Ekonomi
( 40554 )Investor Lebih Selektif Pilih Saham Teknologi
Kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, The Fed, berpotensi mendorong investor menggeser perburuan investasi ke saham defensif. Namun, bukan berarti saham teknologi tidak lagi diminati. Investor diperkirakan lebih selektif memburu saham perusahaan teknologi dengan fundamental kinerja kuat dan harganya tidak terlalu mahal. ”Siklus di pasar saham sedang berpindah. Pasar (investor) cenderung akan lebih memburu saham defensif atau saham yang tidak terpengaruh oleh kinerja atau kondisi ekonomi, termasuk saham komoditas. Harga saham sejumlah perusahaan teknologi yang semula tinggi karena ekspektasi berlebihan kini terpukul,” ujar Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David E Sumual (6/5). David berpendapat, investor melakukan seleksi. Mereka diperkirakan semakin ketat memperhatikan kinerja perusahaan teknologi sebelum memutuskan berinvestasi. ”Misalnya, di sektor perdagangan secara elektronik (e-dagang). Perusahaan teknologi yang berkecimpung di sektor itu tidak mungkin hanya satu. Dengan kondisi sekarang, investor akan menekankan yang punya fundamental kinerja bagus,” ujar David.
Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira berpendapat, investor akan merespons kenaikan suku bunga acuanThe Fed dan sinyal naiknya suku bunga BI, ada kecenderungan perburuan di saham teknologi tetap terjadi. Tetapi, investor akan selektif. Jika harga saham perusahaan teknologi terlalu mahal, investor belum tentu akan merespons. Selain itu, perburuan saham teknologi di tengah kenaikan suku bunga acuan The Fed tergantung dari lokasi pasar di mana perusahaan teknologi mencatatkan saham. Permasalahannya, saham perusahaan teknologi di Indonesia masuk kategori lokasi pasar berkembang. Volatilitas pasarnya lebih tinggi. Sebelumnya, The Fed menaikkan tingkat suku bunga acuannya 50 basis poin, Rabu (4/5). Harga saham Grab yang melantai di Nasdaq, pada penutupan pasar, Kamis, turun 4,19 %. (Yoga)
Kemilau Mutiara Mulai Sulit Didapat
Produk mutiara laut selatan asal Indonesia berkualitas tinggi diprediksi semakin sulit didapat dalam beberapa tahun ke depan. Produksi mutiara cenderung terus turun justru ketika animo pasar dunia terhadap mutiara semakin tinggi. Mutiara hasil budidaya laut yang merupakan komoditas premium selama ini diidentikkan dengan pasar kelas atas atau kelompok usia matang. Di dunia, Indonesia tercatat sebagai penghasil terbesar mutiara laut selatan. Keunggulan jenis mutiara laut selatan (Pinctada maxima) ialah ukurannya yang lebih besar pada rentang 9-13 mm. Selain itu, warnanya lebih bervariasi, meliputi putih, perak, dan emas. Mutiara alami itu juga memiliki lapisan tebal dan kemilau yang lebih kuat dibanding jenis mutiara lain. Dari sisi kualitas, produk itu masih terbagi lagi atas beberapa tingkatan (grade), mulai dari kualitas tertinggi sampai terendah, yakni grade AAA, AA, A, B, dan C. Nilai mutiara ditentukan oleh bentuk dan kemulusannya serta ukuran dan warna. Pemasaran produk mutiara berkualitas tinggi hingga saat ini didominasi untuk pasar ekspor.
