Kembalinya Berkah dari Gaduh Pasar Beringharjo
Masa libur Lebaran membuat senyum para pedagang oleh-oleh di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, kembali tersungging. Barang dagangan yang lama tak tersentuh selama pandemi Covid-19 akhirnya diborong pelancong. Gaduh tawar-menawar barang di lorong-lorong pasar bak bunyi gemerincing rupiah. Sebagian pengunjung yang berjejal di pasar seluas 2,5 hektar di jantung kota tersebut mampir ke los penjual batik saat ada kain, kemeja, dan daster, yang dirasa menarik. Status pandemi tak terlalu dihiraukan pedagang maupun wisatawan. Mereka memanfaatkan ujung libur Lebaran yang tinggal beberapa hari untuk berburu oleh-oleh sebelum pulang ke daerah asal. Tak sungkan-sungkan, tangan para wisatawan menjelajah satu per satu baju ataupun daster batik yang tergantung di los-los pasar. Beringharjo dihuni sedikitnya 6.000 pedagang dengan 5.000 los yang menjual aneka barang. Namun, kain dan batik tetap jadi incaran pengunjung. Selain murah dan bisa ditawar, pilihannya pun beraneka ragam. Tawar-menawar berlangsung sebentar. Paling lama 10 menit. Begitu harga disepakati, dengan cekatan, si pedagang membungkus batik-batik yang dipilih ke kantong plastik loreng hitam putih.
Sri Wahyuni (64), pelancong asal Bekasi, Jabar, berjalan keluar pasar. Dua tangannya menenteng tas plastik loreng tipis yang terlihat penuh terisi sejumlah daster dan baju batik yang baru saja dibeli. Saking penuhnya tangan, si cucu menggandeng Sri dengan berpegangan pada pergelangan tangan. Dua jam lamanya, Wahyuni bersama anak dan cucunya berburu oleh-oleh di pasar tersebut. Wajahnya tampak lelah, tetapi berbunga-bunga, karena dirinya termasuk wisatawan yang sudah dua tahun ini tidak piknik ke mana-mana akibat pandemi Covid-19.
Tak dimungkiri, suasana lorong-lorong Pasar Beringharjo saat masa liburan sangat berisik dengan suara pedagang dan pembeli yang tawar-menawar. Seorang penjual bisa melayani lebih dari satu rombongan. Bahkan, ada pembeli yang harus mengantre agar terlayani. Pembeli yang enggan mengantre akan mencari los yang lebih sepi di sirip-sirip lorong utama. Riyanti (57), salah seorang pedagang batik, menyebutkan, penjualannya meningkat selama libur Lebaran ini. Peningkatan terjadi beberapa hari sebelum hari raya. Setelah hari raya, penjualannya kian melambung. Dia pun mengaku,Lebaran tahun ini sudah menyrupai periode sama pada masa-masa sebelum pandemi. Jika rata-rata barang dagangannya yang terjual seharga Rp 70.000 per potong, Riyanti bisa membawa pulang sedikitnya Rp 3,5 juta. Sebab, ia mengaku rata-rata bisa menjual 50 potong kain dan daster batik setiap hari. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023