenaikan membuat perajin tahu dan tempe di Jabodetabek, Banten, Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, hingga Aceh mogok produksi pada 1-3 Januari 2021 (Kompas, 4 Januari 2021).
Kini, seperti terpantau di sentra produksi tempe dan tahu di Semanan, Jakarta Barat, harga kedelai merangkak naik lagi menjadi Rp 9.950-Rp 10.100 per kg. Adapun harga jual tempe Rp 12.000-Rp 14.000 per kg dan Rp 5.000-Rp 6.500 per potong serta harga tahu Rp 600 per potong dan Rp 28.000 per papan.
Ketua Umum Gakoptindo Aip Syarifuddin mengungkapkan, perlu ada campur tangan pemerintah untuk menaikkan harga tahu dan tempe karena selama ini ada rasa sungkan di kalangan perajin untuk menaikkan harga tersebut kepada pedagang.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Syailendra, dalam keterangan pers, meyampaikan bahwa pemerintah bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga harga kedelai impor di tingkat perajin tahu dan tempe pada kisaran Rp 9.750-Rp9.900 per kg dan harga di tingkat gudang importir Rp 9.200-Rp 9.300 per kg.
Jelang Ramadan, Kementan Pastikan Harga Cabai Segera Stabil
Menjelang Ramadan Kementerian Pertanian memastikan harga cabai segera berada di level yang stabil. Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Hendriadi, selama ini pemerintah sudah melakukan analisis dan berbagai perhitungan untuk menjaga stabilitas harga komoditas utama, baik dari sisi produsen maupun dari sisi konsumen.
“Begitu juga dengan komoditas cabai yang naik karena faktor cuaca. Kami intervensi sehingga masyarakat bisa membelinya dengan harga yang murah. Dan kami pastikan dalam waktu dekat ini harga cabai akan turun,” imbuhnya.
Di sisi lain pengamat pangan IPB sekaligus Ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), Dwi Andreas Santoso mengatakan dalam waktu dekat kondisi harga komoditas cabai di pasaran secara perlahan akan berangsur turun.
“Sebenarnya tidak ada kaitannya dengan Ramadan atau Lebaran. Kenaikan ini hanya siklus musiman biasa akibat cuaca ekstrim. Dan kalau kita perhatikan saat ini nampaknya mulai kembali normal,” ujarnya.
Manajemen Gojek dan Tokopedia Sepakat Merger
Manajemen dan pimpinan Gojek dan perusahaan e-commerce Tokopedia dikabarkan menyepakati merger atau penggabungan kedua perusahaan. Proses selanjutnya menunggu persetujuan dari para pemegang saham. "Manajemen dan board dari kedua startup itu secara resmi sepakat untuk melanjutkan merger," kata sumber yang tidak ingin disebutkan namanya dikutip dari Bloomberg, Jumat (9/4). "Mereka tinggal mencari kesepakatan pemegang saham melalui apa yang disebut paket persetujuan."
Namun, baik Gojek dan Tokopedia belum juga memberikan detail informasi kesepakatan itu. Gojek menyatakan akan memberitahukan informasi lebih lanjut dalam waktu dekat apabila ada aksi korporasi. "Kami memahami bahwa ada banyak diskusi yang beredar terkait isu ini, namun kami tidak dapat berkomentar saat ini," kata Chief Corporate Affairs Gojek Nila Marita kepada Katadata.co.id, Jumat (9/4). Begitu juga dengan Tokopedia. "Jika ada aksi korporasi, kami pasti akan menyampaikannya kepada publik," kata VP of Corporate Communications Tokopedia, Nuraini Razak.
Kolaborasi Mesra Gojek dan Tokopedia selama Ramadan
Salah satu sinyal kedekatan Gojek dan Tokopedia terlihat dari kolaborasi kedua perusahaan dalam program kampanye ramadan. Kampanye bertajuk 'Dekatkan yang Jauh, Kirim yang Bermakna' itu akan memfasilitasi pengguna Tokopedia yang berbelanja pada kategori khusus 'Parsel Ramadan' untuk mendapatkan layanan eksklusif dari GoSend.