Anggota Majelis Pimpinan Perusahaan Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi), Ambrosius Kengry Retanubun, mengatakan, penurunan produksi mutiara laut selatan terjadi pada seluruh grade, di hampir semua negara produsen. Sejak pandemi Covid-19 pada tahun 2020, produksi mutiara turun 20 %. Produksi yang menurun di Indonesia terutama dipicu penurunan kualitas lingkungan dan dampak perubahan iklim. Faktor lainnya, ongkos produksi budidaya mutiara semakin mahal, terutama setelah harga bahan bakar minyak meroket. Apalagi, budidaya mutiara umumnya dilakukan di perairan di kawasan terpencil dengan tujuan menekan risiko pencemaran. Sebagian produk mutiara laut selatan asal Australia juga dibudidayakan di Indonesia melalui skema investasi penanaman modal asing. Penurunan produksi menyebabkan harga mutiara terdongkrak, terutama mutiara kualitas tertinggi. Seorang pengusaha mutiara menuturkan, di masa lalu, harga 1 kg mutiara laut selatan grade AAA berukuran 9 mm setara harga satu mobil Avanza. Kini,harga 1 kg mutiara laut selatan itu sudah setara dengan satu mobil Alphard atau hamper Rp 2 miliar. Produksi mutiara kualitas tertinggi ditaksir 15-20 %, sedangkan mutiara dengan kualitas sedang dan rendah mendominasi, yakni sekitar 50 % total produksi mutiara laut selatan Indonesia. (Yoga)
Kembalinya Berkah dari Gaduh Pasar Beringharjo
Masa libur Lebaran membuat senyum para pedagang oleh-oleh di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, kembali tersungging. Barang dagangan yang lama tak tersentuh selama pandemi Covid-19 akhirnya diborong pelancong. Gaduh tawar-menawar barang di lorong-lorong pasar bak bunyi gemerincing rupiah. Sebagian pengunjung yang berjejal di pasar seluas 2,5 hektar di jantung kota tersebut mampir ke los penjual batik saat ada kain, kemeja, dan daster, yang dirasa menarik. Status pandemi tak terlalu dihiraukan pedagang maupun wisatawan. Mereka memanfaatkan ujung libur Lebaran yang tinggal beberapa hari untuk berburu oleh-oleh sebelum pulang ke daerah asal. Tak sungkan-sungkan, tangan para wisatawan menjelajah satu per satu baju ataupun daster batik yang tergantung di los-los pasar. Beringharjo dihuni sedikitnya 6.000 pedagang dengan 5.000 los yang menjual aneka barang. Namun, kain dan batik tetap jadi incaran pengunjung. Selain murah dan bisa ditawar, pilihannya pun beraneka ragam. Tawar-menawar berlangsung sebentar. Paling lama 10 menit. Begitu harga disepakati, dengan cekatan, si pedagang membungkus batik-batik yang dipilih ke kantong plastik loreng hitam putih.
Sri Wahyuni (64), pelancong asal Bekasi, Jabar, berjalan keluar pasar. Dua tangannya menenteng tas plastik loreng tipis yang terlihat penuh terisi sejumlah daster dan baju batik yang baru saja dibeli. Saking penuhnya tangan, si cucu menggandeng Sri dengan berpegangan pada pergelangan tangan. Dua jam lamanya, Wahyuni bersama anak dan cucunya berburu oleh-oleh di pasar tersebut. Wajahnya tampak lelah, tetapi berbunga-bunga, karena dirinya termasuk wisatawan yang sudah dua tahun ini tidak piknik ke mana-mana akibat pandemi Covid-19.
