Ekonomi
( 40744 )KKP Kejar Target Produksi Udang 2 Juta Ton
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengembangkan model tambak udang berbasis kawasan sebagai salah satu terobosan menggenjot produktivitas dan kontinuitas budidaya udang di Indonesia. Dengan terobosan itu diharapkan Indonesia dapat mencapai target produksi udang nasional sebanyak 2 juta ton per tahun pada 2024 dan Indonesia bisa menguasai pasar udang dunia.
Ditjen Perikanan Budidaya KKP TB Haeru Rahayu mengatakan, KKP telah bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam membangun model tambak udang berbasis kawasan, diantaranya seluas 100 hektare (ha) di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. "Kita membuat modeling budidaya udang berbasis kawasan. Ini yang akan kita coba terus dorong, tahun ini kami kolaborasi dengan Pemkab Kebumen Pak Bupati sudah mendukung," ujar Haeru saat Bincang Bahari KKP bertema Terobosan Kuasai Pasar Udang Dunia di Jakarta. Melalui skema tambak udang berbasis kawasan di kebumen itu, KKP menargetkan peningkatan produksi menjadi 80 ton per ha pertahun. Target tersebut diyakini bisa tercapai sebab tambak ini menggunakan pendekatan saintifik yang juga mendukung penuh dari sisi pendampingan dan permodalan.
Chief of staff eFishery Chrisna Aditya mendukung pembangunan tambak udang berbasis kawasan di Kebumen. Pemilihan komoditas udang untuk digenjot produktifitasnya oleh pemerintah sangat tepat sebab kebutuhan pasar dunia sangat besar. Pasar udang sangat potensial, baik untuk devisa negara, lapangan kerja, maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat di sejumlah daerah. "Kami sangat mendukung, tapi perlu diperhatikan ekosistem dan lingkungan tambak, utamanya fluktuasi suhu di pantai selatan, sore bisa 33 derajat (celcius) paginya 26, ini bisa memicu udang stres," ungkap Ilham Priyanto Ketua Shrimp Club Indonesia.
Perusahaan Keluarga Jadi Kekuatan Ekonomi Negara
Perusahaan Keluarga berperan sangat besar di Indonesia dan dunia. Perusahaan keluarga merupakan pencipta lapangan pekerjaan dan berkontribusi 80% terhadap produk domestik bruto (PDB) dunia. Berdasarkan perusahaan McKenzie, sebesar 60% sektor usaha dikuasai oleh perusahaan keluarga dengan rata-rata memiliki pendapatan US$ 1 miliar. Namun, kebanyakan perusahaan keluarga gagal berkibar pada generasi kedua atau ketiga.
Komisaris Independen PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) Hadi Cahyadi mengatakan, hasil riset menunjukkan, perusahaan keluarga berperan penting dalam membantu pemerintah untuk mengatasi masalah sosial dan ekonomi. "Perusahaan keluarga sangat penting, tetapi penerusnya sangan jarang sukses. Kebanyakan perusahaan keluarga gagal untuk lanjut ke generasi kedua dan ketiga," ucap Hadi dalam webinar Large Family Business & Beyond, Kamis (2/9). Dia mengatakan, risetnya menemukan, ada satu pameo 30/13/3 yang dikemukakan oleh John Ward pada 1987. Ternyata hanya 30% perusahaan keluarga yang bisa melewati generasi kedua, hanya 13% yang bisa melewati generasi ketiga dan yang lebih dari itu cuma 3%.
Hadi mengatakan kutukan generasi ketiga itu tidak hanya ada di Indonesia, namun di beberapa negara juga ada pepatah mengenai hal itu. Contohnya, di Tiongkok ada pepatah 'kemakmuran tidak turun di generasi ketiga'. Hadi menerangkan, dari PHC Constructed Theory terdapat sembilan proporsi, yaitu Parenting to Equip berisi empat proporsi, kemudian Harmonizing to Prosper berisi tiga proposi." Saya beruntung ini dimasukkan sebagai HKI yang memiliki hak cipta,"
Target Produksi Minyak 1 Juta BPH pada 2030 Optimistis Tercapai
Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) optimistis target produksi minyak 1 juta barel per hari (bph) dan gas 12 miliar kaki kubik per hari (bscfd) pada 2030 bakal tercapai. Optimisme itu seiring dengan upaya pemerintah memperbaiki iklim investasi dan insentif guna meningkatkan investasi di sektor hulu migas eksisting hingga pengembangan lapangan baru. Peningkatan produksi minyak hingga menjadi 1 juta bph menjadi tantangan tersendiri. Namun, dengan temuan dari kegiatan survei seismik 2D terpanjang yang dilakukan oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang, masih ada prospek untuk mengejar target tersebut.
