Ekonomi
( 40554 )Wow, Kurs Bitcoin Menuju Rp 1 Miliar
Berdasarkan data Indodax, Kamis (15/4) per pukul 21.23 WIB, nilai tukar bitcoin sudah mencapai Rp 935 juta per btc. Menurut Co-founder Cryptowatch Christoper Tahir, kenaikan harga bitcoin saat ini murni karena permintaan naik.
Menurut Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin, peralihan dana dari emas yang sempat jadi safe haven ke bitcoin masih terlihat. Akhir tahun lalu, JP Morgan juga melaporkan terjadi perpindahan dana mencapai US$ 7 miliar dari ETF emas ke bitcoin.
Selain itu, peminat aset kripto sendiri juga meningkat. Menurut Nanang, investor milenial lebih menyukai berinvestasi di aset kripto. Alasannya, fluktuasi harga aset kripto cukup menarik dan bisa menghasilkan gain cukup besar.
Sentimen tersebut mendorong nilai tukar bitcoin sejak awal tahun lalu. Menurut data Coinbase, harga bitcoin sudah naik 125,26% tahun ini.
Menurut Christoper, saat ini harga bitcoin sedang mencari titilikeseimbangan. Sehingga ada potensi koreksi terbatas sebelum harga kembali melanjutkan kenaikan. Kapitalisasi pasar bitcoin saat ini sudah mencapai USS 1,17 triliun. Jumlah tersebut setara dengan 52. 52,47% dari total kapitalisasi pasar mata uang kripto saat ini, yang sekitar USS 2,23 triliun.
Laju Transaksi Belanja Daring Semakin Kencang
Asisten Gubernur, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Filianingsih Hendarta mengungkapkan, preferensi masyarakat akan belanja daring terlihat dari pertumbuhan transaksi e-commerce pada awal tahun 2021 ini. “Pada Februari 2021, nominal transaksi e-commerce mencapai Rp 27,2 triliun atau naik 45,28% year on year (yoy),” terang Filianingsih, Rabu (14/3).
Peningkatan penjualan daring terbukti dari peningkatan volume penjualan e-commerce selama bulan Februari. Bl mencatat 174,6 juta transaksi atau naik 107,1% yoy.
Seiring dengan preferensi belanja daring yang meningkat, Bl juga mencatat adanya peningkatan volume digital banking. Layanan perbankan digital yang berkembang diantaranya mobile internet banking dan SMS banking.
Tak hanya itu, preferensi masyarakat untuk membayar dengan menggunakan QR Code Indonesian Standard (QRIS) juga meningkat. “Hingga Februari 2021, merchant-nya meningkat dari 1,7 juta sekarang mencapai 6,7 juta. Artinya, kami melihat ini cerminan akseptasi digital payment,” tandas Filianingsih.
Ketua Umum Asosiasi E-commerce Indonesia (IdEA) Bima Laga optimistis total nilai transaksi e-commerce di Indonesia ke depan bisa makin besar, terutama pada momen hari raya ldul Fitri. Bima bilang salah satu hal yang memicu peningkatan belanja daring pada momen tersebut, yaitu kebijakan subsidi ongkos kirim (ongkir) dari pemerintah.
Adhi Commuter Siap Go Public
PT Adhi Commuter Properti siap menerbitkan obligasi Rp 500 miliar. Anak usaha PT Adhi Karya Tbk (ADHI) itu menghimpun pendanaan untuk melanjutkan ekspansi demi menambah cadangan lahan (landbank) dan membiayai sejumlah proyek.
Adhi Commuter memiliki proyek yang tersebar di tujuh titik stasiun LRT Jabodetabek Fase 1. Saat ini, mereka menggarap 13 proyek dengan total mencapai 54.076 unit dengan landbank seluas 140 hektare. Sebagai anak usaha di
Grup ADHI, lini bisnis Adhi Commuter Properti terintegrasi erat dengan competitive advantage ADHI yaitu pembangunan jalur kereta LRT. Saat ini menguasai 99,99% saham Adhi Commuter Properti. Adapun 0,0005% sisaham dimiliki Koperasi Jasa Sejahtera ADHI.
Adhi Commuter juga merencanakan skema pendanaan lain, yakni mencatatkan saham di bursa melalui initial public offering (IPO) dengan target Rp 1,7 triliun. Jadi, Adhi Commuter berniat menghimpun total pendanaan senilai Rp 2,2 triliun, yang berasal dari obligasi dan IPO. Kelak, dana itu untuk mendukung belanja modal.