Tak dimungkiri, suasana lorong-lorong Pasar Beringharjo saat masa liburan sangat berisik dengan suara pedagang dan pembeli yang tawar-menawar. Seorang penjual bisa melayani lebih dari satu rombongan. Bahkan, ada pembeli yang harus mengantre agar terlayani. Pembeli yang enggan mengantre akan mencari los yang lebih sepi di sirip-sirip lorong utama. Riyanti (57), salah seorang pedagang batik, menyebutkan, penjualannya meningkat selama libur Lebaran ini. Peningkatan terjadi beberapa hari sebelum hari raya. Setelah hari raya, penjualannya kian melambung. Dia pun mengaku,Lebaran tahun ini sudah menyrupai periode sama pada masa-masa sebelum pandemi. Jika rata-rata barang dagangannya yang terjual seharga Rp 70.000 per potong, Riyanti bisa membawa pulang sedikitnya Rp 3,5 juta. Sebab, ia mengaku rata-rata bisa menjual 50 potong kain dan daster batik setiap hari. (Yoga)
Libur Lebaran Dongkrak Okupansi Hotel
Pada masa libur Lebaran tahun ini, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta mencatat, okupansi hotel berkisar 50-80 %. ”Angka ini lebih baik dibandingkan okupansi perhotelan 2021,” kata Ketua PHRI DKI Jakarta Sutrisno Iwantono, Jumat (6/5). Menurut Sutrisno, okupansi hotel yang cukup tinggi itu turut dipengaruhi kebijakan pelonggaran yang diambil pemerintah pada Lebaran 2022. Salah satunya masyarakat bisa melakukan mudik atau pulang kampung. Di Jakarta, tamu hotel tidak hanya dari luar daerah. Sebagian warga Jakarta yang tidak mudik memilih tinggal di hotel selama libur Lebaran. Apalagi, mereka juga ditinggal pulang kampung oleh asisten rumah tangganya. Okupansi tinggi, menurut Sutrisno, bakal terjadi setidaknya sampai akhir pekan ini. Hal itu terutama terjadi pada hotel-hotel yang memiliki resor atau tempat rekreasi, misalnya di Kepulauan Seribu. Untuk hotel-hotel yang tidak memiliki fasilitas resor tidak akan terlalu banyak tamu.
Senyra Fransiska, Assistant Marketing Communication Manager Grand Mercure Hotel Kemayoran, menyatakan, pada masa libur Lebaran 2022, hotel ini mencatatkan okupansi 76-77 %. Okupansi tinggi tercatat pada Senin (2/5). Di sejumlah hotel bintang lima di Jakarta, okupansi selama libur Lebaran juga cukup tinggi. Di Jakarta Intercontinental Hotel, okupansi mencapai 80-85 %. ”Sebagian besar tamu yang menginap dari luar Jakarta, seperti dari Jateng dan Jatim,” kata Wakil Presdir PT Metropolitan Kentjana Tbk Jeffri S Tanudjaja. Adapun tamu menginap di Hotel Mulia Jakarta pada libur Lebaran ini di kisaran lebih dari 60 %. ”Kami memang melihat ada peningkatan okupansi di atas 60 % pada libur Lebaran ini,” ucap Rully Rachman, Director of Sales and Marketing Hotel Mulia Senayan Jakarta.
Wakil Ketua Badan Pimpinan Cabang PHRI Kabupaten Bogor Boboy Ruswandi menyebutkan, wisatawan datang dari Jabodetabek dan sekitarnya. Mereka berlibur ke curug, Gunung Mas, kebun teh, dan banyak pilihan wisata di Puncak. ”Okupansi 60-80 % berarti 8.000 kamar terisi wisatawan. Itu untuk penginapan yang ada Puncak saja,” ujarnya. PHRI Banten mencatat okupansi penginapan mencapai 80 % di 40 hotel yang ada di Anyer. Rata-rata wisatawan menginap hingga Minggu (8/5) atau hari terakhir liburan. ”Sudah dua kali Lebaran pariwisata Banten terpuruk. Kali ini ramai, semoga ke depan lebih baik,” kata Ketua PHRI Banten Achmad Sari Alam. (Yoga)
Harap-Harap Cemas Hadapi Strategi Moneter AS
Bank sentral AS, Federal Reserve mengumumkan kenaikan suku bunga 0,5 % pada Rabu (4/5). Kenaikan ini dirasa cukup tajam dan menjadi yang terbesar setidaknya selama lebih dari dua dekade terakhir. Di satu sisi, strategi memompa suku bunga ini merupakan reaksi yang logis dari tren inflasi yang terus meroket selama setahun terakhir. Pada Januari 2021, inflasi y-o-y di AS berada di kisaran 1,4 %. Angka tersebut terus naik hingga ke titik 5 % hanya dalam waktu empat bulan saja. Pada puncaknya, inflasi menyentuh angka 8,5 % pada Maret 2022. Angka ini jauh dari yang ditargetkan oleh The Fed tahun ini, yakni inflasi di kisaran 2 %. Akibat terganggunya rantai pasok minyak dunia akibat perang Rusia-Ukraina, sektor energi paling terpukul. Dalam periode waktu tersebut, energi di AS mengalami inflasi y-o-y 32 %. Bahan makanan juga menjadi sektor yang mengalami inflasi cukup tinggi. Pada Maret lalu, inflasi produk kategori ini nyaris menyentuh 9 %. Tren serupa terasa pada berbagai kebutuhan pokok lain seperti sandang (6,8 %) dan papan (5 %). Berdasarkan catatan dari The New York Times, kenaikan harga ini merupakan yang terburuk setidaknya empat dekade terakhir.
