;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Dampak Kenaikan Suku Bunga Acuan The Fed Minim

09 May 2022

Kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS atau The Fed sebesar 50 basis poin pada Rabu (4/5) diyakini tidak memengaruhi kinerja industri properti di Tanah Air. Jika BI merespon langkah The Fed itu dengan menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate, penyesuaian kredit kepemilikan rumah oleh bank juga tidak akan langsung diterapkan. ”BI mungkin akan menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate, tetapi akan penuh kehati-hatian. Jika itu jadi dilakukan pun, pemerintah akan berhati-hati ambil kebijakan selanjutnya. Sebab, kondisi Indonesia, termasuk industri properti, sedang menuju pemulihan,” ujar Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida (8/5). Menurut dia, 65 % pangsa pasar properti rumah adalah warga kelompok generasi milenial. Sebanyak 91 % pembelian rumah tapak memakai KPR. Harga rumah tapak yang mereka minati biasanya berkisar antara Rp 500 juta dan Rp 1 miliar. Pembayaran cicilan KPR ini biasanya mengandalkan sepertiga gaji mereka. Apabila suku bunga acuan BI naik, lalu bunga KPR ikut mengalami penyesuaian, hal itu akan memengaruhi nasabah

Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat REI Gede Widiade menambahkan, pemulihan bisnis dari dampak pandemi Covid-19 belum sepenuhnya terjadi. Di sisi lain, harga produksi properti sudah naik. Ini membuat harga jual ke masyarakatikut meningkat. Sementara kemampuan daya beli masyarakattak sama. Apalagi kemampuan pulih dari efek pandemi pun beragam. Rumah tapak yang paling laku berkisarRp 400juta hing- ga Rp 1 miliar. Tipe rumahnya biasanya memiliki luas bangunan mulai dari 36 meter persegi dan luas tanah mulai 60 meter persegi. Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira mengatakan, pihaknya memprediksi The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuan tiga hingga empat kali lagi sampai akhir tahun karena melihat tren inflasi yang persisten. April lalu BI masih mempertahankan suku bunga acuanBI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 3,50 %. Tingkat suku bunga ini bertahan sejak Februari 2021. (Yoga)


Ekonomi Triwulan I-2022 Bisa Tumbuh 4,95 Persen

09 May 2022

Meski terjadi ketegangan geopolitik yang dipicu konflik Rusia dan Ukraina, ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2022 bakal berada di kisaran 4,75-4,95 % secara tahunan. Walau perang itu memicu krisis ekonomi global dan disrupsi rantai pasok global, Indonesia mendapatkan kompensasi berupa kenaikan kinerja ekspor seiring lonjakan harga komoditas. Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Teuku Riefky (8/5) mengatakan, di tengah tantangan domestik dan global, perekonomian Indonesia pada triwulan pertama tahun ini diperkirakan masih bisa tumbuh 4,75-4,95 % dari periode yang sama tahun lalu. Ia menjelaskan, dari dalam negeri, konsumsi rumah tangga makin membaik setelah merosot karena tekanan ekonomi yang dipicu pandemi. Meningkatnya permintaan dan daya beli masyarakat telah mendorong aktivitas produksi dan mobilitas. Pada triwulan pertama tahun ini, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan 9,3 miliar USD, meningkat 20 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kombinasi surplus perdagangan dan arus modal asing membuat nilai tukar rupiah relative stabil. Sepanjang triwulan I-2022, nilai tukar rupiah terjaga di kisaran Rp 14.200-Rp 14.400 per USD.

Hal senada dikemukakan Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro. Peningkatan harga CPO, batubara, dan nikel akan meningkatkan transaksi belanja dan berujung pada perbaikan ekonomi di daerah. Selain itu, menurut Asmoro, pengendalian jumlah kasus Covid-19 telah menggairahkan lagi aktivitas ekonomi sehingga mengeskalasi pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan asumsi itu, tim ekonomi Bank Mandiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi di triwulan pertama tahun ini mencapai 4,95 % secara tahunan. (Yoga)


Risiko Global dan Local Ancam Pemulihan Ekonomi

09 May 2022

Pasca libur Lebaran menjadi pertaruhan bagi Ekonomi Indonesia yang mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Jika kasus Covid-19 terkendal, tak meruyak, ekonomi bisa melaju. Pasalnya, indikator pemulihan ekonomi mulai tampak jelas. Pertama, proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2022 mendekati level sebelum pandemi Covid-19. Kedua, penerimaan pajak juga lebih bergigi ketimbang sebelum pandemi. Indikator ketiga, emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kenaikan laba terus meningkat.

April, Inflasi Tertinggi Tiga Tahun Terakhir

09 May 2022

Inflasi pada bulan April 2022 diprediksi lebih tinggi dibandingkan dengan bulan - bulan sebelumnya. Jika inflasi Maret sebesar 0,66% secara bulanan, inflasi April diprediksi sekitar 0,80% - 1,08%. Adapun inflasi tahunan berkisar 3,34% - 3,77%. Rima Prama Artha, kepala ekonom Danareksa Research Institute (DRI) menyebut, pemicu inflasi April 2022 karena ada faktor musiman, Puasa dan Lebaran. Melihat proyeksi tersebut, ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman menyebut, ini merupakan pertama kalinya inflasi tahun  ke tahun di atas 3% sejak September 2019. Bahkan, ia memperkirakan inflasi pada April 2022 ini menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir. 