Kuartal I-2021, realisasi marketing sales Adhi Properti sudah mencapai 25% dari target. Hingga September 2020, Adhi Commuter meraih pendapatan Rp 699 miliar, EBITDA Rp 103 miliar dan laba bersih Rp 88,2 miliar. Sepanjang 2020, Adhi Commuter meraih pendapatan Rp 977,22 miliar.
IPO Penjual Kripto Sukses
Sejarah tercatat di bursa Amerika Serikat (AS). Coinbase Global Inc, perusahaan perantara jual beli kripto terbesar di AS melakukan debut di pasar saham. Dalam debutnya, valuasi Coinbase Global Inc mencapai USS 86 miliar pada Rabu (14/4) waktu setempat.
Saham Coinbase dibuka pada harga US$ 381 per saham, naik 52,4% dari harga referensi US$ 250 per saham yang ditetapkan pada hari sebelumnya. Valuasi Coinbase ini cukup fantastis. Sebagai perbandingan, pemilik Bursa Efek New York, Intercontinental Exchange Inc, memiliki kapitalisasi pasar US$ 66 miliar.
Kebangkitan Ekonomi China Bakal Dongkrak Nilai Ekspor RI
Sejumlah pengamat menyatakan kebangkitan ekonomi China akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ini menjadi sinyal bahwa pemulihan ekonomi di dalam negeri bisa dilakukan dengan cepat. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan dampak pertumbuhan ekonomi China akan langsung terada pada sisi ekspor. Permintaan dari Negeri Tirai Bambu otomatis meningkat, sehingga ekspor Indonesia ke China akan meningkat. "Korelasi pertama bisa lihat dari sisi perdagangan. Kalau dilihat kontribusi ekspor Indonesia ke China itu 21 persen per Maret 2021, itu lebih tinggi kontribusinya daripada sebelum covid-19," ungkap Bhima kepada CNNIndonesia.com, Jumat (16/4). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor nonmigas Indonesia ke China tercatat sebesar US$3,73 miliar per Maret 2021. Angka itu naik dari posisi Februari 2021 yang sebesar US$2,95 miliar. Pulihnya ekonomi China akan mendorong kebutuhan barang untuk industri manufaktur. Indonesia diuntungkan dengan ekspor yang lebih besar, Hal tersebut berdampak pada meningkatnya likuiditas di China dan berita baik untuk keberlangsungan proyek dan pendanaan startup yang ada di Indonesia pungkasnya
Senada, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan China merupakan mitra dagang utama Indonesia. Untuk itu, neraca perdagangan Indonesia berpotensi surplus hingga beberapa bulan ke depan. "Tak hanya itu, kenaikan permintaan dari China juga akan mengerek harga komoditas, seperti batu bara. Hal ini akan menguntungkan industri batu bara di Indonesia. Ini ikut menyumbang ke perekonomian Indonesia," imbuh Yusuf. "Mau tidak mau bersiap masuknya kembali produk-produk impor dari China," kata Yusuf. Juru bicara Biro Statistik Nasional Liu Aihua mengatakan lonjakan pertumbuhan ekonomi didorong oleh faktor-faktor yang tidak dapat dibandingkan seperti angka dasar yang rendah tahun lalu dan peningkatan hari kerja karena staf tetap bekerja selama liburan Tahun Baru Imlek.
(Oleh - HR1)
Mendag Buka Alasan Defisit Dagang RI-China Turun
Jakarta - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyatakan defisit neraca dagang Indonesia dengan China menurun pada periode Januari-Maret 2021. Hal ini karena ada kenaikan ekspor besi baja dari Indonesia. "Penurunan defisit ke China luar biasa karena besi baja (ekspor) tumbuh luar biasa. Ini yang sebabkan penurunan defisit tertinggi," ucap Lutfi dalam konferensi pers, Jumat (16/4). Tercatat, neraca dagang Indonesia ke China pada Januari 2020 tekor atau minus US$1,75 miliar. Lalu, pada Februari kembali tekor US$0,02 miliar dan Maret 2020 tekor US$0,94 miliar. Kemudian, pada neraca dagang Indonesia dengan China pada Januari 2021 tercatat minus US$1,01 miliar. Lalu, defisit turun pada Februari 2021 menjadi US$0,83 miliar dan Maret 2021 sebesar US$0,16 miliar.
Lutfi menyatakan besi baja menjadi pendorong utama ekspor Indonesia saat ini. Jumlahnya melonjak 60,67 persen pada Maret 2021 lalu. Selain itu, komoditas lainnya yang mendorong ekspor, antara lain barang industri dan minyak nabati. Kenaikannya sebesar 45,35 persen. Secara total, akumulasi surplus neraca dagang Indonesia mencapai US$5,52 miliar pada Januari-Maret 2021. Nilainya lebih tinggi dari surplus US$2,62 miliar pada Januari-Maret 2020.