Langkah The Fed menaikkan suku bunga dapat dilihat sebagai upaya AS memitigasi perburukan inflasi dalam waktu dekat. Kenaikan tajam dari suku bunga umumnya akan melemahkan permintaan di pasar, memancing orang untuk menyimpan uang di bank atau instrumen keuangan lain. Hal ini diharapkan akan ”mendinginkan” mesin perekonomian sehingga inflasi dapat ditekan. Namun, apabila tidak hati-hati, kebijakan ini bisa menjadi bumerang. Mesin ekonomi yang terlampau dingin bisa saja gagal untuk kembali mendapatkan momentum. Maka, langkah menaikkan suku bunga justru dapat menyebabkan resesi. Risiko ini kian mengkhawatirkan di tengah tekanan yang tengah dihadapi perekonomian AS. Di satu sisi, inflasi diakibatkan tekanan krisis Rusia–Ukraina. Sehari berselang, kebijakan The Fed belum mendapat reaksi keras dari Wall Street. Setelah pengumuman dari bank sentral, pasar justru merespons positif. Hal tersebut terlihat dari penutupan Wall Street pada Rabu (4/5) dengan tren positif di beberapa indeks. seperti Dow Jones yang naik 2,81 %, S&P 500 terdongkrak 2,99 %, dan NASDAQ yang turut naik 3,19 %. Hal ini menandakan pasar finansial global relative ”merestui” langkah The Fed. Meskipun begitu, bukan berarti dampak global dari kebijakan tersebut tidak akan dirasakan, dalam jangka yang lebih panjang, dampak yang lebih serius dapat terasa apabila langkah The Fed terbukti memperlambat laju perekonomian AS secara signifikan. (Yoga)
Libur Lebaran Pulihkan Usaha Kecil dan Desa Wisata
Keputusan pemerintah mengizinkan mudik selama libur Idul Fitri 1443 Hijriah, berkat terkendalinya penularan Covid-19, membantu pemulihan pendapatan pelaku UMKM serta masyarakat pengelola desa wisata di daerah-daerah. Beberapa di antara mereka menyebut kondisi makin mirip seperti sebelum wabah Covid-19. Endar (44), pemilik warung makan Ikan Bakar Laut Eretan di Kecamatan Kandanghaur, Indramayu, Jabar, menuturkan, saat arus mudik Lebaran, kebanyakan pengunjung ialah pemudik bersepeda motor. Mereka mampir untuk beristirahat di tengah perjalanan. Kenaikan jumlah konsumen khususnya terjadi pada hari kedua Lebaran, Selasa (3/5). Banyak pengunjung sampai mengantre. Adapun tempat makan berkapasitas 100 pembeli. Karena pengunjung membeludak, Endar kehabisan stok ikan. Padahal, biasanya, ia selalu memiliki stok ikan seperti kakap, kerapu, etong, dan bawal dengan total bobot 4 kuintal. Untungnya, pasokan ikan segera datang. Ia juga menambah jumlah pekerja di warung sampai 15 orang dari biasanya hanya tiga orang. Pada hari biasa di masa pandemi, pendapatan warung makannya tak lebih dari Rp 5 juta per hari, termasuk di akhir pekan. Kini, pada masa libur Lebaran, Rp 20 juta bisa diraup dalam sehari.