Pembagian Dividen Jadi Pemanis Bursa

09 May 2022

Musim pembagian dividen masih berlanjut. Setidaknya, ada 10 emiten berencana membagi dividen usai libur lebaran. Empat di antaranya menetapkan cum date dividen pada hari ini, Senin (9/5). Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus mengatakan, pembagian dividen akan memberi sentimen positif bagi saham tersebut dalam jangka pendek. Investor bisa memburu saham pembagi dividen, tapi cermati kecenderungan koreksi harga paska periode cum date atau saat ex date. Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova menambahkan, di musim dividen Mei ini, kemungkinan investor tetap memburu emiten yang membagikan dividen secara rutin. "Jika emiten tersebut dalam lima tahun terakhir, termasuk di masa pandemi, mencatatkan kinerja stabil, maka akan cukup menarik bagi investor, karena ada ekspektasi dividen yang konsisten ke depannya," jelas Ivan. Pemanis bursa Tapi Daniel mengingatkan, keputusan bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve menaikkan bunga 50 basis poin akan menjadi perhatian pasar. Dampak kenaikan suku bunga The Fed akan terasa dalam jangka menengah panjang.

OLIV Mematok Harga Saham Perdana Rp 100 per Saham

09 May 2022

PT Oscar Mitra Sukses Sejahtera Tbk telah menetapkan harga inital public offering (IPO) di Rp 100 per saham. Harga IPO ini merupakan batas bawah dari harga penawaran IPO calon emiten bersandi OLIV ini di kisaran Rp 100 hingga Rp 125 per saham. OLIV berencana menjual 400 juta uni saham ke publik. 

Kantong Perbankan Kian Tebal

09 May 2022

Industri perbankan Indonesia semakin memperlihatkan kondisi pemulihan kinerja yang tercermin dari laporan laba 15 bank pada kuartal I/2022 yang mencapai Rp43,61 triliun atau tumbuh hingga 45% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Secara rata-rata, capaian laba bersih bank papan atas dengan aset terbesar itu menguasai tak kurang dari 90% total laba bersih setelah pajak di industri bank nasional. Jumlah bank secara keseluruhan sebanyak 107 entitas. Dari 15 bank yang telah menyampaikan kinerja kuartal pertama, hanya ada dua bank yang labanya susut jika dibandingkan dengan kuartal I/2021. Selebihnya, berhasil menorehkan kinerja gemilang. Sebanyak 11 bank membukukan pertumbuhan laba hingga double digit dan dua bank lainnya mencetak pertumbuhan laba single digit.


Hubungan Industrial : Pembayaran THR Tahun Ini Lebih Baik

09 May 2022

Konfederasi Serikat Pekerja Nasional atau KSPN mencatat pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan tahun ini lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu. Pertumbuhan perekonomian nasional dinilai menjadi salah satu penyebab lancarnya pemberian THR tahun ini.Presiden KSPN Ristadi menilai bahwa pemberian THR Keagamaan 2022 lebih baik dari Idul fitri 2021. Tercatat hingga H+2 Lebaran, semua urusan THR anggotanya sudah selesai. Meski begitu, beberapa perusahaan masih harus mencicil pembayaran THR. Sementara itu, pekerja/buruh yang tergabung dalam Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) mencatat masih ada 20% pembayaran THR yang bermasalah.Ketua Umum KASBI Nining Elitos menyampaikan bahwa pemberian THR belum berjalan maksimal di wilayah Sumatra Selatan, Tangerang, dan Bekasi.

Kuartal I, BRI Salurkan Kredit UKM Rp 21,3 T

09 May 2022

Outstanding penyaluran kredit PT Bank Rakyat Indonesia  (Persero)  Tbk (BRI) untuk segmen usaha kecil dan menengah (UMK) mencapai Rp 21,3 triliun pada kuartal I-2022. Penyaluran tersebut meningkat 29,1% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 16,5 triliun. Direktur Bisnis Kecil dan Menengah  BRI Aman Sukriyanto memaparkan bahwa capaian pada awal 2022 sudah menunjukkkan kembali kemasa sebelum pandemi Covid-19 melanda. Perseroanpun semakin optimistis ekonomi kian bergairah lantaran mayoritas kredit diserap oleh sektor-sektor produktif. Selain itu,permintaan kredit meningkat tidak hanya di kota besar  tapi juga di daerah-daerah. Sektor-sektor yang berhubungan dengan  kebutuhan pokok seperti  perdagangan mendominasi penyaluran  kredit BRi di segmen kecil dan menengah ini yang presentasenya  mencapai 61%.  Menurut Aman, capaian positif tersebut tidak terlepas  dari peran pemerintah yang  langkah strategisnya tepat dalam menghadapi pandemi. Seperti stimulus ekonomi pemerintah terhadap pelaku UMKM melalui Program Pemulihan Ekonomi (PEN). (Yetede)

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Diproyeksi 4,8-5,1%

09 May 2022

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I -2022 berpeluang tumbuh signifikan  pada kisaran 4,8-5,1% secara tahunan (year on year/yoy)  seiring dengan pelonggaran pembatasan mobilitas masyarakat. "Meskipun sempat dibayangi oleh penyebaran varian virus  baru omicron pada awal tahun ini, namun kesigapan pemerintah telah mampu mengatasi efek negatif lebih lanjut dari sebaran omicron," ucap Ekonom sekaligus Staf Ahli Otoritas  Jasa Keuangan Ryan Kiryanto.  Kegiatan ekspor impor pun masih berjalan baik  kendati dihadapkan pada ketegangan  politik terkait agresi  militer Rusia ke Ukraina sejak 14 Februari 2022.  Mobilitas arus barang dan jasa  sedikit terganggu karena distrupsi berbagai moda transportasi laut dan udara setelah Amerika Serikat sekutu Barat memberlakukan  sanski ekonomi kepada Rusia. "Kegiatan ekspor komoditas tetap berjalan normal ditengah kenaikan harga di pasar lantaran permintaan eksternal  yang juga tetap solid mendukung kinerja ekspor," kata Ryan lagi. (Yetede)