(Oleh - HR1)
Modal Asing Kabur Rp 1,3 T dari Pasar Surat Utang Negara Pekan Ini
BI mencatat total aliran modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia pada pekan ini mencapai Rp 710 miliar. Masih ada modal masuk di pasar saham.
Bank Indonesia mencatat, terdapat aliran modal asing keluar dari pasar domestik sebesar Rp 710 miliar pada pekan ini. Dana asing keluar dari pasar Surat Utang Negara mencapai Rp 1,3 triliun, tetapi masuk di pasar saham Rp 590 miliar. Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan bahwa perkembangan tersebut berdasarkan data transaksi 12-15 April 2021. "Berdasarkan data setelmen selama 2021, nonresiden mencatatkan jual neto Rp 12,85 triliun," kata Erwin dalam keterangan resminya, Jakarta, Jumat (16/4).
BI juga mencatat imbal hasil atau yield SBN 10 tahun RI turun tipis ke level 6,5% pada pagi ini dari 6,55% pada akhir hari Kamis (15/4). Yield surat utang Amerika Serikat tenor 10 tahun juga menurun ke level 1,576%. Di sisi lain, premi risiko investasi RI alias credit default swap (CDS) berada di level 81,67 basis poin pada 15 April 2021. Angka tersebut menurun dari 83,64 bps per 9 April 2021.
Pada hari ini, Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim menyebutkan bahwa penguatan rupiah ditopang oleh kebangkitan ekonomi Tiongkok. "Perekonomian Negeri Panda tumbuh hingga 18,3% pada kuartal I 2021 di saat hantaman Covid-19 belum usai dan akan berdampak langsung kepada pertumbuhan ekonomi RI," kata Ibrahim dalam hasil kajiannya, Jumat (16/4).
Ibrahim mengkalkulasikan, setiap pertumbuhan ekonomi Tiongkok sebesar 1% akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sebanyak 0,05%. Dengan demikian, dampak pertumbuhan ekonomi negeri tersebut akan terasa pada kuartal kedua dan ketiga tahun ini.
(Oleh - HR1)
Kompetisi Gojek, Grab, Induk Shopee di E-Commerce & Fintech Kian Ketat
Kabar masuknya Grab ke Emtek akan memperluas ekosistem decacorn ini di e-commerce dan fintech, termasuk Bukalapak dan DANA. Ini bakal memperketat persaingan di tengah rumor Gojek dan Tokopedia merger.
Decacorn Singapura, Grab dikabarkan membeli 4% saham konglomerat media di Indonesia PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek). Langkah ini memperketat persaingan di bidang e-commerce dan teknologi finansial (fintech) dengan Gojek dan Tokopedia yang dikabarkan akan merger, serta induk Shopee. Emtek berinvestasi di Bukalapak. Yang terbaru, konglomerat ini disebut-sebut memimpin pendanaan ke Bukalapak bersama Microsoft dan GIC sovereign wealth fund Singapura US$ 234 juta atau sekitar Rp 3,4 triliun.
Anak usaha Emtek yakni Kreatif Media Karya (KMK) menjual 6% saham Elang Andalan Nusantara (EAN) Rp 76 miliar pada 30 Desember 2020. Kepemilikan KMK di EAN pun turun dari 55% menjadi 49%. Ini tertuang dalam keterbukaan informasi laporan keuangan kuartal IV 2020. EAN merupakan perusahaan patungan Emtek dan Alibaba. Cucu usaha Emtek ini yang menjalankan layanan pembayaran termasuk Doku dan DANA.
Sedangkan Grab menguasai 39,2% saham di induk OVO berdasarkan laporan DealStreetAsia. Masuknya Grab ke Emtek pun dinilai memperketat persaingan dengan Gojek dan Sea Group di bidang e-commerce dan fintech. “Gojek merger dengan Tokopedia, sehingga bisa bersaing dengan Shopee di sub-industri e-commerce dan online payment. Langkah tersebut juga dilakukan oleh Grab,” ujar Peneliti Center of Innovation and Digital Economy Indef Nailul Huda kepada Katadata.co.id, Jumat (16/4).
Sedangkan pesaing Grab yakni Gojek dikabarkan semakin dekat untuk merger dengan Tokopedia. Gojek memiliki fintech pembayaran GoPay, dan berinvestasi di startup asuransi (insurtech) Pasarpolis. Sedangkan Tokopedia mempunyai saham di OVO. Seorang eksekutif yang terlibat dalam diskusi merger itu mengatakan, Tokopedia bakal menjual sahamnya di OVO apabila bergabung dengan Gojek.