Di Cirebon, Jabar, pemilik Batik Nefa di Pasar Batik Trusmi, Gunisa, mengatakan, pada Lebaran ini penjualan batik naik. Saat arus mudik, kebanyakan pembeli adalah warga setempat, sedangkan saat arus balik, kebanyakan pembeli dari luar kota. ”Jadi, pengunjung menikmati makanan di pusat kuliner yang ada di sentra batik, kemudian mereka melihat batik,” ujar Gunisa. Pada Lebaran tahun ini, penjualan batik meningkat 50 % dibandingkan hari biasa selama pandemi. Di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tingkat kunjungan tiga hari terakhir di Gubuk Kopi di Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, sudah sama seperti sebelum pandemi, dengan rata-rata jumlah tamu lebih dari 1.000 orang per hari, ujar Agus Prayitno, pemilik Gubuk Kopi. Tamu biasanya datang ke GubukKopi untuk menikmati kopi atau teh tawar sembari mengunyah gula kelapa buatan petani setempat. Ada pula tawaran wisata edukasi tentang pembuatan gula kelapa disertai cerita kehidupan masyarakat Desa Karangrejo, yang pada masa lalu terbiasa memetik kelapa dan membuat gula merah sendiri. Aliran tamu itu membuat omzet penjualan gula merah di Gubuk Kopi mencapai Rp 5 juta-Rp 6 juta per hari.
Kebangkitan dirasakan pula oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Nglanggeran di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Salah satu obyek rekreasinya ialah Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Ketua Pokdarwis Desa Wisata Nglanggeran, Mursidi,menjelaskan, peningkatan kunjungan wisatawan terjadi sejak sebelum Lebaran. Dari semula sekitar 50 orang per hari, jumlah pengunjung naik menjadi 150 orang per hari. Jumlah wisatawan melonjak lagi saat libur Lebaran. Pengunjung berjumlah lebih dari 500 orang pada H-2 Idul Fitri atau Selasa (3/5). Jumlah meningkat lagi menjadi lebih dari 1.000 orang pada Rabu (4/5). Geliat juga terlihat di Desa Wisata Pujon Kidul, Malang, Jatim. Salah satu atraksinya ialah Cafe Sawah, tempat kuliner di tengah sawah berlatar pemandangan pegunungan. Kepala Desa Pujon Kidul Udi Hartoko menyebut, pengunjung Cafe Sawah pada Senin (2/5) berjumlah 1.000-an orang, pada Selasa (3/5) 2.500-an orang, dan hari Rabu 3.700-an orang. Selama pandemi tahun lalu, jumlah tamu terbanyak dalam sehari sekitar 2.000 orang. (Yoga)
Menghadapi Gejolak Ekonomi Dunia
Tiga tantangan pokok yang dihadapi perekonomian dunia, termasuk Indonesia, dalam satu-dua tahun ini adalah lonjakan harga komoditas yang tinggi, normalisasi kebijakan moneter negara maju yang agresif, serta konflik Rusia-Ukraina. Di luar ketiga tantangan itu, masih ada risiko yang muncul dari potensi varian baru Covid-19 dan sebaran Covid-19 yang belum sepenuhnya hilang di tahun 2022. Sejak awal tahun 2021, harga komoditas, baik energi maupun non-energi, naik secara konsisten. Meletusnya perang Rusia-Ukraina, dua negara yang mempunyai peranan cukup besar dalam pasokan energi dan pangan dunia, memberi andil krisis atas kurangnya pemenuhan permintaan yang meningkat. Produksi minyak mentah Rusia 2021 rata-rata 9,8 juta barel per hari atau 10 % konsumsi minyak mentah dunia. Alhasil, harga energi melonjak lebih tinggi diikuti dengan harga pangan, pertambangan, dan komoditas lainnya, dan mendorong inflasi yang sudah tinggi, terutama di negara-negara maju. Inflasi di AS, dari 7,5 %, meningkat menjadi 8,5 % pada Maret 2022, tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Demikian juga yang terjadi di Eropa dan banyak negara lainnya. Inflasi di kawasan Eropa melonjak menjadi 7,5 % pada Maret 2022. Dengan makin tingginya inflasi, Bank sentral AS, The Fed akan menempuh langkah yang lebih agresif untuk menjinakkan inflasi melalui kenaikan suku bunga, meskipun dengan konsekuensi memperlambat pertumbuhan ekonomi. Tidak tertutup kemungkinan, Fed Fund Rate / FFR akan dinaikkan hingga 3,5 % di akhir tahun 2022, lebih tinggi dari tingkat normalisasi sebelumnya, yakni 2,5 %. The Fed pernah menaikkan FFR 5,25 % pada 2004-2006 guna mengatasi inflasi dan pemanasan ekonomi (overheated economy).