Terdapat lima area fokus produksi minyak yang dihasilkan kegiatan seismik tersebut, yakni Timor, Seram, Buton, Warism, dan Play yang sejenis dengan Cekungan Salawati. Terdapat area fokus di Central Sumatra dan Kalimantan Timur, termasuk di area Blok Rokan. Proyeksi ini berasal dari produksi eksisting, penemuan yang belum dikembangkan, rencana pengembangan yang belum diimplementasikan, pengurasan minyak tahap lanjut (enhanced oil recovery/EOR), hingga pengembangan migas nonkonvensional.
Bukalapak Catat Kenaikan TPV 54% dan Pangkas Kerugian
PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) mencatat pertumbuhan total processing value (TPV) sebesar 54% menjadi Rp 56,7 trilliun pada semester I-2021. Pertumbuhan TPV perseroan didukung oleh kenaikan jumlah transaksi sebesar 15% dan kenaikan avarage trasaction value (ATV) sebesar 34%. Perbaikan tersebut menjadikan rugi bersih perseroan bisa ditekan sebesar 25,7% menjadi Rp 763 milliar pada semester I-2021 dibanding sama periode tahun sebelumnya senilai Rp1,03 trilliun. "Sebesar 75% TPV perseroan pada semester I-2021 berasal dari luar daeah tier 1 di Indonesia, di daerah dimana penetrasi all-commerce dan tren digitalisasi warung-warung kecil ritel terus menunjukkan pertumbuhan yang kuat," ungkap management Bukalapak dalam keterangan tertulis, Rabu (1/9).
Sedangkan pendapatan mitra Bukalapak pada kuartal II-2021 tumbuh sebesar 292% menjadi 145 miliar, dan pendapatan mitra sebesar 350% manjadi 290 miliar. Pada kuartal II-2021, Bukalapak berhasil menekan kerugian earning before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) menjadi Rp407 miliar. Sementara, kerugian EBITDA pada semester I-2021 membaik sebesar 27% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Rasio kerugian EBITDA terhadap TPV membaik dari 3,1% pada kuartal II-2020 menjadi 1,4% pada kuartal II-2021.
Hal tersebut menjadikan Bukalapak mampu untuk menekan kerugian operasionalnya sebesar 24,9% menjadi Rp 776 miliar pada semester I-2021 dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 1,03 triliun. Adapun posisi kas perseroan sebesar Rp 2,7 trilliun per akhir Juni 2021, sebelum memperhitungkan dana hasil dari penawaran umum perdana (IPO) saham perseroan yang sebesar Rp 21,3 triliun pada Agustus lalu. (YTD)
Perdagangan Elektronik, Prospek Dagang-el UMKM di Luar Jawa Cerah
Asosiasi UMKM Indonesia mencatat aktivitas perdagangan elektronik usaha mikro kecil dan menengah di luar Jawa tumbuh cukup pesat sehingga dampak membaiknya infrastruktur logistik. "Kalau per Agustus 2020, pertumbuhan di luar Jawa dipimpin oleh aktivitas dagang-el di Palembang, Medan, dan Bali. Sekarang di wilayah Sulawesi Selatan juga tumbuh," kata Ketua Umum UMKM Indonesia (Akindo) Ikhsan Ingratubun. Selama ini menurutnya, adopsi perdagangan melalui sistem elektronik oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di dominasi di Pulau Jawa.
Dia mencatat sebagian besar UMKM yang masuk ekosistem dagang-el juga berbasis di Jawa. "Kontribusinya sekitar 75% sampai 80% di Pulau Jawa. Namun, bukan berarti yang 25% diluar Jawa tidak tumbuh pesat," kata Ikhsan. Selama 1,5 tahun pandemi Covid-19 imbuhnya, jumlah UMKM yang sudah mengadopsi perdagangan elektronik mencapai 15 juta unit, dari sekitar 8 juta unit sebelum pandemi. "Pemerintah masih perlu meningkatkan sistem ekosistem digital di sejumlah provinsi di Indonesia dan mengembangkan infrastuktur teknologi dan informasi yang merata diseluruh Indonesia. Sebelumnya, Menteri Perdagangna Lutfi menyatakan bahwa perkembangan masih berpusat di Pulau Jawa.