Selain Tokopedia, ekosistem Gojek dilengkapi dengan dua e-commerce yakni JD.ID dan Blibli. “Strategi merger dan akuisisi tidak terlepas dari keinginan perusahaan untuk mengembangkan ekosistem. Hal ini tidak lepas dari karakteristik ekonomi digital yang mengedepankan ekosistem platform untuk bisa menjadi nomor satu,” kata Nailul. Dengan penguatan ekosistem tersebut, Gojek dan Grab bersaing dengan Sea Group. Perusahaan asal Singapura ini mempunyai Shopee di sektor e-commerce.
(Oleh - HR1)
Rekor, Pendanaan ke Startup Asia Tenggara Rp 87,7 Triliun di Kuartal I
DealStreetAsia melaporkan, pendanaan ke startup Asia Tenggara pada kuartal I menyentuh rekor yakni US$ 6 miliar. Hampir 70% merupakan dana terkumpul dari modal yang dijaminkan pada 2020.
Laporan DealStreetAsia menunjukkan, startup di Asia Tenggara meraih pendanaan US$ 6 miliar atau sekitar Rp 87,7 triliun pada kuartal pertama 2021. Pencapaian ini disebut menyentuh rekor. Total pendanaan tersebut juga melonjak 43% secara tahunan (year on year/yoy) dan 48% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq). Hampir 70% dana terkumpul dari modal yang dijaminkan pada 2020.
Investasi itu diperoleh dari setidaknya 211 kesepakatan. Co-Founder sekaligus Managing Partner East Ventures Willson Cuaca mengatakan, faktor pendorong lonjakan pendanaan ke startup regional pada kuartal pertama yakni pemulihan ekonomi.
Sedangkan Managing Partner Jungle Ventures David Gowdey mengatakan, startup yang mengumpulkan dana dari investor sejak 2020 akan muncul untuk putaran ekuitas tahun ini. Mereka pun bakal melanjutkan pertumbuhan. "Saya pikir kami akan terus melihat daftar startup yang tumbuh dan lebih besar di Asia Tenggara," kata David. Bahkan, menurutnya sejumlah perusahaan rintisan itu mulai melakukan penawaran saham perdana ke publik atau IPO untuk memberikan likuiditas kepada investor.
DealStreetAsia melaporkan, US$ 4 miliar dari US$ 6 miliar tersebut dikumpulkan oleh decacorn asal Singapura, Grab dan startup logistik Indonesia, J&T Express. Masing-masing mengumpulkan US$ 2 miliar. Penggalangan dana pada kuartal pertama tahun ini juga menghasilkan setidaknya tiga unicorn baru. Mereka yaitu J&T Express dengan perkiraan valuasi US$ 6 miliar, anak usaha Grab bidang keuangan Grab Financial Group US$ 3 miliar, dan startup IP PatSnap lebih dari US$ 1 miliar.
(Oleh - HR1)
Imbas Pandemi, Utang Luar Negeri RI Membengkak Jadi Rp 6.013 Triliun
Utang luar negeri Indonesia pada Maret 2021 naik 4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Bank Indonesia melaporkan, utang luar negeri Indonesia pada Februari 2021 sebesar US$ 422,6 miliar atau setara Rp 6.013,17 triliun dengan asumsi kurs Jisdor akhir periode yang sama. Posisi ULN Ini tumbuh 4% dibandingkan Februari 2020 didorong oleh utang pemerintah dan swasta. Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan, ULN pemerintah tumbuh 4,6% secara tahunan menjadi US$ 209,2 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Januari 2021 sebesar 2,8%. Meski demikian, menurut dia, ULN pemerintah tetap terkendali dan dikelola secara terukur.
Di sisi lain, ULN swasta juga tetap didominasi oleh utang jangka panjang. Pertumbuhan ULN swasta tercatat 3,4% secara tahunan menjadi US$ 210,5 miliar, meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya 2,5%. "Didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 78% terhadap total ULN swasta," ujar dia. Perkembangan ini didorong oleh pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (PBLK) sebesar 5,9%, lebih tinggi dari pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 5,1%. Peningkatan antara lain didorong oleh penerbitan surat utang global korporasi di sektor pertambangan. Adapun ULN lembaga keuangan terkontraksi 4,9%, lebih rendah dari kontraksi pada bulan sebelumnya sebesar 6,1%. Berdasarkan sektornya, ULN swasta terbesar dengan pangsa mencapai 77,3% dari total ULN swasta bersumber dari sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin, sektor pertambangan dan penggalian, serta sektor industri pengolahan.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