Ada beberapa implikasi dari gejolak ekonomi dunia saat ini bagi ekonomi Indonesia. Pertama, meningkatnya ekspor cukup tinggi. Sebagai negara yang kaya SDA, neraca perdagangan juga mencatat surplus yang cukup besar. Nilai ekspor Indonesia 66,1 miliar USD pada triwulan I tahun 2022 dengan surplus perdagangan 9,3 miliar USD. Meski berdampak positif, apabila berlangsung dalam jangka panjang, commodity boom ini dapat memberi implikasi yang kurang menguntungkan.Nilai tukar perdagangan komoditas yang tinggi dapat menekan peranan sektor lain,terutama industri. Fenomena Dutch disease ini dapat menghambat upaya percepatan industrialisasi di Indonesia. Kedua, meningkatnya inflasi. Dengan kenaikan harga komoditas yang tinggi, tidak ada perekonomian yang mampu mengisolasi diri sepenuhnya dari pengaruh kenaikan harga, terutama energi. Harga minyak mentah Brent untuk keseluruhan tahun 2022 sebesar 98 USD per barel, jauh di atas asumsi APBN 2022. Apabila harga minyak mentah yang tinggi berlangsung lama, harga di dalam negeri perlu disesuaikan secara bertahap. Subsidi perlu dikendalikan dengan memberi perlindungan terhadap masyarakat yang kurang mampu dengan mengalihkan subsidi barang kepada kelompok yang disasar. Ketiga, mengetatnya kebijakan moneter. Meningkatnya inflasi dan suku bunga acuan AS akan menuntut kenaikan suku bunga acuan di dalam negeri. Sisi yang terberat adalah belanja, bagaimana menyelesaikan (exit) dari program pemulihan ekonomi secara tepat. Termasuk berbagai program relaksasi dan belanja yang diluncurkan semasa pandemi dan tak terlalu diperlukan lagi. Sejalan dengan berkurangnya stimulus fiskal dan moneter, reformasi struktural harus mulai menunjukkan hasil sejak tahun 2022. (Yoga)
Arus Dana Investor Asing Deras ke Bursa
Dana para investor asing yang masuk ke BEI hingga akhir April 2022 ini sangat deras. Data perdagangan BEI menunjukkan ada pembelian bersih dari para investor asing senilai Rp 59,6 triliun di pasar reguler. Jumlah ini masih ditambah pembelian tunai investor asing di pasar negosiasi senilai Rp 12,5 triliun. Sejak awal tahun hingga akhir April, para investor asing sudah mencatatkan pembelian bersih Rp 72,1 triliun. Tidak heran jika IHSG terus naik. Pada penutupan akhir April sebelum libur Lebaran, indeks berada pada level 7.228. Sejak awal tahun, indeks sudah naik 9,84 %. Jumlah dana investor asing yang masuk ke bursa sangat besar dibandingkan dengan arus investasi yang masuk pada tahun sebelumnya. Pada tahun 2019, total dana investor asing di pasar saham mencapai Rp 49,2 triliun.Situasi berbalik pada tahun 2020 ketika pandemi Covid-19 melanda. Para investor asing berbondong-bondong keluar dari pasar saham. Nilainya cukup besar, mencapai Rp 47,8 triliun. Arus investasi asing pada saham baru kembali pada tahun 2021. Sepanjang tahun, investor asing membukukan pembelian bersih senilai Rp 38 triliun. Dari data tiga tahun terakhir, arus investasi asing pada saat ini dapat dikatakan sangat besar. Baru empat bulan pertama, dana asing sudah melampaui investasi dalam satu tahun untuk tahun 2021 dan 2019.
