Ekonomi
( 40554 )Bisnis Hotel, Okupansi Melonjak Signifikan
Tingkat keterisian kamar atau okupansi hotel di kawasan Cianjur Jawa Barat melonjak signifikan pada akhir pekan lalu meskipun daerah tersebut masuk katagori PPKM level 4. Persatuan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI) Cianjur Jaw Barat mencatat kenaikan tingkat hunian hotel hingga mencapai 100% selama akhir pekan lalu yang didominasi oleh tamu asal Jabodetabek.
Ketua PHRI Cianjur Nano Praja mengatakan okupansi mulai meningkat setelah pelonggaran PPKM diberlakukan di sejumlah wilayah meski Cianjur masih menerapkan PPKM level 4. Untuk mengantisipasi penularan Covid-19, protokol kesehatan ketat termasuk kartu vaksinasi wajib dikantongi tamu yang datang. "Prokes ketat kami terapkan, sebab upaya membantu pemerintah dalam memutus mata rantai penularan Covid-19. Baru pekan ini, bahkan beberapa hotel anggota PHRI Cianjur terisi penuh. Semoga PPKM segera usai dan perekonomian kembali normal," katanya dikutip Antara, Minggu (29/8). Lonjakan okupansi hotel akibat dari pelonggaran kebijakan PPKM juga dialami oleh pengusaha hotel di kota Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB).
Okupansi hotel saat ini tercatat 50% dibandingkan dengan saat PPKM level 4 yang hanya 40%. Tetapi okupansi saat ini masih lebih rendah dibandingkan sebelum penerapan PPKM pada Juni 2020 sebesar 60%. Peningkatan okupansi terjadi setelah syarat penginapan di hotel dipermudah dengan cukup menggunakan keterangan negatif Covid-19 dari rapid test antigen dan bukti vaksinasi pertama. "Sekarang okupansi menunjukkan tren kenaikan dibanding ketika PPKM level 4" jelas Yono, ketua Assosiasi Hotel Mataram.
Bank Indonesia Cirebon, Genjot Penggunaan QRIS, Sasar UMKM
Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Cirebon terus berupaya menggenjot penggunaan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) atau pembayaran berbasis barcode di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning). Penggenjotan penggunaan QRIS ini digunakan sebagai alat transaksi oleh kosumen dan sebagai upaya untuk meningkatkan jumlah merchant yang ada di kabupaten tersebut.
Kepala KPw BI Cirebon Bakti Artanta mengatakan, layanan sektor keuangan dan pembayaran berbasis nontunai sangat bermanfaat bagi perekonomian. Berbagai manfaat di antaranya, efisiensi dan efekifvitas layanan. Menurut Bakti, pembayaran menggunakan QR code menjadi salah satu inisiatif Indonesia dalam menyongsong ekonomi digital, lantaran banyak turunan transaksi digital lainnya yang dapat dikembangkan berdasarkan data transaksi costumer dari kode tersebut.
Menurut Bakti pelaku UMKM di wilayah tersebut sudah menyadari pentingnya transaksi secara digital ditengah masa pandemi Covid-19. Di targetkan, pada 2021 ini sebanyak 200.222 lebih UMKM di Ciayumajakuning sudah menggunakan QRIS sebagai transaksi pembayaran. Menurutnya, metode tersebut mampu meningkatkan potensi perluasan penjualan. "Pelaku UMKM ini nanti tidak lagi memerlukan uang kembalian, sebagai uang penjualan langsung tersimpan di tabungan, resiko uang hilang/atau dicuri akan berkurang," kata Bakti. Bagi Bank Indonesia, UMKM mempunyai peran penting bagi perekonomian di Indonesia, lantaran memberikan sumbangan siginifikan, terutama dalam membentuk produk domestik bruto dan penyerapan tenanga kerja.
"Kami masih sebagai bank sentral berupaya memberikan kontribusi terbaik melalui kebijakan pengambangan UMKM dalam meningkatkan akses keuangan. Pengembangan UMKM oleh BI punya tujuan meningkatkan kapasitas dan kemampuan managerial SDM serta inovasi dari UMKM," kata Bakti. Selama pandemi, kata Bakti, banyak pelaku UMKM yang mengajukan restrukturisasi kredit. Padahal, UMKM ini merupakan sumber ekonomi terbesar di Indonesia, Kalau semua sudah memanfaatkan platform digital, pada 2025 UMKM akan menjadi sumber ekonomi baru," kata Bakti. (YTD)
Investor Global Mencari IPO di Negara Asia
Shanghai - Investor global lari dari China, dampak regulasi yang keras ke perusahaan teknologi Tiongkok. Tindakan keras regulator China ke perusahaan teknologi asal Tiongkok membawa berkah ke negara lain. Investor global mulai mencari tempat baru untuk menaruh duitnya di negara lain. Hal ini mulai terasa saat ada lonjakan rekor penawaran umum perdana beberapa negara di Asia dari India, Indonesia, hingga Korea Selatan.