Hasil survei Kadence menemukan sebesar 96% Responden Indonesia menganggap OVO merupakan platform pembayaran digital yang paling mereka kenal. "Hal ini didukung oleh pendekatan OVO yang terbuka untuk berkolaborasi dengan semua pihak secara open ecosystem strategy," katanya. Namun, OVO juga masih menemukan beberapa tantangan dan hambatan salah satunya masih banyak pengguna uang tunai. Namun Harumi Supit Head of Corporate Communication OVO mengatakan, bahwa dia yakin tantangan jadi peluang bisa diwujudkan melalui upaya sosialisasi dan edukasi yang berkelanjutan. (YTD)
Dampak Pandemi COvid-19, Penutupan Hotel di Bali Didominasi Pengusaha Lokal
Penutupan hotel secara permanen di kota Denpasar Bali selama pandemi Covid-19 sebagian besar dilakukan oleh pengusaha lokal. Berdasarkan Data Dinas Pariwisata Kota Denpasar, sedikitnya usaha akomodasi yang tutup permanen terdiri atas 11 hotel nonbintang, 2 pondok wisata, dan 3 villa. Secara total, ada 551 jumlah usaha akomodasi di Denpasaar yang terdiri atas 49 hotel bintang, 316 hotel nonbintang, 90 pondok wisata, dan 96 Villa.
Kepala Dinas Pariwisata Denpasar A. Dezire Mulyani mengatakan hotel yang ditutup permanen tersebut memilik kemungkinan untuk dijual. Namun, tidak bisa memastikan presentase usaha akomodasi milik lokal maupun asing yang ditutup. Nantinya, ketika pariwisata dibuka kembali, hotel-hotel tersebut pun akan siap dibuka. "Semuanya menunggu pasar, kedatangan wisatawan dalam dan luar negeri. Menunggu kebijakan pemerintah pusat untuk membuka pintu bagi wisatawan." katanya kepada Bisnis, Rabu (1/9). Dezire menambahkan bahwa pembelian maupun penjualan hotel yang dilakukan pengusaha merupakan bagian dari rencana bisnis yang sudah sangat matang. Dari 48 hotel yang dijual tersebut, terbanyak berada di Badung dengan jumlah 41 hotel berada di Denpasar dan 3 hotel berada di Gianyar. Bali yang seblumnya menjadi Pilot Project pembukaan pintu gerbang internasional justru tidak kunjung pasti dalam menyelesaikan pandemi Covid-19. "Ini ibarat pasar tidak percaya dengan kondisi pandemi di Bali, berlanjut dengan pengambilan kebijakan perjualan aset." katanya. (YTD)
Program Petani Milenial, Rintisan Usaha Bidang Perkebunan Diluncurkan
Program Petani Millenial terus bergulir, dimana kali ini menyasar bidang perkebunan di Kabupaten Garut yang fokus pada sejumlah komoditas diantara kopi, gula aren, vanili. Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum menekankan pentingnya regenerasi petani di Jabar. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan dan mendukung produktivitas sektor pertanian di Jabar. "Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat sedang mengambangkan Petani Milenial untuk menjawab permasalahan di bidang pertanian, khususnya regenerasi petani," kata Uu, Selasa (31/8)
Berdasarkan hasil survei Pertanian Badan Pusat Statistik, jumlah petani di Jabar mencapai 3.250.825 orang. Dari jumlah tersebut, petani petani yang berusia 25-40 tahun hanya 945.574 orang atau 29%. "Karena pertanian kali ini berbeda dengan zaman dulu, kondisi alamnya beda. Kalau dulu gejebur ke sawah, kalau sekarang harus memiliki kemampuan, termasuk teknologi pertanian harus dikuasai," katanya. Dalam proses seleksi Petani Milenial bidang perkebunan, telah meloloskan sebanyak 25 orang petani milenial. Dari jumlah tersebut, sebanyak 15 petani milenial memilih jenis rintisan usaha pengolahan kopi, 4 orang merintis pengolahan gula aren, 2 orang merintis komoditi vanila, 2 orang pembenihan tanaman perkebunan, serta dua orang lainnya memilih merintis usaha pengolahan limbah kelapa.
"Menurut para pelaku oftaker kami disana, ini peluang pasarnya belum bisa dipenuhi, baru 10%. Tentu 90% belum bisa dipenuhi," kata Uu. Asisten II Bagian Perekonomian Pembangunan Setda Kabupaten Garut Toni Tisna Somantri menuturkan, Petani Milenial adalah program yang tepat. Apalagi Kabupaten Garut memiliki potensi pertanian yang luar biasa apabila dikelola dengan baik. "Tidak hanya kopi, ada juga jeruk Garut, dan produk pertanian lainnya yang luar biasa potensinya," katanya. (YTD)
Tiba-tiba JPMorgan Rekomendasikan Obligasi China, Ada Apa?