Pemulihan ekonomi, kurs rupiah yang stabil, serta kenaikan harga komoditas menjadi faktor penarik investor asing untuk membeli saham-saham di bursa Indonesia. Harga komoditas, seperti sawit dan batubara, membuat neraca ekspor Indonesia terus membaik. Hasil dari ekspor tersebut juga membuat kurs rupiah stabil terutama terhadap USD.Biasanya, para investor asing tidak tertarik masuk ke pasar saham Indonesia ketika kurs rupiah melemah. Pelemahan rupiah akan menggerus sebagian keuntungan yang didapatkan di pasar saham ketika hasil investasi dikonversi ke dollar AS atau mata uang lain. Dana investor asing tersebut masuk ke hampir seluruh sektor saham. Setidaknya, terdapat beberapa emiten besar yang diincar dan mendapatkan dana investasi sangat besar dalam empat bulan ini. Kalau diperhatikan, para investor asing memborong beberapa saham hingga masing-masing mencapai Rp 5 triliun. Para investor asing tersebut membeli saham Bank Rakyat Indonesia Tbk senilai Rp 10,7 triliun. Lalu saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk senilai Rp 9,2 triliun, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk Rp 5,8 triliun, dan saham PT Bank Central Asia senilai Rp 5,4 triliun. Masuknya investor asing ke emiten-emiten tersebut juga ikut mendorong harga sahamnya. Saham Bank BRI naik 18,49 % sejak awal tahun. Tidak ketinggalan, saham Telkom naik 14,36 persen, saham Bank BNI naik 36,67 %, serta saham BCA naik 11,3 %. (Yoga)
Sektor Manufaktur Tetap Ekspansif di Tengah Gejolak Global
Di tengah ketegangan geopolitik yang berdampak pada perekonomian global, kinerja industri manufaktur nasional tetap tumbuh ekspansif. Hal itu dibantu menguatnya konsumsi domestik serta meningkatnya permintaan ekspor. Meskipun demikian, pertumbuhan itu masih dibayangi isu keterbatasan pasokan bahan baku, gangguan rantai pasok dunia, dan ancaman inflasi. Lembaga pemeringkat S&P Global pada Kamis (5/5) mencatat, Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia April 2022 berada di level 51,9. Ini merupakan peningkatan PMI Manufaktur Maret 2022 di angka 51,3. Meskipun di tengah kondisi perekonomian global yang tak pasti, kinerja manufaktur masih mencatatkan kinerja ekspansif (di atas level 50). Kajian itu menunjukkan,kondisi ekonomi yang membaik mendorong aktivitas pembelian di dalam negeri. Output produksi naik pada kisaran lebih cepat dari sebelumnya karena didorong kenaikan permintaan atau konsumsi. Permintaan ekspor juga tetap meningkat meski beberapa perusahaan melaporkan bahwa perang Rusia-Ukraina sedikit banyak mulai memengaruhi dinamika bisnis dari luar negeri.