Pencapaian tersebut bisa menjadi lebih besar mengingat listing yang direncanakan oleh beberapa perusahaan seperti raksasa financial technology (fintech) India Paytm dan konglomerat internet Indonesia, GoTo. Beberapa bankir menyebutkan hal tersebut menjadi awal era baru untuk listing teknologi di Asia. Investor global sudah meningkatkan eksposur ke pasar luar China, dengan beberapa membeli IPO dari negara-negara seperti India dan Indonesia untuk pertama kalinya. Beberapa investor yang berbasis di Hong Kong yang sebelumnya fokus pada kesepakatan China sekarang berpartisipasi dalam IPO teknologi di negara Asia lain. Membanjirnya IPO teknologi di Asia Tenggara dan India akan bisa memberikan kekuatan baru.
J&T Express Pilih Listing di Hong Kong daripada AS
Perusahaan rintisan (start-up) berstatus unicorn asal Indonesia yang bergerak di bidang ekspedisi, J&T Express, dikabarkan bakal mencatatkan sahamnya (listing) di Bursa Efek Hong Kong. Sebelumnya, J&T Express berencana listing di Bursa Efek Amerika Serikat (AS). J&T Express akan melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) tahun depan. Dari IPO tersebut, J&T Express disebut-sebut bisa menghimpun dana sekitar US$ 1 miliar.“J&T telah bekerja sama dengan Bank of America Corp, China International Capital Corp, dan Morgan Stanley terkait IPO itu,” ungkap sumber yang dikutip Bloomberg, Senin (30/8).Meskipun J&T Express berbasis di Indonesia, namun perusahaan ini beroperasi cukup signifikan di Tiongkok. Menurut sumber, Pemerintah Tiongkok berkemungkinan akan memberlakukan peraturan yang lebih ketat terhadap perusahaan yang melakukan listing di luar negeri.
J&T Express dibentuk pada 2015 oleh mantan eksekutif OPPO, Jet Lee dan Tony Chen. Perusahaan melakukan bisnis pengiriman dalam kota, serta antar kota dan antar provinsi. J&T juga menyediakan layanan pergudangan dan solusi supply chain untuk toko e-commerce di Indonesia. J&T berkembang signifikan di kawasan Asia Tenggara, yakni Kamboja, Vietnam, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Filipina.
Jahitin.com Berdayakan Penjahit Rumahan
Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) terus berusaha bertahan di tengah pandemi. Salah satu UMKM binaan PT Telkom, Jahitin, memilih membuka situs jahitin.com untuk memperluas pasarnya.
Owner dari usaha itu adalah Asri Wijayanti, seorang fashionpreneur asal Surabaya yang membuka usaha di Sidoarjo dengan melayani pembuatan baju idaman pelanggan secara online, melalui situs jahitin.com.
Asri mengembangkan bisnis fashion dengan cara unik. Ia mengagas starup jahitin.com, yakni layanan jahit online dengan konsep economy sharing, menghubungkan para penjahit dengan pelanggan yang membutuhkan.
Unit CDC Telkom Surabaya sejak awal mendampingi jahitin.com lewat program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL). Jahitin hingga kini terus bertahan bahkan semakin berkibar.
“Pelanggan pertama jahitin.com adalah teman-temannya mahasiswi di Malang,” kenang Asri. Layanan jahit online semakin disukai netizen, karena praktis, aman dan kualitas jahitannya terjamin.
Gamers Jadi Sasaran Produk Asuransi
PT AIA financial (AIA) menggandeng Gojek menghadirkan produk asuransi khusus gamers atau pemain game.
Hadir dalam salah satu fitur GoSure, sebagai terobosan untuk meningkatkan penetrasi dan akses masyarakat kepada produk asuransi.
Proteksi Gamers ini juga menjawab kebutuhan masyarakat seiring dengan meningkatnya penggunaan gadget berdampak pada kebutuhan proteksi dari risiko kesehatan yang mengintai.