Bank investasi multinasional asal Amerika Serikat (AS), JPMorgan mulai menghindari saham-saham di pasar modal China, namun mereka mendekati pasar obligasi China dan mulai membelinya.
Analis dari JPMorgan, Joyce Chang percaya bahwa tindakan keras peraturan pemerintah China di bawah Presiden Xi Jinping akan terus memanas dan akan menciptakan tekanan ke kelompok pasar dan industri utama di pasar saham Tiongkok.
Pekan ini, pihak Beijing memanggil perusahaan aplikasi ride-hailing, Didi Global dan Meituan atas perilaku yang tidak patuh terhadap peraturan tersebut. Hal ini membuat saham Didi ambles hingga 37% selama 3 bulan terakhir, sementara saham Meituan ambruk 19%.
China juga berusaha mengontrol lebih besar dari saham yang terdaftar di bursa China. Presiden Xi Jinping mengatakan dia menginginkan agar bursa saham di Beijing lebih fokus pada entitas kecil dan menengah.
Langkah berani Beijing yang ingin mengendalikan perusahaan teknologi kuat di China seperti Ant Group Co. Didi Global dan lainnya sempat membuat investor global melarikan diri karena khawatir adanya pengontrolan data yang lebih ketat di China, sementara itu, hubungan dengan Washington juga tetap sulit.
Namun dia percaya dengan membeli obligasi pemerintah China adalah cara yang strategis untuk mendapatkan keuntungan yang lebih terhadap pertumbuhan ekonomi, di saat investor sedang membatasi risiko kerugian yang ditimbulkan akibat penurunan harga saham di bursa China terkait dengan tindakan keras regulasi oleh pemerintah China.
"Cara terbaik untuk masuk ke pasar keuangan China saat ini sebenarnya adalah masuk di pasar obligasi pemerintahnya," kata Chang.
"Obligasi pemerintah China saat ini masih memiliki imbal hasil yang sangat menarik dibandingkan dengan negara-negara lain." tambah Chang.
Kalsel Targetkan 10.700 Hektare Peremajaan Sawit
Kalsel merupakan sebuah daerah yang menjadi lokasi peningkatan produksi kelapa sawit melalui peremajaan sawit rakyat (PSR) di Indonesia, baik itu sawit rakyat swadaya maupun plasma.
Bahkan tahun ini, Pemprov Kalsel melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Kalsel dalam rangka mewujudkan pembangunan perkebunan kelapa sawit berkelajutan, menargetkan 10.700 hektare lahan.
Luasan lahan ini disentuh dalam program peremajaan sawit hingga 2021 di Bumi Lambung Mangkurat yang dananya bersumber dari Dana Badan Pengelola Dana Pembangunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
Dalam rangka peningkatkan sarana dan prasarana melalui pemberian bantuan jalan kebun dan jembatan kebun, saprodi, mesin pertanian serta alat transportasi melalui dana Badan Pengelola Dana Pembangunan Kepala Sawit (BPDPKS) serta dukungan dari dana APBN dan APBD provinsi atau kabupaten.
Jumlah Investor Saham Baru Bertambah 1 Juta dalam 8 Bulan
Sejak awal tahun hingga 31 Agustus 2021 tercatat jumlah investor saham baru bertambah sebanyak 1 juta single investor identification (SID). Bursa Efek Indonesia mencatat per akhir bulan lalu total sudah terdapat sekitar 2,7 juta SID saham.
Adapun jumlah pertumbuhan investor saham baru itu melonjak hanya dalam delapan bulan saja pada tahun ini. Bila dibandingkan dengan tahun 2020 lalu dengan 590.658 SID, maka jumlah investor saham baru hingga akhir Agustus lalu itu meningkat hampir dua kali lipat.
Inarno menyebutkan lonjakan jumlah investor baru itu karena optimalisasi digital yang dimulai sejak tahun 2019 dan dilanjutkan dengan sinergi serta kolaborasi bersama seluruh pemangku kepentingan pasar modal.
Jumlah investor baru pasar modal sampai dengan 31 Agustus 2021 mencapai 2,22 juta investor. Artinya, angka itu naik hampir dua kali lipat dari pencapaian tahun lalu, sehingga total investor pasar modal saat ini adalah 6,1 juta investor.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