”Masalah pasokan masih ada, dengan laporan waktu pemenuhan pesanan yang lebih lama, meskipun gangguan Covid-19 sebenarnya sudah berkurang. Tekanan harga juga memburuk, yang bisa menghambat pergerakan produksi,” kata Direktur Asosiasi Ekonomi IHS Markit Jingyi Pan. Tekanan harga makin intensif karena kenaikan biaya input dan harga output produksi yang semakin cepat pada April. Perusahaan melaporkan kenaikan biaya input berupa harga bahan baku dan bahan bakar. Untuk saat ini, pelaku industri masih bertahan dengan membagi beban biaya itu dengan klien. Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, peningkatan kapasitas industri manufaktur pada April itu banyak ditopang menguatnya permintaan selama Ramadhan dan Idul Fitri sejalan dengan dikembalikannya kebijakan cuti bersama dan mudik Lebaran setelah dua tahun sebelumnya dibatasi akibat pandemi. Untuk memastikan permintaan tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global penyerapan produk dalam negeri lewat belanja barang / jasa akan ditingkatkan. (Yoga)
Permintaan Sewa Kawasan Industri Naik
Penyewaan lahan di kawasan industri semakin bertumbuh dalam kurun enam bulan terakhir. Permintaan sewa lahan kawasan industri initerutama berasal dari sektor logistik. Colliers Indonesia merilis, berkembangnya penyewaan lahan kawasan industri mulai terlihat sejak triwulan IV (Oktober-Desember) 2021. Permintaan lahan sewa umumnya untuk ekspansi dan pabrikasi. Industri yang berkaitan dengan logistik dan distribusi barang cenderung cukup aktif melakukan transaksi sewa lahan saat ini. Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia Sanny Iskandar (5/5) mengemukakan, tren permintaan sewa di kawasan industri memang terus berkembang, tetapi umumnya berupa sewa pabrik atau gudang. Permintaan sewa pabrik atau pergudangan itu dinilai sejalan dengan pertumbuhan bisnis e-dagang di Tanah Air. Ia menilai, ketidakpastian kondisi perekonomian global dan dampak pandemi Covid-19 membuat perusahaan yang masih ragu berinvestasi untuk membangun pabrik cenderung memilih menyewa terlebih dahulu pabrik ataupun pergudangan di kawasan industri. Beberapa perusahaan yang masih menjajaki pembangunan pabrik juga bisa memilih untuk menyewa lahan pabrik terlebih dulu untuk kurun 2-3 tahun. Luas bangunan pabrik yang disewakan rata-rata di kisaran 2.000-5.000 meter persegi. Bisnis penyewaan itu dinilai menarik di era e-dagang karena sebagian barang yang masuk dari luar negeri untuk diperdagangkan memerlukan pergudangan modern dengan sistem otomatisasi. Selain itu, pabrik yang disewakan juga sudah dilengkapi dengan ruang produksi, kantor, dan pergudangan. Bagi pengelola kawasan industri, lanjut Sanny, penyewaan pabrik dan pergudangan itu mendatangkan pendapatan rutin (recurring income).
Menurut Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto, tren penyewaan lahan industri menjadi lebih aktif dalam enam bulan terakhir. Di Serang, Banten, misalnya, sewa lahan industri dilakukan temporer selama 2-3 tahun sambil membangun pabrik di lahan milik. Beberapa kawasan industri yang sudah mulai minim lahan juga mulai fokus menggarap penyewaan lahan. Dicontohkan, ada dua kawasan industri yang kini mulai fokus pada penyewaan lahan, yakni Cibinong Center Industrial Estate (CCIE) di Bogor dan Kota Bukit Indah di Purwakarta. Ferry menambahkan, CCIE yang sebelumnya menyewakan lahan tidak lebih dari 6 hektar saat ini sudah melebihi 6 hektar. Sebagian besar sewa lahan itu untuk penyimpanan barang dan distribusi. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