Melalui GoSure, GoPay mengembangkan produk asuransi mikro yang dibutuhkan untuk melindungi pengguna dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, tidak terkecuali profesi gamers yang juga rentan terhadap risiko.
Proteksi tersebut tersedia untuk masyarakat umum berusia 18-45 tahun dengan premi mulai Rp16 ribu dengan manfaat perlindungan selama satu tahun.Tak hanya AIA, PT Central Asia Financial atau Asuransi Jagadi ri juga menawarkan produk asuransi yang memberikan benefit untuk para gamers, Jaga Gamers.
Industri Makanan dan Minuman, Optimisme Masih Tinggi
Ditengah pandemi yang diperkirakan masih akan berlangsung lama, industri makanan dan minuman optimis kinerja akan lebih baik pada tahun depan. Hal ini seiring dengan pemulihan ekonomi secara nasional yang terus berjalan. Meski belum mematok angka pertumbuhan, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatkan proyeksi optimistis akan menjadi skenario tahun depan. Apalagi, saat ini pemerintah perlahan mulai menyesuaikan kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat. "Semoga bisa lebih pulih karena kemarin kami juga cukup merasa tertekan karena pembatasan. Namun, secara keseluruhan harusnya tahun depan lebih bagus karena berkaca dari tahun ini yang juga sudah lebih baik," katanya kepada Bisnis, Rabu (25/8). Adhi pun menyebutkan sampai akhir tahun industri makanan dan minuman masih diproyeksikan mampu mencapai target seperti yang sudah dicanangkan pada awal tahun, yakni di kisaran 5%-7%.
Ketua Umum Assosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) Rachmat Hidayat sebelumnya mengatakan pertumbuhan sektor makanan dan minuman tersebut sudah sangat baik dan terbilang tidak kecil. "Jadi, berangkatnya sudah menjadi base yang berbeda. Yang sekarang naik dua digit mungkin dulu minus sangat dalam. Artinya, mamin tetap berada di tren pemulihannya meski saat ini dengan tantangan-tantangan lain." katanya. Rachmat menyebut untuk sektor AMDK, saat ini kondisinya belum banyak berubah. Penurunan produksi harus terjadi pada kemasan kecil akibat PPKM level 3 dan 4, sedangkan galon masih berjalan normal sesuai permintaan. Saat ini, industri makanan dan minuman hanya berharap pada pendorong kuartal IV/2021, yakni natal dan tahun baru dengan kunci pengendalian pandemi gelombang kedua selesai kuartal III/2021. (YTD)
Polemik Impor Pangan, Industri Diajak Serap Cabai Lokal
Kementerian Pertanian mengajak Industri menyerap cabai yang dihasilkan petani lokal dari pada mengimpor dari Negara lain. Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Holtikultural Kementan Bambang Sugiharto menjelaskan impor cabai sepanjang semester 1/2021 mencapai 27.851 ton yang dilakukan guna memenuhi kebutuhan industri. Padahal, produksi cabai nasional 2021 merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 27.851 juta ton. Produksi ini mengalami peningkatan 7,11% dibandingkan dengan 2019.
Bambang menjelaskan bahwa pasokan aneka cabai untuk komsumsi di Indonesia berada pada posisi surplus. Kementan juga menyiapkan mobil berpendingin untuk mengangkat cabai dari lahan dengan gratis tanpa biaya kirim. “Kami juga telah bersurat pada dinas terkait di 34 propinsi untuk menyerap produk petani. Alokasi anggaran untuk bantuan pasca panen juga telah ada, agar kualitas produksi petani terjaga. Pada Juli, produksi cabai tercatat sebanyaj 163,293 ton dengan kebutuhan sebesar 158.855 ton.
“Hingga Juli kita surplus 4.439 ton, kebutuhan masyarakat terhadap aneka cabai masih dapat dipenuhi dari hasil produksi didalam negeri,” kata Direktur Sayuran dan Tanaman obat Kementan Tommy Nugraha. Surplus produksi itu, katanya, bisa diantisipasi dengan meminta pengusaha lokal dan Pemda menyerap hasil panen cabai. Sementara itu, penyerapan komoditas cabai di Jawa Timur mengalami penurunan. Serapan hasil panen cabai hanya 30%-40%. (YTD)
BI: Aliran Masuk Modal Asing Kembali Menguat
Bank Indonesia (BI) mencatat, aliran modal asing masuk (capital inflow) ke pasar keuangan Indonesia mencapai Rp 7,67 triliun pada pekan lalu atau periode 23-26 Agustus 2021, lebih besar dari pekan sebelumnya, 16-19 Agustus 2021, yang senilai Rp 3,49 triliun. Ini terjadi justru pada saat potensi The Fed untuk melakukan pengurangan likuiditas (tapering off) mulai November mendatang semakin menguat.
Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan, aliran modal asing ini meliputi investasi ke Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 7,18 triliun dan saham sebesar Rp 0,49 triliun. Sementara itu, berdasarkan data setelmen sejak awal tahun hingga 19 Agustus 2021 (year to date) aliran modal asing yang masuk mencapai sebesar Rp 14,1 triliun. "Berdasarkan data transaksi 23-26 Agustus 2021, nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp 7,67 triliun terdiri atas beli neto di pasar SBN sebesar Rp 7,18 triliun dan beli neto di pasar saham sebesar Rp 0,49 triliun," papar Erwin dalam keterangan yang diterima Investor Daily pada pekan lalu.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Ferry Warjiyo mengungkapkan, aliran masuk modal asing
berlanjut dalam bentuk investasi portofolio yang pada Juli hingga 16 Agustus 2021 dengan mencatat net inflows
US$ 2 miliar. Ini terjadi seiring dengan
menurunnya ketidakpastian pasar
keuangan global dan persepsi positif
investor terhadap prospek perbaikan
perekonomian domestik.
Pasar Tenaga Kerja Digital
“Thou aimest high, Master Lee. Consider Thou what the invention could do to my poor subjects. It would assuredly bring to them ruin by depriving them of employment, thus making them beggar.” Kutipan di atas adalah perkataan Ratu Elizabeth I kepada William Lee, penemu mesin rajut otomatis pada Abad ke-16. Ratu Elizabeth saat itu justru khawatir teknologi yang diciptakan oleh Lee akan menghilangkan lapangan pekerjaan dan menciptakan kemiskinan. Tanggapan Ratu Elizabeth sangat jamak terjadi ketika kemunculan teknologi baru. Teknologi tersebut terkadang dipandang menjadi sebuah ancaman, terutama bagi ketenagakerjaan. Disrupsi teknologi menimbul kan kekhawatiran akan hilangnya pekerjaan.
Estimasi Mckinsey (2017) menunjukkan bahwa 60% pekerjaan yang
ada saat ini dapat diotomasi, di mana
diperkirakan untuk kasus Indonesia
angka tersebut mencapai 12%.
Perlu dipahami bahwa “hantu” disrupsi tersebut tidak hanya berpotensi
menghilangkan lapangan pekerjaan,
tetapi juga menciptakan pekerjaan
baru. Disrupsi teknologi menciptakan
apa yang disebut pasar tenaga kerja
digital.
Secara definisi, pasar tenaga kerja digital adalah pasar tenaga kerja di mana transaksi antara pemberi kerja dan pencari kerja dilakukan secara online. Secara umum, digital labour market dibagi ke dalam dua kategori: online labour market (OLM) dan mobile labour market (MLM). Online labour market didefinisikan sebagai pasar tenaga kerja di mana baik proses pencarian tenaga kerja (matching), administrasi dan pekerjaan dikerjakan secara online, contohnya adalah Amazon Mechanical Turk. Sedangkan MLM didefinisikan sebagai pasar tenaga kerja di mana proses pencarian dan administrasi dilakukan secara online, akan tetapi pekerjaan dilaksanakan secara fisik (langsung). Contohnya adalah Gojek dan Grab (Codagnone, Abadie&Biagi, 2016).
Secara global, diperkirakan terdapat
777 platform tenaga kerja, di mana 383
di antaranya adalah delivery-based platform atau platform yang memfasilitasi
pekerjaan jasa pengantaran. Pesatnya
perkembangan platform ini didukung
oleh besarnya investasi kepada platform tenaga kerja, yang diperkirakan
secara global mencapai US$ 119 miliar,
dengan keuntungan secara global
mencapai US$ 52 miliar (ILO, 2020).
Pada pasar ini terdapat tiga pihak
yang saling berinteraksi melalui platform, yaitu pekerja, pemberi kerja,
dan konsumen. Bagi pemberi kerja,
kehadiran tenaga kerja digital ini dapat
mendorong efektivitas dan efisiensi.
Contohnya, pemberi kerja dapat melakukan outsourcing pekerja dengan
cepat, yaitu antara 2-4 hari, jauh lebih
cepat dari melalui agen tradisional yang
mencapai 6-8 minggu dan mendapatkan
akses talenta (ILO, 2020).
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