Head of Logistics Gojek Steven Halim mengatakan, kolaborasi kedua perusahaan karena tingginya permintaan layanan pengiriman barang dan parsel selama ramadan. Pada ramadhan tahun lalu, permintaan layanan GoSend meningkat 40% dibandingkan tahun sebelumnya. "Kolaborasi ini tidak hanya dapat menghadirkan solusi pengiriman yang cepat, mudah, dan aman bagi pelanggan, tetapi juga mendorong pertumbuhan pedagang online," katanya dalam siaran pers, Kamis (1/4). Sedangkan, VP of Marketing Tokopedia Hilda Kitti mengatakan bahwa pada ramadan tahun lalu, transaksi parsel makanan di Tokopedia juga melonjak hampir empat kali lipat. "Ini menandakan belanja online semakin menjadi andalan masyarakat," katanya. Sebelumnya, Gojek dan Tokopedia juga telah berkolaborasi dalam berbagai inisiatif, diantaranya kampanye #SenangnyaInstan. Kampanye itu dirancang untuk memenuhi kebutuhan pengiriman hemat bagi para pengguna layanan logistik Gojek, seperti GoSend, GoSend Portal, GoBox, dan GoShop.
(Oleh - HR1)
Pasar Ekspor Sarang Walet Terbuka
China dipastikan akan mengimpor sarang burung walet (SBW) dari Indonesia senilai 1,13 milar dolar AS, atau setara Rp 16,3 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per dolar AS).
Di Jatim, Kepala BBKP Surabaya, Musyaffak Fauzi mengatakan, nilai ekspor SBW asal Jatim jika dirata-rata perbulan pada setiap tahunnya selalu meningkat Tahun 2019 ekspor SBW rata-rata Rp4,79 miliar/bulan dengan total volume ekspor sebanyak 320,43 ton/tahun bernilai Rp5,75 triliun/tahun.
Dikatakan pula oleh Musyaffak, untuk negara tujuan ekspor SBW di Jatim sendiri ada banyak, meliputi China dan Non China seperti Ukraina, Australia dan lain lain.
Kesepakatannya, pemerintah Indonesia dan China akan meningkatkan nilai dagang antar kedua negara, dari 31 miliyar dolar AS pada saat ini, menjadi 100 millar dolar AS pada 2024.
Sementara itu, Koordinator Bidang Karantina Hewan BBKP Surabaya, Cicik Sri Sukaesih mengatakan melihat potensi ekonomi SBW cukup baik, Karantina Pertanian di seluruh Indonesia termasuk pihaknya siap untuk memberikan pendampingan terhadap para eksportir SBW di Jatim.
Gula Rafinasi Dibatasi, Nasib Industri Mamin Terancam
Sejumlah industri makan minum (mamin) di Jawa Timur yang tergolong sebagai industri pengguna tidak mendapatkan pasokan gula rafinasi sebagaimana biasanya.
Hal ini karena perubahan peraturan yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No 3 Tahun 2021 yang mempersyaratkan bahwa izin impor hanya diberikan kepada industri gula yang izin usahanya terbit sebelum 25 Mei 2010.
Ketua Forum Lintas Asosiasi rafinasi Industri Pengguna Gula (FLAIPGR), Dwlatmoko Setiono, menilai. Permenperin No 3/2021 memaksa industri pengguna gula rafinasi hanya berhubungan dengan segelintir pelaku usaha. Karena itu la mengusulkan Permenperin No 3/2021 dicabut.
“Permenperin No 3/2021 selayaknya dicabut karena tidak menjamin persaingan usaha yang sehat kepada semua industri, malah menyebabkan kerugian pada industri pengguna karena kesulitan pasokan gula rafinasi dan membengkaknya biaya operasional,” lanjut Dwiatmoko.
100 Juta Vaksin Inpor Tertunda ke Indonesia
Indonesia terkena imbas kebijakan embargo di sejumlah negara sehingga menghambat masuknya vaksin Covid-19 ke Tanah Air. Sekitar 100 juta ampul atau dosis vaksin Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) tidak diketahui kepastiannya kapan tiba di Indonesia.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, menjelaskan, jumlah vaksin yang terhambat itu sebenarnya didatangkan melalui dua mekanisme berbeda. Pertama, melalui mekanisme multilateral dengan GAVI sebanyak 54 juta dosis vaksin secara gratis. Kedua, melalui mekanisme bilateral melalui Bio Farma dan Astra Zeneca sebanyak 50 juta dosis vaksin.
Imbas embargo ini, kata Budi, nantinya 20 juta dosis vaksin saja yang dapat didatangkan ke Indonesia melalui pihak AstraZeneca Indonesia. “Sementara sisanya, yang 30 juta sisanya diundur ke 2022,” tandasnya.
Petani Mencemaskan Dampak Importasi
Kalangan petani tebu mengkhawatirkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 3/2021 tentang jaminan ketersediaan bahan baku industri gula dalam memenuhi kebutuhan gula akan mengakibatkan impor gula mentah semakin meningkat.
Pengurus Kelompok Tani dan Nelayan Malang Ali Masjudi mengatakan banyak pabrik gula yang menunda pembayaran kepada petani tebu selama beberapa bulan tahun lalu karena pedagang kesulitan menjual gula di pasar akibat kelebihan pasokan.
Berdasarkan data Kompas, hingga akhir Januari 2021, sekitar 64.000 ton gula petani tidak bisa diserap pabrik gula lokal, PG Kebon Agung dan PG Krebet Baru. Biasanya gula petani terjual habis menjelang akhir musim giling di akhir November. Selain itu, gula yang sudah terjual sebanyak 160.000-180.000 ton, tetapi belum diambil pembeli karena daya serap pasar yang rendah.
Menurut Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Pertanian, Abdul Rochim,. “Melalui regulasi ini, kami ingin menata kembali fokus produksi gula dan menekankan pada demarkasi gula GKP (gula kristal putih untuk konsumsi dan gula GKR (gula kristal rafinasi untuk industri). Pabrik gula berbasis tebu harus difokuskan pada produksi. gula GKP untuk konsumsi, “ujarnya saat dihubungi, Kamis (8/4).
Penyelundupan Marak Lagi
Penyelundupan benih bening lobster ke luar negeri kembali marak setelah Kementerian Kelautan dan Perikanan menghentikan sementara ekspornya sejak 26 November 2020.
Sebelumnya, Selasa (6/4/2021), aparat gabungan Polres Bandara Soekarno-Hatta, Bea dan Cukai, serta BKIPM-KKP menggagalkan penyelundupan 72.290 ekor benih lobster yang akan dikirim menuju Singapura dengan pesawat kargo Garuda Indonesia. Benih itu dikemas dalam 74 koli, sebanyak 34 koli di antaranya dicampur dengan selada air dan dimasukkan ke 255 kantong plastik dan dibungkus kotak stereofoam.
Penghentian sementara ekspor benih lobster tertuang dalam Surat Edaran Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan Nomor B22891/ DJPT/IPI.130/XI/2020 tanggal 26 November 2020.
Terkait hasil temuan itu, Ombudsman RI menyarankan dua opsi tindak lanjut, antara lain mencabut atau merevisi Permen KP No 12/2020, serta merancang peraturan baru yang mengatur ekspor BBL dalam batas waktu 3 tahun dengan evaluasi per tahun oleh BUMN Perikanan, serta mengatur peruntukan sebagian keuntungan untuk pengembangan budidaya.
Opsi kedua, merevisi Peraturan Menteri KP No 12/2020 dengan membatasi ekspor hanya untuk lobster hasil budidaya oleh pelaku swasta serta mengkaji dan membentuk Sovereign Wealth Fund khusus untuk komoditas hasil laut dan memanfaatkan dananya untuk mendanai riset dan pengembangan.
Harga Cabai Berangsur Turun
Pengamat pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus Ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), Dwi Andreas Santoso mengatakan, dalam waktu dekat ini kondisi harga komoditas cabai di pasaran secara perlahan akan berangsur turun.
Kenaikan yang terjadi selama ini merupakan siklus musiman biasa yang disebabkan cuaca ekstrem seperti curah hujan tinggi. Siklus di mana setiap puasa dan lebaran harga komoditas utama seperti cabai, bawang dan ayam potong akan mengalami kenaikan.
Di sisi lain Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Hendriadi mengaku, selama ini pemerintah sudah melakukan analisis dan berbagai perhitungan untuk menjaga stabilitas harga komoditas utama, baik dari sisi produsen maupun dari sisi konsumen.
“Begitu iuga dengan komoditas cabai yang naik karena faktor cuaca. Kami intervensi sehingga masyarakat bisa membelinya dengan harga yang murah. Dan kami pastikan dalam waktu dekat ini harga cabai akan turun, “ jelas Agung.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









